
Jayaseta merasakan kesadarannya mulai menurun. Ia tak bisa merasakan dengan baik ancaman serangan yang diarahkan kepadanya. Terutama ketika ia masih berusaha melawan racun yang mengalir di dalam darahnya.
Beberapa saat sebelum sebuah golok mengincar kepalanya, mata Jayaseta mengangkap salah seorang budak yang paling tua, yang tadi sebelum pertarungan terjatuh dan ditendang oleh Kangsa, melemparkan sesuatu ke arah si penyerang.
Sebuah benda berupa lempengan besi tajam menancap di kepala, melesak masuk ke tengkorak kepalanya. Si pengawal yang goloknya hanya beberapa jengkal dari kepala Jayaseta langsung tumbang.
Tidak hanya itu, sang kakek renta juga melemparkan benda yang serupa ke arah si pemanah yang sudah siap melepaskan lagi panah beracunnya. Lempengan besi lancip itu tidak sekadar menancap di kepala, namun malah masuk jauh menembus batok kepalanya. Sang pemanah jatuh berlutut, kemudian tumbang mencium tanah tanpa suara.
Jayaseta bingung, namun tak lama, karena sekarang kesadarannya sudah hilang, digantikan oleh kuasa Nagataksaka dan Kyai Plered.
Racun yang masuk ke dalam tubuh Jayaseta melalui bahu yang tertancap anak panah langsung menguap ke angkasa. Anak panah yang masih menancap tercerabut dengan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa. Jayaseta mengaum, kesadarannya hilang sudah digantikan oleh tenaga luar biasa dari rajah Nagataksaka dan racun tombak pusaka Kyai Plered.
Jayaseta meloncat. Kedua tangannya menjadi cakar yang membabat habis musuh. Kedua kakinya sekeras gada besi namun selentur pecut. Tiga orang pengawal tandu yang menyerangnya tewas dalam beberapa jurus saja.
Jayaseta terus mengobrak-abrik musuh. Kekuatan Jayaseta berlipat ganda. Sayang, dengan munculnya kekuatan asing dari dalam tubuh Jayaseta ini malah mematikan jati dirinya yang sebenarnya, yang penuh dengan kehati-hatian, kecermatan dan kepekaan.
Tiga Iblis keheranan dengan kekuatan Jayaseta yang datang secara tiba-tiba. Belum lagi dua orang anak buah mereka tewas karena lemparan senjata rahasia budak renta yang tadinya terlihat sangat-sangat lemah dan tidak memiliki kesaktian atau ilmu silat sama sekali.
Tapi mereka tidak mau terlena dengan kebingungan ini. Dalam pertarungan, apapun bisa terjadi.
Parta memandang kedua temannya dengan penuh makna kemudian mengangguk. Serentak mereka maju menyerang ke arah Jayaseta yang terus mengaum buas bagai banteng terluka, melemparkan musuh dengan cakarnya.
BUG!
Toya Parta berhasil menghajar punggung Jayaseta. Jayaseta berguling ke depan, namun gerak-geriknya sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Wajah bengisnya tetap tertutup di balik topeng Hanuman yang meringis garang. Ini manjadikan semua jurus Jayaseta segarang topengnya. Sayang, sekali lagi Jayaseta yang ini bukanlah jati dirinya yang sebenarnya.
Sang budak renta yang tadi melemparkan senjata rahasia tiba-tiba berkerut. Ia berpikir keras. Saat ini barulah terlihat wajah aslinya yang memiliki raut wajah ciri khas orang-orang Hindustan, serupa dengan kakek guru Jayaseta sendiri, Kakek Keling. Kulitnya gelap dan tubuhnya kurus namun bila diperhatikan dengan seksama, dapat dilihat ulir otot yang kokoh oleh latihan tahunan.
Sang budak renta kemudian meraba bagian bawah tandu yang semula ia junjung. Ia mengambil dua buah lempengan besi tajam lagi dan melemparkannya dengan keras dan cepat ke arah tiga Iblis Pencium Darah.
TANG!
TING!
Damar dan Kangsa berhasil menangkis senjata rahasia tersebut yang ternyata merupakan dua buah lempengan besi sepanjang telapak tangan dan selebar dua jari. Keduanya adalah pisau rahasia.
Bedanya dengan pisau biasa, gagang dan bilahnya menyatu dan merupakan satu bagian lempeng besi. Selain itu, pisau yang dilempar memang merupakan pisau khusus yang bagian tajamnya hanya di ujung pisau. Bukan seperti pisau biasa yang digunakan untuk memotong.
Kakek renta itu meraba lagi bagian bawah tandu. Namun kali ini ia tidak mengambil pisau rahasia lagi, namun dua buah senjata tajam. Dua senjata tajam ini tidak kalah uniknya. Bermata pisau sepanjang hampir dua kali telapak tangan, namun gagangnya tidak seperti pisau, golok, atau pedang. Gagangnya datar menyamping sehingga ketika digenggam, mata pisau berada di tinju sang pemakai.
Sang kakek pun langsung meloncat menuju ke arah tiga Iblis. Satu pengawal yang menghalang di depannya tewas mengenaskan dengan tusukan di perut dan dadanya. Dua senjata kakek ini hampir mirip penggunaannya dengan senjata cabang milik Damar ketika digunakan seperti cakar yang ditinjukan atau ditusukkan kepada musuh di depan. Dua bilah senjata ini dikenal dengan nama Katar, senjata unik lagi khas dari tanah Hindustan.
“Tua renta bedebah!” Damar yang memang merupakan anggota Iblis Pencium Darah yang paling gampang tersulut amarahnya sudah kembali memaki.
“Tidak kusangka kau pandai bersilat. Siapa kau sebenarnya?” ujar Damar kembali.
“Jangan banyak bacot, bocah! Ladeni saja kedua katarku ini,” ujar sang kakek yang tanpa disangka mengeluarkan suara yang tegas dan bertenaga. Sama sekali lain dengan rintihannya sewaktu ia terjatuh seakan-akan lelah tadi.
Sambil meloncat ke arah Damar dan kedua anggota Iblis lain, sang budak renta sempat mendaratkan sebuah tendangan ke arah dada Jayaseta sembari berteriak, “Atur tenagamu! Masukkan hawa murni langsung ke jantung. Ajak Nagataksaka bekerja sama.”
__ADS_1
Jayaseta terguling ke belakang, namun sayup-sayup jauh di dalam dirinya, ia mendengar suara sang kakek yang entah mengapa langsung mempengaruhinya.
Jayaseta langsung bersila dan melawan energi asing yang menguasainya. Sang kakek sendiri yang paham dengan hal ini segera menyerang ketiga Iblis dan para pengawal yang berusaha mendekati Jayaseta.
Ia melompat-lompat dan menusukkan katarnya. Ketika musuh menyerang ia mundur, berguling, dan menghindar. Ketika jaraknya dan musuh sedikit terpaut, kembali ia menyerang lagi. Begitu beberapa kali sehingga yang terlihat adalah sang kakek seperti menari. Gerakannya lembut namun tajam. Menyerang dengan cepat dalam satu atau dua tusukan, berhasil tidak berhasil, ia mundur sejenak dan kembali menyerang lagi. Tak heran, sang kakek inilah yang dikenal dengan julukan si Pisau Terbang Penari.
Jayaseta perlahan tersadar. Rupanya racun dari anak panah tadi kembali membangunkan tenaga liar di dalam tubuhnya. Sejenak tadi Jayaseta memang sempat terbawa oleh kekuatan yang meledak-ledak di dalam tubuhnya dan mengikuti kemauan dari kuasa tersebut.
Namun tiba-tiba ada suara yang menembus ke dalam relung-relung jiwanya, melawan kuasa sang racun. Entah siapa orang tersebut Jayaseta pun tak paham, namun ia teringat pada Kakek Keling dan kata kunci ‘Nagataksaka’ membuatnya segera sadar. Ia tak mau berpikir lama lagi. Urusan siapa orang tersebut adalah urusan nanti. Ia harus kembali memiliki kuasa atas dirinya sendiri.
Pada keadaan bersila inilah Jayaseta sudah dalam waktu yang sebentar saja kembali sadar dan pulih seluruhnya. Ia membuka matanya. Di balik topeng ia melihat dengan jelas si budak renta tadi bukanlah orang tua biasa. Di kedua tangannya ia memegang dua buah senjata yang Jayaseta belum pernah melihatnya. Gaya bertarung sang kakek juga sangat aneh dan khas. Sosok sang kakek seperti menari, meloncat kesana kemari sembari menusuk-nusukkan senjatanya.
“Kau sudah bangun? Cepat katakan padaku bila kau sudah sadar,” ujar sang kakek kepada Jayaseta. Maklum, wajah Jayaseta ada di balik topeng, mana sang kakek tahu menahu bagaimana tampang Jayaseta sekarang.
Jayaseta mengangguk pasti agar sang kakek memahami apa yang terjadi. Jayaseta kemudian melihat sekeliling, memerhatikan musuh-musuhnya yang bertebaran. Beberapa sudah menggelepar tak bernyawa, termasuk tiga orang budak yang tewas. Sisanya baik budak maupun para pengawal sekarang mengelilingi Jayaseta, memasang kuda-kuda sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi.
Para pengawal terkaget-kaget karena diserang para budak dan dikejutkan oleh kehebatan sang kakek yang ternyata mampu beladiri. Sedangkan para budak memerhatikan keadaan Jayaseta dan merapat ke sang kakek.
“Bagus!” jawab sang kakek tiba-tiba.
“Sekarang perhatikan cara menggunakan senjata ini,” ujar sang kakek masih kepada Jayaseta.
Jayaseta tidak paham maksud sang kakek, namun ia kemudian berdiri dan tetap menuruti mau sang kakek dan memperhatikannya yang sudah langsung menghambur ke arah para pengawal yang mengepung mereka.
Si kakek renta yang ternyata sama sekali tidak renta ini melaju seperti anak panah, berputar seperti gasing, meloncat seperti kutu, namun menusuk seperti ***** pasukan kompeni Walanda. Kedua senjata katarnya menusuk-nusuk. Pedang dan golok sepertinya hanya sempat menghalau serangan namun tidak mampu menyerang sang kakek.
“Sekarang perhatikan bagaimana aku membongkar mereka,” sang kakek memandang Jayaseta dengan perhatian penuh. Kemudian ia melompat lagi ke arah kerumunan penyerangnya. Namun kali ini ia tidak sekedar menusuk dan mundur, namun ia benar-benar masuk dan bergumul.
TRANG!
TRING!
Beberapa kali logam beradu menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Beberapa bilah pedang menjadi sompel. Si Pisau Terbang Penari sedari awal memang sengaja untuk tidak menghabisi langsung para musuh-musuhnya. Entah apa yang ada di otak sang kakek sehingga ia seperti mengajarkan secara cepat jurus-jurusnya kepada Jayaseta. Karena tak lama satu katarnya menancap tiga kali dalam sekali tarikan nafas ke dada salah satu pengawal yang langsung meregang nyawa.
“Sekarang liat jurusku ini. Ini kusebut Tarian Gila Pembobol Sukma,” dengan entengnya sang kakek terus meminta Jayaseta memperhatikannya.
Tak lama jurus-jurus sang kakek menjadi semakin aneh. Sembari menyeruduk maju, kedua tangannya terentang dan meliuk-liuk. Gerakan pinggulnya lah yang sangat bericiri khas. Meliuk-liuk bagai seorang penari namun tegas nan berbahaya pula.
Akhirnya dalam sekitar lima jurus, sang kakek kembali membuat satu korban jatuh tak bernyawa. Bahkan jurus ini menunjukkan bekas luka di tempat yang tidak biasa, yaitu di pinggang, paha dan ulu hati sang musuh.
Jayaseta paham sekali bahwa sang kakek memang mengulur-ulur waktu saja dengan bermain-main dengan para penyerangnya. Ia bisa saja membunuh musuh dengan sangat cepat. Namun, ia ingin menunjukkan inti dari jurus-jurusnya kepada Jayaseta agar segera dapat dipelajari. Tentu bukan hal yang sulit bagi Jayaseta untuk mereguk gerakan-gerakan sang kakek, karena ia memang seorang pendekar yang cerdas dan tidak biasa.
“Sudah kau perhatikan dengan baik bukan? Sekarang ambil ini!” ujar sang kakek Pisau Terbang Penari sembari melemparkan salah satu katarnya ke arah Jayaseta.
Jayaseta menangkap katar itu dan menggenggamnya. Jayaseta belum pernah sama sekali melihat senjata dengan jenis seperti ini. Satu lagi senjata aneh dari tanah Hindustan, pikir Jayaseta.
Mendengar jurus sang kakek yang dinamakan Tarian Gila Pembobol Sukma, lemparan senjata rahasia berbentuk pisau serta wajah sang kakek yang berciri khas orang Hindustan, ia sudah yakin benar bahwa ia adalah orang yang ia cari, Pisau Terbang Penari. Seperti berjodoh saja, seluruh hidupnya selalu berdasarkan benang-benang nasib. Di dalam hati, Jayaseta memuji nama Allah yang Maha Kuasa, walau apapun yang akan ia hadapi di depan.
“Kau hadapi tiga orang itu, aku akan hadapi sisanya,” ujar kakek Pisau Terbang Penari.
__ADS_1
Jayaseta seperti tergugah dari lamunannya. Memang sekarang orang-orang yang mengepung mereka sudah sangat berkurang. Sudah beberapa orang tewas dengan keadaan sangat mengenaskan. Namun tetap saja para pengawal ini masih dilingkupi hawa pembunuh. Jayaseta sudah bersumpah untuk menghabisi mereka semua, sehingga sudah tidak ada tawar menawar.
Ia pun melompat maju.
Seperti kata sang kakek, ia kemudian langsung menerjang tiga Iblis yang tersisa dari Lima Iblis Pencium Darah. Ketiganya walau sudah paham gaya pertarungan Jayaseta dan bahkan sudah pernah dikalahkan dengan telak, ternyata sama sekali bergeming. Mereka tidak menunjukkan wajah kekhawatiran dan rasa takut. Ini semakin membuat Jayaseta mendongkol.
“Bocah, sudah jodoh kita bertemu lagi. Sudah kami katakan bahwa salahmu sendiri tidak menghabisi kami saat itu. Sudah selayaknya kami tidak melakukan kesalahan yang kau buat, kami tidak akan mengampunimu. Kami akan … ,” Parta yang berbicara panjang lebar itu langsung terdiam karena Jayaseta sama sekali tidak berniat mendengarkan ucapannya dan menyerangnya sebelum ia selesai berbicara.
Parta memutar toyanya menangkis serangan katar Jayaseta. Jayaseta bahkan membagi serangannya setiap dua kali tusukan pada masing-masing anggota Iblis Pencium Darah. Ia menguji senjata katar yang ia genggam. Rasanya begitu nyaman di genggamannya.
Jayaseta bahkan langsung melebur jurus Tarian Gila Pembobol Sukma dengan gaya bertarung layaknya orang mabuk laut yang secara tidak sengaja ia ciptakan di kapal sewaktu bertarung dengan para pengawal kapal yang kemudian menjadi rekan-rekannya beberapa saat lalu. Hasilnya, sebuah gerakan jurus rangkaian Jurus Tanpa Jurusnya yang baru dan tidak kalah anehnya.
Untuk musuh-musuhnya, gerakan-gerakan berkelahi Jayaseta tak ubahnya gerakan aneh yang berbahaya. Tapi Jayaseta sebenarnya melebur semua jurus yang ia dapatkan dan pelajari menjadi jurus-jurus yang tak terbaca dan tak terduga. Ia hanya mengikuti naluri dan menyerang atau bertahan sesuai dengan keadaan. Jurus-jurus yang ia pelajari hanya menambah kekayaan serangan dan pertahanannya.
Dari sudut mata, kakek Pisau Terbang Penari melihat Jayaseta dengan penuh makna. Ia sadar bahwa jurusnya telah ditelan mentah-mentah oleh Jayaseta dan dilebur tanpa bentuk sama sekali lagi.
Sudah jelas ketiga Iblis Pencium Darah kerepotan menghadapi Jayaseta. Tapi tetap saja Parta yang begitu bersemangat memutar-mutar toyanya.
“Heyaaaa …. Hiyaaatt!” Parta melompat dan membelah udara dengan toyanya yang mengincar puncak kepala Jayaseta.
Jayaseta bergeser sedikit ke kiri dan menempelkan katarnya ke toya. Ketika toya lepas dari sasaran melewati kepalanya, katar itu ia geser dengan cepat sepanjang toya.
Teriakan parta begitu memilukan karna kemudian empat jari kanannya telah terpotong dari pangkalnya. Saat itu pula Jayaseta menunduk dan menancapkan katarnya ke paha Parta dan membelahnya ke bawah.
Darah langsung muncrat dari paha Parta yang terbelah dari paha ke lutut. Tidak sampai disitu, ketika tubuh Parta roboh ke tanah, katar Jayaseta sudah menahan jatuhnya Parta. Katar menancap dengan mudah di lambung Parta. Jayaseta kemudian mengangkat tubuh tersebut dan membuangnya melewati kepala.
Damar dan Kangsa tercengang. Ini tak berlangsung terlalu lama karena Jayaseta sudah melaju bagai burung camar mengincar ikan di lautan. Katarnya kembali mendapatkan korban.
Bilah pisau tajam itu menembus lengan Damar. Jayaseta menggeser dan membelah sepanjang lengan dengan cepat. Darah memuncrat lagi. Jayaseta tak berhenti walau teriakan Damar memekakkan telinganya karena ujung katarnya kemudian menancap di leher Damar. Kembali ia geserkan dengan cepat. Damar terdiam, suara hilang dari kerongkongannya yang hampir putus. Ia tewas.
Tinggal Kangsa yang masih berdiri. Kedua pedangnya tergenggam erat di tangan. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut. Entah apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Yang jelas sama sekali berbeda dengan terakhir ketika ia dikalahkan oleh Jayaseta.
Sekarang kedua pedang Kangsa sudah diangkat. Ia menggeram dan melompat dengan garangnya ke arah Jayaseta. Kedua pedang lebarnya yang berwarna hitam gelap berputar-putar. Serangan Kangsa kali ini benar-benar menghabiskan segala tenaga yang ia miliki.
Kehilangan semua anggota Iblis Pencium Darah jelas merupakan hal yang terlalu menyakitkan. Tapi Kangsa sendiri seperti teman-temannya yang lain sama sekali tidak mau tunduk pada musuh-musuh mereka. Suka tidak suka, Lima Iblis Pencium Darah adalah orang-orang yang teguh pendiriannya dan tidak takut untuk kehilangan nyawa demi tugas yang diberikan kepada mereka. Sayangnya mereka berada di jalan yang salah. Lagipula, bila mereka teguh pada pendiriaannya, seharusnya mereka melaksanakan saja tugas-tugas yang diberikan kepada mereka dan tidak malah lari dari Kesultanan Mataram dan membelot ke Betawi.
Ah, sangat membingungkan, pikir Jayaseta.
“Hiaatttt! ****** kau, setan alas!” ujar Kangsa sembari memutarkan kedua pedangnya mengincar kepala Jayaseta.
Memang sudah diketahui sejak awal bahwa Kangsa memiliki kedua lengan yang begitu kuat. Tubuhnya juga mampu menopang kedua pedang yang berat itu sehingga gerakannya tetap begitu cepat dan bertenaga. Tapi jelas juga bahwa Kangsa bukan lawan Jayaseta. Karena terlalu menghabiskan tenaga menyerang bagian atas tubuh Jayaseta, bagian bawah Kangsa malah terbuka.
Jayaseta berputar ke kanan sekali, kemudian kiri, menyesuaikan serangan Kangsa yang berputar pula. Jayaseta berputar sekali lagi sembari merendahkan tubuhnya. Sisi besi katar yang seharusnya digunakan untuk bertahan sekarang dihantamkan Jayaseta ke lutut Kangsa. Suara berderak bunyi tempuruk lutut Kangsa bergeser yang disusul teriakan kesakitan dan tiba-tiba suara itu berhenti ketika Jayaseta menancapkan katarnya menembus otak Kangsa dari bagian bawah dagunya.
Habis sudah perlawanan para gerombolan pengawal tandu yang dipimpin oleh tiga anggota Iblis Pencium Darah yang sekarang sudah hampir tewas seluruhnya. Para budak yang merasa sudah menang terbangkitkan lagi semangat dan kebencian mereka terhadap para pengawal.
Dengan dipimpin Pisau Terbang Penari, para budak tersebut benar-benar menghajar para pengawal sampai kocar-kacir. Sumpah Jayaseta untuk menghabisi semua pengawal ternyata tidak bisa dipenuhi. Kurang lebih sepuluh pengawal berhasil melarikan diri secepat-cepatnya agar terhindar dari kematian.
__ADS_1
Pada akhir pertarungan, lima budak tewas. Sisanya luka-luka, walau ada yang terluka sangat parah, ada pula yang terluka ringan. Empat perempuan muda yang didandani ala nyonya-nyonya kompeni juga tidak terluka sama sekali. Sedangkan lebih dari dua puluh pengawal sudah meregang nyawa. Mayat-mayat mereka bertebaran di jalan.