Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lasara


__ADS_3

Berburu kepala dan penyerangan suku lain untuk mendapatkan budak dari suku tersebut sangatlah awam malahan penting sebagai bagian dari masyarakat Nias, terutama para pejuang dan kepala suku, bahkan sebelum orang-orang bule sampai di nusantara.


Permasalahannya sekarang adalah, sebelum abad ke-17 Masehi, perdagangan budak Nias hanya berlangsung di pulau Samudra Melayu dan Aceh saja, namun setelah kedatangan para pedagang bule, permintaan akan pasokan budak ini menjadi meningkat.


Perdagangan budak menjadi tinggi sesuai permintaan Walanda di Betawi dan Madagaskar. Para kepala suku di Nias kemudian mendapatkan keuntungan berkali lipat atas perdagangan budak ini. Memiliki budak, maka para kepala suku dianggap kuat dan berkuasa. Perang antar suku untuk memburu kepala musuh dan menjadikan suku yang kalah menjadi budak - atau mengambil budak yang telah ada di suku tersebut - makin meningkat.


Memang bila dipikirkan, hal ini serupa dengan perang pengayauan dari suku Daya pedalaman di pulau Tanjung Pura. Namun ada pula beberapa perbedaannya. Misalnya bahwa para pejuang Nias ini mengincar harta berupa perhiasan emas. Suku-suku Nias menyerang suku-suku lain untuk mendapatkan budak, atau sebaliknya, karena suku lain menyerang untuk mengambil budak, maka suku tersebut harus dibalas untuk mendapatkan budak mereka kembali.


Berbeda dengan suku Daya dimana pengayauan dilakukan sebagai bentuk budaya, kepercayaan dan syarat upacara tertentu, suku Nias mengambil kepala musuh untuk dipamerkan di depan rumah mereka yang disebut bale sebagai bentuk unjuk kekuasaan. Kepala suku yang memiliki banyak kepala musuh amat dihormati karena itu berarti ia memiliki kekuatan sekaligus kekayaan untuk dapat dan pantas memiliki serta menjual budak.


Tiga pendekar Nias yang mengenakan pakaian serupa busana daerah Katilapan: atasan tanpa kancing dan tanpa lengan berwarna merah, kuning dan hitam serta bawahan kain yang dililit serupa cawat, sudah meloloskan pedang balato mereka. Pedang pendek itu memiliki sarung pedang yang terdapat semacam keranjang bulat kecil dari rotan berisi beragam jimat dari taring harimau atau taring babi hutan untuk daya keampuhan serangan. Gagang balato yang berbentuk lasara - yaitu mahluk yang dihormati orang Nias dengan bentuk yang menyeramkan dan gabungan antara burung, naga, rusa atau harimau dengan tanduk - bergoyang-goyang ketika bilah balato dimainkan. Di tangan kiri mereka, para pendekar Nias menggenggam tameng kayu berbentuk menyerupai daun pisang bernama baluse.





Sudah saatnya bagi para pendekar dan pejuang Nias ini untuk melaksanakan kewajiban mereka. Dahulu mereka berasal dari salah satu suku Nias yang kalah berperang. Pemimpin suka dan banyak prajurit tewas dan dipenggal kepalanya. Mereka sendiri kemudian menjadi budak yang diperjualbelikan.


De Paula membeli mereka, bukan sebagai budak, melainkan sebagai pendekar bayaran. De Paula mampu melihat kemampuan kanuragan ketiga orang ini dengan baik. Mereka ditugaskan dalam berbagai penyerangan dan pertahanan serangan musuh Pranggi. Jelas mereka lebih beruntung di banding budak-budak Nias lain yang mengorbankan diri mereka dalam tugas di kapal-kapal musuh sekarang ini.


***


Katilapan menderu maju menyerang menggunakan kedua batang rotannya. Jurus-jurus Kali Majapahit kembali berhamburan keluar.


PRAK, PRAK, PRAK!!!


Tiga sabetan dari hampir sepuluh pukulan cepat Katilapan hampir masuk ke kepala Babiat Sibolang, namun kandas oleh tangkisan kedua lengannya yang sekeras besi itu.

__ADS_1


Mossak Toba memang membiasakan latihan untuk mengeraskan tubuh termasuk kedua tangan agar dapat menghadapi beragam serangan. Melihat Katilapan mencabut kedua tongkat rotannya membuat Babiat Sibolang berani membenturkan kedua lengannya menangkis serangan pendekar Bisaya tersebut.


Katilapan juga merasakan sebuah perbedaan mendasar antara pendekar-pendekar dengan ilmu kebal dan pendekar Toba ini. Kulit yang tak dapat ditembus oleh karena kemampuan ilmu gaib masih dapat diterobos dengan tenaga dalam untuk menghancurkan tulang-belulang atau jeroan tubuh lawan, namun Mossak Toba membuat kulit, daging dan tulang pendekar ini sama kuatnya secara alami walau belum tentu mampu menahan senjata tajam.


Narendra meloncat menusukkan tombak trisulanya. Babiat Sibolang menunduk. Telapak tangannya dimana jari-jari menekuk membentuk telapak kaki harimau siap melepaskan tenaga dalam menghancurkan dada Narendra ketika ia sedang berada di udara.


Katilapan meluncur dengan kuda-kuda rendah dan membabat tangan Babiat Sibolang sekuat mungkin.


PRAK!


Tongkat rotan itu berderak patah, terbuncai serat-seratnya. Lengan Babiat Sibolang hampir tak bergeser sama sekali, sehingga pukulan telapak harimau gubahan dari Mossak Toba itu tetap mengenai dada Narendra.


Yang diserang terlempar dan bergulingan di lantai geladak kapal. Tombak trisulanya terlepas. Katilapan tercengang, tapi tak lama karena tubuhnya juga terdorong akibat sepakan Babiat Sibolang.


Tendangan musuh tak benar-benar melukai Katilapan. Ia bangkit perlahan, membuang satu tongkat rotannya yang sudah porak poranda dan memandang ke arah Narendra cemas.


Beruntung benar pukulan tenaga dalam Babiat Sibolang sempat diganggu oleh Katilapan sehingga tidak semua tenaga dalam berhasil keluar dan memberikan daya hancur yang besar.


"Kau tak apa, Narendra?" ujar Katilapan.


Narendra menggelengkan kepalanya, "Kau maju dulu, Katilapan. Aku duduk dahulu di sini," ujarnya kepayahan.


Katilapan menghela nafas sebal dan ikut menggelengkan kepalanya, "Kau ini, Narendra. Siapa suruh kau selalu menyerang dari arah atas? Kau menjadi sasaran empuk buatnya. Tak kau lihat kuda-kudanya begitu rendah?"


Narendra tertawa mengejek. "Ah, kau sendiri bagaimana? Hancur juga rotanmu, bukan?"


"Itu semua karena kau. Lagipula aku masih punya satu rotan. Lihat baik-baik bagaimana cara aku mengalahkannya," balas Katilapan tak kalah mengejek.


"Silahkan, silahkan ... Semoga beruntung teman," ujar Narendra kembali tersenyum mengesalkan.

__ADS_1


***


Tiga pendekar Nias tak mau kalah. Berbeda dengan para pendekar yang biasa bertarung di atas geladak kapal dengan kuda-kuda rendah mereka, ketiganya melompat luar biasa tinggi bagai tupai ke arah Jayaseta dan Datuk Mas Kuning.


Jayaseta berguling mundur dan menghindari dua tebasan dari dua pendekar Nias. Datuk Mas Kuning berkelit dengan lembut. Ujung balato seruas saja dari hidungnya.


Jayaseta menunduk, melemaskan kedua tangannya, termasuk tangan kanan yang menggenggam peudeung. Kuda-kudanya santai, tidak rendah juga tidak tinggi. Topeng Mah Meri menutupi wajahnya. Kedua musuh tak bisa menduga apa yang terjadi di baliknya, termasuk perasaan yang biasa tergambar di wajah maupun pandangan kedua mata.


Datuk Mas Kuning cuma sejenak melirik ke arah Jayaseta. Ia langsung maju membalas serangan lawan: mengibaskan sarung dan berputar manusukkan kerisnya.


TAK, TAK!


Dua tusukan tertahan di tameng baluse. Sang pendekar melompat pendek dan membabat lurus menyamping ke arah leher. Datuk Mas kuning mengibaskan sarungnya yang langsung sobek terpapras balato.


Jayaseta mengikuti serangan Datuk Mas Kuning yang telah dilakukan kepada satu pendekar Nias lawannya. Ia bergeser sedikit, kemudian melompat pendek sembari membabatkan peudeungnya ke satu pendekar Nias.


TRAK!


Serangan peudeung dapat ditangkis. Namun Jayaseta menggunakan sedikit kesempatan yang kecil sehabis ia melompat pendek untuk melontarkan tubuhnya melompat tinggi.


Sembari berputar sekali di udara, ia membacokkan peudeung ke arah kepala musuh di balik baluse. Serangan yang cepat dan tak dapat diduga ini masih sempat ditangkis oleh musuh dengan menaikkan balatonya.


Percikan api terlihat dari benturan dua bilah logam pedang tersebut. Akibat kuatnya tebasan Jayaseta, tak pelak sang pendekar Nias tetap terdorong ke depan. Ia berguling untuk kembali mempersiapkan kuda-kuda.


***


Di lantai atas, de Paula semakin gusar. Ia tak tahan lagi melihat pasukan dan pendekar bayarannya tumbang satu persatu. Ia mengangkat tangannya pelan, sebagai tanda perintah para penembak bedil mempersiapkan diri diam-diam.


Para awak kapal budak Nias, beberapa orang Bali dan seorang renta berkulit hitam jelaga juga memperhatikan gerak-gerik para penembak bedil dengan seksama. Kesemuanya diam-diam saling bertukar pesan. Sang awak berumur sepuh perlahan meraba penutup kepala kainnya dan mengambil saru lempengan logam kecil berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya.

__ADS_1


__ADS_2