Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Rua Mat


__ADS_3

Maenam atau berarti sungai  Chao Phraya adalah sungai utama di negeri Siam. Mae nam sendiri adalah istilah untuk sungai dalam bahasa Siam yang secara harafiah diterjemahkan sebagai ibu air, mae dan nam. Di lembah sungai Chao Phraya muncullah salah satu peradaban paling tua di wilayah nusantara dan sekitarnya, yaitu kerajaan Mon dan budaya Dwarawati pada abad ke-7 sampai ke-11 Masehi. sunga Chao Phraya juga memainkan peranan penting di dalam kerajaan Lavo yang berada di tepi sungai sebelah kiri lembah Chao Phraya. Bahkan Chao Phraya terus membantu memberikan peran penting kerajaan-kerajaan setelah Lavo seperti menjadi dasar kerajaan Ayodhaya sebelum menjadi bagian dari kerajaan Ayutthaya di abad ke-14 Masehi.


Saking pentingnya Chao Phraya, kerajaan Ayutthaya bahkan memerintahkan pembangunan saluran buatan, seperti jalan pintas untuk melewati pusaran besar di sungai, memotong jarak dari ibukota kerajaan ke laut. Sejak itu, aliran


sungai berubah mengikuti saluran-saluran tersebut.


Pembangunan pertama adalah sebuah saluran panjang yang digali tahun 1538 Masehi pada masa kekuasaan Raja Chairachathirat yang disebut dengan Khlong Lat, memotong jalur kapal dari Teluk Siam ke Ayutthaya. Tahun 1542 Masehi, saluran Khlong Lat Bangkok diselesaikan. Chao Phraya diarahkan melalui saluran baru tersebut dan aliran lama menjadi bagian dari Khlong Bangkok Noi dan Khlong Bangkok Yai, dan ini sangat berguna karena memendekkan jarak sampai 2000an liga. Tahun 1608 Masehi, 1.400 liga saluran bernama Khlong Bang Phrao diselesaikan dan mempersingkat jarak asli Chao Phraya sampai 3.728 liga. Baru-baru ini, tiga tahun yang lalu, yaitu tahun 1636 Masehi, saluran Khlong Lat Mueang Nonthaburi juga diselesaikan.


Masih ada beberapa pekerjaan saluran sungai yang besar lagi yang bertujuan untuk membuka jalan dari dan ke Ayutthaya. Tidak heran hubungan perdagangan dan ketatanegaraan Siam Ayutthaya dengan mancanegara cukup ramai. Hasilnya pun, pertahanan kerajaan menjadi sama ketatnya.

__ADS_1


Sebelum memasuki sungai Lopburi yang mengitari ibukota kerajaan, ada daerah sungai yang digali untuk pertahanan. Arus sungai Chao Phraya termasuk jenis yang pasang surut dan memengaruhi sungai-sungai lain seperti Pa Sak dan Lopburi. Arus berganti setiap hari berdasarkan pasang di teluk Siam, kecuali akhir dari musim penghujan ketika bajir menutupi pasang.


salah satu perahu atau tongkang sederhana Ayyutthaya adalah rua mat, yang dapat dikenal oleh haluan dan buritannya yang berbentuk paruh bebek. Jenis perahu gali ini, terbuat dari satu kayu gelondongan, sebagian besar berasal dari kayu besi Malabar, yang digunakan untuk mengangkut beras dan barang lainnya. Rua mat diukir dengan pahat dan ukurannya kadang-kadang ditingkatkan dengan memanaskan kayu berukir di atas api atau dengan meletakkan sekam padi yang membara di bagian dalamnya. Ketika kayu itu melunak, keduanya bagian dipisahkan untuk memperluas lambung. Perahu dikemudikan dengan sebuah pasak kemudi.


Arima Oda, Konoshi Hidetada dan Paulo Omura memutuskan berlayar menjemput sang sasarang dengan sebuah rua mat yang gesit. Mereka memasuki suang Lopburi kemudian sehari kemudian sudah masuk ke sungai Chao Phraya.


Arima Oda, pembunuh bayaran yang paling bersemangat dalam pekerjaannya. Ia dihadiahi dengan kecerdasan dan ketamakan luar biasa sehingga dalam jurus-jurus kependekarannya, rasa haus darah itu begitu kental. Selain daisho atau pasangan katana dan wakizashi, ia juga menyelipkan sebuah belati di samping wakizashi. Belati jenis ini bernama tanto.


Konoshi Hidetada, terkenal memiliki wajah lumayan rupawan dan terlihat sering tersenyum. Seorang ronin yang luar biasa cabul. Tujuan menjadi pendekar Dunia Baru selain untuk kebesaran nama dan kekayaan, juga demi perempuan. Ia suka sekali menikmati perempuan, serupa dengan makan saja. Menggauli perempuan beragam suku bangsa dengan cara baik-baik seperti membeli atau menyewa, ataupun dengan paksa, seperti menculik dan merudapaksa. Kedua rekannya kerap waswas karena si cabul Konoshi Hidetada sering kelepasan dan kelewatan ketika melaksanakan tugas dan melihat perempuan cantik. Ia bisa memutuskan untuk mengganti tujuan mereka dengan tujuan cabulnya itu.

__ADS_1


Konoshi Hidetada bersenjata katana dan wakizashi, yari dan tanegashima, atau senapan kancing sumbu. Untuk itulah, tugasnya kerap berada di belakang sebagai penembak dan pertahanan tatanan jurus-jurus kedua rekannya.


Paulo Omura, pendekar Jepun nasrani ini adalah yang paling tenang tetapi dingin dan sulit ditebak. Seperti kedua rekannya yang menggunakan katana, wakizashi dan yari, ternyata ia juga menggotong sebuah tombak lain yang bermata seperti sebuah pedang melengkung. Tombak ini disebut dengan naginata. Di dalam ilmu silat Cina, tombak bermata pedang ini mirip dengan guan dao. Busananya hanya selembar, bercawat, tanpa pelindung tubuh seperti Konoshi Hidetada, tetapi mengenakan kain pembungkus di kedua tulang kering kakinya.



Sudah jelas, persenjataan ketiga orang pendekar Jepun ini sangat lengkap. Mereka tidak lagi harus berpura-pura untuk menjadi pelancong Jepun di tanah Siam. Rua mat penuh dengan yari mereka yang panjang ditambah satu naginata. Tujuan mereka memang adalah untuk menghabisi Jayaseta dan rombongannya. Menyembunyikan persenjataan dan jati diri bukanlah pilihan lagi.


Bagi para pendekar Jepun, ki memang penting, tetapi mereka percaya sekali dengan membunuh menggunakan pedang. Sama seperti prajurit Mataram yang melengkapi diri dengan sampai tiga buah keris di pinggang mereka, tombak dan pedang, para Samurai termasuk ronin dan pembunuh bayaran juga harus mau repot-repot membawa beragam jenis senjata. Mereka harus siap bila dalam satu dua kali serangan, senjata mereka terlepas, atau dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menggunakan satu senjata tertentu, mereka dapat mengganti dengan senjata apapun yang ada pada diri mereka.

__ADS_1


Jurus-jurus para pendekar Jepun yang patah-patah, cepat dan rela menghabiskan waktu untuk menakar gerakan dan jurus musuh dibanding boros membabat lawan walau serangan-serangan mereka dapat dihindari adalah juga ciri dari Tiga Dewa Iai ini.


Nampaknya Jayaseta harus kembali mengulang pertarungan dengan para pendekar Jepun. Bedanya, ia kali ini sudah jauh lebih hebat dan sakti dibanding sebelumnya, dan musuh pun sudah paham bahwa orang yang mereka hadapi ini bukan orang biasa. Arima Oda, Konoshi Hidetada dan Paulo Omura sudah belajar dari kisah mengenai kematian para ronin Jepun Betawi dan sepak terjang Jayaseta di dunia persilatan. Mungkinkah ketiga pendekar dan pembunuh bayaran asal Jepun ini lebih siap dari rekan sebangsa mereka yang tewas di tangan Jayaseta dahulu?


__ADS_2