Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Rencana dan Keinginan yang Gila


__ADS_3

Sokhem san Sovanara tanpa sengaja melihat tiga sosok pendekar Jepun tersebut. Perawakan dan penampilan mereka terlalu jelas. Mereka berjalan-jalan menyusuri tepian sungai dan pasar dengan membawa serta senjata lengkap.


Sepasang sejoli Khmer bergelar Kaki Tangan Dewa Kematian tersebut nampaknya sudah berhasil mengejar rombongan Jayaseta, meskipun mereka masih belum yakin betul. Belasan pasukan mereka juga sudah disebar ke berbagai penjuru untuk mencari keberadaan buruan mereka.


Namun, kedatangan Tiga Dewa Iai tersebut membuat Sokhem dan Sovanara kesal dan tersinggung. Sebagai bagian dari Sembilan Pendekar Dunia Baru, harusnya Konoshi Hidetada, Arima Oda dan Paulo Omura menahan diri mereka untuk tetap tinggal di Ayutthaya. Bukan karena Sepasang Kaki Tangan Dewa Kematian ini merasa mereka tak mampu mengalahkan dan membunuh Jayaseta serta rombongannya, malah sebaliknya, Sokhem dan Sovanara tidak sudi berbagi kejayaan dengan tiga pembunuh bayaran Jepun tersebut.


"Jepun bedebah! Urusan harga diri dan kemenangan seperti ini mereka sulit sekali untuk ikut aturan," gumam Sokhem.


Sovanara, sang istri, memandang suaminya, menatap kedua matanya, seakan memberikan sinyal tertentu.


"Mengapa kau memandangku seperti itu?" ujar Sokhem.


"Tidak. Aku tidak bermaksud apa-apa," balas Sovanara. Namun, ada selarik senyum tipis terlukis di bibirnya.


"Kau mau kita menyingkirkan Omura dan teman-temannya?" seru Sokhem tertahan.


Sovanara mengedikkan kedua bahunya.

__ADS_1


"Itu terserah kau. Setahuku, sudah lama kau memang ingin membuat mereka pergi dari tanah dimana kita berada dan memusnahkan mereka bila mungkin," ujar Sovara santai.


Sokhem menggelengkan kepalanya.


"Itu benar. Tapi, kita sedang menghadapi Jayaseta dan para pendekar yang menyertainya. Bukan meninggikan mereka, tetapi kita bakal kehabisan tenaga dan daya bila harus membuang-buangnya untuk mereka," ujar Sokhem.


Sovanara membenahi ikat kepalanya dan menyentuh kedua gagang pedang pendeknya, kemudian berkata acuh tak acuh, "Siapa bilang itu harus kita? Lagipula, kita masih belum menemukan Jayaseta dan rombongannya di tempat ini."


Sokhem mengernyitkan dahinya. Ia mencoba meraba makna perkataan pendekar pasangannya tersebut.


"Kau yakin, Sovanara?"


"Atau, kalau kau ragu. Kita selesaikan pencarian ini terlebih dahulu. Bila kita bertemu Jayaseta di saat yang bersamaan dengan kelompok Paulo Omura itu, kita bekerjasama saja dengan mereka. Jadi, pekerjaan akan lebih cepat selesai dan kita semua mendapatkan nama karena mengalahkan Jayaseta, secara bersama-sama," ujar Sovarana.


Kata-kata terakhir diucapkan dengan sangat pelan. Sengaja dikatakan seperti itu untuk mengejek harga diri Sokhem.


"Bangsat! Aku tidak sudi bekerjasama dengan mereka!" seru Sokhem.

__ADS_1


"Atau ...," lanjut Sovanara. "Kita cantikan mereka disini, saat ini juga. Sembari kita mencari tahu dimana keberadaan Jayaseta. Kita tak perlu melakukannya langsung. Jadi, kelak kita berdua pun cukup untuk menyelesaikan pekerjaan."


Sokhem menghela nafas. Bayangan Sepasang Kaki Tangan Dewa Kematian menghabisi Jayaseta dan membawa kepalanya ke depan Dewa Langkah Tiga dan segenap anggota Dunia Baru sungguh sangat menggoda.


Sokhem memanggil salah satu anak buahnya yang sedang bersamanya sama-sama mencari Jayaseta.


"Kumpulkan anggota kita secara diam-diam. Aku akan berikan perintah baru kepada kalian, dan ini adalah perintah langsung Dunia Baru. Secara hukum aturan tegas yang tertulis, orang-orang Jepun yang seharusnya menjaga Ayutthaya sekarang terlihat di tempat ini."


Sang bawahan mengangguk. Nampaknya ia juga sempat melihat rombongan tiga pendekar Jepun tersebut.


"Kalian tak perlu berkumpul dan bertemu denganku dan Sovanara lagi. Kalian juga tak perlu tahu siapa mereka. Orang-orang Jepun itu jelas diperintah ketua kelompok pasukan Jepun untuk ikut mencari Jayaseta. Kita tidak boleh membiarkan mereka!"


"Kau mau membunuh mereka, Sokhem?" ujar sang bawahan.


Sokhem sengaja tak menyebut gelar ketiga pendekar Jepun itu. Ia tak mau para pasukannya gentar. Ia pun tahu betul bahwa Tiga Dewa Iai akan dapat membunuh banyak dari pasukannya. Namun, tanpa diketahui siapa mereka, pasukannya pastilah mendapatkan semangat dan keberanian.


Lagipula, melukai apalagi sampai membunuh salah satu diantara mereka juga sudah cukup. Ia dan Sovanara masih memiliki waktu dan kesempatan untuk melaksanakan tujuan dan tugas mereka berdua.

__ADS_1


Sungguh sebuah rencana dan keinginan yang gila!


__ADS_2