Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Asap


__ADS_3

Jayaseta merasakan panas sudah mengendap di batok kepalanya, menekannya, membuat kesadarannya terganggu.


Tendangan musuh juga sangat mempengaruhi keadaan raganya. Luka-luka di tubuhnya berdenyut-denyut bergiliran antara perih, dan rasa terbakar.


Karsa menjadi lawan yang sulit dihadapi karena beragam alasan. Namun apapun itu, semuanya adalah wajar dalam sebuah pertarungan.


Tidak jarang Jayaseta diuntungkan oleh beragam hal dan keadaan yang membuatnya unggul dan menang. Lalu, bila ada halangan dalam sebuah pertarungan yang merugikannya, maka itu wajar pulalah adanya.


"Masih berpikir bagaimana cara mengalahkanku, pendekar? Ha ha ha. Asal kau tahu, kau masih bocah ingusan ketika aku sudah menjajal dunia persilatan ke seantero nusantara bahkan mancanegara. Entah sudah berapa banyak pendekar yang tewas di tanganku, baik dalam pertarungan adil, maupun pertempuran penuh cara-cara kotor. Sekarang sudah saatnya, ketenaran dan kemahsyuran namamu berhenti di sini," ujar Karsa.


Benar-benar banyak omong kakek tua ini, pikir Jayaseta.


Jayaseta menarik nafas, mencoba melupakan segala rencana jurus serangan yang ada di dalam pikirannya. Ia memandang sekejap Do sanaman mantikeinya. Pedang pendek yang dirancang sedemikian rupa untuk menebas kepala musuh dalam sekali gebrak itu mempengaruhi gaya bertarung Jayaseta.


Ia sudah dua kali menyasar leher Karsa sehingga Karsa sudah paham gerakannya sebelum Jayaseta menyerang. Seharusnya ia tak perlu menerapkan jurus-jurus pedang Do yang ia 'tiru' secara kilat dari para prajurit Daya tersebut.


Biarkan saja Do menjadi senjata yang tak tertebak di tangannya.


Jayaseta yang sedari tadi masih memainkan dan memutar-mutarkan Do dengan bertolok pada pergelangan tangannya, kini mengehentikannya. Kemudian ia menurunkan Do tersebut.


Karsa masih terkekeh, namun tak lama, karena ia harus menghindar ketika Jayaseta mendadak menyerangnya.


Kecepatan serangan Jayaseta rupa-rupanya digandakan. Ia menyerang bagai banteng terluka.


Dua tebasan Jayaseta luput, namun Karsa menghindarinya dengan cukup kerepotan. Ia bagaimanapun sedikit terpancing dengan ucapan Jayaseta bahwa ia hanya bermodalkan ilmu kebal. Ia ingin menunjukkan bahwa jurus-jurusnya, kecepatan dan kemahirannya berolah ilmu juga sama hebatnya.


Tak mau malu karena terlihat keteteran, Karsa membalas membacok Jayaseta. Namun, Jayaseta memang terlalu cepat. Ia menunduk, berputar dan memapras kaki Karsa.


Karsa terjungkal. Ia tak terluka karena kulitnya tak tertembus senjata tajam.


Ia segera bangun. Jayaseta maju membacok dada, bahu, perut dan kembali menyasar lehernya. Untuk serangan terakhir, Karsa masih bisa menangkis dengan pedangnya


TAK!


Percikan api akibat dua bilah logam yang berbenturan itu disusul teriakan Karsa. Rupa-rupanya setelah serangan terakhir ini Jayaseta berputar lagi, memberikan sebuah gerakan tipuan dan berhasil menembuskan ujung Do nya ke lubang telinga Karsa.


Darah muncrat dari rongga telinga Karsa yang membesar karena disobek ujung Do.


Karsa berguling-guling di tanah berair dan berteriak-teriak bak orang gila.


Dengan satu tangan menggenggam pedang satunya lagi memegang telinganya yang mengucapkan darah, Karsa bangun dan memandang Jayaseta penuh kemarahan.

__ADS_1


Perlahan ia melepaskan pegangannya pada telinganya. Darah yang mengucur dari telinga Karsa perlahan berhenti. Luka besar berupa rongga lebar sobekan Do perlahan menutup kembali.


Karsa menggeram bagai harimau kelaparan. Ia meloncat bagai seekor kancil kembali menyerang Jayaseta. Sudah tak perlu ada jurus-jurus lagi. Karsa melapisi serangannya dengan tenaga dalam seutuhnya.


Babatan Karsa memutuskan dua tiga pepohonan berbatang kurus. Jayaseta berhasil kembali berguling. Begitu juga tiga tendangan Guntur dari Selatan yang diakui baik Jayaseta maupun Karsa, memiliki kekuatan yang melebihi jurus aslinya, lolos dari sasaran.


Jayaseta memang sempat terkejut dan terkena luka dalam akibat tendangan mematikan tersebut, namun sebagai sesama pengguna jurus yang serupa, Jayaseta hapal benar gaya dan arah tendangan. Maka, dibanding menerima serangan, lebih baik Jayaseta menghindarinya.


Karsa pun semakin menyerang membabibuta. Dua serang pedang menyilang sempat memutuskan beberapa helai rambut Jayaseta, namun untung tak membelah tengkorak kepalanya.


Jayaseta tak bisa terus-menerus menghindar. Ia menyongsong serangan Karsa berikutnya dengan kembali menyerang bagian bawah tubuh Karsa.


PRAK!


Karsa tertunduk, pahanya terkena serangan Do Jayaseta. Seperti biasa, ia tak terluka, namun ia hilang kewaspadaan dan keseimbangan.


Jayaseta dengan kecepatan yang digandakan, membabat lengan bagian luar Karsa, bahu bahkan dada.


Karsa tersentak mundur ke belakang dan jatuh terduduk.


Karsa tak tertawa kali ini. Ia begitu kesal karena dipecundangi pendekar muda ini.


Karsa bangun dan mengarahkan bilah tajam pedangnya ke tubuh gadis manis Melayu tersebut.


***


Belasan prajurit Daya berlompatan ke atas rumah betang. Mereka menebas setiap orang yang mereka lihat. Tiga warga laki-laki sudah menjadi korban.


Mungkin ketiganya belum tewas, namun keadaan mereka sudah pasti mengenaskan.


Asap tebal mengepul dari atap rumah betang dan bangunan penyimpan beras di tengah kampung.


"Perempuan dan anak-anak!" seru Punyan. Ia berteriak kepada para prajurit di belakangnya.


"Kau ikut aku, kita urus para penyerang. Sisanya cari dan lindungi perempuan dan anak-anak!" perintahnya kemudian.


Punyan dan satu orang prajurit Daya menghambur maju menyerang para penyusup yang menyerang semua orang membabi-buta dan beberapa masih mencoba membakari bangunan.


Punyan mencelat dan membabat dari belakang seorang prajurit yang jelas bukan salah satu dari anggota warga kampungnya. Laki-laki itu sempat melihat ke belakang, ke arah sang penyerang namun terlambat. Do Punyan melesak masuk ke dalam bahu, terus memotong tulang belikatnya.


Dengan sekali tarik darah muncrat. Punyan melanjutkan dengan menebas leher sang musuh.

__ADS_1


Serangan itu berhasil membunuh laki-laki berbeda kampung itu, namun tak sampai melepaskan kepala dari badannya karena Punyan harus berguling ke belakang ketika tiga orang prajurit suku lain itu secara serempak menusukkan ketiga tombak mereka.


Ketika ketiganya kembali menyerang Punyan, Tung, prajurit yang menemani Punyan menghempaskan tameng, atau klebit bok nya ke batang tombak mereka.


Akibat dari serangan Tung inilah, ketiganya mengincarnya. Di balik klebit bok, Tung menahan tusukan tombak berkali-kali sampai gantian Punyan yang melompat tinggi dan menerjang para penyerang.


Kaki telanjangnya digunakan untuk menepis batang-batang tombak tersebut. Punyan kemudian menunduk dan memotong sekaligus dua tungkai kaki musuh. Sabetan Do nya begitu cepat dan bertenaga. Setiap tebasan yang dilakukannya sangat terukur dan dilakukan untuk satu tujuan, membunuh. Tidak ada sabetan yang percuma.


Kedua musuh jatuh berdentum ke tanah dengan kaki yang mengucurkan darah. Tung tak menunggu lagi, dengan tombak panjangnya, dengan mudah ia menusuki musuh yang terbaring bagai menombaki ikan di sungai.


Satu prajurit terakhir termundur menahan Do Punyan yang membentur klebit bok nya. Belum banyak rambut yang tertempel di perisai kayu tersebut, menunjukkan bahwa orang ini belum berpengalaman.


Punyan melompat lagi dan menghajar klebit bok musuh. Saking kerasnya serangan itu, walau sudah tertahan oleh tameng segi enamnya, sang prajurit terdorong ke belakang. Ia jatuh terduduk karena tersandung batu. Punyan menderu mendekat tanpa membuang kesempatan dengan begitu cepat.


Yang terakhir prajurit malang itu lihat adalah topeng kayu Punyan dengan tiga tanduk kambing mencuat di bagian keningnya, sebelum kepalanya menggelinding di tanah.


Punyan dan Tung saling berpandangan seakan mencoba bercakap tanpa suara, kemudian melihat sekeliling.


Mereka tak melihat dimana gerangan perempuan dan anak-anak.


Asap masih tebal, namun titik api sudah perlahan menghilang.


Belasan prajurit musuh kini terlihat hanya tinggal beberapa saja. Mereka sedang diserang  balik oleh pemuda dan prajurit kampung sehingga terdesak. Nampak benar bahwa serangan mereka kali ini kembali gagal, meski berhasil menipu mereka serta masuk ke dalam kampung di balik benteng kayu ulin dan memporak-porandakan bangunan.


Mayat-mayat mereka berjatuhan dari atas rumah betang bagai daun gugur. Prajurit kampung di bawah memburu mereka yang jatuh. Apakah mereka sudah tewas atau belum, kepala mereka tetap dikayau, sebagai bagian dari piala perang dan sebagai sarana memastikan para musuh memang sudah benar-benar mati.


Punyan hendak menyusul memanjat naik ke rumah betang untuk melawan sisa tiga orang musuh yang masih berdiri setengah membukuk dalam kuda-kuda kinyah, sosok mereka menyembul terlihat dan hilang di balik asap, ketika terlihat sosok lain yang ia kenal muncul.


Tubuhnya yang kecil hampir tak menunjukkan usia tuanya yang sebenarnya.


Hiasan bulu burung enggang gading mencuat tinggi di kepalanya bagai umbul-umbul.


"Apai ...," ujar Punyan pelan.


Temenggung Beruang, sang kepala suku, mengangkat Do nya tinggi di atas kepala.


Do tersebut terlepas dari tangannya, menghilang di antara kepulan asap putih dan hitam.


Baik Punyan dan Tung tak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi, kecuali  dalam satu tarikan nafas, tiga kepala musuh mengggelinding dan jatuh dari atas rumah betang, disusul ketiga tubuh tak bernyawa itu.


Punyan dan Tung serempak menyaksikan entah bagaimana dan kapan Do kembali ke tangan sang Temenggung Beruang.

__ADS_1


__ADS_2