
Jayaseta berdiri dan menyentuh luka di dadanya. Ada bentuk gerigi disana, tetapi hanya melukai kulit luar sang pendekar. Tinju jurus Harimau Menggerogoti Bangkai Rusa rupanya tidak sesuai harapan Siam. Mungkin untuk orang lain, tubuh yang terkena tinju dengan senjata pelindung kepalan perunggu bergerigi itu akan hancur, seperti dada Lâm yang telah menjadi mayat sekarang.
“Aku tidak akan mengenakan topeng ini, Siam,” ujar Jayaseta sembari menyentuh topeng baja tipis pejuang Thai yang menggantung di pinggangnya. “Aku tidak ingin kau terlalu berbangga hati dan jemawa karena menghadapi Pendekar Topeng Seribu. Aku tak perlu mengenakan topeng ini untuk mengalahkanmu. Mungkin sebelum kau mati, kau akan sadar dengan siapa kau sebenarnya berhadapan,” ujar Jayaseta dingin.
Siam sang Harimau Siam meludahkan sisa darah dari mulutnya. Ia berdiri, kemudian mempersiapkan kembali kuda-kudanya. Kata-kata Jayaseta memang jelas melukainya lebih dari rasa sakit di dadanya ini.
Jayaseta mulai memahami cara kerja jurus-jurus harimau Siam. Tangan kanannya membentuk cakar yang siap mencabik-cabik musuh, sedangkan tangan kirinya dengan senjata bergerigi itu berperan layaknya taring. Maka, seharusnya musuh memang dapat tercabik-cabik dan digerogoti bagai bangkai binatang yang menjadi mangsa seekor harimau.
Jayaseta mungkin memang tidak bisa menyelesaikan pertarungan ini secepat yang ia bisa, tetapi itu bukan berarti Siam menjadi unggul. Jayaseta mencoba memahami bagaimana dan apa alasan Siam bisa digelari Harimau Siam bila kemampuannya tidak bisa dikatakan baik.
Siam kembali mengatur tenaga dalamnya. Ia harus habis-habisan mengeluarkan kemampuannya untuk mengalahkan Jayaseta bila tidak ingin dirinya tewas. Jayaseta sudah menunjukkan sedikit saja kemampuannya yang memang sepertinya jauh dari jangkauan Siam. Namun, sekali lagi, Siam sendiri meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia memiliki gelar tersebut bukan tanpa alasan.
__ADS_1
Siam tidak membalas kata-kata ejekan Jayaseta kemudian melompat maju sekali lagi, tapi ia berhenti beberapa langkah dari Jayaseta dan melemparkan senjata pelindung kepalan perunggu bergerigi itu. Jayaseta melentingkan tubuhnya untuk menghindar. Ia berhasil, pelindung kepalan berdesing di atas kepala Jayaseta.
Namun mendadak Siam sudah berada di dekat Jayaseta dan menyerang dengan kedua kepalannya yang telah mengenakan pelapis kepalan perunggu bergerigi lagi. Jelas Siam memiliki lebih dari sepasang senjata itu.
BRET!
Jayaseta menahan tinju Siam dan membuat kulit lengannya robek.
BRET!
BUG!
__ADS_1
Satu tendangan keras menghajar dada Jayaseta, membuatnya tersentak mundur menjauh.
Siam begitu bernafsu untuk mengalahkan Jayaseta. Ia sungguh habis-habisanmengeluarkan kemampuan terbaiknya, serangan tipuan dan membebankan kecepatan yang luar biasa untuk membuat serangannya berbuah. Siam kembali menerapkan serangan yang sama. Kedua kepalannya berubah menjadi taring-taring harimau. Dua harimau sedang menyerang mangsa secara bersamaan.
Tanpa sadar, jarang yang tercipta akibat tendangan ke dada Jayaseta malam membuat sang pendekar paham keadaannya. Ia kembali mundur, tidak mengacuhkan denyut luka di kedua lengannya, kemudian memainkan kembali silat pulut yang lembut, bersama dengan gaya silat bantingan yang ia pelajari dari sang Harimau Kelantan.
Satu tinju Siam ia hindari dengan menepiskan lengan bergaya silat pulut, sedangkan tanpa menunggu serangan kedua, Jayaseta menyelip ke belakang tubuh Siam, melingkarkan kedua tangannya di pinggang musuh, kemudian mengangkat tubuh Siam dalam sekali sentak.
Tubuh Siam terangkat tinggi untuk kemudian dijatuhkan ke tanah. Siam dengan sigap melepaskan diri dengan menggerakkan pinggulnya. Sedikit banyak sepertinya Siam memahami beragam jurus silat dari tanah Melayu. Masalahnya, Jayaseta bukan seorang pendekar biasa. Walau Siam berhasil lolos dari bantingannya, sang pendekar berdarah Champa itu masih belum mampu menjaga keseimbangannya. Jayaseta langsung menghajar kaki sang musuh dengan tendangan bergaya silat Tomoi, yaitu memainkan dan memajukan pinggul untuk tendangan yang bertenaga, sekaligus mencampurkan jurusnya sendiri.
BRAK!
__ADS_1
Bunyi derak tulang yang patah terdengar cukup keras. Siam tidak hanya megaduh, tetapi kehilangan keseimbangan sama sekali. Jayaseta tidak tinggal diam dan membuang kesempatan. Dengan memanfaatkan jatuhnya tubuh Siam, dalam sekali sepak, Siam sang Harimau Siam terlempar bagai daun kering kemudian menubruk batang pohon besar. Bunyi derak keras kembali terdengar, hanya saja, kali ini bunyi itu tidak hanya berasal dari tulang-belulang Siam yang patah, melainkan juga dari batang pohon yang retak sakign kerasnya tubrukan tubuhnya.
Siam mengerang, megaduh, dan merintih. Tulang punggungnya patah, tulang kakinya mencuat keluar menembus daging dan kulitnya. Senjata pelindung kepalan perunggu bergeriginya telah terlepas dari kedua tangannya. Jayaseta melihat sekeliling, kemudian memungut sebatang tombak milik para pemburu yang telah tewas. Setelah itu dengan dingin ia berjalan mendekat ke arah Siam yang sedang begitu kesakitan.