
“Jadi, darimana kita harus memulai?” tanya Koncar yang sedikit lebih terbuka dan menerima sekarang dibanding sebelumnya.
“Nyai kalian ini harus tetap berada di bagian belakang rumah. Siapkan kuda dan kereta terbaik saat ini juga,” ujar Sudiamara.
Koncar tak menunggu waktu lagi dan memberikan tanda kepada salah satu bawahannya yang dengan segera berlari melaksanakan perintahnya.
“Kesanga tidak mau basa-basi. Dia tidak suka melaksanakan tugasnya dengan sembunyi-sembunyi. Maka dia pasti akan melewati gerbang dan pintu depan. Ia bahkan sebenarnya menunggu sambutan yang pantas. Orang itu memiliki kesombongan yang luar biasa,” lanjut Sudiamara.
“Aku tak heran. Mengingat ia berteman dengan siapa,” ujar Koncar kembali menyindir Sudiamara.
Sudiamara bergeming. Ia malas memberikan jawaban apapun kepada Koncar yang memang sudah terlanjur tak suka dengannya.
“Kalau memang dia melewati pintu depan, maka mudah bagi kita untuk benar-benar melawannya,” lanjut Koncar.
__ADS_1
“Tidak semudah itu, anak muda. Kesanga bertempur dari jarak yang jauh. Ia dan kedua bawahannya kerap memainkan pola silat beregu dengan cemeti sehingga sulit untuk menembus pertahanannya. Bila musuh berhasil mendekat, ia biasanya sudah siap dengan keris di tangan kirinya untuk menjebak mangsa di dalam perangkapnya. Dan, Kesanga melakukannya dengan cepat,” jelas Sudiamara.
Koncar mengangguk-angguk. “Aku masih punya beberapa anggota sebenarnya. Mereka memang dikhususkan menjaga bagian belakang dan dalam bangunan. Kalau memang orang yang kau sebut tadi pasti memasuki gapura depan, kita akan hujani saja dia dengan anak panah dan tombak. Pasukanku memiliki semua senjata itu. Apalagi kau bilang mereka akan bermain jurus-jurus panjang,” ujar Koncar.
Sudiamara kini yang mengangguk-angguk. “Rencanamu baik. Itu memang yang akan kita lakukan. Namun, sayangnya, panah dan tombak bukanlah penyelesaian masalah. Aku belum memberitahumu bahwa Kesanga memiliki ilmu kebal.”
“Bedebah! Aku paling benci dengan pendekar yang menggunakan ilmu gaib dan sihir untuk menunjang kemampuan silat mereka. Aku yakin orang semacam itu memiliki kelemahan yang besar, mungkin kejantanan mereka yang kecil bagai anak burung emprit sehingga mereka merasa perlu memperbudak diri dalam ilmu setan,” ujar Koncar.
“Lalu, dimana kelemahan Kesanga? Mata? Bagaimana dengan kedua bawahannya?” cecar Koncar.
“Tepat! Mata adalah sasaran utama anak panah kita. Kedua bawahannya tak memiliki ilmu kebal. Tetapi mereka sulit merasakan sakit karena memang mungkin otak mereka yang sudah gila. Satu-satunya cara mengalahkan mereka adalah dengan menumbangkannya, membunuhnya. Tidak perlu menanyakan apapun kepada mereka. Ketika penjaga kelak melihat kedatangan mereka, langsung saja kita serang. Kesanga pasti akan menahan matanya. Kedua bawahannya akan melakukan apa saja buat Kesanga, termasuk menahan serangan anak panah itu. Tapi, semua tidak akan berjalan selancar ini. Intinya, kalian harus menumbangkan dua bawahan Kesanga dan aku yang akan menghadapi dirinya. Bila aku sampai kalah, terluka parah apalagi sampai mati, tolong bakar bangunan ini,” ujar Sudiamara.
“Kakang, apa maksud kakang!” tolak Almira.
__ADS_1
“Kesanga tidak akan berhenti bila ia masih dibiarkan hidup. Kita masih memiliki setengah hari untuk bersiap. Malam ini, pasang bahan bakar diluar tembok rumah dan pastikan tidak ada seorangpun yang bisa keluar setelah Almira, Nyai kalian berhasil kalian bawa lari dari rumah ini. Aku akan menahan sekuat mungkin agar Kesanga tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup!”
Sepasang mata Almira yang membulat sempurna mulai terlihat berkaca-kaca. Ia terlalu sulit untuk mengucapkan apa yang ada di dalam hati dan perasaannya yang berkecamuk dan menari-nari liar itu. Ia masih memiliki harapan besar bahwa Sudiamara, Koncar dan para penjaga yang lain bisa mengalahkan, membekuk atau melumpuhkan lawan. Ia tak lagi peduli dengan kehidupannya bila tidak karena jabang bayi yang ada di dalam kandungannya.
“Aku yakin Kakang pasti bisa mengalahkannya,” gumam Almira.
Sudiamara terkekeh. “Tentu, nduk. Apa kau lupa siapa aku? Aku juga adalah salah satu dari sembilan pendekar Dunia Baru. Karena aku paham seperti apa Kesanga itu, maka persiapan harus dilakukan. Pedang luwuk Blambangan ini siap menembus mata atau mulutnya dan mengirimkan racun ular hijau ke dalam tubuhnya. Tapi, aku juga harus berpikir buruk demi sebuah rencana yang sempurna, bukan?”
Koncar berdiri. “Aku sudah dapat memikirkan apa yang bakal terjadi. Sudiamara, lakukan yang terbaik. Aku tidak punya pilihan lain selain memercayaimu untuk melindungi Nyaiku. Bunuh si Kesanga itu. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya sekarang,” ujar Koncar. Ia menunduk memberikan hormat kepada Almira, kemudian beranjak pergi.
Almira menghapus air matanya yang masih membayang di pelupuk mata. “Apakah ada hubungan antara Kesanga dan abahku, Kakang?” selidik Almira mendadak setelah Koncar pergi.
Sudiamara tersenyum lebar. “Kau bukan perempuan sembarangan, nduk. Aku sudah tahu sejak awal mengenalmu sewaktu kau masih bocah. Kau cerdas luar biasa. Maafkan masa laluku yang terlalu gelap untuk dipahami, nduk. Namun memang aku mengetahui bahwa Kesanga mencuri ilmu kanuragan jurus-jurus cemeti dan keris abahmu itu untuk kemudian dia kembangkan sendiri. Abahmu tahu itu dan betapa bahayanya Kesanga. Aku malah bersyukur ia telah wafat agar tak mengetahui bahwa Kesanga, bekas salah satu prajurit sewaannya itu telah menjadi sosok yang menakutkan dan keji serta bahkan sedang memiliki tugas untuk membunuh putrinya,” tutup Sudiamara.
__ADS_1