Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Ledakan


__ADS_3

Racun mencoba menyebar ke seluruh tubuh Jayaseta. Racun itu, meski sebenarnya Jayaseta paham jenisnya, tetap saja membahayakan. Ini lebih karena ia memerlukan waktu untuk segera dengan cepat memusnahkan racun tersebut sedangkan para penyerangnya sudah kembali mengincar nyawanya.


Jayaseta belum sempat menyebarkan tenaga hawa murninya ke seluruh tubuh untuk melawan penyebaran racun yang begitu cepat itu ketika dua mata tombak kembali mengincar tubuhnya. Tidak ada kesempatan untuk menghindar. Jayaseta mengurungkan pengobatan cepatnya akan racun dan malah menghadap ke tombak yang melaju. Ia menangkap satu batang tombak tepat di pangkal mata logamnya kemudian secepat itu pula menangkis satu tombak yang lain dengan menggunakan tombak yang ia genggam tersebut.


PRAK!


Kedua tombak patah menjadi dua saking kerasnya pukulan Jayaseta.


SLEP!


SLEP!


Untungnya Jayaseta sudah mumpuni dalam berolahkanuragan. Serangan-serangan yang ditujukan kepadanya telah benar diperhitungkan selain karena kepekaan kependekarannya yang telah terasah dengan baik. Pisau rahasia yang terlempar ke arahnya menancap di batang tombak yang patah tetapi masih ada di tangannya.


Ia tidak mau kecolongan lagi dengan lemparan-lemparan senjata dari musuhnya. Memang sang pelempar Champa itu pikir Jayaseta termasuk cerdik dan cerdas. Diam-diam orang itu juga memiliki kemampuan tenaga dalam yang

__ADS_1


membuat lemparan pisaunya bukan lemparan biasa. Bahkan tenaga dalam Jayaseta yang digunakan untuk melumuri lengannya ternyata tertembus pula. Orang ini bukan orang biasa, batin Jayaseta.


Semua serangan lemparan berhasil Jayaseta patahkan. Racun yang ada di dalam tubuhnya masih terasa menyengat di sana-sini. Empat orang perompak Champa maju sekaligus dengan perisai di tangan kiri dan belati di tangan kanan. Serangan ini memang sangat tepat ketika Jayaseta sedang terkana racun dan baru saja diserang dengan tombak serta pisau rahasia beracun.


Jayaseta muncur cepat sampai empat langkah dan berhenti ketika punggungnya menubruk pepohonan. Ia  mencabut pisau yang menancap di batang tombak yang masih ia pegang. Dengan keterampilan yang luar biasa, Jayaseta melemparkan pisau-pisau itu ke arah para penyerang. Dua penyerang langsung ambruk karena tak menyangka serangan mereka disongsong serangan balik lawan. Mereka tak sempat menaikkan perisai sehingga pisau-pisau itu berhasil dengan mulus menembus mata atau menancap dalam di kening mereka. Tidak memerlukan racun untuk membuat kedua penyerang tewas seketika.


Tidak ada kesempatan bagi sisa dua penyerang untuk lebih sadar apa yang sedang terjadi. Jayaseta sudah maju lebih cepat ke arah mereka. Dengan berbekal potongan tombak yang terpatah yang masih menyisakan mata tajamnya itu, Jayaseta melaju. Kakinya menacap dalam di tanah. Ia tidak melompat atau meloncat. Ia bergerak bagai seekor badak atau gajah yang menyeruduk dengan cula dan gadingnya.


Dua penyerangnya tersentak ke belakang dengan keras. Satu tinju Jayaseta menghajar tameng sang penyerang. Jayaseta tidak main-main tentunya. Pukulan terlatih itu, bahkan tanpa tenaga dalam pun sudah mampu membuat orang yang tak semumpuni Jayaseta akan kesulitan menghadapinya. Sang perompak Champa terdorong keras bagai diseruduk banteng. Satunya terpaksa harus meregang nyawa setelah potongan tombak menembus lehernya. Jayaseta menggunakan hentakan keras dari kakinya untuk menghadang serangan lawan yang melaju cepat.


“Ayo kita serang bersama-sama. Habiskan semua kemampuan kita. Racun dari pisauku masih membekas di dalam tubuhnya. Kali ini ia pasti tak akan mampu menahan serangan kita. Dan angkat perisai kalian tinggi-tinggi,”perintah Lâm kepada kedua bawahannya.


Dua sisa perompak Champa di bawah pimpinan Lâm itu sedikit ragu, apalagi melihat keempat rekan mereka benar telah tewas dalam sekejap mata. Namun, semua sudah terlanjur. Mereka tidak punya pilihan lagi.


Menanggapi keraguan kedua bawahannya. Lâm kembali meraba sabuk dan mengambil dua pisau rahasianya lagi. Ia meraung dan melompat tinggi ke udara sembari melemparkan pisaunya. Kali ini ia tidak lagi sungkan mengeluarkan seluruh kemampuannya sehingga kedua pisau itu melaju cepat siap membunuh.

__ADS_1


Jayaseta mampu menghindar dari satu pisau, sedangkan pisau lainnya kembali berhasil menyerempet tubuhnya. Bahunya tergores. Tak cukup besar, tapi cukup untuk kembali mengirimkan racun.


Jayaseta jatuh bersimpuh.


“Serang! Ini waktunya kita bunuh orang itu!” teriak Lâm.


Kedua rekannya yang semula ragu, kini langsung menjadi beringas karena merasa mendapatkan kesempatan yang mereka tunggu-tunggu. Keduanya melompat liar maju mendahului Lâm yang sudah siap dengan satu pisau terakhirnya. Ia kemudian ikut berlari di belakang kedua bawahannya karena bertekad ini adalah saatnya untuk menghabisi sang pendekar.


Jayaseta tersenyum. Ia merasakan racun itu menggerogoti tubuhnya, mengalir dengan cepat di seluruh nadi dan darahnya. Namun, ia akrab dengan racun. Kesemuanya dikumpulkan dalam satu titik. Pengetahuan dan kemampuan olah kanuragan tenaga dalamnya semakin meningkat pesat. Ia tidak hanya sakti, tetapi cerdas luar biasa.


Maka ketika dua langkah lagi para penyerangnya sampai, Jayaseta meledakkan tenaga dalamnya. Kedua telapak tangannya membuka dengan kedua lengan menjulur ke depan. Ia berteriak keras. Hawa tenaga yang tak terlihat terlontar keluar dari tubuhnya.


Dua orang penyerang, para perompak Champa, merasakan tubuh mereka seperti ditubruk angin yang keras. Mereka sempat berpikir apakah mereka terkena sihir. Namun itu tak lama. Tubuh mereka rubuh dengan wajah membiru. Ledakan tenaga dalam tadi mengirimkan balik racun yang berada di dala tubuh Jayaseta kepada kedua penyerangnya.


Lâm berhenti dan berdiri terpaku tak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya.

__ADS_1


__ADS_2