
Dengan gesit tombak yang dilempar itu ditangkis Sasangka dengan wedhung kembar di tangan kanannya yang membentuk gerakan kitiran. Batang tombak terlempar tinggi ke atas sebelum jatuh memukul kepala beberapa orang perompak. Harusnya serangan ini membuat para perompak sadar bahwa bahkan dengan serangan lembing pun keduanya masih dapat menghindarinya.
Nyatanya, setiap perompak yang berdiri menumpuk-numpuk itu langsung mendapatkan gambaran karena kejadian tersebut. Dibanding terlalu lama mencoba mendapatkan kesempatan menyerang, sedangkan kedua lawan mereka itu luwes dan gesit menyerang dan membunuhi mereka satu persatu, melemparkan senjata mereka dengan harapan satu atau dua bisa mengena, terasa merupakan sebuah pilihan yang cukup bisa dinalar dan dipahami.
Tak bisa ditahan lagi, semua perompak merasa bahwa serangan semacam itu adalah pilihan yang paling mungkin. Dua, tiga, empat perompak melemparkan tombak bahkan belati mereka. Sasangka menangkis dan menghindari dengan gesit. Jaka Pasirluhur bahkan berhasil menepis tombak dan mengarahkannya ke penyerang. Tombak itu menggores paha lawan.
Namun, ternyata serangan tak berhenti. Pertempuran menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Bukan lagi pertarungan, tapi tawuran. Masing-masing perompak mencari kesempatan untuk melemparkan senjata mereka bila tak mampu menggapai sasaran.
Sebilah pedang, sedikit lebih panjang dibanding golok, melesat memapras ke arah dada Jaka Pasirluhur. Tidak bisa dihindarini ternyata. Jaka Pasirluhur tersentak ketika dadanya terkena senjata yang dilempar itu.
__ADS_1
Tidak ada yang terjadi selain sedikit saja rasa sakit, hampir tak terasa. Jaka Pasirluhur menatap pedang yang jatuh berdenting di atas geladak, tepat di depan kakinya.
“Ah, Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikanku kesempatan untuk sedikit lebih lama hidup,” gumamnya. Pedang yang terlempar itu, berputar di udara sekali saja dan mengenai dada Jaka Pasirluhur di bagian gagangnya, bukan bilah tajamnya.
Tapi tidak begitu dengan Sasangka. Ujung belati yang dilempar menyobek lengannya. Meski hanya sedikit, tetapi ini membuat Sasangka berteriak keras penuh kemarahan kemudian menerjang musuh dengan membabibuta.
“Tunggu, tetap di rencana. Mereka akan terus …,” teriakan dan peringatan Jaka Pasirluhur terpotong dan tak didengar Sasangka lagi. Sasangka dengan ketiga bilah belatinya sudah dirundung kemarahan sehingga langkah-langkah tiga jurusnya bahkan menjelma bertambah menjadi sampai empat dan lima jurus. Ia agak hilang kendali.
Bila Sasangka tak terbawa amarah, keduanya akan bisa mendesak musuh sampai ke tepian kapal. Namun sekarang yang terjadi, sosok pendekar yang menyaru menjadi salah satu Pendekar Topeng Seribu tersebut merengsek masuk ke dalam pusaran perompak dan hampir saja hilang dari pandangannya.
__ADS_1
“Sial, tidak bisa aku biarkan. Aku sudah diberi kesempatan hidup oleh Gusti Allah. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini. Bila orang itu sampai tewas, atau terpisah dari rencana semula, aku juga akan kembali kesulitan melawan musuh,” jerit Jaka Pasirluhur di dalam hati.
Ia memutarkan tubuh, memberikan serangan kudhi sekuat mungkin untuk memecah barisan lawan. Sebatang tombak melucur lagi ke arahnya.
PRAK!
Kali ini Jaka Pasrluhur menggunakan sedikit tenaga dalamnya untuk memapras putus batang tombak itu, dan berhasil. Potongan tombak di bagian mata meluncur menancap di paha lawan. Kesempatan itu digunakan Jaka Pasirluhur untuk maju menendang lawan dan membuatnya terdorong, menubruk rekan-rekannya dan membuyarkan barisan musuh.
Jaka Pasirluhur kembali merasa bersyukur karena ruangan tempur yang begitu sempit membuat lemparan-lemparan senjata lawan tidak bisa sepenuh tenaga dan cenderung lemah. Ia memang kesulitan, tetapi satu dua serangan masihlah bisa ia hadapi dan gagalkan. Namun, satu-satunya cara untuk bisa bertahan dari kerumunan para perompak ini adalah mendekat ke arah sosok pendekar tak dikenal itu dan bekerja sama lagi dengannya. Mereka tak akan tahu seberapa banyak perompak yang merambat naik terus-menerus, dan seberapa lama mereka akan bertempur.
__ADS_1
“Bedebah!” seru Sasangka ketika lagi-lagi, lemparan senjata melukis kulitnya dengan luka. Ia menjadi semakin terbuka dengan serangan. Kuda-kudanya bukan lagi merupakan pertahanan, tetapi menjadi daya serang yang menggelora dan cenderung mengasal. Ia berhasil melukai dua musuh lagi, tetapi setiap serangannya tidak bisa dipastikan keberdayaangunanya lagi. Harusnya, dalam keadaan seperti ini, setiap serangan harus tepat, membunuh sasaran dengan tidak menghabiskan terlalu banyak tenaga, waktu dan jurus. Bisa-bisa sebentar lagi Sasangka akan benar-benar kehabisan tenaga dan dan keberuntungan sehingga senjata yang dilempar kali ini menembus tubuhnya sungguh-sungguh.