
Jayaseta menarik nafas lega. Sebuah perasaan yang aneh bin ajaib. Selama berhari-hari, lebih dari seminggu Jayaseta tidak dapat makan, minum dan tidur dengan nyaman di atas kapal Jung yang dinakhodai seorang tampan dari Larantuka ini, akhirnya ia menemukan semangat lagi.
Ia sudah mati-matian melawan rasa mabuk dan ketakutannya di tengah samudra. Bahkan Antonio da Silva sang Raja Nio juga diam-diam harus mengakui ketangguhan sang penumpang berbayar tersebut.
Jayaseta menemukan semangatnya lagi ketika ia mendapatkan dua buah kapal yang sedikit lebih kecil dari jung yang ia tumpangi dan dua kapal lagi yang jauh lebih kecil namun cepat sudah seharian, dari semalam, mengejar jung milik saudagar Cina ini. Para awak kapal sudah mengetahui bahwa kedua kapal yang berusaha mengejar mereka adalah milik para perompak dan Raja Nio sudah berteriak-teriak meminta semua orang tanpa kecuali mempersiapkan segala persenjataan yang disiapkan di kapal dan milik pribadi mereka sendiri.
Hampir semua orang yang awam dalam dunia pelayaran memahami ketika pelayaran sudah mendekati perairan Tanjung Pura, salah satu ciri yang paling kuat adalah kemungkinan adanya perompak atau bajak laut. Semua pelaut dan nakhoda kapal, baik milik para pedagang, musafir, nelayan, dan bahkan kerajaan, sudah sangat mengenal kemungkinan tersebut.
Para bajak laut yang bertindak di lautan ini sangat terkenal kerena kecepatan dan kegesitan mereka. Biasanya mereka tidak terlalu peduli apakah kapal yang akan mereka bajak adalah milik pedagang, atau milik kerajaan yang sudah barang tentu dilengkapi dengan meriam dan pasukan lengkap yang tangguh.
Tidak jarang para perompak tersebut gagal, tertangkap, atau berhasil dihancurkan sama sekali, terutama oleh para prajurit kerajaan, pengawal dan jawara bayaran para pedagang, atau pendekar pilih tanding yang sedang menumpang kapal tersebut.Namun ini tidak menyurutkan perompakan sama sekali. Perompakan tersebut menjadi semacam ajang keberanian, kenekatan atau memang untuk kehidupan para perompak.
Biasanya para perompak menggunakan lebih dari satu buah kapal yang ukurannya lebih kecil dari kapal-kapal pedagang atau Jung perang karena lebih cepat dan gesit dalam mengejar jung atau kapal-kapal besar yang akan mereka bajak.
Ketika mereka memutuskan untuk merompak sebuah kapal, mereka akan mengejar kapal tersebut selama seharian penuh. Ketika mendekat, mereka akan menurunkan perahu-perahu berlayar yang ukurannya jauh lebih kecil berisikan sampai lima orang perompak. Dengan begitu, perahu-perahu kecil ini akan dapat sampai dahulu ke kapal yang akan dirompak. Mereka akan melumpuhkan para pengawal kapal tersebut sembari menunggu kapal perompak induk mereka benar-benar mendekat.
Sesuatu yang menarik hati Jayaseta akan segera terjadi hari ini.
Jayaseta berdiri. Rasa pusing dan mualnya yang telah ia lawan berhari-hari hilang seketika.
Agak merasa bersalah sebenarnya karena Jayaseta berpikir bahwa serangan perompak ini semacam hiburan baginya. Dengan pertarungan, mabuk lautnya dapat dihindari, ia dapat menggerak-gerakkan tubuhnya dan melakukan sesuatu yang lebih berguna dibanding terbaring saja di lantai kayu geladak kapal.
Hanya saja yang akan ia hadapi adalah para perompak ganas yang tidak ragu untuk membunuh bahkan menenggelamkan kapal ini. Mereka adalah momok menakutkan, iblis lautan bagi para pelaut. Namun mengapa dengan entengnya Jayaseta menganggap mereka adalah hiburan yang ditunggu-tunggu?
__ADS_1
Jayaseta sangat khawatir sebagai seorang pendekar, ia sudah memasuki tahap menjadi seseorang yang takabur.
“Bukan, aku bukan takabur!” ujar Jayaseta dalam hati sembari menggeleng pelan.
“Sangat manusiawi rasanya bila aku menginginkan sesuatu yang berbeda dalam perjalananku ke Sukadana ini. Setiap pengalaman adalah guru, setiap pertarungan adalah pelajaran, setiap kemenangan adalah hadiah, dan setiap kekalahan adalah perenungan diri. Tujuanku jelas, aku tidak bisa melihat ketidakadilan dan kesewenang-wengangan, apalagi yang melibatkan kekerasan,
"Maka dari itu, apakah aku salah bila bersemangat untuk menghadapi para perompak itu? Apakah aku salah bila ingin memberikan mereka pelajaran dan perlindungan bagi para awak di kapal ini? Selain memang jalan hidupku yang tergariskan menjadi seorang pendekar yang harus terus dipoles dengan beragam pertarungan dan masalah yang melibatkan nyawa, aku juga sudah memutuskan jalan kependekaranku harus merujuk pada golongan putih,” ujar Jayaseta dalam hati dengan panjang dan lebar.
Pembahasan dalam hatinya ini akhirnya membuat Jayaseta semakin mantap menghadapi para bajak laut yang telah terlihat menurunkan tiga buah perahu dengan layar kecil masing-masing dari kapal induknya.
Berarti, kurang lebih satu peminuman teh, mereka akan sampai ke kapal ini. Kemudian bila peperangan cukup dahsyat, setengah peminuman teh lagi, kedua kapal induk tersebut akan benar-benar merapat. Jayaseta menakar, enam buah perahu berlayar yang mampu membawa lima orang perompak, berarti ada sekitar tiga puluh perompak yang akan menyerang dalam waktu dekat, melawan sekitar dua puluh awak kapal, nakhoda serta tambahan beberapa penumpang yang mau tak mau harus mampu membela diri sendiri.
Jayaseta menggenggam topeng Ireng Lokajaya yang diberikan kakek aneh tempo hari tersebut. Sang kakek yang bagai hantu datang dan menghilang sesuka hati tersebut seakan memiliki ilmu sihir yang dahsyat sehingga ketika begitu saja ia memberikan topeng kayu tersebut Jayaseta tak sempat menolak, bertanya atau bahkan curiga sama sekali.
***
Hiruk-pikuk di atas geladak kapal terdengar jelas. Raja Nio berteriak-teriak penuh perintah yang kemudian dilaksanakan oleh jurumudi, mandor bahkan para muda-muda.
Di kapal sendiri ada dua buah meriam utama di kiri dan kanan lambung jung yang siap memuntahkan bubuk api pada perahu-perahu perompak tersebut.
Namun, para perompak pastilah sudah paham dengan hal ini. Pengalaman merompak mereka pastilah sudah kaya. Itu sebabnya, kesemua enam perahu berlayar mereka hanya mengarah ke satu sisi kapal, bukan dari kedua sisi, agar dapat mengecilkan kemungkinan serangan meriam.
Para awak sendiri sudah bersiap-siap dengan beragam senjata mereka seperti bedil untuk serangan jarak jauh serta senjata tajam untuk pertahanan serang jarak dekat ketika mereka harus bertarung secara langsung dengan para perompak bila mereka berhasil naik ke geladak kapal
__ADS_1
Kekalutan terjadi di mana-mana. Sang nahkoda kapal, Raja Nio, orang Larantuka itu, menghunus sebuah kelewang dengan gagang panjang yang melengkung.
Jayaseta menghitung jumlah awak kapal yang siap bertarung. Walau bila dihitung, jumlah mereka yang siap bertarung ini saja masih kalah dengan jumlah para perompak yang menyerang menggunakan perahu berlayar, mereka diuntungkan dengan senjata-senjatanya.
Selain dua buah meriam yang nantinya akan digunakan oleh para awak, terlihat mereka mempersenjatai diri mereka dengan bedil atau senapan panjang. Para perompak akan dihujani pel*uru dan api dari meriam sebelum mereka bisa naik ke kapal.
Paling tidak bakal banyak anggota perompak yang akan sudah meregang nyawa di atas laut sebelum sampai ke geladak.
Jayaseta pun menarik nafas lagi dengan sedikit lega. Ia harap pertarungan ini tidak perlu menghabiskan banyak waktu, apalagi nyawa. Ia pun sama sekali tidak menginginkan nyawa perompak untuk hilang sia-sia dalam kejadian ini. Semoga para perompak sudah dapat ditakuti dan meninggalkan kapal ini.
Bila ada yang sampai berhasil naik ke kapal, Jayaseta sudah siap untuk kembali mengirimkannya ke laut.
Itulah perhitungan Jayaseta, seorang pendekar tersohor dan pilih tanding yang tak memahami dan memiliki pengalaman bertarung melawan perompak di tengah samudra. Ia tak paham seberapa kejam para bajak laut dan seberapa dahsyat peperangan yang biasa terjadi.
Sebentar lagi, ia pasti akan mengubah pemikirannya tentang sekadar mengusir dan menakuti para perompak atau memberikan mereka pelajaran. Serangan para perompak ini bukanlah ajang hiburan baginya, apalagi hanya sebagai sarana dirinya menunjukkan sikap kependekarannya.
Pertarungan di atas laut adalah perkara hidup dan mati. Mungkin Jayaseta belum sempat mendapatkan pelajaran berharga dari pertarungannya si atas geladak kapal ketika bergadang dengan rombongan prajurit pengawal sewaan kapal pimpinan mendiang pamannya, Badranaya.
Jangan-jangan Jayaseta memang sedang takabur.
Perlahan Jayaseta kembali meraba topeng Ireng Lokajaya, namun ia urung mengenakannya. Ia masih belum ingin dikenal di kapal ini sebagai si Pendekar Topeng Seribu. Ia jejalkan lagi topeng itu di balik ikat pinggang kainnya. Ia bahkan membiarkan kudi yang diberikan Jaka Pasirluhur tetap tergantung di punggungnya.
__ADS_1
Ia kemudian celingak-celinguk mencari sosok sang kakek aneh bin ajaib yang memberikannya topeng Ireng Lokajaya tersebut, namun tak ditemukannya. Teriakan kisruh dan semangat tempur para awak kapal lah yang terdengar jelas menggantung di udara.