
Sudah sejak puluhan sampai rarusan tahun yang lalu, orang-orang di tanah Jawa sering mengatakan bahwa orang-orang di tanah Sabrang digambarkan sebagai para raksasa yang brangasan, tak beradab, kejam, bahkan suka memakan daging manusia.
Mereka beranggapan bahwa pulau Tanjung Pura ini meski terdapat banyak kerajaan dan kesultanan di bagian pesisir, di pedalamanan para pendatang haruslah sangat hati-hati bahkan bila perlu menghindar saja. Ada suku-suku pelosok yang gemar berburu kepala manusia untuk kesenangan mereka.
Mereka menggambarkan pulau Tanjung Pura, atau pulau Sabrang ini sebagai Alengka, kerajaan raksasa di dunia pewayangan dengan Rahwana yang juga dikenal sebagai Dasamuka sebagai rajanya.
Kitab Jawa kuno, Serat Maha Parwa, menggambarkan pulau ini dengan kesan yang buruk dan mengerikan.
Ada beragam sebutan untuk orang-orang yang berasal dari suku pedalaman di pulau Tanjung Pura ini.
Orang-orang Melayu menyebutnya dengan suku-suku Daya atau Dayak yang berarti orang asli, meski dalam bahasa Jawa, istilah Dayak yang ada dalam Serat Maha Parwa jelas berarti orang-orang dengan perilaku dan tindak tanduk yang tidak beradab.
Penduduk Kesultanan Banjar bahkan tidak mengenal istilah Daya atau Dayak, mereka menyebut orang-orang yang tidak beragama Islam tersebut dengan orang Biaju, sehingga tempat tinggal mereka disebut tanah Biaju atau negeri Biaju.
Sedangkan orang-orang pedalaman sendiri menggunakan nama suku mereka atau menggunakan istilah orang darat yang membedakan mereka dengan orang-orang pesisir yang beragama Islam dan tinggal di kantong-kantong kerajaan atau Kesultanan Islam.
Masuknya pengaruh Islam dari kerajaan Demak di tanah Jawa, Melayu dan para pendatang jazirah Arab atau Parsi membuat sebagian besar orang Daya masuk ke pelosok, di balik rerimbunan hutan untuk menghindari para pendatang dan ajaran mereka.
Kelompok orang Daya yang memutuskan untuk menerima ajaran Islam inilah yang membedakan diri dengan orang-orang Daya yang sudah terpencar dan masuk ke pedalaman pulau Tanjung Pura, meski banyak pula kelompok orang Daya yang tetap mengaku dan menjatidirikan sebagai orang Daya, namun beragama Islam, bukan agama-agama atau kepercayaan-kepercayaan nenek moyang.
Bisa dikatakan, orang Melayu, Banjar atau orang-orang asli dari pulau Tanjung Pura ini pada awalnya adalah satu jua, hanya kepercayaan, dan pengaruh budaya yang membedakan mereka. Bahkan banyak suku-suku pedalaman dan Melayu pulau ini berbagai kemiripan budaya dan bahasa.
Orang Melayu yang memeluk Islam dan tinggal di pesisir kemudian disebut Orang Laut, sedangkan orang Daya yang tak memeluk Islam dan tinggal di pedalaman dan tepian sungai disebut Orang Darat.
Orang-orang pesisir, atau suku laut memiliki beragam kerajaan dan berhubungan dengan kerajaan-kerajaan di luar pulau, seperti pulau Jawa, Melayu pulau Samudra dan bahkan mancanegara. Sedangkan, orang-orang suku darat pedalaman atau suku-suku Daya, tetap hidup dengan kebiasaan dan budaya mereka serta dipimpin oleh para kepala suku.
Bagi Jayaseta, kabar yang menjelaskan bahwa orang-orang Daya atau suku darat ini sebagai orang-orang kejam tanpa adat sama sekali tidak membuatnya takut, bahkan mungkin menurut pendapatnya dikabarkan terlalu berlebihan.
__ADS_1
Namun, bagaimanapun, sebagai seorang pendekar, ia sudah terpapar beragam jenis kekejaman, kejahatan dan kengerian yang mungkin dilakukan oleh manusia. Mengenai kebiasaan memotong kepala yang dikenal oleh orang-orang darat di Tanah Tanjung Pura ini bukanlah sebuah hal yang mengherankan, menakutkan dan aneh.
Pada usianya yang masih muda, Jayaseta juga pernah berperang dengan para prajurit Mataram dan Surabaya yang menyerang Giri Kedaton dan berhasil memenggal kepala salah satu prajurit.
Untuk orang-orang yang mengaku ‘beradat’ dan ‘beradab’ seperti kerajaan Mataram saja, Sultan Agung Hanyakrakusuma junjungan mereka pernah memerintahkan para algojo untuk menghukum para prajuritnya yang gagal menyerang kompeni Walanda di Betawi dengan memancung kepala mereka. Tidak tanggung-tanggung, ada tujuh ratus empat puluh empat pasukan Mataram yang kehilangan kepalanya, sedangkan mayat-mayat tanpa kepala itu ditinggalkan berserakan di luar benteng Betawi.
Begitu juga pernah Jayaseta mendengar cerita-cerita dari Tuan Nio sewaktu berada di geladak kapal dalam perjalannya dari Jawa ke Tanjung Pura, bahwa tahun 1621 Masehi, Gubernur Jenderal Betawi Coen, memimpin penyerangan pasukan Walanda ke pulau Banda di timur Nusantara setahun setelah kemenangan Walanda merampas Jayakarta dan sekarang dikenal dengan nama Betawi.
Dalam penyerangan ini, ia membawa armada kapal dan pasukan yang terdiri dari 1655 pasukan Walanda dan bule, 250 pasukan yang sudah ada di banda, 286 pasukan Jawa serta 80 sampai 100 pedagang dari tanah Jepun. Beberapa diantara orang-orang Jepun tersebut adalah pendekar Samurai yang memiliki tugas sebagai algojo pemenggal kepala.
Dari tulisan Letnan laut van Waert, tawanan-tawanan dari pulau Banda dan orang-orang yang menentang Walanda akan dihukum pancung. Oleh para Samurai, para tawanan dipenggal dan tubuh mereka dibelah empat bagian dengan sekali belah. Bisa dibayangkan kemampuan kanuragan mereka dan ketajaman pedang katana mereka. Itu jelas sudah disaksikan dan dialamai sendiri oleh Jayaseta menghadapi dua ronin Betawi beberapa waktu yang lalu.
Selain itu, kepala-kepala yang telah dipenggal kemudian ditancapkan di ujung bambu dan dipertontonkan.
Setelah dengan mata kepala sendiri Jayaseta melihat kecepatan serangan ketiga orang suku Daya itu, Jayseta merasa kemampuan ilmu kanuragan yang luar biasa.
Namun, apakah benar setiap darat memiliki kekejaman seperti yang digambarkan serta yang Jayaseta lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri?
"Mengapa Datuk yang akan berada dalam masalah, Dara? Bukankah mereka sudah menunjuk ke arah kita, Datuk yabg terluka akan segera dapat terhindar dari keinginan Karsa membunuhnya."
Dara menghapus air matanya serta menggeleng-gelengkan kepalanya cepat-cepat. "Bukan seperti itu, Abang Jayaseta. Permasalahan ini terlalu rumit. Anggap saja seperti ini ...," Dara memandang tidak tenang ke arah tiga orang suku darat pengayau dan Karsa yang perlahan mendekat. "Karsa dan tiga orang pengayau itu memiliki kepentingan. Mereka bertukar jasa. Jadi bila kita pergi, lari dari tempat ini, mereka akan mengejar kita. Itu pasti, karena adik rasa itu adalah bagian dari kesepakatan mereka. Maka, Datuk akan dapat segera dirawat, orang-orang Jawa itu akan terselamatkan serta para prajurit juga akan aman. Mereka akan segera melaporkan segala sesuatu ini kepada keraton atau pihak mereka."
Jayaseta sekali hendak menentang permintaan Dara Cempaka ketika ia mulai sadar tubuhnya serasa meriang. Luka yang ditorehkan sang Datuk seperti memberikan akibatnya sekarang. Tubuhnya panas dingin dan tangannya bergetar.
Seorang pendekar seperti dirinya tidak mempermasalahkan penyakit-penyakit kecil, namun dengan ketidaksiapaannya ini, bukan hanya nyawanya yang terancam, tapi juga Dara. Apalagi sang Datuk mewanti-wanti agar ia tak menggunakan tenaga dalamnya.
Jayaseta menghentak tanah karena kesal. "Kita harus kemana, Dara?"
"Mari, Abang Jayaseta. Kita harus pergi masuk ke hutan dan ke sebuah tempat di tepi sungai."
__ADS_1
***
"Karsa, kau ingat perjanjian kita bukan?" ujar salah satu prajurit Daya yang memenggal kepala dua orang Jawa yang hendak menyerang Karsa.
Karsa menarik nafas memperhatikan ketiga prajurit dengan do terhunus di tangan mereka tersebut.
"Tentu aku ingat. Tapi sesuai perjanjian kita pula, aku belum melihat batang hidung pendekar itu."
Tiba-tiba salah satu orang Daya yang lain lagi menunjuk dengan do nya ke sebuah arah di balik pepohonan, ke arah dimana Jayaseta dan Dara Cempaka berada. "Ia ada di sana. Segera tinggalkan pertarungan tak berguna ini yang ditujukan untuk membuang-buang waktumu, Karsa. Pendekar itu akan segera melarikan diri."
"Bang*sat! Pendekar pengecut!" ujar Karsa. Ia lalu memandang ke arah Datuk Mas Kuning yang terbaring lemah dipegangi beberapa orang Jawa yang tadi datang berbondong-bondong. "Sampai bertemu, Kuning," ujarnya dingin.
Karsa kemudian berlari ke arah yang ditunjukkan oleh salah seorang Daya itu, diikuti ketiganya.
***
"Abang Jayaseta ...," panggil Dara Cempaka sembari mereka berlari di balik pepohonan. "Adik, hendak menjelaskan bahwa kita akan meminta pertolongan pada salah seorang suku pedalaman, seorang sahabat Datuk. Adik hendak menjelaskan pula bahwa citra orang Darat sebagai orang-orang jahat dan tidak beradat adalah salah adanya. Tidak semua adalah pengayau."
Dalam waktu sesingkat mungkin, Dara menjelaskan bahwa walau benar adanya terdapat budaya pengayauan dalam suku-suku darat pedalaman pulau Tanjung Pura ini, setiap suku memiliki beragam alasan dan tujuan.
Tengkorak kepala hasil pengayauan sangat penting digunakan untuk upacara agama orang-orang Daya. Mereka percaya upacara-upacara tertentu menggunakan kumpulan kepala manusia dapat menyelamatkan desa mereka dari penyakit, gagal panen dan pengaruh jahat dari setan-setan atau roh halus dari dunia lain.
Para pemuda di beberapa suku memang diwajibkan untuk melakukan perburuan kepala atau mengayau sebagai bukti bahwa mereka sudah dewasa dan sudah dapat menikah. Bahkan pemuda-pemuda tersebut dibekali persiapan dan jurus-jurus kinyah, yaitu tarian dan jurus mengayau, pada usia yang masih sangat muda. Mereka akan pergi berburu ke hutan dan berperang serta memenggal kepala orang dari suku manapun yang mereka temui. Orang-orang darat yang berilmu tinggi juga percaya bahwa ilmu mereka akan semakin meningkat karena roh orang yang mereka bunuh akan masuk ke dalam senjata pedang atau tubuh si pengayau sendiri.
Cerita semacam ini sudah tidak aneh bagi Jayaseta. Dalam dunia pewayangan, seorang tokoh terkenal bernama Gatotkaca sang putra Bima atau dalam budaya jawa juga dikenal sebagai Wrekodara, adalah seorang sakti yang beribu seorang raksasa perempuan. Kesaktiannya dikenal dapat terbang, kebal terhadap berbagai senjata dan memiliki ciri khas menghabisi musuh-musuhnya dengan memelintir leher mereka sampai kepala putus dari badan.
Selain itu, Gatotkaca memiliki ilmu Brajamusti dan Brajadenta, dimana kedua ilmu itu sebenarnya adalah nama dua orang raksasa yang saling bertarung membela dan melawan Gatotokaca. Keduanya tewas dan rohnya masuk ke kedua telah tangan Gatotkaca dan menambah kekuatan dan kesaktian Gatotkaca.
Namun, setelah diceritakan oleh Dara Cempaka, sebenarnya tidak semua suku darat memiliki budaya mengayau. Beberapa hanya menggunakan jurus-jurus kinyah untuk bertahan dari serangan suku-suku lain yang memang melaksanakan budaya ngayau tersebut.
__ADS_1
"Ini termasuk suku dari Temenggung Beruang yang hendak kita temui kelak, Abang," ujar Dara Cempaka.