Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Apa Mau Dikata


__ADS_3

Senjata tajam yang bertubi-tubi mengarah ke tubuh Jayaseta secara serentak dan bersamaan dilayani dengan baik. Jayaseta tidak hanya menghindar dan menepis serangan-serangan itu, tetapi menantang serta menyambutnya. Silat Melayu Kedah, Terengganu, Kelantan, bahkan silat Tomoi atau jurus-jurus silat yang ia pelajari di Melaka memberikannya kemampuan tambahan bagi silat Jawa, Silat Pulut sampai silat Cina yang pernah ia pelajari menjadi sebuah kemampuan yang berada di atas angin.


Jayaseta mendadak merasa menjadi dewa yang mampu melihat gerakan dan serangan musuh dengan gampangnya. Naluri kependekarannya meningkat pesat dan semakin peka. Kecepatannya berlipat ganda, dan kekuatan tenaga dalamnya tertata dengan baik.


Jayaseta dapat memutuskan dengan baik dan sempurna gerakan apa yang harus ia lakukan dalam menerima serangan dan membalasnya. Seakan semua itu semudah bernafas saja. Ia tak sedang berniat bermain-main, atau mengambil pelajaran dengan meniru atau menyerap jurus-jurus lawan. Yang ia hadapi adalah para perompak yang memiliki rencana busuk di baliknya, bukan para pendekar atau jawara yang hendak mencobainya. Mereka disini jelas ingin menghabisi atau paling tidak, mengambil untung darinya.


Sang pemimpin perompak berteriak keras memberikan perintah kepada sisa kelompoknya untuk terus melakukan serangan secara bersama-sama. Mereka tidak hanya menusuk, tetapi juga menebas dan menyabet.


Jayaseta diserang dari segala arah. Depan, belakang, samping kiri dan kanan.


Sudah beberapa perompak tumbang karena serangan menyudut dan tajam Jayaseta. Tulang rusuk mereka patah, tulang dada remuk, tulang leher juga tersentak keras dan retak. Sisanya dengan berbekal semangat serta perintah sang pemimpin perompak masih berusaha mencoba peruntungan mereka.

__ADS_1


Jayaseta menangkap lengan satu penyerang, memuntirnya, tetapi tidak langsung membanting musuh. Dengan gerak silat Melayu yang ia pelajari di Malaka, Jayaseta menambahkan gerakannya sendiri. Bagai kitiran, Jayaseta menarik keras musuh dan memutarkannya. Tubuh musuh menjadi semacam tameng hidup, sehingga musuh yang lain batal menyerang.


Namun, itu sebentar saja. Jayaseta sudah pernah melakukan gerakan semacam ini ketika berhadapan dengan keroyokan. Maka kali ini ia menahan laju tubuh musuh yang ia putarkan, kemudian menyentaknya keras.


Sepakkan keras dan lurus dihajarkan ke pinggul perompak yang tangannya masih ia kunci tersebut. Tubuh itu terlempar jauh dan jatuh di atas sungai kecil, tak bergerak. Mungkin sekali tewas.


Sebuah gerakan yang luar bisa mengerikan dari seorang Pendekar Topeng Seribu yang namanya sungguh termahsyur itu. Memang Jayaseta sedang memainkan kejiwaan musuh. Membuat mereka ketakutan sebelum ajal menjemput mereka.


Wajah Jayaseta yang tersembunyi di balik balutan kain dan hanya menyisakan kedua mata itu sama sekali tak terbaca. Sekali lagi, rencananya berhasil. Sisa para perompak yang kini hanya lima orang termasuk sang pemimpin berdiri kaku. Entah mengapa mereka baru sadar bahwa teman-teman mereka telah menggelepar di tanah tanpa ada suara sama sekali. Tidak ada lenguhan rasa sakit atau bunyi nafas sedikitpun. Apakah semua telah tewas? Dengan menghadapi Jayaseta seorang diri, tangan kosong pula?


"Bedebah! Apa yang kalian tunggu? Mengapa mendadak menjadi pengecut seperti ini di hadapan satu orang?" seru sang pemimpin ketus ketika melihat anak buahnya terlihat sekali mengerut dan menciut.

__ADS_1


"Kau tak lihat semua ini? Kita semua bukan tandingannya. Serahkan saja ke para pendekar yang lebih mumpuni dan sakti. Kita terlalu bodoh mencoba mencobai dirinya," kali ini salah satu anak buah sang pemimpin perompak berani unjuk pikiran.


"Benar. Sekarang semua sudah tahu bahwa nama besar itu bukan sekadar nama besar tanpa alasan. Kita bagai kayu bakar yang siap dilemaparkan ke api bila seperti ini. Aku lebih baik lari bagai pengecut dibandingkan mati konyol," ujar satu anggota yang lain.


Sang ketua perompak hendak mendebat tetapi sisi dirinya yang lain seakan menolaknya. Ia mencoba berpikir secara nyata dan bersih. Apa untungnya menghabiskan bawahannya untuk memberikan makan pada desas-desus dan kabar burung tentang kehebatan Jayaseta yang nyatanya memang benar itu. Bisa-bisa, semua anggota Dunia Baru akan ikutan gentar dan mengacaukan kesatuan mereka.


Sang pemimpin memandang ke arah Jayaseta yang masih berdiri di depan mereka dengan dingin, tanpa suara, kemudian memandang keempat anak buahnya. "Baik, untuk sekarang kita tinggalkan saja orang itu. Kita akan melaporkan pada ketua kita," ujarnya.


Semua anggota menarik nafas lega. Mereka berdiri tegak, meninggalkan kuda-kuda mereka. Kemudian berbalik secara serempak hendak meninggalkan Jayaseta ke arah yang berlawanan, nampaknya kembali ke arah sungai. Mereka terlihat sedikit prihatin dengan keadaan teman-teman mereka yang tergeletak entah pingsan entah mati. Namun, apa mau dikata. Mereka harus meninggalkan tempat ini. Mereka sudah kalah.


Jayaseta berlari ke arah mereka kemudian melompat begitu tinggi melewati kepala para perompak yang membelakanginya hendak pergi dari ajang pertempuran.

__ADS_1


Semua terkejut melihat sosok Pendekar Topeng Seribu kini berdiri di depan, membelakangi mereka.


Jayaseta berseru keras tanpa berpaling, "Sudah digariskan kalian akan mati di tanganku. Kalian tak bisa lari dariku, para pengecut!"


__ADS_2