Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jurus Badai di Tengah Samudra


__ADS_3

Orang-orang Mangkasara dan Bugis telah mengenal seni silat yang disebut Manca' sejak seratus tahun yang lalu, yaitu abad ke-16 Masehi.


Di kerajaan Makassar yang terdiri atas Kesultanan Gowa dan Tallo, atau Kerajaan Bugis Bone yang terletak di barat daya pulau Celebes dan kerajaan-kerajaan Bugis lainnya seperti Wajo dan Soppeng, manca’ diperuntukkan bagi keluarga raja dan kaum bangsawan. Mereka dilatih sejak kecil agar dapat menguasai manca’ dan kemudian hari dapat disebut pamanca’ ketika telah menguasai seni silat tersebut.


Sedangkan di kalangan masyarakat biasa yang menjadi prajurit atau pendekar, pamanca’ menjadi orang-orang pilihan yang selalu berada di garis terdepan saat perang. Mereka digelari towarani atau tobarani yang berarti sang pemberani.


Misalnya saja prajurit-prajurit pilihan pengamanan Kerajaan Gowa banyak berasal dari Kampung Taeng. Mereka dikenal karena kemahiran bermain silat dengan gerakannya yang lembut seperti orang menari dan patah-patah, namun gerakannya tetap ampuh dalam melumpuhkan hingga mematikan lawan.


Seorang pamanca' juga dilengkapi dengan pangngisengang kabura’neang atau ilmu kejantanan, yang berupa ilmu kebal terhadap senjata, maupun ilmu kebatinan lainnya.


Hanya saja manca' bisa dikatakan memiliki perbedaan yang kentara dengan sendeng atau silat lautan yang dikuasai para perompak ini. Baik manca' maupun sendeng memiliki ciri pukulan cepat dan berkali-kali pada tubuh musuh, namun sendeng memiliki keunggulan pada ranah yang sempit atau tidak luas.


Bagi para perompak, mereka tidak terlalu membutuhkan gelanggang yang luas seperti lapangan tempat pertempuran perang antar prajurit dan tentara misalnya. Gerakan para perompak ditujukan untuk memberdayagunakan keterbatasan lahan tersebut, sehingga muncullah kuda-kuda bersilang atau langkah sepapan.


Tendangan pendek dan rendah atau sama sekali tanpa tendangan menjadi pilihan. Jarang ada lompatan atau menghindar dengan berjumpalitan guna memanfaatkan tempat dan waktu.


Jayaseta tak bisa jumawa. Walau di darat, dengan gaya bertarung yang beragam ia bisa melawan beragam musuh juga, di atas laut merupakan sebuah dunia yang sama sekali berbeda.


Ia sudah menghabiskan banyak tenaga dan waktu untuk menghadapi musuh dengan cara bertarung yang tidak pernah ia hadapi atau saksikan sebelumnya. Ia sendiripun harus menjaga tubuhnya dari rasa mabuk dan menyesuaikan dengan geladak kapal yang terus bergoyang.


Jayaseta memang tidak pernah mempelajari ilmu kekebalan atau ilmu-ilmu silat lain yang seakan mendekati ilmu sihir. Ia memang dapat menggunakan ilmu pernafasan dan tenaga dalam untuk membuat tubuhnya keras, tenaganya berlipat-lipat yang membuatnya tidak hanya dapat menghancurkan benda-benda kerasa dan menjebol dinding batu, namun ia tidak pernah tertarik untuk memperdalam tingkat kemampuan silatnya sampai kepada kekebalan atau kekuatan sejenis.


Bila ingin memiliki kemampuan semacam itu, ia dapat saja mengikuti aturan-aturan atau syarat tertentu dari para pendekar ilmu hitam, atau ilmunya harus sampai pada taraf yang begitu tinggi.


Namun, sampai saat ini ia masih berpendapat bahwa kekuatan sejati seorang pendekar terletak pada falsafah hidupnya yang berdiri di jalan yang benar, keuletan dan ketangkasan serta kepandaian daripada harus merapal mantra, menghindari atau mengikuti beragam syarat yang tak jarang aneh-aneh, atau malah membahayakan diri sendiri dan dapat saja mati dengan konyol.


Tapi baru saja Jayaseta kembali terpental ke belakang dan menubruk tepian geladak.


Si Gelembung Lotong melepaskan pukulan lurus dengan cepat beberapa kali ke arah tubuh dan wajah Jayaseta.


Awalnya dengan meniru gerakan musuh, Jayaseta dapat memahami lebih dalam ilmu kanuragan lawannya, ternyata Si Gelembung Lotong memberikan jurus-jurus yang kembali berbeda.

__ADS_1


Ia menyebutnya Jurus Badai di Tengah Samudra.


Jurus ini sebenarnya sederhana. Si Gelembung Lotong maju lurus dengan cepat, memukul ke arah Jayaseta secara bertubi-tubi. Semua pukulan dibarengi halauan dan tangkisan.


Jadi, ketika tangan kanan memukul, tangan kiri sudah siap menangkis. Namun bila ada kesempatan dan Jayaseta masih sibuk menangkis dan menghindar, maka kedua tangan akan terus meninju.


Selain itu, Si Gelembung Lotong akan langsung mundur juga dengan gerakan lurus, ketika Jayaseta membalas dengan gerakan serupa.


Ketika Jayaseta meluncur mengejar musuh, Si Gelembung Lotong segera berhenti mendadak dan malah kembali menyerang dua kali lebih dahsyat.


Tak urung Jayaseta tertipu dan terkesima dengan serangan balasan ini. Akhirnya dua pukulan mendarat di dada dan perutnya.


Setiap pukulan cepat Si Gelembung Lotong ini memiliki beban tenaga dalam yang tak biasa. Rasa pedas yang dirasakan Jayaseta ini bagai terbakar saja.


Jayaseta rubuh.


Namun ia tak mau membiarkan musuhnya puas. Maka dari itu Jayaseta meluncur bagai seekor katak memberikan Telapak Buddha yang telah digubah oleh orang-orang Cina muslim suku Hui tepat ke arah kepala Si Gelembung Lotong.


Serangan itu dapat Si Gelembung Lotong hindari sejengkal dari kepalanya, namun tanpa ia ketahui Jayaseta menggenggam badik di tangan kirinya yang dengan cepat ia tusuk dan sabetkan ke tubuh sang musuh.


Sang musuh pun terlihat terkesima dengan gerakan tipuan ini. Oleh sebab itu Jayaseta tak mau membuang-buang kesempatan lagi, ia menusukkan kembali badik tersebut berkali-kali dengan kecepatan yang luar biasa.


JLEB!


JLEB!


JLEB!


Lima kali tusukan badik Jayaseta menembus pakaian rompi Si Gelembung Lotong. Sudah dipastikan busananya compang-camping tak karuan.


Benar saja, baju tanpa lengan dan kancing itu sudah koyak di sana-sini tak berbentuk lagi.

__ADS_1


Si Gelembung Lotong menarik lepas pakaiannya dan melemparkannya ke lantai. Ia berdiri berkuda-kuda dengan keadaan baik-baik saja, sedangkan badik yang Jayaseta pegang bilahnya sudah melengkung seakan membentur batu karang.


Jayaseta membuang badik yang tak mampu menembus ilmu kebal sang musuh tersebut. Namun sebelum ia sadar, Si Gelembung Lotong sudah kembali melaju ke arahnya.


Kekesalan Jayaseta karena kembali berhadapan dengan seorang pendekar berilmu kebal ini mengakibatkan kurangnya perhatian dan penjagaannya.


Si Gelembung Lotong berhasil mendaratkan tiga tinju sekaligus ke dada dan rahang Jayaseta. Berhubung ketiga tinju ini dialiri tenaga dalam, tak pelak Jayaseta mental jauh ke belakang.


Rupa-rupanya Si Gelembung Lotong mengalirkan sebagian besar tenaga dalamnya melalui ketiga tinju tersebut. Ia ingin sesegera mungkin mengalahkan dan menghabisi Jayaseta dengan memanfaatkan kesempatan emas ini.


Sedikit banyak, keinginannya tercapai, darah mengalir keluar dari mulut Jayaseta.


Bila bukan karena olah tubuh Jayaseta dan kemampuan tenaga dalamnya, Jayaseta mungkin sudah tewas sekarang.


Orang biasa akan sudah hancur tulang belulangnya dan dadanya akan ringsek sehingga ia tewas seketika. Namun tentu saja bukan berarti ketiga pukulan ini tak berimbas pada Jayaseta .


***


Si Gelembung Lotong bukan jenis pendekar yang mudah puas. Aturan di atas laut berbeda sama sekali dengan di darat. Tak heran ia tak memberikan jeda pada Jayaseta untuk memberi makan pada kesombongannya.


Pemimpin perompak itu maju dengan cepat dan menghajar Jayaseta dengan lututnya ketika Pendekar Topeng Seribu itu hendak bangun.


Jayaseta bergulingan di lantai.


Satu sapuan kaki sederhana kemudian menjatuhkan Jayaseta kembali ke lantai. Si Gelembung Lotong menyepak tubuh Jayseta yang terjatuh tadi dengan mudah.


Bagai gelondongan kayu, Jayaseta terguling-guling di lantai.


Sebuah pemandangan yang memilukan bagi para awak melihat seorang pendekar yang sudah menghabisi dan melumpuhkan banyak perompak kini mendapatkan perlakuan semacam ini.


Bukan hanya rasa sakit yang mungkin sekali Jayaseta rasakan, namun juga penghinaan ini dimana tubuhnya bahkan tak sempat berdiri, dipermainkan oleh sepakan, sapuan dan tendangan rendah Si Gelembung Lotong.

__ADS_1


Wajah-wajah bangga para perompak yang berada di atas kapal induk maupun para perompak kebal yang terluka karena tulang-belulang mereka remuk berubah menjadi wajah ejekan dan cemoohan.


Mereka merasa puas bahwa pemimpin mereka sedang mempermainkan sang pendekar yang namanya tersohor di daratan sebelum akhirnya nanti membunuhnya dengan keji.


__ADS_2