Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Daab


__ADS_3

Jayaseta meradang mendengar kabar yang melayang melewati udara bagai sulur-sulur tanaman merambat itu. Ia nampaknya sudah begitu jengah mendengar gelar kependekarannya digunakan orang-orang tak bertanggung jawab demi kepentingan mereka sendiri, entah apa itu. Yang paling parah, adalah bahwasanya kejadian demi kejadian yang melibatkan nama julukannya tersebut terjadi di depan hidungnya.


"Semakin hamba biarkan, semakin pula hal ini mengganggu hamba, Datuk," keluh kesah Jayaseta kepada Datuk Mas Kuning.


Jayaseta jelas bukan laki-laki sempurna yang penuh dengan kebijaksanaan. Dalam banyak hal ia memang sabar, tidak grusa-grusu dan penuh perhitungan. Tapi ia juga jemawa dan kerap terbawa nafsu. Bagaimanapun darah kependekaran meletup-letup dan membara di dalam jiwanya. Nama besar yang menciptakan jati dirinya itu kini digunakan orang asing dengan cara yang bertentangan dengan nilai dan falsafah hidup serta kependekarannya.


Datuk Mas Kuning menarik nafas dalam-dalam. Ia tersenyum dan memandang Jayaseta dengan keteduhan di matanya. "Memang sudah saatnya kau berangkat, Jayaseta. Terlalu lama kalian menunggu di Malaka, terlalu rumit pula persoalan yang bisa saja terjadi," ucap sang Datuk menyetujui.


Anehnya, dengan persetujuan sang Datuk ini, Jayaseta malah menjadi bertanya-tanya. Karena bukankah sang Datuk yang kerap meminta Jayaseta untuk memperkirakan segala sesuatu dahulu sebelum memutuskan? Bahkan sang Datuk yang meminta Jayaseta dan yang lain untuk menunda sejenak perjalanan mereka ke Ayutthaya sembari melihat perkembangan hubungan kenegaraan dan masalah ketatanegaraan bangsa Melayu dan Siam. Tapi, kali ini sang Datuk mengiyakan.

__ADS_1


Di sisi lain, Dara Cempaka memandang kedua mata suaminya dengan keyakinan yang mengejutkan. "Sudah saatnya kita berangkat, abang Jayaseta. Adik pun tak bisa terima begitu saja nama abang digunakan untuk kepentingan jahat. Meski adik juga tak tahu bagaimana jalan takdir, entah kita akan bersinggungan kelak dengan siapapun itu yang mengaku-ngaku sebagai diri abang, toh kita harus tetap berangkat ke Ayutthya. Adik enggan untuk membuat abang Jayaseta dan abang-abang yang lain kerepotan mengurus adik," ujar Dara Cempaka. Ucapannya tidak terdengar lemah atau mengeluh, sebaliknya bahkan semua orang sadar, perjalanan ini harus segera dilanjutkan. Bukan hanya untuk mengobati Dara Cempaka, tapi menggenapi takdir.


Siam tersenyum. Tanpa aba-aba, ia berdiri dan meminta perhatian dari semua orang yang ada di ruangan, yaitu Jayaseta, Dara Cempaka, Datuk Mas Kuning, Baharuddin Labbiri, Narendra, Katilapan dan temannya sendiri, Ireng. "Nah, sudah kuduga. Kita memang harus berangkat ke Ayutthaya segera. Seperti kita ketahui bahwa perbatasan akan semakin ketat. Kita sudah pasti akan dipikir sebagai orang Melayu, dan itu tidak ada masalah sebenarnya. Permasalahan utama adalah tujuannya. Aku sudah mempersiapkan ini," ujar Siam sembari menarik satu gulungan besar kain.


Dengan bersemangatnya, Siam membuka gulungan kain itu dan terlihat lah beberapa bilah senjata tajam.


"Pedang-pedang ini bernama daab. Tidak semua orang harus membawanya. Jayaseta, Narendra dan Katilapan jelas harus membawanya. Aku dan Ireng cukup membawa belati Siam," ujar Siam.


__ADS_1


Mereka bingung.


"Bukankah orang-orang Siam akan memeriksa kita? Dengan membawa pedang panjang yang menonjol seperti ini, akankah mereka curiga dan bakal menuduh kita hendak melakukan hal-hal buruk di Ayutthaya?" tanya Jayaseta.


"Ah, begini, Jayaseta. Kita harus menunjukkan kepada orang-orang Ayutthaya bahwa kita memang sudah terbiasa untuk bepergian ke negara mereka. Urusan bahasa, biar itu menjadi bagianku. Intinya, para petugas pemeriksa tahu bahwa kita akrab dengan negara mereka. Senjata yang kita bawa bisa bersandingan dengan senjata khas mereka. Bila toh pedang-pedang yang lumayan mahal ini disita mereka, itu tak menjadi masalah. Yang penting kita bisa masuk ke Ayutthaya," jelas Siam kembali.


Nampaknya penjelasan ini tidak semerta-merta disetujui. Masih banyak perincian yang harus diurai dengan baik.


Sementara mereka mambahas ini dengan lebih dalam, kapal yang ditumpangi Jaka Pasirluhur telah berlabuh di Malaka semenjak keberangkatannya tiga puluh hari yang lalu. Membutuhkan waktu setengah hari untuk sang nakhoda menambatkan jung dagang itu. Namun, berita mengenai sepak terjang Pendekar Topeng Seribu di perbatasan Ayutthya Kedah sudah lebih dahulu naik ke geladak kapal dan sampai ke telinga pendekar buntung dari Banyumas itu bahkan sebelum ia menginjak tanah Malaka.

__ADS_1


Ia meraba senjata kudi dan topeng Penthul Tembem di dalam buntelan kainnya. Sepasang matanya menerawang. Ia mempersiapkan jiwa nya untuk perjalanan lanjutkan ke Kedah bahkan mungkin ke Ayutthaya.


Tapi tentu saja, mana ia tahu bahwa ada tokoh-tokoh lain yang kelak bersinggungan dengan jalinan takdirnya telah sampai tiga hari sebelumnya: Yu, Pratiwi dan Fong Pak Laoya.


__ADS_2