
Paulo Omura bukanlah seorang pendekar Jepun sembarangan. Naluri kependekarannya terasah sudah sedari masih muda. Waktu ia masih hijau, ia telah terlibat pertempuran besar di sisi kaum Nasrani Jepun. Bahkan pasukan pemberontak itu juga dipimpin seorang tokoh yang juga muda dibanding yang lain, yaitu enambelas tahun bernama Amakusa Shiro.
Maka, hanya mengetahui bahwa beberapa orang sedang mengikutinya, bukanlah hal yang sulit.
Ronin dari Jepun tersebut malah kembali memperhatikan gerak-gerik penguntit mereka. Paulo Omura mulai mencuri pandang untuk mengukur kekuatan musuh. Ternyata ini malah membuatnya terkejut. Ia sepertinya mengenal dengan cukup baik siapa orang-orang tersebut. Ciri-ciri, baik dari busana serta senjata yang mereka bawa, Paulo Omura mencoba menebak orang-orang suruhan siapakah mereka gerangan dan apa urusan mereka dengan dirinya.
Paulo Omura menatap kedua rekannya dan berbagi berita. Kedua temannya itu juga sudah paham dari awal bahwa mereka sedang dikuntit. Maka, tanpa berbicara, Paulo Omura memberikan tanda kepada kedua rekannya tanpa berbicara.
Ia memisahkan diri dari rombongan, memancing beberapa orang dari rombongan penguntit tersebut untuk mengikutinya. Kedua rekannya yang sudah paham, juga ikut memisahkan diri dan pergi ke penjuru angin yang berbeda.
Dari sini Paulo Omura berjalan cepat memisah diri dari kedua rekannya. Ia melipatgandakan tenaganya tetapi tanpa terlihat begitu menonjol. Ia telah terbiasa menyembunyikan ledakan tenaga dari musuh. Dalam pertarungan satu lawan satu, atau pertempuran di dalam sebuah perang, menyembunyikan langkah dan rencana adalah sebuah keniscayaan. Paulo Omura bahkan mampu menyembunyikan gerakan serta kerutan di wajahnya agar tak terbaca musuh.
Begitu juga ketika gerakan dan tindakan sesederhana berjalan, Paulo Omura berhasil menyamarkan tenaganya sehingga langkah-langkah kakinya terlihat seperti wajar sana, tetapi tenaganya berlipat ganda. Mau tak mau, para penguntit mempercepat langkah mereka pula.
Saat ini, Paulo Omura membawa serta daisho-nya yang terdiri atas katana dan wakizashi di pinggang kirinya, serta menggenggam naginata di tangan kanannya. Seperti dua rekan Tiga Dewa Iai lainnya, Konoshi Hidetada dan Arima Oda, mereka meninggalkan yari yang panjang di rua mat, atau perahu mereka. Terlalu repot membawa-bawa senjata itu untuk hanya kemudian sadar bahwa mereka sedang dikuntit. Namun, dalam hati, Paulo Omara malah berharap sekalian saja para penguntit berlipat-lipat saja jumlahnya dan ia juga membawa yari. Maka pertempuran akan semakin seru, pikirnya.
Paulo Omura nyatanya harus puas karena hanya dikuntit oleh sekitar lima orang penguntit campuran orang Siam dan Khmer. Paulo Omura merasa dilecehkan dan diremehkan. Paling tidak ada limabelas pejuang dengan bersenjatakan pedang dha atau daap tadi. Ini berarti, orang-orang yang kemungkinan besar adalah suruhan Sepasang Kaki Tangan Dewa Kematian Sokhem dan Sovanara itu dengan pelitnya membagi tepat lima orang untuk masing-masing Paulo Omura, Konoshi Hidetada dan Arima Oda.
Lima orang! Paulo Omura geram.
__ADS_1
Ia berjalan semakin cepat menjauhi pasar dan sungai dan masuk ke dalam rerimbunan hutan.
Karena memang langkah kakinya dipercepat tanpa sepengetahuan lawannya, tentu saja kelima penguntit ketinggalan lumayan jauh. Mereka kemudian menjadi agak bingung hingga blingsatan. Bila sampai mereka kehilangan jejak Paulo Omura, maka pekerjaan mereka akan dianggap gagal. Lagipula, itu juga berarti Paulo Omura sadar bahwa ia sedang mereka ikuti.
Lima orang dengan bersenjatakan sepasang dha atau daap ganda itu menyibak rerumputan tinggi di dalam hutan yang jauh dari sungai dan pusat keramaian tersebut.
Paulo Omura berdiri di tengah sebuah daerah yang sedikit lapang. Ada dua pohon tinggi di kiri dan kanannya, tetapi rerumputan dan ilalang tidak setinggi di tempat lainnya.
Wajah ronin kirishitan itu dingin dan sama sekali tak menunjukkan perasaan. Ia berdiri membuka kedua kakinya. Tombak naginata digenggam kedua tangannya dan diletakkan di samping.
“Tempat yang sudah cukup lumayan bagi kalian untuk mati,” gumam Paulo Omura pelan dalam bahasa Jepun.
Lima penguntit yang sudah tertangkap basah begitu terkejut dan langsung menghunus pedang melengkung mereka secara naluriah.
Lima orang yang telah kecemplung dan ketahuan itu langsung saja menyebar dalam tata perang yang siap mengeroyok Paulo Omura. Yang dijadikan sasaran memundurkan kaki kanannya sedikit, sedangkan tangan kanannya pun meniti gagang tombak naginata ke bagian pangkalnya, menjadikan tangan kirinya yang berada di depan gagang. Tombak naginata direntangankan sejajar dengan pinggangnya ke depan.
Inilah gaya jurus Naginajutsu beraliran Tenshin Shōden Katori Shintō-ryū, yaitu salah satu seni pertempuran paling tua di Jepun. Jurus-jurus perang menggunakan tombak naginata ini diciptakan oleh Iizasa Ienao yang hidup pada tahun 1389 sampai 1488 Masehi.
Iizasa Ienao adalah seorang pendekar ahli tombak dan pedang yang diminta seorang daimyo di jamannya untuk menyempurnakan jurus-jurusnya di sebuah tempat terpencil, untuk kemudian diajarkan kepada para samurai.
__ADS_1
Kesaktiannya dalam menggunakan pedang dan tombak ini disatukan di dalam jurus-jurus naginata yang kemudian menjadi salah satu kelihaian Paulo Omura.
“Dengan naginata ini, tak ada satupun dari kalian yang sempat menyentuh tubuhku,” gumam Paulo Omura kembali.
Naginata yang ia gunakan ini memiliki gagang dari kayu keras, dengan bilah tombak sangat serupa dengan sebuah wakazashi, atau pedang katana pendek. Bilah tombaknya tersebut dapat dilepas dari gagangnya untuk dipasangkan kembali ke gagang naginata lainnya, atau digunakan sebagai pedang layaknya wakizashi dan katana bila bilah tersebut lebih panjang.
Penggunaan naginata sempat mencapai puncaknya pada masa Perang Gempei pada tahun 1180 sampai 1185 Masehi di Jepun dimana trah atau kelompok Taira melawan Minamoto no Yorimo dari trah Minamoto. Saat itu, naginata dianggap sebagai senjata yang berdayaguna bagi para prajurit karena ukuran panjangnya yang seperti tombak, tetapi juga bisa diperlakukan seperti katana yang menyabet dan memotong.
Paulo Omura tak bergerak dari keadaannya semula tadi. Namun, jari-jarinya sudah siap berpindah bila serangan telah dimulai.
Angin sepoi-sepoi membuat rerumputan dan ilalang bergemerisik. Paulo Omura masih tenang. Ia membaui aroma kematian. Sepasang telinganya memilah-milah langkah musuh. Dua ke kiri, satu ke kanan, dua sisanya berurutan menjajal menyerang langsung dari depan. Dha dan daap mereka berada di samping, dengan kedua tangan setengah terentang.
Paulo Omura mendengus. Kuda-kuda semacam itu sudah ia kenal dengan baik. Kedua tangan yang terbuka membuat kemungkinan setiap sabetan menjadi lepas dan sekuat mungkin. Kelemahannya adalah, tentu saja, pertahanan juga sama terbukanya.
Paulo Omura menyerang terlebih dahulu. Kaki kanannya maju selangkah panjang ke depan, membuat tangan kanannya kini juga berada di depan tangan kirinya di gagang naginata. Ia mengangkat naginata tinggi, dan bersamaan dengan langkahnya tersebut, bilah naginata memotong dari atas ke bawah dengan lurus dan cepat.
Petarung Siam terdepan tersentak dan mengangkat kedua dha-nya ke depan menyilang. Bilah dha terantuk gagang tombak naginata, tetapi bilah melengkung naginata berhasil memotong bahu kanannya. Tidak hanya itu, tekanan memotong yang bertenaga begitu kuat dari Paulo Omura membuat tubuh sang petarung Siam ambruk ke tanah.
Paulo Omura maju cepat dan menusuk punggung orang Siam itu sampai menembus ke jantungnya.
__ADS_1
Teriakan amarah dan geram terdengar. Paulo Omura mencabut naginata-nya cepat, kemudian menyabetkan naginata ke sekitarnya.
Darah terpercik ke segala arah bersamaan dengan deruan tombak naginata, membuat para penyerang urung menyerang. Mereka menahan gerakan walau jelas melihat satu rekan mereka telah meregang nyawa.