Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Penjelasan


__ADS_3

Dua kapal yang ditumpangi Sasangka dan Jaka Pasirluhur serta rombongan Pratiwi memutuskan untuk berpisah. Mereka merasa perjalanan sudah menjadi sedikit aman setelah dua hari pelayaran. Kini kapal yang ditumpangi Sasangka dan Jaka Pasirluhur berhenti di sebuah dermaga sebuah pinggiran kota. Sedangkan kapal Pratiwi dan rombongannya meneruskan perjalanan, toh kedua kapal memang berencana untuk sampai di ibukota Ayutthaya. Di daerah itu, jujur dipastikan keamanan terjaga. Ayutthata adalah negeri dengan pusat kotanegara yang dirancang sedemikian rupa agar para pelancong dengan beragam kepentingan dapat mendapatkan keinginan dan menjalankan keperluan mereka, semuanya dijamin.


Kapal yang ditumpangi Sasangka dan Jaka Pasirluhur memang harus berhenti. Mereka harus memikirkan ulang lagi rencana perniagaan, mengingat telah banyak awak kapal dan prajurit yang tewas di atas kapal serta mereka memerlukan perbaikan di sana sini dahulu. Sehari dua menginap di dermaga mungkin adalah pilihan yang paling tepat.


Sasangka tentu tak suka dengan hal ini. Ia lebih senang untuk bisa langsung ke Ayutthaya, yakin bahwasanya rombongan Jayaseta juga ke sana. Ia sudah ketinggalan terlalu lama dan jauh dari Jayaseta, dan harus berhenti pula di tempat ini. Alasan lain adalah karena ia harus mengurus urusan yang lain, apalagi bila bukan sosok yang mengaku-ngaku sebagai sang Pendekar Topeng Seribu dimana ia dan orang tersebut sama-sama berasal dari tanah Jawa.


Sasangka turun dari kapal dan langsung pergi menjauh dari dermaga, menuju ke pasar dan terus berjalan masuk ke perkampungan. Pengalamanya bertahun-tahun berlayar jelas memberikannya pengetahuan yang lebih dari cukup untuk memahami pola beragam dermaga besar dan kecil, pasar dan perkampungannya, termasuk tempat untuk menjauh.


Jaka Pasirluhur mengikuti kemana sosok Sasangka itu pergi. Tujuannya adalah mencari tahu keberadaan sang Pendekar Topeng Seribu, Jayaseta, di tanah Siam ini. Ia sudah menemukan bahwa ada orang Jawa yang mengaku-ngaku sebagai tuannya tersebut. Tentu tak mungkin untuk menghilangkan kesempatan ini. Siapapun orang itu, pasti memiliki pengetahuan tentang Jayaseta, mungkin pula hubungan. Sama seperti dirinya yang dengan lancang menggunakan nama sang pendekar untuk alasan-alasan yang tak bisa ia jelaskan secara sederhana. Ia pun harus menanyakan tentang hal itu.


Rua Mat Arthit ikut berhenti di dermaga yang sama. Ia pada dasarnya melihat ada dua orang Jawa yang turun ke dermaga dan menebak saja kemungkinan salah satu dari mereka mungkin saja adalah sang Pendekar Topeng Seribu. Ini hanya karena dari cara mereka berbusana serta penampilan mereka sama sekali tidak mirip orang Annam dan Champa yang lebih kecil. Tidak ada salahnya untuk mengais keterangan dari keduanya yang kini terlihat menjauh dari pasar.

__ADS_1


Pasar-pasar di negeri Siam ini serupa dengan beberapa jenis pasar di pulau Tanjung Pura, terutama di Kesultanan Banjar yaitu dengan ciri pasar mengapung. Ini maksudnya adalah bahwa di sungai orang-orang juga berjualan. Selain di daratan, dimana beragam kedai dan tempat berjualan dibangun disesuaikan dengan jenis barang, air juga dijadikan tempat berjualan. Sayur-mayur dan berbagai jenis makanan sungai seperti ikan, udang dan sebagainya dijajakan di atas sungai dengan perahu.


Sasangka yang diikuti oleh Jaka Pasirluhur melompat-lompat ringan dari satu perahu ke perahu lainnya. Sebenarnya ada pula jasa bagi para penumpang yang hendak turun ke dermaga dengan perahu. Umumnya seperti itu, tetapi sebagai seorang pendekar, Sasangka tidak ambil pusing. Semakin tak terlalu diketahui langkahnya, semakin baik.


Arthit memicingkan matanya. Entah apapun itu, naluri kependekarannya tertantang. Ia terlihat begitu tertarik dengan apapun yang akan terjadi. Kedua tangannya mengepal. Ia memerintahkan para pendayungnya untuk merapat ke dermaga.


“Tunggu dan temui aku disini, mungkis ketika malam tiba, mungkin juga esok hari,” ujar Arthit.


Di tempat lain, Sasangka sudah benar-benar menjauh dari dermaga, bahkan kini sedang berjalan menjauh dari jalan kampung dikejar oleh Jaka Pasirluhur.


“Tunggu, kisanak!” seru Jaka Pasirluhur.

__ADS_1


Tanpa memalingkan wajahnya yang masih menutup mulutnya dengan kain, Sasangka tidak mengacuhkan teriakan Jaka Pasirluhur.


“Baik, baik. Aku mengaku bahwa aku memang bukan sang Pendekar Topeng Seribu. Sekarang, kau sudah dapat melihat wajahku, bukan?” ujar Jaka Pasirluhur yang memang sudah melepas topeng Penthul Tembemnya sedari tadi.


“Mengapa kau mengikutiku, orang asing?” balas Sasangka.


“Tunggu dulu, kisanak. Aku minta maaf bila aku tadi berbohong mengenai penyamaranku ini, tetapi bukan berarti kisanak pun jujur bukan? Kita sama-sama tahu bahwa kisanak bukanlah Pendekar Topeng Seribu. Nama sejatinya adalah Jayaseta, dan aku kenal sekali dengan diriny,” ujar Jaka Pasirluhur.


Sasangka sontak berhenti dari jalannya kemudian berbalik memandang ke arah Jaka Pasirluhur yang salah satu tangannya putung tersebut.


“Apa yang kau ketahui tentang Jayaseta?” ujar Sasangka dingin. Namun, bahkan Jaka Pasirluhur sendiri paham bahwa sang lawan bicara memang sedang tertarik dengan penjelasannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2