Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lebam Membiru dan Menghitam


__ADS_3

Katilapan menyongsong serangan satu pemburu Thai yang temanya telah tewas tertusuk dan terbelah lambungnya. Ginunting menepis satu tusukan tombak, kemudian dengan tusukan kedua, Katilapan menempelkan bilah ginuntingnya di tombak tersebut kemudian menggeser bilah tajamnya sepanjang batang tombak memutuskan jari-jari lawan.


Tombak terjatuh ke tanah bersamaan dengan teriakan kesakitan dan kesengsaraan sang lawan. Katilapan menyerbu membabatkan ginuntingnya menyilang membelah dada lawan. Musuh ambruk ke tanah tanpa nyawa.


Narendra berseru ke arah Katilapan, “Lama sekali kau menyelesaikannya. Jangan-jangan kau menjadi lebih tua dan lebih lambat kali ini, Katilapan!” ejek Narendra.


Katilapan membalas tatapan dan ejekan Narendra dengan mengangkat ginuntingnya yang diselimuti darah kemudian berteriak, “Aku sengaja, Narendra. Kau saja yang terburu-buru. Untung cuma dua orang. Kalau lebih, mungkin kau yang sudah ngos-ngosan menghadapi mereka,”


Ireng terperangah dan terperanjat melihat perilaku kedua pendekar tersebut. Ia merasa bahwa kecepatan dan kehabatan Katilapan dan Narendra meningkat luar biasa pesat. Bahkan dalam perjalanan ini, keduanya semakin mengganas. Ia semakin merasa disiram beragam hal yang membingungkan buatnya. Apalagi kalau bukan permasalahan Siam yang selama bertahun-tahun bersama dirinya, ternyata Siam adalah seorang pengkhianat. Bahkan bila memang benar ia adalah seorang pendekar besar, maka Ireng akan merasa semakin kecil dan terkhianati berlipat-lipat kali.


Ireng mengalihkan pandangannya kepada Siam yang sekarang sedang meluncur cepat menyerang Jayaseta.


Kali ini, Siam merasa perlu untuk menunjukkan secara gamblang kemampuan seorang Harimau Siam. Kecepatan serangannya bahkan bertambah berkali lipat dari sebelumnya. Siam tidak menyerang dengan cara melompat atau mencelat. Ia melangkah pendek-pendek tetapi cepat.

__ADS_1


Jayaseta sudah melihat datangnya serangan. Ia juga sudah berniat untuk melawan balik serangan Siam dan mungkin segera mengakhirinya. Namun, Harimau Siam memang bukan nama sembarangan. Ia sudah paham Jayaseta, tidak hanya gaya bertempurnya, tetapi juga perilaku dan tindak tanduknya.


Sang Harimau Siam menyerang dengan berkali-kali cakaran dan tinju dengan pelindung kepalan perunggu bergerigi ke berbagai arah. Dada, leher, wajah sekaligus perut dan paha menjadi sasarannya. Siam menunduk sembari menyerang, melangkah maju dan berguling ke depan. Jayaseta terpaksa menepis serangan demi serangan. Kedua tangannya menggunakan jurus-jurus bangkui sakti suku Daya’ pulau Tanjun Pura yang pernah ia pelajari yang dilebur dengan lembutnya silat pulut. Kedua tangannya bergerak cepat sekaligus lembut, bagai menari saja.


Ini adalah bentuk perlawanan dari jurus-jurus ganas Harimau Siam.


Jayaseta tidak salah. Ia benar tidak pernah menyepelekan musuh. Pukulan dan cakaran Harimau Siam terasa sekali memiliki kekuatan yang mematikan. Tangkisan Jayaseta menyerap kekuatan serangan itu dan membuangnya ke udara. Orang dengan kemampuan silat di bawah Jayaseta sudah bisa dipastikan akan tercabik-cabik kulit dan hancur dadanya.


Hanya saja bukan berarti serangannya itu tidak berbahaya. Jayaseta terpaksa harus secara cepat memutuskan gerakan halangan dan balasan yang paling sesuai.


Jayaseta mundur kembali untuk menghindari serangan Siam. Kemudian dalam sebuah langkah panjang, Jayaseta mencoba memberikan sebuah tendangan ke arah lawan, tetapi Siam menunduk dan menubruk paha Jayaseta dengan bahunya.


Jayaseta tersentak. Bukan sebuah serangan yang terlalu mematikan, tetapi membuat keseimbangan Jayaseta terganggu.

__ADS_1


Siam menunduk dalam-dalam kemudian melontarkan tubuhnya ke arah Jayaseta yang sedang bergulat dengan keseimbangannya. Siam meluncur laju. Tinju dengan kepalan perunggu bergeriginya mengarah ke dada sang pendekar.


Jayaseta melentingkan tubuhnya ke belakang sembari memberikan sebuah tendangan ke arah datangnya lawan.


BUG!


Jayaseta terdorong ke belakang dan punggungnya menubruk pohon besar. Darah mengalir dari luka sobek di dadanya.


Siam sendiri juga jatuh bergulingan terkena tendangan Jayaseta. Namun ia segera berdiri serta kembali menggunakan kuda-kudanya.


Ketika melihat luka yang dihasilkan oleh serangannya di dada Jayaseta, Siam tersenyum kemudian terkekeh. “Kau tidak tanpa celah, Jayaseta!” serunya dengan nada jemawa dan penuh kepuasan.


Siam bahkan tertawa, sampai terbatuk-batuk. Darah keluar dari mulutnya. Siam terkejut, kemudian memuntahkan lebih banyak darah. Ada lebam membiru dan menghitam di dadanya hasil dari tendangan Jayaseta.

__ADS_1


__ADS_2