Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Serdadu


__ADS_3

Jayaseta bergidik menatap wajah Pratiwi dan bingung bukan kepalang.


Belum selesai bingungnya, kakek Salman membalikkan tubuhnya dengan cepat dari keadaan berlutut dan melemparkan pisaunya ke arah Pratiwi yang masih berdiri tegak. Jayaseta melihat bahwa punggung kakek Salman terkoyak parah oleh dua buah belati yang digenggang Pratiwi. Harusnya dengan luka semacam itu sang kakek sudah tak dapat melakukan perlawanan.


Namun, Sebagai orang sakti yang dikenal dengan julukan si Pisau Terbang Penari, kakek Salman masih dapat melepaskan serangan dan sudah barang tentu lemparan pisaunya tidak akan meleset. Apalagi dengan jarak sedekat ini, sudah dipastikan tubuh Pratiwi akan bersimbah darah karena tertembus pisau tersebut.


TING!


Pisau terbang kakek Salman jatuh di lantai. Pratiwi tetap berdiri tanpa terluka sedikitpun. Ia bahkan menyibakkan kain jarit yang menutupi tubuhnya dengan sekali sentak.


Sekarang yang berdiri di depan Jayaseta dan kakek Salman adalah Pratiwi yang mengenakan pakaian tempur.


Ia mengenakan kemben, tapi bukan kemben biasa. Kemben baik itu ditempeli lempengan logam selebar telapak tangan yang tersusun rapat di kemben tersebut. Di bagian bawah, Pratiwi mengenakan celana pendek hitam yang di pinggangnya tersampir dua sarung belati yang belatinya masih terhunus berkilat-kilat namun juga tertutup oleh lelehan darah.


Ternyata ini yang menjadi penyebab pisau terbang rahasia kakek Salman tidak mampu menembus tubuh Pratiwi. Ia mengenakan pakaian tempur yang dilindungi lempengan besi itu.



Jayaseta memegang kedua lengan kakek Salman. Ia melihat sekilas dua buah luka sabetan di punggung kakek Salman hasil pembokongan Pratiwi.


“Jayaseta, kau harus bunuh dia. Kita disusupi kompeni!” ujar kakek Salman sembari tersedak.


Jayaseta belum dapat menyusun keterkejutannya menjadi kesadaran. Namun ia meletakkan kakek Salman di lantai dengan pelan dalam keadaan miring. Ia sendiri kemudian berdiri dan menatap Pratiwi dengan pandangan tidak percaya.


“Kenapa, adinda Pratiwi?” tanyanya lirih, nyaris tak terdengar.


Pratiwi tersenyum manis. Sangat manis bahkan. Sehingga sulit bagi Jayaseta untuk memercayai gadis polos di depannya yang membokong sang kakek dan mengenakan pakaian perang ini.


“Kakang Jayaseta, adinda memohon maaf yang begitu dalam. Ini sudah tugas adinda untuk melenyapkan si Pisau Terbang Penari.”


“Kenapa, kenapa Pratiwi?” ujar Jayaseta masih dalam suara yang rendah.


“Tahukah kakang bahwa adinda sangat mencintai kakang? Sejak pertama kali bertemu, adinda sudah berpikir bahwa kakanglah yang akan menjadi pendamping hidup adinda.”


Jayaseta semakin bingung. Pratiwi tidak menjawab pertanyaannya, malah menjelaskan perasaannya pada Jayaseta.


“Kedua kalinya adinda bertemu kakang, adinda semakin yakin bahwa ksatria berilmu tinggi ini adalah jodoh adinda. Kita berdua akan menjadi sepasang pendekar yang akan menggetarkan dunia silat kakang,” ujar Pratiwi sembari tertawa lirih.


Tiba-tiba Jayaseta sekarang teringat Sarti, pendekar perempuan yang berhasil ia tewaskan. Suara lembut Pratiwi serupa dengan suara Sarti yang juga berkebalikan dengan perilakunya.


“Apa yang kau bicarakan, Pratiwi?” kebingungan Jayaseta berubah menjadi kegeraman.


“Adinda harus membunuh orang itu karena kompeni merasa ia dan gerakan-gerakan lain yang melawan pemerintahan kompeni mulai mengganggu. Bahkan sebenarnya, kakang juga termasuk buruan kompeni karena mengganggu jalannya pemerintahan. Kakang membunuh banyak anggota Jarum Bumi Neraka dan Iblis Pencium Darah.”


“Apa!? Jadi kau adalah salah satu orang suruhan kompeni?”


“Mohon ampun, Kakang. Itulah jalan hidup adinda,” ujar Pratiwi masih dengan senyum dan tatapan lembutnya yang dengan menyakitkan harus diakui begitu manis.


Tak lama salah satu pintu terbuka, para budak menghambur masuk. Mata mereka membulat kaget melihat keadaan ini. Dua orang budak yang sadar dengan apa yang terjadi tidak dapat menahan diri dan menghambur ke arah Pratiwi.


“Bajingan! Kubunuh kau!” ujar salah satu budak.


Pratiwi yang bertubuh mungil itu hanya tersenyum ketika melihat dua orang menghambur ke arahnya.


“Jangan!” ujar jayaseta untuk mencegah mereka. Tapi terlambat.


Pratiwi meloncat ke atas seakan tubuhnya seringan kapas. Kemudian mendaratkan kedua kakinya di wajah kedua budak penyerangnya.


BUG!


Kedua budak terpelanting jauh dan tak sadarkan diri.


Suasana di ruangan itu menjadi tegang. Perempuan-perempuan tandu yang juga ikut masuk ke ruangan tersebut memekik tertahan. Sedangkan budak-budak lain menjadi siaga sekaligus panik.


“Kakang, ikutlah bersama adinda. Sebentar lagi pasukan kompeni akan mengepung tempat ini. Adinda akan menyerahkan si tua bangka itu. Sedangkan kita akan pergi dengan bebas. Adinda juga akan meninggalkan kompeni bila kakang menginginkan.”


“Kau perempuan licik Pratiwi. Kau wadon kenthir, perempuan gila!”


“Adinda memang seorang perempuan gila, tergila-gila dengan kakang. Tidakkah kakang paham itu? Bila tidak, adinda sudah membunuh kakang kapanpun adinda mau. Sewaktu kakang bertarung dengan tiga anggota Jarum Bumi Neraka, adinda dapat saja membunuh kakang ketika berpura-pura dijadikan sandera oleh teman-teman adinda.”


“Apa yang kau katakan?” Jayaseta semakin tidak percaya.


“Adinda bahkan rela mengorbankan teman-teman adinda karena begitu melihat kesaktian dan wajah kakang, adinda saat itu juga jatuh cinta.”


“Apa yang kau pikirkan Pratiwi? Kejahatan apa yang kau pupuk? Setelah membabat kakek Salman dengan belatimu secara licik, apa kau berpikir bisa pergi denganku?”


“Ha ha ha …” Pratiwi tertawa renyah. Wajahnya semakin cantik. Sayang jiwanya begitu kejam.

__ADS_1


“Tidak tahukah kakang bahwa adinda bahkan merelakan ibunda adinda sendiri? Adinda sudah memaafkan kakang karena membunuh ibunda. Adinda bahkan melanggar sumpah adinda sendiri untuk membunuh orang yang membunuh ibunda ketika paman Parta mengatakan bahwa si Pendekar Topeng Seribu yang melakukannya.”


“Aku tidak pernah membunuh perempuan yang tidak berdosa, Pratiwi. Siapa yang kau maksud dengan ibumu?”


“Ah, kakang. Kakang memang seorang ksatria sejati. Adinda tahu kakang tidak akan pernah membunuh orang yang tidak berdosa. Adinda semakin mencintai kakang,” Pratiwi tersenyum.


Jayaseta merasa tenggorokannya tercekat. Wajah Sarti dan suara lembutnya lewat di pikirannya. Sebutan nama 'Parta' sebagai seorang 'paman' bagi Pratiwi sepertinya sudah menjelaskan segalanya. Sarti adalah ibunda Pratiwi.


“Pratiwi!” Jayaseta geram dan tak dapat menahan amarahnya. Ia menyerang langsung ke arah Pratiwi dengan Tinju Besinya.


Pratiwi berkelit dengan luwes. Satu kakinya menapak paha Jayeseta dan menggunakannya untuk melentingkan tubuhnya ke belakang. Pratiwi kemudian berdiri dengan kuda-kudanya yang kokoh. Kedua belati masih tergenggam erat di tangannya.


“Kakang luar biasa! Bila nanti kita telah bersama, maukah kakang mengajari adinda jurus-jurus mahsyur kakang?” mata Pratiwi berbinar.


Jayaseta merasa hatinya sakit. Di sisi lain, tenaganya sebenarnya belum begitu pulih. Ia tadi meledakkan tenaga dalamnya di pusat dadanya serta menggunakan banyak tenaga dalam untuk mengatur Nagataksaka untuk melawan racun Kyai Plered dan menerima Garuda Sentanu.


Walau sekarang racun Kyai Plered belum menunjukkan dirinya, tapi sudah jelas adanya bahwa rajah Garuda Sentanu belum sempat diselesaikan oleh kakek Salman. Ini berarti racun Kyai Plered belum sama sekali terusir dari tubuhnya.


Seorang budak tergopoh-gopoh berjalan ke arah Jayaseta dan memberikan keris Kyai Pulau Bertuah kepada Jayaseta dan satu buah katar milik kakek Salman.


Jayaseta mengambil kedua senjata tersebut dan mencabut keris Kyai Pulau Bertuah. Sekarang ia memegang kedua senjata itu di tangannya.


Jayaseta menatap Pratiwi dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku tidak percaya ini Pratiwi. Dengan berat hati aku terpaksa melawanmu. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu, tapi kau adalah bagian dari kejahatan.”


“Kakang Jayaseta … kakang menggunakan keris Kyai Pulau Bertuah yang adinda berikan? Terimakasih kakang. Kakang terlihat gagah sekali menggunakannya,” ujar Pratiwi tanpa sama sekali peduli dengan kenyataan bahwa Jayaseta akan benar-benar menyerangnya.


“Heyaaaa …. “ Jayaseta melompat maju dan melancarkan serangangnnya dengan keris maupun katarnya.


Pratiwi tertawa riang dan memutar-mutarkan kedua belatinya untuk menepis serangan Jayaseta selagi tubuhnyaa juga berkelit-kelit.


Pratiwi tanpa disangka dalam usia semuda ini dan mengingat bahwa ia adalah seorang remaja perempuan ternyata memiliki kemampuan silat yang luar biasa. Ia berkelit dengan lincah. Tubuhnya seringan kapas atau bulu burung dara.


Kelenturan tubuhnya yang luar biasa membuat serangan Jayaseta lolos. Sekali dua Pratiwi juga sengaja menusukkan belatinya ke arah bahu atau dada Jayaseta. Namun Jayaseta pun paham bahwa Pratiwi hanya sekedar bermain-main. Ini membuat Jayaseta geram.


Jayaseta merapatkan serangannya dan memasukkan beberapa unsur jurus Tarian Gila Pembobol Sukma. Sehebat apapun Pratiwi pastilah bukan lawan Jayaseta yang sudah berpengalaman dan memang merupakan seorang pendekar pilih tanding.


Tak lama Pratiwi terdesak. Tapi dasar pendekar, Pratiwi dapat saja menghindari serangan Jayaseta. Dalam keadaan terdesak Pratiwi meloncat dan berputar di atas kepala Jayaseta.


Ilmu meringankan tubuhnya di atas rata-rata karena dengan cekatan dan gesit Pratiwi menjejak meja di pojok ruangan ketika terdesak serangan Jayaseta. Ia kemudian meloncat ke dinding kemudian berlari menyusuri dinding tersebut seperti layaknya berjalan di atas tanah saja walau tubuhnya dalam keadaan miring.


Sesampai di lantai, Pratiwi terkejut karena Jayaseta berhasil meniru ilmu meringankan tubuhnya sehingga ia lupa untuk tetap bertahan. Akibatnya keris Kyai Pulau Bertuah berhasil membabatnya dua kali menyilang di dada dan satu tusukan katar di perut.


Pratiwi terdorong ke belakang dan nyaris jatuh. Ia terbatuk sedikit kemudian tersenyum lebar.


“Kakang Jayaseta hebat sekali. Jangan lupa tolong ajarkan ilmu kakang ketika nanti kita sudah resmi menikah,” ujar Pratiwi.


Rupa-rupanya lempengan besi di baju Pratiwi memang ampuh menahan senjata tajam. Pratiwi tidak terluka sama sekali, hanya terbatuk akibat tenaga dorongan Jayaseta. Bila Jayaseta memang hendak melukai Pratiwi, satu-satunya jalan adalah menyerang bagian tubuhnya yang tidak terlindungi, yaitu bagian atas tubuhnya di bahu, leher dan kepala atau di bawah dada dan perutnya.


Ketika Jayaseta hendak menyerang lagi tiba-tiba pintu ruang yang satunya lagi terbuka dengan keras. Abun, si pemilik penginapan menghambur masuk. Tubuhnya terbalut darah di mana-mana.


Dengan suara parau dan menggunakan bahasa Hokkien dan campuran Melayu ia berkata, “Asing, segera pergi dari sini bersama yang lain. Pasukan kompeni menyerang penginapan ini. Selamatkan nyawa kalian.”


Abun tersungkur. Nampaknya nyawanya sudah tak terselamatkan melihat banyaknya darah yang menutupi baju panjang Cinanya.


“Kakang, mari pergi bersama adinda. Adinda akan meminta pasukan kompeni untuk tidak menangkap kakang. Adinda akan katakan bahawa kita adalah calon suami istri.”


“Kau benar-benar gila, Pratiwi. Sudah banyak korban orang tidak bersalah dan kau masih memaksakan kehendak gilamu. Aku tidak akan sudi memiliki orang sepertimu sebagai seorang istri, bahkan tidak sebagai teman sekalipun.”


“Adinda paham kakang belum dapat menerima ini semua. Adinda akan sabar untuk membuktikan rasa cinta adinda kepada kakang. Bila tidak hari ini, mungkin esok, sewindu atau sepuluh tahun lagi adinda tidak peduli. Kakang pasti akan menjadi milik adinda.”


Tak menunggu lama, Jayaseta menghambur lagi menyerang Pratiwi. Jayaseta memutarkan tubuhnya bagai gasing dan menggunakan dua bilah besi tajam senjatanya untuk membabat kaki Pratiwi. Pratiwi sendiri kemudian dengan gesit meloncat berputar di udara sekali. Ketika kakinya menyentuh lantai ia meloncat lagi dan memutarkan tubuhnya yang mungil itu dua kali di udara. Serangan Jayaseta kembali lolos.


***


Dari pintu di mana Abun datang menghamburlah orang-orang berpakaian ala kompeni lengkap dengan senapan laras panjang dan pedang panjang di pinggang kiri mereka. Sekarang ruangan ini telah dibanjiri belasan prajurit kompeni yang terdiri dari orang-orang pribumi dan segelintir orang Walanda sendiri.


Pratiwi berdiri di samping tubuh tak bernyawa Abun sedangkan pasukan kompeni berada di belakangnya.


“Kalian boleh ambil tua bangka yang tergeletak di sana. Tangkap juga para budak dan perempuan-perempuan itu. Tapi jangan sekali-kali menyentuh pemuda tampan yang berdiri di depanku,” ujar Pratiwi dengan suara halusnya dalam bahasa Jawa.


Salah satu prajurit kompeni bangsa Walanda yang nampaknya paham bahasa Jawa mengernyit, “Siapa dia sehingga tidak bisa kita orang tangkap?”


“Ia adalah kekasihku,” jawab Pratiwi sembari tersenyum simpul.


Jayaseta mendengar ini merasa tidak perlu membuang waktu. Ia sudah terpancing dengan sikap Pratiwi yang aneh dan gila. Langsung saja ia menerjang maju ke arah pasukan kompeni tersebut.

__ADS_1


DAR! DAR! DAR!


Tembakan beruntun langsung memenuhi ruangan bersama dengan asap senapan yang membumbung.


Pratiwi berteriak, “Jangan! Kakang Jayaseta!”


Pratiwi kemudian menepis beberapa buah senapan yang menembakkan pelornya.


Namun tanpa diduga, di balik asap putih tebal yang mengepul muncul Jayaseta yang membabatkan kerisnya ke para penyerang. Pasukan kocar-kacir. Dua serdadu terluka oleh sabetan keris Jayaseta.


Katar yang rupanya tadi dipakai Jayaseta untuk menangkis ***** kompeni sekarang telah tercancap di dada salah satu serdadu kompeni. Para serdadu pun mencabut pedang panjang mereka. Pertarungan akan kembali terjadi.


Para serdadu menyeruak ke dalam ruangan dan mengepung Jayaseta. Pratiwi menjerit dan berteriak agar pasukan tersebut tidak menyentuh Jayaseta. Namun jelas-jelas ucapannya tak diacuhkan. Apalagi tak lama belasan pasukan lain masuk dengan senapan yang masih terisi penuh siap menembak Jayaseta.


Ruangan yang tak seberapa besar itu kini menjadi semakin sempit.


BRAK!


Tiba-tiba dua jendela lebar yang tertutup rapat dijebol dari luar.


Anak panah meluncur dari luar jendela dan tepat mengenai seorang serdadu yang memegang senapan. Setelah itu beberapa anak panah menyusul masuk mengacaukan pasukan kompeni.


Tak lama beberapa orang masuk melalui jendela. Wajah-wajah yang Jayaseta kenal dengan baik; Katilapan yang menggenggam ginuntingnya, Narendra dengan tombak trisula pendek, serta ketiga pasang pendekar belati: Kesuma, Mahendra dan Sasangka. Bahkan Badra juga ada diantara mereka.


“Le, kita harus segera pergi dari sini. Di luar masih banyak pasukan kompeni dengan senapan lengkap,” ujar Badra


“Karsan sedang diluar. Ia akan terus memanah dan menghalangi pasukan kompeni,” kali ini Katilapan yang berbicara.


Jayaseta tidak mau terlalu lama terpana. Sudah terlalu banyak kejutan hari ini. Ia mengangguk mantap kepada keempat orang itu.


“Tapi kita harus membawa serta kakek yang terluka itu serta perempuan dan rombongan ini,” ujar Jayaseta sembari menunjuk ke arah para budak yang terlihat pucat gemetaran karena takut.


“Baik Jayaseta, kami bertiga yang melawan para serdadu ini. Kalian harus segera keluar melalui pintu belakang bangunan ini sembari membantu yang lain,” ujar Mahendra sembari menghambur ke depan dengan pedang panjangnya. Ia disusul dua orang pasangan belatinya.


Katilapan, Badra dan Narendra langsung membantu para budak dan perempuan-perempuan tandu untuk keluar dari ruangan area pertarungan. Katilapan dan Badra bahkan sempat membopong dua orang budak yang tadi dibuat pingsan oleh Pratiwi.


Jayaseta juga membopong kakek Salman yang sepertinya sudah tak sadarkan diri. Kerisnya ia jatuhkan begitu saja yang kemudian dipungut oleh salah seorang budak. Budak itu memasukkan kembali keris kembali ke sarungnya dan ia tumpukkan bersama dengan topeng dan tiga buah cakram Jayaseta dalam sebuah gulungan kain.


Budak tersebut mengangguk kepada Jayaseta, “Biar hamba bawakan semuanya, tuan.”


Jayaseta mengangguk.


Namun tiba-tiba Jayaseta berhenti, memberikan tubuh kakek Salman yang digendongnya kepada Narendra, “Sebentar, ucapnya.”


Jayaseta kembali masuk ke dalam ruangan dan membantu tiga pasang pendekar belati menyerang para serdadu Walanda. Sepasang matanya menatap Pratiwi. Katilapan, Narendra dan Badra tak sempat mencegahnya karena sibuk membawa pergi para budak dan perempuan tandu.


“Kakang kembali buat adinda?” ujar Pratiwi dengan keras dan riang.


“Jayaseta, mengapa kembali? Segera pergi, kami akan menyusul,” ujar Kesuma.


Jayaseta tak mendengarkannya dan langsung menghambur ke arah Pratiwi. Kedua tangannya membentuk cakar. Tiga jari utama, jari tengah, jari telunjuk dan jempol menyerupai cakar. Inilah bagian dari jurus Cakar Naga yang kemudian dengan liar mengejar Pratiwi.


Pratiwi berkelit. Jayaseta tahu bahwa Pratiwi tidak akan menggunakan kedua belatinya untuk meluakainya. Oleh sebab itu Jayaseta terus saja menggunakan cakarnya untuk menghantam Pratiwi. Bukan menghantam, tapi mencakar lebih tepatnya.


Ini jelas terlihat ketika Jayaseta memegang dua lempengan besi pada kemben Pratiwi dan merobeknya dari tubuh Pratiwi. Dua lempeng besi ada di tangan Jayaseta.


“Kakang … adinda malu. Bisakah kita mencari tempat atau sedikit menunggu waktu agar kakang dapat melepas busanaku?” jawab Pratiwi. Pipinya bersemu merah.


Walau masih kesal dengan ucapan-ucapan genit Pratiwi, Jayaseta mengangguk kepada ketiga pendekar belati yang sudah mulai tidak sibuk menghalau para serdadu kompeni.


Ia menghambur keluar dari penginapan melalui jalan belakang disusul Kesuma, Mahendra, Sasangka ditemani teriakan kesal nan genit Pratiwi.


***


Di belakang penginapan terdapat pepohonan dan rerumputan yang lumayan lebat serta sebuah jalan kecil menurun yang menuju ke arah sungai di bagian bawah. Jayaseta sudah kembali membopong kakek Salman yang masih tak sadarkan diri.


Di balik semak dan pepohonan Jayaseta melihat Karsan yang sudah bersiap-siap di sana. Ia kemudian memberikan semacam bungkusan kepada Kesuma, Mahendra, Sasangka, Katilapan, dan Narendra. Bungkusan tersebut adalah bubuk api yang siap mereka ledakkan untuk menghalau para serdadu.


“Jayaseta, segeralah pergi, kami akan menyusul," ujar Karsan.


Jayaseta hendak menjawab ketika Badra sang paman segera menjawabnya, "Le, orang-orang ini serta si kakek lebih penting nyawanya. Kau harus membantuku membawa mereka ke tempat aman. Jangan sampai kita dihadang mereka lagi. Mereka pasti bisa menyelesaikan ini dan menyusul kita."


Jayaseta membutuhkan waktu saru tarikan nafas untuk setuju. "Tapi kalian janji untuk segera menyusul kami, ya," ujarnya memandang sepasang mata Karsan lekat-lekat.


Yang diajak bicara mengangguk mantap. Jayaseta beranjak pergi bersama Badra mengamankan para budak, kakek Salman dan para perempuan tandu.


***

__ADS_1


Setelah kurang lebih lima puluh langkah Jayaseta berjalan ke arah sungai terdengar ledakan keras. Api membumbung ke angkasa membuat suasanaa menjadi terang benderang. Jayaseta dan rombongan menyibak rerumputan di tepian sungai dan menghilang di kegelapan yang tak tersinari api ledakan diikuti oleh semua anggota prajurit penjaga kapal lengkap setelah beberapa saat.


__ADS_2