Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kekang Kuda


__ADS_3

Lancaran yang ditumpangi Jayaseta beserta rombongannya telah berangkat lebih dari setengah hari yang lalu menuju pusat kota kerajaan Ayutthaya. Sasangka terpaksa menunggu lancaran lainnya yang sangat kebetulan hendak ke Ayutthaya pula. Bedanya, kapal yang dinaiki Jayaseta bernakhoda orang Melayu atau paling tidak dari nusantara, sedangkan lancaran yang ia tumpangi berasal dari Lan Xang yang berpenumpang pedagang-pedagang Lan Xang sendiri maupun Kamboja atau kerajaan-kerajaan tetangga.


Tujuan kapal lancaran ini jelas ke Ayutthaya melalui sungai Mekong. Sasangka terpaksa menunggu sejenak lagi agar kapal dapat berlayar.


Orang-orang Lan Xang sudah terkenal sebagai pengarung sungai menggunakan perahu maupun kapal. Mereka cekatan sekali menggunakan jalur-jalur sungai menembus pegunungan melewati sungai utama, yaitu Mekong. Sungai Mekong memang memiliki banyak sekali cabang dan anak sungai yang menembus jauh ke pedalaman untuk mereka membeli hasil bumi seperti kapulaga, kapur barus dan banyak jenis makanan.


Kerajaan Lan Xang berdiri pada abad ke-14 Masehi tepatnya tahun 1353 Masehi di bawah kekuasaan Fa Ngum. Kekuasaan kerajaan ini berdekatan dengan kerajaan Siam Ayutthaya, di bagian Timur Laut. Bahkan beberapa wilayah yang dikuasai Lan Xang juga dihuni campuran orang-orang bangsa Siam dan Lan Xang.


Hanya saja, saat ini kerajaan Lan Xang sedang dalam masa yang sulit karena dirongrong oleh perselisihan di dalam kerajaan itu sendiri atau ikut bergesekan dengan negeri tetangga.

__ADS_1


Namun, khusus dengan Ayutthaya, hubungan Lan Xang bisa dikatakan cukup baik, karena perdagangan yang berbagi di sungai Mekong. Lain halnya hubungan Ayutthya dengan Burma atau negeri Melayu Kedah yang masih cukup panas selama bertahun-tahun, bahkan sejak masa lampau.


Sasangka tidak banyak menemukan orang dari nusantara di kapal ini. Sepanjang pengetahuannya hanya ada dua orang pedagang Melayu dan kemungkinan satu orang Jawa yang satu tangannya kutung. Entah apa tujuan dan pekerjaan si Jawa buntung itu sampai jauh-jauh ke negeri ini. Sasangka tak melihat ada barang dagangan bersamanya. Namun toh ia berhenti berpikir dan menebak-nebak karena bagaimanapun ia sendiri juga tak terlihat seperti pedagang, padahal awal tujuannya sampai ke Melaka adalah berdagang tuak.


Sasangka mendeprok di lantai dan mulai menutupkan kedua matanya, bersiap istirahat sembari sabar menunggu keberangkatan lancaran ini. Meski tertinggal lebih dari setengah hari dari lancaran yang ditumpangi Jayaseta, Sasangka yakin ia pasti dapat menemukan jejak rombongan itu mengingat nama Pendekar Topeng Seribu terlalu mahsyur.


Kabar yang tersebar menjelaskan bahwa Pendekar Topeng Seribu tidak terlihat lagi di daratan dan mendadak menghilang. Jadi pastilah Jayaseta menghindar dari daratan agar tidak terlalu terlihat oleh banyak orang. Sehingga Jayaseta kemungkinan besar memilih menggunakan lancaran. Di kapal ini, Jaka Pasirluhur juga tak menemukan sosok Jayaseta dan malah mendapatkan berita bahwa lancaran yang terlebih dahulu berangkat lebih dari setengah hari yang lalu menuju ke Ayutthaya melalui sungai Mekong berisi banyak orang Melayu dan nusantara, seperti Jawa atau Madura selain orang Siam, Kamboja dan Lan Xang.


Mana tahu kapal itu ditumpangi Jayaseta, pikir Jaka Pasirluhur.

__ADS_1


Naluri nya mengatakan bahwa kapal di depan sana pasti merupakan kapal dimana Jayaseta berada. Apakah tujuannya ke Ayutthaya, tidak menjadi hal bagi Jaka Pasirluhur. Sudah sejauh ini ia pergi, maka harus ia selesaikan tugas dan perjalanannya.


Satu peracikan sirih kemudian, lancaran yang dinakhodai dan diawaki orang Lan Xang itu akhirnya berlayar. Badan kapal menyibak arus air berwarna gelap itu. Dayung-dayung panjang mendorong air untuk melajukan kapal.


Dari balik perbukitan di dinding sungai, puluhan pasukan berkuda muncul dan berhenti di sana, memperhatikan kapal yang ditumpangi Sasangka dan Jaka Pasirluhur mulai berlayar.


Sosok laki-laki paruhbaya dengan tubuh kecil di atas pelana kuda maju ke depan. Walau tua dan bertubuh kecil, jelas sekali orang ini adalah tokoh yang dihormati rombongan berkuda tersebut.


"Jayaseta ada di kapal yang berangkat setengah hari yang lalu. Kapal yang sedang berangkat ini ada Sasangka di atas geladaknya. Bagi rombongan kita menjadi dua. Yang pertama berkuda bersamaku secepat mungkin ke Ayutthaya. Kabarkan anggota Dunia Baru yang lain untuk mempersiapkan kedatangan Jayaseta dan rombongannya di sana. Kelompok kedua, segera kabari para anggota kita di sungai untuk membiarkan lancaran pertama lewat. Biarkan Jayaseta sampai di Ayutthaya. Aku yang akan berhadapan dengannya nanti. Sebaliknya, aku perintahkan mereka untuk membunuh Sasangka dan menenggelamkan lancaran orang-orang Lan Xang itu!" perintah si tua baya yang ternya adalah pendekar dari Kerinci berjuluk Dewa Langkah Tiga itu. Ia langsung menghentak tali kekang kuda tanpa menunggu jawaban dari bawahannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2