
Di masa angin musim Barat, para pedagang Cina datang ke Banten dengan jung-jung nya. Mereka memuat barang-barang dagangan seperti teh, sutra, panci, jarum, payung, bakiak, sampai bahan kain dan pakaian yang kasar dan kembali ke negeri mereka dengan membawa hasil bumi seperti yang dibutuhkan negeri Cina seperti lada, rempah-rempah, sarang burung dan kopra.
Orang-orang Cina itu tidak semua pulang ke negerinya. Banyak pula yang menetap di Banten. Kebanyakan mereka tinggal di sebuah kampung yang ditumbuhi pepohonan bambu, sehingga kampung itu diberi nama Bambucina.
Adalah seorang tokoh Cina terkenal, terhormat dan kaya dari Kwangtung di dalam kelompok masyarakat Cina di Banten itu bernama Souw Beng Kong.
Orang-orang bule menyebut orang yang berasal dari Kwangtung, daerah tempat darimana Beng Kong berasal, sebagai Kanton. Orang Cina Hokkian menyebutnya dengan Kong Hu, sedangkan orang dari daerah itu sendiri menyebutnya dengan Kuongfu.
Ia merupakan saudagar besar di Banten yang memiliki perkebunan lada yang besar serta dekat dengan Sultan Banten. Orang-orang Walanda, Pranggi dan Britania Raya yang ingin membeli hasil alam serta merundingkan harga di pelabuhan Banten pasti berurusan dengannya.
Itulah yang menyebabkan Walanda membujuknya untuk pindah ke Betawi ketika Walanda berhasil menaklukkan Sunda Kalapa tahun 1619 Masehi.
Tak tanggung-tanggung, sang Gubernur Jenderal VOC sendiri, yaitu Jan Pieterszoon Coen, yang membujuk agar Souw Beng Kong beserta seluruh orang Cina di Banten pindah berniaga ke Betawi.
Sebenarnya, sebelum kedatangan Walanda pertama kali ke wilayah Sunda Kalapa atau Jayakarta tahun 1596 Masehi, kampung China sudah lebih dulu ada. Kala itu, pemukiman warga Cina mengelola persawahan dan penyulingan arak.
Tapi Souw Beng Kong tidak mau begitu saja hijrah ke Betawi membawa serta semua kelompok masyarakat Cina nya.
Ia kemudian memutuskan untuk berangkat dahulu ke Betawi bersama Lim La, rekannya. Ia bersyarat apabila Walanda menjamin hidupnya serta bangsa Cina rombongannya di sana, maka bangsa Cina di Banten akan segera pindah ke Betawi mengikuti langkahnya.
Coen ternyata bersungguh-sungguh. Pada tahun 1619 Masehi itulah, ia mengangkat Souw Beng Kong sebagai Kapten Kepala Bangsa Cina di Betawi. Pada tahun 1620, ia mendapatkan jabatan dan kedudukan di perkantoran urusan Kompeni Walanda dalam College van Schepenen.
Ini artinya dalam majelis tersebut, ia dapat memutuskan perkara-perkara bangsa Cina yang diajukan dalam majelis tersebut.
Sebagai akibatnya, akhir tahun 1622 Masehi, hanya dalam waktu dua tahun, orang Cina yang tadinya berjumlah 400 orang di Betawi yang telah ada sebelum Walanda datang bertambah menjadi seribuan.
Keputusan Walanda tepat adanya. Pasar rempah-rempah pindah ke Betawi sedangkan pelabuhan Banten berangsur lengang.
Souw Beng Kong kian dimanjakan. Dia diberi lahan besar pribadi di daerah Penjaringan. Kekayaannya bersumber dari bisnis perniagaan, pengapalan, pembangunan dan perkulian, dan sejumlah perkebunan gula di Betawi.
Kegiatan dagang ini biasanya terjadi antara Betawi dan kota Amoy di Cina Selatan dilayani oleh pelayaran jukung atau jung Cina dari Amoy dan Kwangtung.
__ADS_1
Orang-orang Cina pun ikut terlibat sejak awal dalam pendirian Betawi oleh Walanda. Bahkan bisa dikatakan penghuni pertama kota Betawi adalah serdadu, warga Cina, dan para budak yang didatangkan dari Malaka, Malabar di negeri Hindustan, Bali, dan Celebes.
Dalam pembangunan Betawi, keterlibatan orang Cina terlihat di hampir semua pekerjaan. Mulai dari pekerja bangunan, pembuat garam, hingga pertanian. Ada pula pekerjaan lainnya seperti pembuat kuali, panci, tungku, dan barang tembikar lainnya.
Pada saat Sultan Agung dari Mataram menyerang Betawi, Souw Beng Kong tidak mau ikut campur. Ia berlayar ke sebuah pulau di negeri Cina yang diberinama Formosa oleh lidah pelayar-pelayar Pranggi pada tahun 1542 Masehi dan bernama Tāi-oân atau Tayouan dalam lidah orang Hokkian. Pulau ini diakui oleh Maharaja Qin Cina namun dikuasai dan dijajah oleh Walanda.
Setelah semua mereda, ia kembali ke Betawi sampai wafatnya.
Namun begitu, hampir seluruh orang Cina tidak membawa istrinya saat hijrah ke nusantara. Memang pada saat itu, orang Cina dilarang membawa istrinya oleh Maharaja Qin karena seorang perempuan dilarang keluar dari Tiongkok.
Hingga akhirnya para lelaki Cina ini pun menikahi sejumlah perempuan pribumi yang akhirnya membuahkan benih seorang peranakan pribumi-Cina. Perkawinan dua bangsa ini diadakan secara meriah dan mahal dengan adat istiadat dan kebiasaan bangsa Cina.
Lau Siufan adalah seorang gadis peranakan Cina Melayu yang tinggal di luar benteng kota Betawi. Sang ayah dahulu adalah salah satu dari sekian banyak pedagang Cina yang hijrah ke Betawi dari Banten mengikuti langkah Souw Beng Kong.
Sasangka tak sengaja melihat Siufan di sebuah sungai ketika ia sedang duduk tenang dalam masa penyembuhan dirinya.
Pahanya yang tertusuk keris tak berluk Pratiwi dalam pertarungan mereka terdahulu masih tak separah retaknya tulang pinggul oleh tendangan pendekar perempuan tersebut.
Tak heran Sasangka lebih banyak menghabiskan waktu diam atau berjalan-jalan ke pasar di luar benteng kota atau sekadar duduk-duduk di tepi sungai ini.
Ia tak memiliki keinginan melatih kembali kemampuan ilmu kanuragan dan tubuhnya. Berbeda dengan Katilapan dan Narendra yang sepertinya sudah kembali sehat dan tidak jarang sudah melatih silat mereka kembali.
Hari-hari penuh kegelapan dalam diri Sasangka. Namun alam dan semesta memberikan kemurahhatiannya dengan mengirimkan sinar terang dalam rupa seorang gadis Cina peranakan.
Awalnya Sasangka tak ambil pusing dengan dilihatnya seorang gadis yang ia lihat berjalan menyusui tepian sungai dengan membawa bungkusan kecil itu. Namun kemunculan sang gadis lama-kelamaan menjadi semacam candu bagai Sasangka.
Ada rasa aneh ketika ia berharap untuk melihat sang gadis namun yang diharapkan tak muncul-muncul dan menunjukkan dirinya.
Lau Siufan namanya. Entah bagaimana, Sasangka berhasil mencari tahu tentang nama dan latar belakang sang gadis.
Sang ayah yang bermarga Lau adalah seorang pedagang yang hijrah dari Banten mengikuti rombongan Souw Beng Kong. Ia sudah mengikuti Souw Beng Kong ke Banten sejak masih belia, mungkin di usia empat belas atau lima belas tahun, dari Kwangtung.
__ADS_1
Ia kemudian menikahi seorang perempuan pribumi, seorang Melayu dari keluarga Melayu Sambas dari pulau Tanjung Pura di seberang lautan.
Lau Siufan adalah anak perempuan pertama dan satu-satunya keluarga mereka. Dalam lidah Melayu sang ibu dan masyarakat sekelilingnya, sang gadis mendapatkan panggilan Sipan.
Sipan atau Lau Siufan memiliki tubuh ramping dan kulit putih ciri khas orang-orang Cina. Rambut panjangnya dikepang dan dilingkarkan sedemikian rupa di kepala hingga ringkas. Ia kerap mengenakan pakaian atas campuran Melayu dan Cina dengan kancing besar. Bukannya mengenakan kain, ia kerap mengenakan celana panjang sebetis dan kakinya dibalut pembungkus kaki dari kulit yang lentur.
***
"Sasangka. Kau dengar, bukan? Kita harus segera menyusul Jayaseta ke Sukadana di pulau Tanjung Pura. Kita tidak benar-benar mengetahui keadaannya di atas kapal. Apapun yang terjadi di geladak mungkin kita tidak akan mampu mengerti atau mencegahnya. Tapi kita perlu kejelasan tentang keadaan Jayaseta," ujar Katilapan demi melihat Sasangka termenung memandang jauh ke arah Barat.
Narendra juga melihat Sasangka dengan perasaan penuh dengan tanda tanya.
Selama di Betawi, Sasangka tiba-tiba mendapatkan semacam semangat hidup kembali. Ia mulai berlatih silat dan tubuhnya semakin sembuh dan kuat. Padahal sebelumnya, Sasangka seakan menjadi orang yang sama sekali berbeda.
Jurus-jurusnya mendadak berkembang. Ia semakin cepat dan tangguh. Bahkan baik Katilapan maupun Narendra curiga bahwa Sasangka mempelajari semacam gaya silat berbeda dari seseorang si suatu tempat.
Tapi keduanya sama sekali tak keberatan dan tidak mau ikut campur dengan kepentingan dan urusan pribadi rekan mereka tersebut. Mereka sudah begitu bahagia mengetahui bahwa Sasangka memiliki keinginan hidup yang membara kembali.
Secara mengagetkan Sasangka lah yang mendapatkan berita bahwa Jayaseta berada dalam bahaya. Lebih mengejutkan adalah berita bahwa Jayaseta telah menikah dan sang istri turut menjadi sasaran pembunuhan oleh orang-orang bawahan dan bayaran Walanda.
Sasangka mengetahui segala hal tentang pendekar kembar Sang Penyair Baka, kelompok Jarum Bumi Neraka dan tempat tinggal Jayaseta dan istrinya, Almira, di Semarang.
Maka kemudian akan kembali mengejutkan ketika Sasangka ternyata menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan ikut kalian ke Sukadana," ujarnya pelan.
"Tunggu, apa katamu, Sasangka?"
Sasangka menatap tajam mata kedua rekan, sahabat sekaligus saudaranya tersebut lekat-lekat. Kedua bola matanya bersinar tegas dalam malam berbintang di lapangan ilalang tersebut. Bau anyir darah mayat-mayat anggota Jarum Bumi Neraka mulai tercium. "Aku tidak akan ikut kalian ke Sukadana."
Sasangka memalingkan wajahnya. Pandangannya jauh ke Betawi, melihat Siufan dan tubuh rampingnya berjalan menyusuri sungai.
__ADS_1