
Keriuhan kecipak air, bunyi ledakan bubuk api meriam, teriakan perang dan rasa sakit serta amarah berbaur menjadi satu di udara. Tubrukan tiga kapal niaga yang dinakhodai orang Cina ke perahu-perahu para perompak tersebut menyebabkan dampak yang tidak biasa.
Para perompak yang terkejut karena kenekatan tiga kapal asing itu terpaksa harus menyerang balik bila tidak mau
dijadikan bulan-bulanan serangan musuh. Perahu mereka yang beragam jenis, dari sampan yang dapat berisi tiga sampai lima orang, perahu panjang berisi sampai sepuluh orang sampai perahu kecil berdayung dan berlayar tunggal pengangkut senjata, harus porak poranda, terbalik dan tertelungkup.
Para pasukan Lan Xang dan orang-orang yang ikut turun berperang memang memiliki ciri khas yang membedakan mereka dari orang-orang Siam, Annam atau Champa. Rambut mereka yang panjang digelung di puncak kepala, kemudian ditutup atau dihiasi dengan kain yang diikatkan melingkari dahi dan kepala. Untuk para pedagang dan penumpang kapal yang ikut menghunus senajata, rata-rata mereka mengenakan penutup kepala lebar, seperti caping, tetapi kerucut di bagian tengah seperti atap rumah.
Semua prajurit bercawat dan bertelanjang dada. Ada pula yang mengenakan penutup bahu dan dada. Sedangkan, mereka yang bukan prajurit mengenakan pakaian serupa dengan orang Siam, yaitu lengan panjang dengan kancing dan berhias penutup bahu dan dada dari sutra.
Mereka sudah meloloskan beragam jenis belati dan dha kemudian berlompatan di atas perahu musuh sekaligus menyerang musuh mereka disana.
Bagi para penyerang Lan Xang, pedang dan belati dirasa lebih berguna dan berdaya dibandingkan tombak. Terutama karena saat ini mereka melompat-lompat dari satu perahu ke perahu yang lain, membabat
__ADS_1
dan menusuki para musuh yang sedang terkejut dan hilang perhatian.
Orang-orang Đại Việt atau juga disebut Annam ini serta Champa yang dari awal terlalu memusatkan perhatian ke mengepung dan berusaha mendekat ke kapal yang ditumpangi Sasangka dan Jaka Pasirluhur. Maka tidak heran bila rata-rata punggung para perompak itu yang menjadi sasarannya.
Dha para prajurit penjaga sewaan dari ketiga kapal yang panjang, melengkung dan bergagang panjang pula itu memudahkan mereka menjadikannya semacam tombak yang sama baiknya untuk menusuk maupun membabat.
Untuk serangan awal ini, korban dari para perompak sudah mulai terlihat jelas. Para prajurit Lan Xang yang tersulut amarah tidak memedulikan tatanan serangan atau gelaran perang mereka. Intinya mereka harus bisa membunuh lawan. Para perompak kelimpungan. Banyak yang jatuh ke air dan terpaksa mendapatkan serangan yang tak bisa mereka balas. Tubuh mereka habis dirajam, ditusuki dan dibabat. Bahkan khusus untuk mereka yang telah jatuh ke air, kepala lah yang menjadi sasaran, sehingga kematian adalah sebuah keniscayaan. Air menjadi halangan yang luar biasa berat untuk mereka mengangkat tangan, apalagi senjata untuk membalas.
Nafsu membunuh pasukan Lan Xang ini sayangnya berkobar tanpa rencana dan tanpa perhitungan yang nyata. Awalnya memang para perompak berhamburan, terluka, terjatuh dari sampan dan perahu mereka,
atau bahkan tewas. Namun, perlahan, keadaan menjadi tidak bisa ditebak.
Perlawanan mulai terlihat dari para perompak. Ini karena ketiga kapal Lan Xang yang menyerang baru menembus lapisan pertama dari puluhan perahu besar dan kecil itu. Bahkan, tanpa diperhitungkan sama sekali, para empat perahu berukuran sedang mendayung perahu mereka cepat ke arah ketiga kapal Lan Xang yang dinakhodari orang-orang Cina tersebut. Tujuan mereka jelas, menyerang balik sekaligus menggagalkan serangan meriam yang
__ADS_1
ditembakkan berkali-kali itu.
Tali dengan ujung pengait telah dilemparkan ke atas geladak. Tombak langsung menyusul dilemparkan pula untuk
menghalangi prajurit Lan Xang diatas kapal yang mengetahui mereka sedang diserang. Dengan begitu cepat dan gesitnya, para perompak memanjat kapal. Kurangnya prajurit Lan Xang yang berjaga karena hampir seluruh prajurit, bahkan beberapa penumpak dan awak ikut serta pula dalam penyerangan.
Kapal pertama bobol. Bahkan prajurit Lan Xang yang berjaga, kurang dari sepuluh saja, sama sekali tak mengetahui bahwa ada satu perahu berisi enam perompak sudah menempel di kapal mereka dan langsung memanjat naik. Dengan mengendap-endap, bilah belati digigit di mulut mereka, enam perompak Annam meloncat menerkam dalam diam. Bilah tajam belati menembus punggung dan leher bagian belakang dua prajurit Lan Xang. Sisanya yang terkejut sudah terlambat. Tubuh-tubuh kecil perompak Đại Việt berlompatan bagai kera dengan belati dan pedang ke arah mereka. Satu perompak juga bersenjatakan dua batang tombak telah melemparkan ke arah prajurit Lan Xang, menembus leher dan lambung. Kalau sudah begini, sebentar saja perompak Đại Việt akan dapat langsung ke haluan dan buritan, melumpuhkan para penembak meriam, bahkan mungkin nakhoda. Mereka juga bisa menggunakan kapal ini untuk menyerang dua kapal Lan Xang lainnya.
***
Para pembaca yang budiman, ada sedikit kabar baik bagi teman-teman yang setia dengan novel saya yang tidak seberapa ini. Dimulai di bulan Agustus, Pendekar Topeng Seribu akan update setiap hari tanpa putus. Doakan semoga perjalanan Jayaseta dan teman-temannya meski selalu mendapatkan banyak halangan, akan memberikan makna bagi mereka. Segala kejutan dan permasalahan mereka adalah yang membuat para tokoh ini mengetahui jati diri dan mendapatkan nilai-nilai penting dalam hidup mereka.
Salam Pendekar.
__ADS_1