Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sang Harimau Kedah


__ADS_3

Menurut kebiasaan budaya dan catatan sejarah, pendirian Kerajaan Kedah atau dahulu bernama lain Kadaram terjadi sekitar tahun 630 Masehi. Kerajaan Kedah Kadaram ini menggantikan kerajaan kuno Langkasuka yang berdiri sebelumnya. Kedah Kadaram didirikan oleh Durbaraja I, seorang penganut ajaran agama Hindu yang berasal dari Gemeron di negeri Parsi. Wangsa Hindu di Kedah Kadaram ini berakhir ketika raja kesembilan, yaitu Durbaraja II, yang diberi gelar Phra Ong Mahawangsa oleh orang Siam, beralih menjadi pemeluk agama Islam pada tahun 1136 Masehi.


Sejak itu, kerajaan Kedah beragama Islam, menggantikan ajaran agama sebelumnya. Saat ini, di masa hidup Jayaseta, tahun 1639 Masehi, Sultan Rijaluddin Muhammad Shah adalah Sultan Kedah ketigabelas. Ia telah memerintah kerajaan Kedah sejak tahun 1625 Masehi, kurang lebih sudah sejak empat belas tahun yang lalu.


Serupa dengan beragam negeri Melayu, Kedah pun memiliki ciri khas silat gayong walau juga masih kuat dipengaruhi oleh silat gayong bergaya Melayu lainnya. Saat ini, jurus-jurus silat Kedah sedang berkembang ke arah suatu gaya pertarungan yang kelak disebut Silat Cekak. Namun, saat ini, bibit-bibit jurus-jurus Silat Cekak masih dalam tahap penyemaian.


Perjalanan Baharuddin Labbiri sewaktu masih sangat muda, bersama beberapa 'sisa' murid-murid para hulubalang Malaka yang ditangkap oleh para prajurit Pranggi untuk dihukum tersebut, membawanya menyusuri negeri-negeri Melayu Islam yang berbatasan dengan negeri Siam yang menganut ajaran Buddha. Ia berangkat ke Kedah, Kelantan, Terengganu dan Pattani. Di Kedah, laki-laki Bugis ini mempelajari Silat Gayong Kedah dengan bentuk awal Silat Cekak.


Kemampuan Silat Gayong Kedah inilah yang diajarkan secara khusus kepada Hamid oleh Baharuddin Labbiri sendiri secara langsung.


Serangan mendadak Hamid kepada Jayaseta yang tak mengindahkan rasa hormat dan tata laku ksatria itu memang ia sendiri harapkan segera saja menyelesaikan pertarungan. Namun, kemampuan Jayaseta jelas melewati Hamid. Segala lapisan kulit, pori-pori, pandangan ujung mata dan kepekaan batin merasakan dengan baik serangan mendadak itu.


Jayaseta menggeser tubuhnya sedikit saja sehingga siku Hamid melewatinya.


Hamid terpana menyadari bahwa sikunya menghempas udara kosong. Dengan tambahan kemarahan dan semangat bertempur yang berlebihan, Hamid menghadap ke arah Jayaseta, memberikan satu sepakan ke tungkai kaki Jayaseta sekaligus kembali menyikut ke arah ulu hati. Kedua serangan ini dilakukan dalam satu jurus.


"Ah, begini rupanya," ujar Jayaseta dalam hati. Ia mendapatkan satu serangan yang dimungkinkan adalah yang paling berbahaya dari Hamid, mengingat ia ingin segera menyelesaikan pertarungan ini.


Jayaseta mengangkat kaki dan menepis sikutan Hamid dengan membenturkan telapak tangannya ke bahu laki-laki muda itu. Hamid hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab, tapi ia buru-buru menjatuhkan diri dan berguling menjauh. Ini membuat harga dirinya lumayan terselamatkan.


Baharuddin Labbiri tertawa keras. "Ha ha ha, sudah kukatakan untuk bersungguh-sungguh, Hamid. Jangan menganggap remeh lawanmu. Siapapun dia. Sekarang bangun, hadapi lawanmu dengan kemampuan terbaikmu," ujar sang Labbiri.


"Siapa sejatinya laki-laki itu, Tun Guru Labbiri?" tanya Yunus sang Harimau Pattani demi melihat serangan sahabat seperguruannya yang mendadak dan secepat kilat itu dapat ditepis dengan tidak menggunakan banyak usaha.


Baharuddin Labbiri memandang ke arah ketiga muridnya yang sedang 'menunggu giliran'. "Perhatikan saja dahulu. Ketika saat kalian tiba, bersungguh-sungguhlah," ujar sang guru dengan penuh rahasia.

__ADS_1


***


Hamid berdiri. Ia memandang lurus ke arah Jayaseta dengan beragam perasaan campur aduk antara malu karena menyepelekan, penuh selidik, sedikit kesal dan marah, sekaligus penasaran.


"Sahabatku, Hamid. Aku tahu seranganmu tadi ditujukan untuk menyelesaikan pertarungan. Kerap kali dalam banyak keadaan dan kesempatan, memang berhasil. Tapi khusus kali ini, sebaliknya. Itu karena engkau memandang rendah musuhmu sehingga serangan yang kau lancarkan alih-alih membahayakan, malah cenderung sekadar bertujuan untuk melumpuhkan dan memberikan pelajaran kepadaku, bukan begitu, Hamid?" ujar Jayaseta perlahan.


Kata-kata orang asing ini menusuk dalam-dalam ke hati Hamid. Sekedar-kesalnya dirinya, ucapan laki-laki yang tak ia kenal tersebut benar adanya.


"Mohon maaf, saudaraku. Bolehkah aku tanya kembali siapa namamu?" ujar Hamid. Ia sadar bahwa ia tak memperhatikan nama dari sang lawan tersebut karena memang ia meremehkan dan menganggap tak ada sang musuh.


"Namaku Jayaseta, saudaraku," jawab Jayaseta sembari tersenyum tipis.


Hamid mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Namaku Hamid, bergelar Sang Harimau Kedah. Mari kita mulai penjajalan ilmu silat kita, Jayaseta. Mohon bantuan dan bimbingannya," ujar Hamid ikut tersenyum tipis. Garis-garis wajah kesungguhan tercetak jelas di wajahnya.


Jayaseta juga memberikan salam, mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada dan menunundukkan kepala dengan penuh hormat.


"Siapkan dirimu, Jayaseta!" seru Hamid. Ia melompat tinggi dan lagi-lagi mencoba menanamkan sikunya ke arah kepala Jayaseta.


Jayaseta bergeser cepat. Siku Hamid lolos kembali. Tapi tentu Hamid menyambungkan serangan ini dengan tendangan panjang menyamping dan tinju ke arah perut. Jayaseta menangkis semua serangan, dan mundur.


Pola serangan Hamid masih dapat terbaca baik oleh Jayaseta. Tapi Jayaseta tak pernah meremehkan musuh, walau tingkatannya berbeda sekali dengan kebanyakan pendekar. Itu sebabnya ia tak heran ketika serangan Hamid selanjutnya menjadi lebih cepat dan berkesinambungan.


Dua tinju ke arah wajah dan leher, tendangan lurus ke perut, serta sebuah kepretan atau tinju dengan menggunakan punggung kepalan dilakukan beruntun.


Jayaseta menangkisnya semua. Kemudian sengaja membalas karena merasa sudah saatnya ia menjajal pertahanan silat Gayong Kedah.

__ADS_1


Sebuah pukulan lurus menyasar dada atau ulu hati Hamid.


Bibit-bibit Jurus Cekak Kedah akhirnya muncul pula.


Hamid bergeser ke samping, kemudian berputar namun tidak setelah menyelipkan satu tangan ke lengan dalam Jayaseta. Ketika tubuhnya berputar itulah, Silat Cekak terjadi. Hamid mengunci lengan dan lehernya dari belakang.


Satu tangan Hamid memuntir lengan Jayaseta ke belakang, satunya lagi menyelip di leher. Jayaseta kini hampir tak bergerak. Kuncian Silat Cekak Harimau Kedah tersebut semakin kuat ketika Jayaseta bergerak.


Nafas-nafas tertahan. Tiga Harimau Melayu merasa ini lah akhirnya. Baharuddin Labbiri masih bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi, termasuk para murid. Sisanya, para rombongan dari Sukadana, penasaran apa yang akan Jayaseta lakukan.


Hamid memutuskan untuk melumpuhkan Jayaseta dengan membuatnya pingsan, tak sadarkan diri. Ia akan kencangkan kuncian di tenggorokan laki-laki itu agar ia tak mungkin bertempur lagi.


Saru tarikan nafas, tubuh Jayaseta memegang ke belakang mengikuti kuncian Hamid. Tak ada tanda-tanda menyerah apalagi kalah. Orang di depan Hamid ini seperti tidak dalam keadaan bahaya dan mengancam. Hamid makin mencekik kuat leher Jayaseta dengan lengan bagian dalamnya. Jayaseta masih melentur ke belakang.


Satu hembusan nafas, dalam satu sentakan, Jayaseta meliuk mengikuti arah kuncian lengan dan lehernya, menunduk sedikit kemudian mengangkat tubuh Hamid yang menguncinya dari belakang dengan punggungnya. Satu sentakan lagi, Hamid terbanting, terlempar ke udara.


Tubuhnya melintir dan terbanting di tanah.


Dalam keadaan terkejut, Hamid berusaha bangun untuk kemudian terlempar mundur ke belakang sampai dua tombak, menubruk dinding. Jayaseta menggunakan kesempatan ini untuk meniru jurus Melayu Gayong Kedah yang memiliki jurus panjang-panjang. Sikunya menusuk dada Hamid keras.


BUG!


Hamid merasakan urat, otot dan tulangnya nyeri luar biasa. Beginilah kurang lebih rasanya bila serangan sikunya berhasil mengenai musuh. Meski sialnya, ia sendiri yang terkena.


Hamid mencoba bangun, namun tubuhnya menolak. Ia ambruk berlutut.

__ADS_1


"Kau tak apa, Hamid?" seru teman-temannya hampir berbarengan. Bahkan Jayaseta hendak mendekat mengetahui serangannya berhasil melukai Hamid cukup parah.


Hamid mengangkat satu tangannya ke atas, melarang siapapun datang membantunya. "Aku kalah, Tun Guru Labbiri. Engkau benar. Aku tak mengetahui apa-apa. Aku terlalu jumawa," ujarnya. "Jayaseta. Terimakasih atas ilmunya," ujar Hamid pendek. Ia mengelus-elus dadanya, berhasil berdiri, kemudian menghormat ke arah Jayaseta dengan mengatupkan kedua belah telapak tangannya di depan dada.


__ADS_2