Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Mulut Terbuka Menganga


__ADS_3

Beberapa perahu yang paling belakang dari rombongan perompak Annam dan Champa yang berlayar menentang arah dan cenderung menjauhi lancaran yang ditumpangi Jayaseta berserta rombongannya, mendadak berhenti mendayung. Semua orang perompak di dalamnya melihat kedatangan sebuah perahu kecil dengan beberapa


orang di dalamnya sedang menuju ke arah mereka, didayung membelah arus sungai dengan cepat.


“Persiapkan diri kalian. Kedatangan kita untuk menanyai mereka nampaknya tidak akan diterima dengan baik. Bahkan mungkin mereka merasa terancam,” ujar Narendra.


Ia dan Katilapan berada di sisi perahu paling depan, dengan Jayaseta duduk tak tenang di tengah kapal, didayungi oleh Siam dan Ireng serta Dara Cempaka duduk di paling belakang. Mereka semua telah memegang senjata masing-masing.


Beberapa saat yang lalu, keenam orang tersebut telah berhasil meyakinkan nakhoda untuk menjual salah satu perahu kecil milik lancaran kepada mereka. Mereka tidak perlu bercerita panjang lebar, karena kemampuan tawar menawar Katilapan dan Narendra yang telah lama berpengalaman sebagai pelaut serta bayaran bilah keris pusaka yang terlihat begitu indah dan mahal dari kotak pusaka mereka.


Niat mereka sudah bulat. Berada di atas lancaran akan berbahaya bagi pergerakan Jayaseta dan rekan-rekannya bila kelak mendadak diserang oleh para perompak atau siapapun itu. Belum lagi ini berarti mereka akan mengorbankan lebih banyak orang yaitu para awak, para prajurit penjaga kapal dan penumpang serta nakhoda. Keputusan turun dari kapal dan langsung mendekat ke arah sumber masalah,rahasia dan kebingungannya itu sendiri.


Sudah diduga, para perompak yang sedari tadi menyembunyikan senjata mereka di balik perahu langsung ribut ketika melihat siapa yang datang mendekat.


“Bedebah! Ternyata Jayaseta malah datang mendekat ke arah mereka. Rencana kita berubah!” seru seorang perompak Champa, yang nampaknya adalah sang pemimpin, kepada bawahannya di beberapa perahu di barisan terakhir.

__ADS_1


“Tapi, perahu-perahu yang lain sudah berjalan lebih dahulu, sesuai dengan rencana untuk membantu pasukan kita yang lain,” ujar salah satu bawahan.


“Biarkan saja mereka berjalan dahulu. Kita tak punya pilihan. Bila memang sasaran utama kita malah yang menyerahkan diri, kita layani saja. Tidakkah kalian pikirkan bila kita berhasil membunuh si Pendekar Topeng Seribu, apa yang akan kita dapatkan?” lanjut sang pemimpin.


Selama ini para anggota Dunia Baru di negeri Siam, Annam, Champa, Burma dan sekitarnya kerap mendengar nama Pendekar Topeng Seribu yang begitu mahsyur dan terkenal. Mereka bahkan memiliki tugas khusus untuk berhati-hati terhadap sang pendekar dan lebih baik menggiringnya untuk kelak dihadapi langsung oleh kekuatan-kekuatan khusus dengan tingakatan yang lebih tinggi di kelompok mereka, dalam upanya untuk menawarkan keikutsertaan sang pendekar, atau tewas dibunuh.


Namun, sampai selama ini, tidak sedikit dari mereka begitu penasaran dengan seberapa hebatkah sosok tersebut, yang digembar-gemborkan memiliki kemampuan silat yang begitu pilih tanding.


Maka, ketika kesempatan itu datang sendiri, mereka sama-sama berpikir untuk sekalian menjajal kemampuan sang pendekar dan mencari bukti akan kebenaran kisah dan cerita tersebut.


Perlahan tapi pasti, masing-masing perompak di dalam beberapa perahu mengambil senjata mereka, yaitu potongan-potongan bambu runcing yang digunakan sebagai lembing. Bambu-bambu itu sebesar telapak tangan, ramping namun lentur dan kuat. Sangat baik untuk digunakan sebagai senjata lempar. Tombak akan menjadi cukup mahal bila digunakan sebagai lembing, selain karena biaya pembuatan dan perawatan juga mata tombak yang terbuat dari logam. Peperangan besar ini, potongan-potongan bambu runcing menjadi masuk akal. Perahu yang dikayuh Ireng dan Siam meluncur semakin laju membelah arus menuju ke arah kumpulan perahu para perompak. Sampai pada jarak lempar, perintah keras diserukan oleh sang pemimpin rombongan perompak berperahu tersebut. “Serang! Lemparkan lembing kalian ke arah mereka!”


Hujan batang bambu runcing menerpa perahu Jayaseta. Katilapan dan Narendra dengan sigap menangkis serangan-serangan itu. Bahkan Ireng dan Siam pun terpaksa menangkis batang-batang bambu runcing yang melaju ke arah mereka dengan dayung mereka.


PRAK!

__ADS_1


PRAK!


PRAK!


PRAK!


Bunyi berderak retak dan patah gelonggongan bambu teredengar sahut-menyahut. Batnag bambu dan pecahannya terburai serta terlontar ke sungai. Serangan awal dengan mungkin sepuluh batang bambu runcing terlempar ke arah perahu Jayaseta itu gagal sepenuh dan seluruhnya. Serangan kedua akan segera dilakukan.


Ireng dan Siam mendayung perahu dengan secepat mungkin.


Tepat ketika lembing bambu runcing hendak dilemparkan para perompak sebagai serangan kedua, sosok Jayaseta mencelat tinggi dari bagian tengah perahu bagai seekor elang yang menyambut mangsa. Tubuhnya melayang tinggi dengan ilmu peringan tubuh yang dipusatkan di kaki dan bahunya, dengan menolakkan kedua kakinya di lambung perahu. Jayaseta memang sengaja berdiam diri di tengah-tengah kakang-kakang serta kedua rekannya yang lain dalam diam sedari tadi untuk mendapatkan waktu dan jarak yang tepat.


Dengan keberanian yang dipaksakan oleh keteguhan hati, melawan musuh terberatnya, yaitu air, dan tenaga dalam yang sudah dihimpunnya, Jayaseta memutuskan untuk menyelesaikan ini semua sebagai bentuk pertanggungjawaban rencananya.


Setiap pasang mata perompak membulat kaget dan mulut terbuka menganga melihat kemunculan sosok yang memancarkan tenaga mengerikan itu di udara untuk kemudian turun menghujam ke arah sebuah perahu yang paling dekat.

__ADS_1


Jayaseta menjejak dua perompak dengan keras, membuat mereka terlempar jatuh ke sungai. Jayaseta ternyata menggunakan tubuh kedua perompak yang ia jejak tadi untuk melontarkan kembali tubuhnya ke perahu lainnya.


__ADS_2