
Panglima Asuam ambruk terjerembab ke depan. Nyawanya lepas dari tubuhnya seketika itu juga setelah ia melepaskan semua kemampuan ilmu sihirnya untuk yang terkahir kali.
Dampak yang terjadi sayangnya tak sesuai yang ia perkiraan.
Punyan tak benar-benar berhasil menepis ilmu Cuca Bangkai tersebut. Kedua tangannya serasa kebas dan lumpuh. Ia jatuh berlutut.
Jayaseta yang merasakan tenaga besar berdaya sihir dan kutukan itu berlari dan melompat menggunakan ilmu peringan tubuh dengan menekankan tenaga dalam kepada kedua tungkai kakinya, berusaha menahan hembusan angin gelombang bertenaga jahat itu agar tak menubruk Dara Cempaka.
BUSSS .... !!!
Jayaseta terpelanting oleh kuatnya angin tenaga ilmu sihir tersebut. Cuca Bangkai tak sepenuhnya mengenai tubuh Jayaseta, sebagian kekuatan itu menghajar bahu Dara Cempaka yang juga kemudian terdorong mundur dan jatuh terlentang.
Punyan sama sekali tak menduga hal ini. Melihat dua korban lain yang berjatuhan karena ia menepis tenaga dalam sihir Cuca Bangkai itu, langsung saja Punyan mengeluarkan segala kemampuannya untuk membebaskan kebas dan mati rasa di kedua tangannya.
Kabut tipis yang tak terlalu dapat dilihat secara kasat mata keluar dari kedua tangan Punyan. Setelah merasakan tangannya dapat digerakkan lagi, iaa langsung menghambur ke arah Jayaseta.
Jayaseta langsung mengangkat satu tangannya, "Dara, Punyan, Dara ... Aku tak apa!" ujar Jayaseta nampak kesusahan karena sedang mengatur tenaga dalam sembari memberikan permintaan kepada Punyan untuk menolong Dara Cempaka.
Punyan tak menunggu lagi langung pergi ke arah Dara. Ini dilakukan karena sebesar apapun keraguannya tentang keadaan Jayaseta, laki-laki itu adalah seorang pendekar yang memiliki ketangguhan luar biasa. Lagipula Jayaseta sendiri yang memintanya untuk pergi memeriksa dan menolong Dara Cempaka.
Benar saja, Dara Cempaka terbujur kaku. Kedua matanya terbuka lebar, nafasnya teratur, namun seakan tak ada jiwa di dalamnya.
Punyan berlutut di samping tubuh kaku Dara Cempaka, "Gawat, gadis ini terkena ilmu sihir itu!" gumamnya. "Jayaseta. Aku harap kau segera pulih. Semoga kau bisa selamat dari tenaga dalam sihir itu. Kekasihmu dalam keadaan berbahaya!" seru Punyan.
Mendengar hal tersebut, Jayaseta mempercepat pemulihannya. Kekuatan tenaga dalamnya dicurahkan habis-habisan untuk memerangi ilmu sihir tersebut.
Memang, ia lama terkena racun kutukan ilmu yang jahatnya serupa dan baru saja sembuh. Tapi kesembuhannya itu malah membuatnya memiliki kekebalan dan kekuatan tertentu terhadap beragam jenis racun, ilmu tenaga dalam dan sihir. Selain itu, Jayaseta juga secara tak sengaja ikut mempelajari cara mengeluarkan kekuatan tenaga dari rajah Nagataksaka, Garuda Sentanu, Kembang Kenanga dan mantra penyembuhan suku Daya dari Temenggung Beruang tersebut. Belum lagi kemampuan dasar ilmu tenaga dalam penyembuhan yang pernah ia pelajari dari Kakek Keling, sang guru di Giri Kedaton sana.
Maka cukup mudah baginya untuk melawan ilmu sihir yang tadi ditepis oleh Punyan. Bahkan bisa dikatakan, untuk hal ini, kemampuan Jayaseta berada di atas Punyan, meski berbeda dari Punyan, ia tak menguasai ilmu sihir sama sekali.
Sayang sekali, Panglima Asuam mati konyol, tewas tanpa berhasil membunuh lawannya.
Jayaseta merasa kekuatan sihir asing yang tadinya berusaha mengambil alih dirinya sudah berhasil dikalahkan dan meruap ke angkasa.
__ADS_1
Ia juga langsung berlari ke arah Dara Cempaka yang disamping tubuh terbaringnya, Punyan sudah menutup mata dan mengerahkan tenaga dalamnya. "Pusatkan tenaga dalammu ke bahunya yang terkena ledakan tenaga sihir itu Jayaseta. Aku harap kau masih ingat tenaga dalam yang apai ku berikan untuk melawan racun kutukan yang ada pasa dirimu sebelumnya. Aku akan merapal mantra dan mencoba membantumu dari luar," ujar Punyan.
Jayaseta mengangguk kemudian langsung meletakkan telapak tangannya di bahu sang kekasih. Semua tenaga dalam yang ia miliki dikerahkan ke satu titik tersebut. Sedangkan Punyan membaca mantra untuk mengatur dan mengunci larinya tenaga sihir Cuca Bangkai itu, selagi membantu Dara Cempaka karena gadis itu bukanlah pendekar seperti dirinya dan Jayaseta yang memiliki dasar ilmu tenaga dalam yang baik.
Jayaseta menghilangkan pikiran yang bukan-bukan mengenai Dara Cempaka. Apa yang akan terjadi pada gadis ini bila benar ia tak bisa terselamatkan? Tidak ... Tidak ... Ia tak boleh berpikir seperti itu. Sekarang bukan saatnya untuk berpikir mengenai sesuatu hal yang menakutkannya, pemusatan tenaganya akan menjadi sangat terhambat.
Punyan sebenarnya tak kalah khawatir. Sudah terlalu banyak korban tewas hari ini, lalu bagaimana keadaan sang apai? Hanya saja, sama seperti Jayaseta, saat ini adalah waktu untuk memusatkan mantra dan tenaga untuk melawan kekuatan sihir ini.
Dara Cempaka mendadak bangun terduduk dan memuntahkan darah segar.
"Punyan, apa ini?!" ujar Jayaseta belingsatan dan buncah. Ia segera memeluk erat tubuh Dara Cempaka yang masih terbatuk-batuk.
Punyan membuka mata dan malah menarik nafas lega. "Kita berhasil menahan sihir itu saat ini, Jayaseta."
"Menahan ... ?" seru Jayaseta.
***
Dua atau tiga diantara mereka yang melarikan diri tak mampu selamat dari kejaran para Daya suku dibawah pimpinan Temenggung Beruang ini. Mereka tewas diterjang tombak dan dicacah do.
Orang-orang Jawa yang memihak para Biaju juga sudah hampir habis jumlahnya karena terbunuh. Yang berhasil melarikan diri pun sudah terluka parah. Mereka mencoba menghalau kejaran musuh dengan memberikan satu dua tembakan bedil yang masih bisa dilakukan. Jarak yang tercipta diantara para penyerang yang melarikan diri serta para pengejarnya, membuat mereka berhasil terhindar dari kematian, walau jumlahnya tak berarti.
"KYAAAKKK ...!!"
Teriakan perang dan kemenangan para prajurit Daya yang disampingi para pendekar Jawa rombongan Narendra dan Katilapan tersebut mengiringi kepergian lawan.
***
Yu salah perhitungan. Tepatnya ia tak tahu seberapa besar kesaktian Karsa. Kakek keriput itu sembuh dengan begitu cepat. Harusnya, dengan luka sedemikian besar di bagian luar dan dalam tubuh, dua hari paling tidak Karsa baru bisa membuka mata.
Namun, hanya dalam dua kali hidangan sirih, Karsa kembali bernafas.
Tubuhnya masih luar biasa hancur. Selain tulang-belulangnya yang remuk, syaraf dan nadinya juga pecah di banyak bagian.
__ADS_1
Ia masih membutuhkan waktu sepanjang hari untuk dapat kembali seperti semula.
"Bang*sat kau Yu! Kau pikir bisa memiliki cucuku dan membunuhku semudah itu. Tunggu saat kau lihat wajahku berada di depan matamu. Tak akan kubiarkan kau mati dengan mudah. Kau akan memohon-mohon kepadaku untuk langsung membunuhmu sebagai bentuk pengampunan," ujarnya dalam hati.
Karsa Sang Penyair Baka mecoba membuka mata perlahan.
Hal pertama yang dilihatnya adalah dua orang berdiri di depannya, sedangkan ia terbaring telentang. Ketika ia melihat sekeliling, puluhan prajurit Daya diselipi beberapa orang Jawa berdiri memgamatinya dengan do, tombak dan keris terhunus.
Tubuhnya tak bisa digerakkan. Pertama karena ia masih begitu lemas, kedua karena ternyata ia diikat dengan tali jerami dan akar tanaman, sehingga tak peduli seberapa hebat tenaga dalamnya, cukup mustahil untuk melepaskan diri dengan cepat, apalagi dalam keadaan luka parah seperti ini.
Dua orang yang pertama dilihat Karsa ternyata adalah Narendra dan Katilapan.
"Mereka berdua memang luar biasa mirip. Bukan begitu, Katilapan?" ujar Narendra.
"Ya. Kau benar Narendra. Memang ternyata cara membunuh mereka yang paling ampuh adalah memotong kepalanya dan membakarnya. Sama seperti Mandura, saudara kembarnya," balas Katilapan keras-keras.
Mata Karsa membeliak marah. Ia tak percaya bahwa sang saudara kembar tewas di Semarang sana. Atau apakah kedua orang ini berbohong?
Seakan membaca pikiran Karsa, Narendra kemudian berucap, "Benar, kakek. Saudaramu terpaksa mati terpenggal dan terbakar. Sayang aku tak bisa membawa buktinya. Lagipula, kau bisa menanyakan langsung padanya nanti di akhirat."
Karsa tak bisa menahan amarah. Namun lagi-lagi, bahkan berbicara saja lidahnya terlalu kelu dan kaku, apalagi menggerakkan tubuhnya.
"Tapi, aku malah jadi penasaran. Apakah kita dapat membunuh orang ini dengan langsung membakarnya saja. Kita lihat apakah ia mati terpanggang dan hancur sampai menjadi abu atau tidak. Kalau tidak, kita tinggal potong kepalanya dan kita bakar lagi," ujar Katilapan santai.
"Wah, pendapatmu benar juga, Katilapan. Mari, kita bawa ia ke dalam dan buktikan sebelum mulutnya mulai bisa berbicara dan bersumpah serapah."
" ... atau malah membuat sajak dan syair," timpal Katilapan.
Keduanya tersenyum tipis. Sedangkan Karsa merasakan kengerian yang sangat menjalar di seluruh tubuhnya yang masih begitu sakit tersebut.
__ADS_1