Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Bangkui Sakti


__ADS_3

Laki-laki bernama Punyan tersebut sudah siap dengan kuda-kuda silatnya yang sangat rendah. Tubuhnya membungkuk seperti seekor kera. Kedua tangannya terus bergerak memutar, kadang terentang, dengan kepala yang bergerak-gerak dengan sangat awas seperti seekor burung.


Punyan hanya mengenakan sebuah cawat berwarna abu-abu, sedangkan dadanya yang memiliki puluhan bentuk rajah terpampang telanjang. Kepalanya ditutupi dengan ikatan kain berwarna kuning.


Jayaseta, bertelanjang dada pula, mengenakan celana pangsi selutut berwarna hitam dengan hiasan benang keemasan di ujungnya. Namun kali ini rambutnya tidak diikat di puncak kepalanya seperti biasanya, namun tergerai panjang sebahu. Ia juga melilitkan sehelai kain berwarna kuning di kepalanya.


Berlawanan dengan Punyan, seperti biasa, kuda-kuda Jayaseta bukanlah sebuah kuda-kuda silat pada umumnya. Ia hanya berdiri dengan kaki sedikit ditekuk dan kedua tangan santai di kedua sisi tubuhnya.


Kedua laki-laki yang saling berhadapan itu sepertinya sama-sama menakar kemampuan masing-masing. Uniknya tak satupun selama beberapa tarikan nafas tak mengambil gerakan sama sekali, baik menyerang ataupun sekadar mendekat.


Punyan sekarang berjalan memutar, mengelilingi Jayaseta dengan kedua tangannya yang masih terus bergerak-gerak. Memutarkan pergelangan tangan, siku bahkan bahunya, membentuk bunga-bunga jurus silat. Sedangkan di sekeliling mereka, orang-orang, tua muda, anak-anak, dan perempuan mengamati dengan mata yang begitu bersemangat.


Jayaseta merasa sudah tak perlu menunggu lagi. Ia akan membuka serangan, bila mungkin pertarungan ini harus ia selesaikan dengan segera.


Dengan satu tolakan kaki, Jayaseta memburu Punyan di samping kanannya.


Bagai terbang Jayaseta menghambur ke arah Punyan dengan tinjunya. Punyan dengan sigap melompat mundur bagai seekor bangkui yaitu kera jenis beruk, kemudian menepis lengan Jayaseta dengan cara menyabetnya di bagian dalam lengannya.


Kemudian Punyan dengan kecepatan yang luar biasa maju dan memberikan pukulan ke arah wajah, leher dan dada Jayaseta. Gerakan itu sangat cepat dan dengan tenaga dalam yang juga begitu dahsyat.


Jayaseta dengan sama sigapnya berhasil menangkis dan menghindari serangan-serangan tersebut. Kemudian Jayaseta membalas dengan gerakan memutar, menggunakan punggung tangannya. Kembali Punyan menghambur mundur dan membuka dan melebarkan kedua lengannya. Jurus ini membuat gerakannya lebih terbuka sehingga mudah untuk menghindari serangan musuh. Punggung kepal Jayaseta lolos, ini berarti serangan keduanya lolos lagi.


Jayaseta langsung memahami bahwa jurus-jurus Punyan adalah jurus mundur dan menyerang dengan cepat. Pada dasarnya jurus-jurus Punyan adalah gerakan mematikan lawan dengan sekali serang. Maka dari itu, Punyan tak keberatan berlama-lama menakar musuh pada awal pertarungan tadi selama serangannya dapat langsung melumpuhkan musuh dalam sekali serang.


Sayangnya, memang Jayaseta yang dihadapi adalah seorang pendekar tangguh dari tanah Jawa yang namanya sudah mengharum bahkan beberapa windu sebelum kedatangannya ke tanah Tanjung Pura ini, Pendekar Topeng Seribu. Jadi tentu tidak mudah bahkan mustahil rasanya merubuhkan Jayaseta dengan sekali serang.


Walau Punyan terbukti gagal melumpuhkan Jayaseta dengan sekali serang, namun Punyan sendiri adalah seorang pendekar yang juga pilih tanding. Walau tubuhnya ramping, otot-otot di lengan dan badannya yang bertaburan rajah dengan beragam gambar dan lambang tersebut terlihat ulet dan terbentuk dengan baik karena latihan yang sangat keras. Punyan pun sadar bahwa ia tidak akan begitu saja menjatuhkan Jayaseta, oleh sebab itu ia melakukan semua yang terbaik. Ia gandakan kecepatan dan tenaga dalamnya.


Silat suku pedalaman pulau dimana dulu kerajaan Tanjung Pura berdiri ini memiliki ciri yang kuat. Berbeda dengan silat dari tanah Jawa yang memiliki letak kaki yang sedikit lebih dekat dan tubuh yang tegak, sebaliknya, silat tanah Tanjung Pura menempatkan tubuh sangat rendah, kedua kaki yang berjauhan dan lebar, serta kedua tangan yang terbuka. Serangannya pun lebih banyak ditujukan kepada tubuh bagian bawah.


Jayaseta langsung belajar.

__ADS_1


Kemampuannya yang satu inilah yang membuat Pendekar Topeng Seribu menjadi istimewa. Dengan cepat Jayaseta meleburkan gaya pertarungan Punyan dengan Jurus Tanpa Jurusnya.


Pertarungan pun menjadi sangat seru dan menarik.


Keduanya bagai dua ekor bangkui yang saling serang kemudian mundur dengan jauh, menyerang lagi. Begitu sampai beberapa jurus. Punyan kemudian menurunkan tubuhnya begitu rendah sampai hampir menyentuh tanah kemudian tanpa disangka ia seakan merayap dengan begitu cepat di tanah dan menendang tendangan ke arah sisi bawah Jayaseta. Dengan cepat Jayaseta menghindar, namun Punyan menolakkan tubuhnya dengan kedua tangannya, dan menghantamkan kedua kepalnya ke arah dada Jayaseta dengan cepat.


DUAR!


Ledakan tenaga dalam membuat Jayaseta tersentak ke belakang sejauh dua dedeg pengawe, sepuluh hasta, atau dua kali tinggi tubuh manusia dewasa umumnya yang diukur dari telapak kaki sampai ujung jari yang direntangkan tegak lurus keatas.


Jayaseta masih dalam keadaan berdiri, tubuhnya tak terluka, namun kedua lengannya yang ia gunakan untuk menangkis tinju Punyan berdenyut-denyut. Langsung saja Jayaseta memasukkan tenaga dalam yang berpusat dari jantungnya dan menyebarkannya ke kedua lengannya untuk meredakan ledakan tenaga dalam tersebut. Satu lagi kunci jurus-jurus silat Punyan, menyerang bagian bawah tubuh dan langsung menghantam titik pertahanan tubuh lawan.


Demi melihat Jayaseta yang sedang menyalurkan tenaga dalamnya, Punyan tak tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung memburu Jayaseta dengan jurus Bangkui Mengorek Pohon. Punyan melesat cepat masih dalam keadaan tubuh yang rendah. Kedua tangannya ia gunakan untuk membongkar pertahanan Jayaseta dan menghujamkan pukulannya. Jayaseta memutar kedua tangannya, membentuk jurus silat Melayu yang pernah ia pelajari di wilayah kerajaan Sukadana di pesisir beberapa saat lalu dan dilebur dengan Jurus Tanpa Jurus.


Tinju Besi menghajar lengan Punyan dan membuatnya terpaksa mundur sampai lima langkah jauhnya. Namun Jayaseta tidak segera menyerang karena jurus Bangkui Sakti memang berciri mundur dan menyerang dengan cepat. Sebaliknya Jayaseta ikut mundur sejauh dua jangkah yaitu dua langkah.


Pancingannya berhasil.


Punyan sudah tidak dapat mundur dikagetkan dengan serangan secepat itu. Sekali lagi ia harus menggunakan kedua lengannya untuk menutupi dada dan lehernya. Sebagai akibatnya ia harus terpental mundur ke belakang.


Punyan si Pendekar Bangkui Sakti langsung bangkit dan memasang kuda-kuda bangkui nya yang sangat rendah. Kebas terasa lagi di kedua tangannya. Ia langsung menyalurkan tenaga dalam yang terasa hangat ke kedua lengannya yang terkena serangan Jayaseta sehingga dengan cepat pula rasa kebas itu mereda. Sudah Punyan duga bahwa Jayaseta, pemuda yang umurnya masih beberapa tahun di bawahnya yang berdiri di depannya itu adalah seorang pendekar yang namanya sebesar dengan kenyataannya.


Selama ini, semua lawan-lawan Punyan, baik sekadar rekan dalam latihan maupun musuh, hanya akan bertahan hanya dalam beberapa jurus, lima jurus paling banyak bila Punyan menggunakan rangkaian jurus Bangkui Sakti. Tapi Jayaseta bukan hanya bertahan entah untuk berapa jurus, ia juga berhasil menyerang balik Punyan.


Senyum kecil tersungging di kedua ujung bibir Punyan. Jayaseta sendiri mengakui kehebatan Punyan yang sampai saat ini cukup menyulitkannya.


Kedua pendekar pilih tanding ini perlahan kembali mendekat dengan semangat yang masih membara untuk melanjutkan pertarungan. Punyan harus mengakui bahwa Jayaseta adalah seorang pendekar yang sangat tangguh. Ia harus bisa lebih cepat dan lebih kuat karena sudah jelas Jayaseta dengan entengnya meniru jurus-jurus Bangkui Sakti nya dan malah meleburnya dengan jurus-jurus yang ia tidak ketahui.


Bagaimana bila Jayaseta sungguh-sungguh menggunakan segenap kemampuannya untuk menyerang Punyan? Sedangkan Jayaseta sendiri tidak mau termakan rasa jumawa, sombong dan takabur. Sehebat apapun Jayaseta, ia merasa bahwasanya Punyan memiliki serangan-serangan yang begitu cepat, sedangkan daya hindarnya pun luar biasa. Jayaseta harus belajar dari Punyan. Sayangnya ketika kedua pendekar sudah mendekat dan siap untuk bertempur lagi, berbagi kanuragan, sebuah teriakan memecah udara, disusul dengan teriakan-teriakan yang lebih banyak.


Orang-orang, tua muda dan perempuan yang semula mengelilingi Punyan dan Jayaseta yang sedang beradu kanuragan dengan membentuk sebuah lingkaran besar, kini bubar sudah.

__ADS_1


Kaum laki-laki langsung siaga dan mencabut do mereka, yaitu sebuah pedang pendek khas suku-suku pedalaman pulau Tanjung Pura. Beragam senjata kemudian tercabut dari sarungnya.



Tidak hanya do, namun juga dohong, parang dua mata bayu, tombak dan perisai pun sudah siap di tangan para prajurit suku pedalaman ini.



Tak lama Jayaseta melihat sebuah leher tertebas dan kepala meggelinding di tanah. Sebuah tubuh ambruk ke bumi dengan darah yang menyemprot deras dari tubuh bagian atasnya yang sudah tidak berkepala lagi.


Di balik pepohonan muncul sekitar duapuluhan orang yang mengenakan cawat mengelilingi pinggang mereka, baju rompi terbuat dari kulit kayu, ikat dan pelindung kepala dari kain dan semacam topi dari anyaman rotan yang dihiasi oleh beberapa helai bulu burung yang panjang dan lebar. Mereka juga menggenggam do di tangan kanan mereka serta perisai dari kayu yang panjang dan lebar bersegi-segi.


Berbeda dengan tameng kerajaan Mataram yang rata-rata bulat dan kecil, walau untuk perang besar banyak pula yang besar dan berat karena terbuat dari logam. Badan mereka sama seperti laki-laki di suku Punyan, dihiasi dengan rajah memenuhi hampir setiap jengkal tubuh mereka.


Salah satu laki-laki dari rombongan itu menyarungkan do nya di pinggang kirinya, kemudian berjalan mendekati tubuh tak bernyawa dan tak berkepala itu. Ia menunduk dan mengambil kepala yang telah terputus dengan mencengkram rambutnya dan kemudian memasukkan kepala itu ke dalam sebuah tas dari anyaman bambu di pinggang di bagian kanannya. Kedua matanya menyala merah, semerah tetesan darah dari kepala di dalam tas bambunya.


Jayaseta memicingkan matanya. Ia membatin bila sang laki-laki itu yang menyerang dan memotong kepala dari tubuh yang sudah tidak bernyawa itu, pastilah kecepatan dan ilmunya luar biasa. Tidak satupun orang sepertinya melihat kemunculan laki-laki itu, apalagi melihatnya menyerang. Ia dengan santainya keluar dari balik pepohonan, padahal sang korban berdiri cukup jauh dari pepohonan rimbun dimana para pasukan penyerang sedang bersembunyi.


“Mereka akhirnya tiba,” desis Punyan kepada Jayaseta.


“Kali ini saatnya kau membantu kami Jayaseta. Ambil do dan bertempurlah. Mereka tidak akan segan-segan membunuh siapapun disini. Maka jangan segan pula untuk menghabisi mereka, jangan segan seperti sewaktu kau bertempur denganku,” tambah Punyan. Jayaseta menjadi sedikit tidak enak karena Punyan ternyata mengetahui bahwa Jayaseta sewaktu berolah kanuragan dengan dirinya tadi masih menahan diri.


“Ingat, mereka adalah pasukan pengayau. Mereka akhirnya menemukan desa ini setelah lama memburu kami. Mereka tidak akan melepaskannya sampai benar-benar berhasil mengenyahkan kita semua. Ingat pula bahwa serangan mereka akan selalu mengincar leher dan membabatnya sampai putus,” ujar Punyan sembari melangkah mundur ke belakang, mengambil do nya yang tergeletak di sebuah meja kecil. Ia mengikatkannya ke pinggangnya kemudian maju kembali bersama para prajurit yang juga sudah siap berdiri dengan senjata terhunus.


Jayaseta kemudian mundur pula. Mengambil do dan topeng perang yang diberikan oleh Punyan dan Panglima Beruang beberapa hari yang lalu. Ia pun kemudian mengikatkan do di pinggangnya dan mengenakan topeng perang tersebut. Sekarang Jayaseta berdiri di samping Punyan. Wajahnya tertutup dengan sempurna oleh topeng perang yang dihiasi tiga buah tanduk itu.



Dua puluhan musuh dengan dao di tangan kanan dan perisai kayu lebar yang dihiasi ukiran dan gambar manusia bertaring itu memutar-mutarkan dao mereka sembari maju dengan cepat. Mereka menghambur ke arah Punyan, Jayaseta dan pasukannya dengan nafsu membunuh yang kental. Perang pun tak dapat dihindarkan. Kedua kelompok saling menghambur dan menyerang diwarnai dengan teriakan-teriakan perang,


“YIAAKKK!"

__ADS_1


__ADS_2