Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sosok Gelap


__ADS_3

Pasukan rombongan perompak Champa dibawah pimpinan Lâm maju terlebih dahulu. Mereka terlalu bersemangat untuk mengejar si pelaku pembantai kelompok Dunia Baru mereka yang lain. Tanda-tanda sekecil apapun akan segera mereka ikuti sebagai petunjuk keberadaan sang lawan. Mereka tak akan membiarkan Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu dan rekan-rekannya lolos dari kejaran mereka. Nyawa orang itu kini ada di dalam tangan mereka. Mereka semua telah bertekad, entah mereka yang tewas terbantai seperti kelompok sebelumnya, atau mereka yang berhasil menancapkan mata tombak dan belati mereka ke dada sang pendekar.


Mata perompak mereka telah terbiasa dengan kegelapan. Di atas sungai dan lautan, melihat apa yang ada di atas air atau di seberang pandangan berdasarkan secercah sinar dari bintang atau bulan saja, mampu mereka lakukan dengan baik. Harusnya ini juga terjadi malam ini. Harusnya tidaklah sulit untuk memerhatikan sekeliling untuk mencari tahu keberadaan rombongan Jayaseta.


Namun, malam ini ternyata begitu berbeda.


Awan kelam menyelimuti angkasa yang sudah gelap bagai selimut tebal. Tidak ada selarik cahaya pun yang berhasil menembusnya. Para prajurit perompak Champa merasakan dingin yang aneh merasuk ke dalam tulang mereka menembus lapisan kulit, merangkak di atasnya kemudian menghujam masuk. Sungguh aneh memang. Bukan setahun dua tahun mereka hidup di atas sungai atau laut, melawan dingin sampai kebal. Tak ada angin yang cukup kuat untuk membuat mereka bergetar dan membeku.


Kegelapan sempurna membuat pandangan mereka terbatas. Mereka menggunakan senjata untuk meraba-raba jalan dan arah, seakan tanah Siam ini begitu asing buat mereka. Bunyi desir angin, gemerisik ranting dan dedaunan yang bergesek saling adu serta arus sungai yang begitu lamat dari jauh menjadi lebih jelas, termasuk desah nafas mereka sendiri.


Mendadak teriakan tertahan satu orang perompak Champa mengoyak malam dan keheningan anehnya. Tubuh pemuda itu terseret masuk ke balik rerimbunan pepohonan dan ilalang yang lebat.

__ADS_1


Kekalutan langsung merebak di dalam rombongan para perompak tersebut. Semua kepala bergerak-gerak awas sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kemana gerangan kawan mereka tersebut hilang.


"Bangsat! Apa yang sebenarnya terjadi?" seru tertahan seorang perompak. Tombaknya mengacung ke depan dan digunakan untuk menusuk-nusuk pepohonan.


Tidak hanya dia, yang lain pun sibuk menengok kesana kemari untuk melacak keberadaan sumber hal yang baru saja terjadi tersebut.


"Kawan kita menghilang ditarik ke dalam semak-semak," seru yang lainnya.


"Diam kau! Jangan berbunyi. Siagakan saja diri kalian. Setan macam apa yang berani kurang ajar main sembunyi-sembunyi semacam ini?" balas anggota lainnya.


"Akhh ...!!" seruan teriakan terjadi lagi. Kali ini lebih keras dan memilukan. Tubuh seorang perompak yang paling belakang tertarik setelah sebelumnya terlontar tinggi.

__ADS_1


Kekalutan tak mungkin lagi tertahan. Para perompak Champa berteriak-teriak keras dalam bahasa-bahasa yang mereka ketahui, yaitu Champa, Melayu dan Siam. "Bedebah! Keluar kalian. Dasar pengecut!"


Bahkan Lâm tak bisa lagi menahan para perompak bawahannya itu. Kegelapan dan rahasia di baliknya ternyata berhasil menggerus nyali dan kesabaran mereka, menggerogoti rasa penasaran mereka pula. Semua anggota perompak langsung menyerang sembarang arah. Mereka melompat dan menusukkan tombak mereka ke semak dan belukar, mematahkan ranting-ranting pepohonan.


Tiba-tiba sosok gelap melompat tinggi di atas kepala para perompak Champa entah dari mana. Bayangan itu berkelebat dalam gelap, hanya bisa ditangkap mata karena kemurahan dunia dengan sinar temaram sejumput saja. Namun pemandangan sekejap itu sudah cukup menebarkan rasa takut kembali, terutama ketika sekaligus dua perompak Champa tersentak mundur dan jatuh menghajar pepohonan saking jauhnya mereka terlempar. Tameng dan tombak terjatuh dari tangan mereka.


Tidak jelas bagaimana keadaan keduanya. Bahkan tak ada satupun yang tahu bagaimana serangan dilancarkan, dan apa atau siapa yang barusan menyerang mereka itu. Kekacauan meledak di tengah rombongan.


Lâm dengan wajah dinginnya undur diri. Ia menyipitkan mata, menunduk dan mempersiapkan tombaknya. Riuh rendah di depannya oleh para bawahan tak bisa ditahan lagi, bahkan olehnya.


Kelompok perompak sama sekali berbeda dengan para prajurit kerajaan. Mereka tidak selalu memiliki aturan dan menuruti perintah atasan. Ketua dipilih karena memang dianggap lebih kuat dan mampu, terutama karena bisa mengalahkan siapapun penantangnya dari kelompoknya sendiri. Buktinya, mereka saja kini sedang dalam keadaan menentang perintah Dunia Baru dan malah mengejar Jayaseta.

__ADS_1


Lâm tahu sekarang. Yang mereka hadapi memang tak bisa disepelekan. Entah apa atau siapapun itu.



__ADS_2