
“Cegah dia!” seru Sudiamara. Dalam satu tarikan nafas, semua orang salah sangka. Para prajurit, bahkan Koncar mengira bahwa sang lawan sudah menyerah kalah dan ingin kabur menghindar. Namun, Sudiamara sudah memahami ucapan Kesanga dan menebak jalan pikirannya. Musuhnya itu tak pernah undur diri, tak pernah mundur dalam setiap serangannya. Kesanga mungkin licik, penuh dengan rencana, tetapi pendekar itu bukan seorang pengecut. “Yang penting tujuanku selesai hari ini,” ujaran Kesanga terngiang di telinga Sudiamara.
Kesanga memacu kudanya, menendang para prajurit dan mengangkat kedua kaki depan kudanya tinggi-tinggi.
“Koncar! Tahan dia!” seru Sudiamara.
Koncar yang awalnya masih bingung langsung dapat segera awas ketika melihat bahwa beberapa bawahannya diserang sang pendekar yang sudah ada di atas pelana kuda tersebut. Harusnya bila memang Kesanga berniat kabur, ia tinggal pergi saja dan menjauh dari gelanggang pertempuran. Nyata kuda dibawanya menerobos kumpulan prajurit setelah sebelumnya melompat setinggi kepada Sudiamara.
Koncar siap menubruk kuda dengan tameng dan mungkin sekalian saja menusuknya dengan keris yang ia genggam. Kesanga pun sudah terlepas senjata utamanya, yaitu cambuk panjang yang ia pakai. Pada sadarnya, Kesanga tak lagi bersenjata. Di atas kuda, wajib hukumnya menggunakan senjata panjang serupa tombak atau pedang panjang, melengkung lebih baik, seperti pedang-pedang dari tanah Arab dan Parsi.
Koncar berteriak keras dan siap menubruk badan kuda dari samping dengan tamengnya.
Tubuh Koncar terangkat ke udara dan terlempar menubruki rekan-rekan prajuritnya.
Tak disangka tak dinyana Kesanga telah mengeluarkan sebuah senjata lain dari balik pinggangnya. Bukan cemeti, pecut atau cambuk, melainkan hanya seutas tali dari jerami. Serupa seperti ia menggunakan cambuk, seutas tali tersebut dipecutkan sehingga membelit kaki Koncar. Sekali sentak, dengan menggunakan tenaga dalam dan kemampuan beladirinya, Koncar yang sama sekali tak bisa menebak dan menduga serangan ia, terlempar menjauh dari lintasan jalur kuda yang dipacu kencang oleh Kesanga.
“Bangsat! Sudah kuminta kau untuk menahannya, Koncar. Ia sedang menuju ke rumah. Ia mengincar Nyai kalian, Almira!” seru Sudiamara terdengar begitu cemas.
Ia berlari secepat dia bisa. Seluruh tenaga dalam diarahkan ke kaki sehingga tubuhnya melompat dan meloncat tinggi serta jauh mengejar ke arah kepergian Kesanga. Para prajurit lain pun terpontang-panting dan berjibaku untuk dapat mengejar kuda yang meninggalkan debu di malam yang tersinari lampu minyak dan obor tersebut.
__ADS_1
Ada empat prajurit di depan pintu rumah Almira. Tiga lagi ada di dalam, di samping Almira.
Kesanga melompat turun dari kudanya. Ia tidak lagi bermain-main dan mencoba-coba atau sekadar menguji kemampuan silatnya sendiri. Ia memanfaatkan kekebalannya untuk menangkis serangan pedang dari para pengawal dengan tangannya yang telanjang. Kemudian menggunakan tali yang ia pegang untuk mengunci musuh untuk kemudian membantingnya. Mencambuk para prajurit dan menghajar mereka dengan dupakan, tinju dan lagi-lagi cambukan. Dalam tiga jurus dan beberapa gerakan saja, musuh sudah kocar-kacir.
Kesanga bahkan menggunakan jari-jarinya di tangan kirinya yang tidak memegang tali untuk menjambak rambut prajurit, kemudian menghentakkannya ke tanah, atau mencakar wajah untuk kemudian menolakkannya keras. Keriuhan di depan rumah selesai dengan para prajurit yang berjatuhan.
Kesanga melompat masuk ke dalam rumah selagi para prajurit dan Sudiamara berlarian ke arahnya.
Di dalam rumah, Kesanga menyambut setiap tombakan dan bacokan pedang dengan tubuhnya. Tak lagi menghindar. Ia melingkarkan tali di pinggang lawan kemudian dengan tenaga dalam menyentakkannya dan melemparkannya membobol dinding bata sampai sang prajurit tak sadarkan diri tergeletak di luar.
Dua lainnya dengan mudah diterjang oleh Kesanga. Jurus-jurus tak lagi dilakukannya dengan tertata. Ia hantam kromo, memukul keras, menendang kasar dan menerubuk bagai seekor banteng terluka. Tubuhnya yang keras itu memang menjadi sasaran bacokan dan tusukan. Ia terpaksa harus tidak bergeming karena terlontar kesana kemari pula. Namun, itu tak seberapa, toh ia tak terluka. Kulitnya tak koyak dan terbeset sedikitpun. Makanya ia terus dapat menggelinding bagai bola api jatuh dari sebuah gunung berapi.
“Almira, kemari kau. Akan aku habisi cepat agar tak membuatmu tersiksa!” seru Kesanga.
Almira berdiri di depan Kesanga. Ia memegang perut buncitnya sedangkan tangan satunya berada di belakang. Wajah Almira tidak menunjukkan rasa takut, cemas mungkin, tetapi bukan ketakutan akan kematian.
“Nah, aku senang kalau kau sudah siap menghadapi kematian. Aku tidak akan meminta maaf karena harus membawa serta anakmu itu,” ujar Kesanga tergesa-gesa. Ia tidak ingin tugasnya ini kembali diganggu oleh Sudiamara dan prajurit-prajurit yang lain. Jujur, meski ia tak khawatir dengan nyawanya, tetapi ia kelelahan. Ia sungguh bukan seorang pendekar yang mampu dan terbiasa berperang dalam waktu yang panjang dan lama. Benar apa yang dikatakan Sudiamara. Kesanga bukan jenis pendekar yang baik dalam bermain jurus. Kalau bukan
karena ilmu kebalnya, mungkin ia tak bisa bertahan lama melawan keroyokan musuh. Tidak perlu ada apapun lagi yang perlu ia buktikan kepada diri sendiri atau siapapun itu. Itu sebabnya semua pertarungannya diselesaikan dengan cepat.
__ADS_1
Kesanga melihat sekeliling, kemudian memungut sebilah pedang. Tanpa bicara lagi ia maju cepat hendak memenggal kepala Almira.
CTAR!
Kesanga tersentak. Bilah pedang jatuh dari tangannya dan berdenting di lantai. Kesanga melihat luka berdarah di tangannya tak percaya.
CTAR!
Kesanga jatuh terjerembab. Wajahnya membentur lantai dan terasa begitu sakit. Punggungnya juga ikut berdarah.
Kesanga berusaha berdiri dengan susah payah, tetapi kekuatan seperti terserap habis dari tubuhnya. Ia bahkan tak bisa menggenggam seutas tali yang dijadikan senjata di tangan kanannya. Tali itupun lepas dari genggamannya.
Ketika Kesanga mulai berhasil berdiri dengan goyah dan gontai, ia melihat Almira memegang sebuah cambuk di tangan kanannya.
“Ini adalah cambuk milik abah, Kakang Kesanga. Kakang mungkin terkejut dan tidak menyangka bahwa aku masih ingat ketika kakang belajar ilmu cambuk dari abah. Kakang juga tidak tahu bahwa cambuk ini dibuat dari kulit gajah, bukan banteng atau sapi. Itu adalah sumber kelemahan kakang, bukan? Abah yang memberitahu kepadaku dulu. Abah menceritakan tentang kakang Kesanga yang menceritakan kelemahan itu kepada abah dan berpikir abah tidak akan sungguh-sungguh membuat sebuah cambuk dari kulit gajah. Maafkan aku, kakang. Ilmu kakang sirna seluruhnya,” ujar Almira.
Tanpa balasan apapun, Kesanga yang sudah terlihat penuh amarah sekaligus keputusasaan masih hendak mendekat menyerang ke arah Almira.
CTAR!
__ADS_1
Sekali lagi Almira melecutkan cambuk itu tepat di wajah Kesanga. Sang pendekar terbanting ke samping dan ambruk ke lantai. Wajahnya tertoreh luka besar berdarah. Nafasnya masih ada, meski ia tak sadarkan diri. Namun yang jelas, tidak hanya ilmu kekebalan tubuh yang lenyap dari tubuhnya, bahkan kemampuan silat dan tenaga dalam pun tak lagi tersisa.