Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sarung


__ADS_3

Jayaseta berkelit dan menunduk ke arah samping ketika bilah kerambit akan menyobek lehernya. Ia juga langsung memutarkan tubuhnya ketika tangan Pendekar Harimau Muda Kudangan yang satunya mencoba menyarangkan kerambit ke dadanya.


Pendekar Kudangan ini terlalu dibawa nafsu, pikir Jayaseta. Padahal, ilmu silat yang ia kuasai bisa dikatakan cukup khas dan berbahaya. Setiap serangan adalah kematian bagi musuhnya.


Sebaliknya, Jayaseta lah yang merasa bersalah. Karena ketika musuh memiliki gaya silat tertentu, semakin berbeda dan berciri khas jurus-jurusnya, Jayaseta malah mendapatkan sesuatu dari situ. Ia dapat menyontek dan meleburkan gaya bertarung musuh ke dalam Jurus Tanpa Jurusnya.


Oleh sebab itu, wajar bila pendekar Kudangan menjadi gusar dan gelap mata karena jurus yang ia miliki dikembalikan dengan bentuk yang lebih mengerikan dan berbahaya.


Dari awal, ia memang berangkat jauh-jauh dari Kudangan, mencari berita mengenai Jayaseta dan berniat menghabisinya. Sudah terlalu banyak tenaga, waktu, pikiran dan biaya untuk melacak si Pendekar Topeng Seribu tersebut sampai ke tempat ini.


Ia bukan jenis pendekar yang menantang pendekar lain sebagai sarana pencapaian, kesempurnaan dan paripurna ilmu kanuragan. Pendekar dari Kudangan tak ubahnya Karsa Sang Penyair Baka yang mengejar kemuliaan dan rasa bangga. Sayang, kemampuannya belum sehebat pendekar tua yang kepalanya ada di dalam keranjang di perahu rombongan Jayaseta itu. Walau ilmu kanuragan yang pemuda Kudangan itu miliki adalah gaya silat yang sangat berbahaya, ketika jatuh ke tangannya yang belum mumpuni dalam ilmu kependekaran, pengalaman dan tindak-tanduk, maka ia tak ubahnya penjahat yang bengis belaka.


Jayaseta berkelit mundur sekaligus melakukan serangan pencegahan. Ujung kerambit jauh dari sasaran, yaitu dadanya, sebaliknya satu tendangan Jayaseta berhasil masuk ke perut penyerang.


Pendekar dari Kudangan itu tersentak, tak menyangka bahwa orang yang sedang ia serang dengan senjata tajam itu bisa menghindar dan masih sempat melakukan serangan, dan berhasil pula.


Tendangan Jayaseta ternyata bukan tendangan biasa, malah sebenarnya setiap serangan Jayaseta selalu memiliki maksud dan tujuan serta hasil yang diinginkan. Pendekar dari Kudangan terjerembab. Perutnya mulas luar biasa. Sepasang kerambitnya yang ia genggam menancap di tanah.


"Baik, pendekar. Engkau sudah mendapatkan apa kau pinta, menjajal ilmu kanuragan denganku. Aku pikir kita sudahi saja sampai disisi. Salam hormat dariku bagi semua prajurit, rombongan dan warga Kudangan. Mungkin lain kali kita dapat bersua lagi dalam keadaan yang lebih bersahabat daripada ini," ujar Jayaseta. Jelas bila seseorang mengenal Jayaseta dengan lebih baik, ucapan ini adalah jujur adanya. Jayaseta selalu menginginkan mengakhiri pertarungan dan pertumpahan darah bila memang itu yang bisa ia lakukan.


Tidak begitu bagi Pendekar Harimau Muda Kudangan, "Kau sama sekali tidak sadar bahwa ucapanmu itu sama saja merupakan sebuah penghinaan bagiku, atau kau hanya bodoh belaka?" geram sang pendekar dari Kudangan tersebut.


"Aku mohon maaf bila telah melukai perasaanmu. Tapi aku bersungguh-sungguh. Aku masih memiliki urusan penting yang harus segera kulaksanakan. Jujur, sekarang aku sedang dalam masa yang belum benar-benar sempurna. Aku sedang cidera dan memerlukan bantuan seorang tabib," jujur Jayaseta dengan sedikit mengubah cerita agar menyederhanakannya.


Sang pendekar Kudangan tertawa terbahak-bahak. "Lengkap sudah penghinaanmu kepadaku, kepada rombonganku. Di depan mereka kau mempermalukanku dengan mengatakan bahwa aku kalah oleh seorang pendekar yang masih dalam keadaan cidera dan terluka. Itu maumu, bukan?"

__ADS_1


Jayaseta menggelengkan kepalanya kesal. Ia sudah berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya ia pikir dan rasakan. Namun di dunia ini tidak banyak pendekar yang bijaksana dan mampu menahan hawa nafsu.


Jayaseta memandang Dara Cempaka, Ireng dan Siam. Ketiganya malah mengangguk menandakan bahwa lebih baik bagi Jayaseta untuk menyelesaikan pertarungan ini ketimbang berdamai. Toh, sejatinya, dari awal, ketiga orang bagian dari rombongan Jayaseta itu memang sudah kesal ketika dibokong oleh serangan para prajurit Daya Minang Kudangan yang licik dan memang berniat mencelakakan dan membunuh itu.


Jayaseta akhirnya membuka telapak tangannya dan membuat bunga-bunga jurus silat Melayu. Kuda-kudanya merupakan unsur beragam jenis jurus silat yang dilebur dalam Jurus Tanpa Jurus. Ia akan berikan pelajaran bagi pendekar ini, walau tanpa tenaga dalam, pikirnya. Toh, ia sudah digembleng dengan kemampuan beladiri dari jurus dan gerakan. Tenaga dalam hanyalah tambahan keuntungan baginya.


Maka terjadi kembalilah perkelahian itu. Pendekar Harimau Muda Kudangan mencabut kerambitnya yang tertancap di tanah dan meluncur bagai seekor kucing hutan.


Kerambitnya kita melesat bagai cucuran hujan dari langit. Ia menyerang Jayaseta dengan tusukan dan sabetan yang bertujuan untuk mencabik-cabik badan lawan, bukan sekadar satu atau dua serangan berbahaya.


Perut, pinggang, dada, leher, dagu, mata, kepala, sampai telinga adalah sasaran serangan bertubi-tubi pendekar dari Kudangan tersebut.


Serangan sang pendekar ini dilakukan dengan gerakan tangan memutar atau melengkung sehingga kerambit yang berbentuk melengkung bagai kuku harimau atau macan itu dapat menyobek tubuh lawan. Atau bila ujung tajamnya bisa sampai menancap, maka ketika ditarik dengan gerakan semacam itu, akibatnya akan luar biasa. Tubuh lawan akan tercabik dan dagingnya tercerabut keluar. Betapa jurus yang luar biasa bengis dan mematikan.


Sialnya, Jayaseta adalah pendekar pilih tanding. Ia akan sedikit mempertontonkan gerakan-gerakannya untuk memberikan pelajaran yang mutlak tak akan pemuda Kudangan itu lupakan.


Pendekar Harimau Muda Kudangan kedapatan hanya menusuki udara.


Ia kembali meledak. Sembari berteriak ia menyerang Jayaseta dengan gerakan dan serangan yang serupa.


Jayaseta mundur, berkelit, kemudian menangkap lengan lawan dari samping, menyepak betis dan membuat lawan jatuh terlentang.


Berkali-kali ia dipermalukan, malah membuatnya semakin geram, gemas, kesal bahkan benci. Pendekar Muda Kudangan bangun, namun masih dalam kuda-kuda rendah tanpa berdiri, menebas ke arah kaki dan bagian bawah tubuh Jayaseta.


Jayaseta melompat-lompat dan menyarangkan tendangan ke dada lawan. Kembali musuh terjerembab.

__ADS_1


"Bang*sat, jah*anam!!" teriak pendekar Kudangan. Ia bangun berdiri dan dengan segala kekuatan dan amarahnya, ia melompat bagai seekor macam kumbang dan kembali melayangkan serangan ke leher dan kepala Jayaseta.


SRET!


Kerambit di tangan kanan pendekar Kudangan lepas. Lengannya terbeset dan berdarah. Belum sempat memikirkan untuk bertindak apa, terdengar teriakan keras dari mulut sang pendekar Kudangan. Paha kanannya juga terluka berat. Darah mengalir keluar ketika Jayaseta menusukkan belati Siam yang ia pinjam dari Siam.


Pendekar Kudangan langsung roboh dan tak mampu kembali bangun.


Kipas Dara Cempaka berputar di udara, menubruk wajah salah seorang prajurit Kudangan. Rupa-rupanya, para prajurit itu kembali siap membokong Jayaseta ketika merasa bahwa tuan atau pimpinan mereka akan kalah.


Dara Cempaka sudah mencium gelagat ini dan melemparkan kipasnya tepat ketika seorang prajurit ingin melemparkan lembingnya ke arah Jayaseta.


Yang tidak diduga sebelumnya, rombongan ini sudah berencana pulang membawa kepala Jayaseta, karena baik prajurit maupun orang-orang yang diduga pelayan sang pendekar Kudangan juga telah meloloskan senjata mereka dan terjun ke medan pertarungan.


Ireng dan Siam sudah menusuk dan membabatkan tombak serta kelewang mereka. Ruang tercipta, kelompok Kudangan mundur dan menarik tuan mereka yang terluka dan berteriak-teriak kesakitan seperti orang gila.


"Kalian semua mundur," perintah Jayaseta kepada Dara Cempaka, Ireng dan Siam yang memandangnya heran.


"Bila memang mereka menginginkanku, akan kuberikan apa yang mereka mau. Aku, sang Pendekar Topeng Seribu akan menyelesaikan pertarungan dan membereskan orang-orang tak tahu diri semacam kalian!"


Kini, berdiri di antara kedua kelompok: rombongan Kudangan dan rombongan Jayaseta, seorang laki-laki dengan wajah ditutupi sarung, dan hanya menyisakan segaris celah untuk kedua mata.


Belati pendek menggembung bergaya Siam berhias darah tergenggam di tangannya.


Dara Cempaka, Ireng dan Siam memandang takjub. "Mampus kalian kali ini. Sudah diberi kesempatan malah bertingkah. Kalian maunya Pendekar Topeng Seribu, maka yang kalian dapatkan Pendekar Topeng Seribu! Makan itu semua!" seru Ireng bersemangat.

__ADS_1


Tubuh Jayaseta serasa menjulang tinggi. Bahkan Pendekar Harimau Muda Kudangan berhenti berteriak-teriak kesakitan demi menyaksikan hawa pendekar muncul di sekeliling tubuh sosok tersebut. Tak mungkin ada kata menyesal lagi. Kali ini para prajurit yang sudah menciut nyalinya harus bertarung mati-matian, bukan untuk menantang dan mencelakai Jayaseta, namun untuk membela diri dan mempertahankan nyawa mereka sendiri.


__ADS_2