Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tanpa Basa-Basi


__ADS_3

Kapal niaga orang-orang Lan Xang yang dinaiki Sasangka, kini kembali berlayar dengan tambahan para pasukan Lan Xang. Sedangkan kapal satunya yang tersisa, juga telah dinaiki orang-orang Lan Xang yang lain. Keduanya berlayar beriringan dengan Fong Pak Laoya, Pratiwi dan Yu sudah berada di kapal satunya, menguntit di belakang.


“Kau tahu, Yu. Di kapal yang satu itu, ada dua orang Jawa yang sama-sama mengenakan topeng. Mereka berdua mengaku sebagai Pendekar Topeng Seribu yang termahsyur itu. Kau bayangkan sendiri betapa menggelikannya hal tersebut,” ujar sang Laoya sembari terkekeh geli.


Telinga Yu seakan naik bak telinga seekor kelinci mendengar penjelasan sang Laoya. “Benar begitu, Laoya? Lalu, siapa menurut Laoya yang merupakan Pendekar Topeng Seribu sebenarnya?” tanya Yu tak bisa menutupi rasa penasarannya.

__ADS_1


Fong Pak Laoya menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras. “Tidak satupun! Kau tahu, Yu, sudah entah berapa banyak orang menggunakan gelar Pendelar Topeng Seribu berbekal sembarang topeng demi kepentingan dan tujuan mereka sendiri. Mana mungkin aku, ataupun kau bila kau lihat sendiri, bisa percaya begitu saja. Kemampuan kedua orang itu sama baiknya. Bukan berarti mereka bertarung dengan buruk, tetapi mereka berdua memiliki ilmu yang seimbang. Bahkan bila tidak ditambahi dengan kedatanganku tadi, keduanya pasti sangat terdesak melawan para perompak. Mungkin juga mati konyol. Apa seperti itu kehebatan sang Pendekar Topeng Seribu?” jelas sang Laoya panjang lebar kemudian dilanjutkan dengan kekehan kembali.


Yu menarik nafas. Ia tak mau menceritakan hal ini kepada sang istri. Ia tak tahu bagaimana anggapan Pratiwi, mengingat perempuan itu memiliki sejarah yang rumit di masa lalu dengan sang pendekar. Ia hanya ingin semuanya berjalan lancar sampai mereka menemukan orang yang mereka cari untuk menyembuhkan Pratiwi. Setelah itu, ia ingin kembali pulang ke nusantara, atau menetap di manapun tak menjadi persoalan. Ia menginginkan untuk hidup damai sebagai sepasang suami istri membina keluarga.


Kapal yang mereka tumpangi terus berlayar di belakang kapal Lan Xang yang mereka bantu tadi. Di kiri kanan mereka, perahu-perahu yang lebih kecil juga ikut berlayar. Semua prajurit dan pasukan penjaga Lan Xang sudah memutuskan untuk berlayar bersama-sama dan saling jaga untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi di depan sana kelak.

__ADS_1


Kegeraman mereka pun pada dasarnya memang harus ditahan dahulu karena percuma saja, korban yang berjatuhan ini serupa dengan sebuah perang antar bangsa saja. Kejutan demi kejutan terus menghampiri rencana dan tujuan besar mereka tersebut. Dan bila dipikir-pikir, itu semua karena seorang Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu. Sudah saatnya untuk melaksanakan gerakan dan tindakan yang lebih besar dibanding hanya menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk tokoh satu itu seorang.


Padahal, bila lancaran yang ditumpangi Jayaseta diserang, kemungkinan besar mereka bisa langsung menyelesaikan dan menghancurkannya. Mengapa harus menyerang kelompok dan pihak yang tidak berhubungan langsung dengannya? Lagipula, jelas sekali Jayaseta tidak mau bergabung dengan Dunia Baru, mau dibujuk seperti apapun ia tidak bakal tertarik karena memang memiliki perbedaan pola pandang dan tujuan yang berbeda bahkan bertentangan.


Sebenarnya, ini juga yang dipikirkan oleh Dewa Langkah Tiga. Ia akan langsung turun ke lapangan. Ia tidak akan mengerahkan pasukan Dunia Baru secara besar-besaran lagi. Sebenarnya sang pendekar paruh baya itu masih tidak menganggap bahwa Jayaseta memiliki kemampuan kanuragan sehebat itu. Namun, ia tetap akan mengerahkan sembilan pendekar Dunia Baru untuk sekalian melenyapkan Jayaseta dan kelompoknya. Bila mungkin, Jayaseta akan disisakan saja khusus untuk dirinya. Maka, rencana menghancurkan kelompok Jayaseta tersebut akan langsung dimulai dengan sang Harimau Siam yang sudah ada di tengah-tengah sejak awal.

__ADS_1


Menyusupkan pendekar Dunia Baru di dalam rombongan Jayaseta awalnya bukanlah sesuatu yang direncanakan. Hal itu terjadi begitu saja secara kebetulan, tetapi Dewa Langkah Tiga akan tetap meneruskan rencana ini dan sekaligus menyelesaikan saja. Tiga pendekar Jepun yang berada di pusat kota Ayutthaya akan segera ia perintahkan untuk langsung menyergap Jayaseta dan rekan-rekannya.


Sang Dewa Langkah Tiga paham bahwa Konoshi Hidetada, Arima Oda, dan si kirishitan Paulo Omura tidak akan mau membawa pasukan bayaran dari orang-orang Jepun lain. Selain karena mereka ingin tetap bersikap rahasia dan tidak diketahui perannya di dalam Dunia Baru, ketiganya juga pasti akan merasa disepelakan karena mereka akan merasa mampu untuk mengalahkan orang itu sendirian. Apapun itu, Dewa Langkah Tiga sudah jengah. Ia akan menyelesaikan ini dengan segera tanpa basa-basi lagi.


__ADS_2