Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sang Penyair Baka


__ADS_3

"Mereka memanggilku dengan gelar Sang Penyair Baka karena aku menggores luka di tubuh korban-korbanku bagai menulis puis," suara parau dan renta si kakek yang telah membuka topengnya ternyata menghianati kemampuan beladirinya.


Suara lemah dan rendah itu berkebalikan dengan ilmu kekebalan tubuhnya.


Selain itu, sang kakek terlihat sangat tinggi hati dan cinta diri dimana ia begitu menikmati saat-saat ini, dimana para pengawal terlihat terkejut akan kemampuannya.


"Sudah berpuluh-puluh tahun aku berkelana ke seluruh nusantara, menimba ilmu kanuragan, mengembangkan serta menggunakannya untuk melawan serta mengalahkan banyak pendekar. Maka sebelum kalian tewas di tanganku, aku ingin kalian mengingat baik-baik gelar pendekar yang telah membunuh kalian, Sang Penyair Baka," bahkan si kakek ini kembali mengulangi gelar kependekarannya dengan wajah puas tergambar jelas.


Jaka Pasirluhur melihat ke arah rekan-rekannya yang terluka. Ia mengangkat caluk nya kembali, "Kau pikir aku peduli, orang tua. Kami akan mencincang kau habis-habisan tak peduli ilmu sesat apa yang kau kuasai," ujarnya.


Sang kakek tentu kembali terkekeh. Ia memukul-mukul dadanya dengan tangannya yang bebas, sedangkan tangannya yang menggenggam kujang diangkat ke atas. Dagunya juga terangkat sembari berkata, "Senjata kalian tak akan ada yang mampu menembus tubuhku ini!"


Para pengawal yang terluka masih sanggup bertarung dengan baik. Luka-luka yang ditorehkan ke tubuh mereka memang hanya untuk main-main, membuat kepuasan tersendiri bagi kesombongan dan cinta diri si kakek pendekar ini.


Oleh sebab itu, semua tombak sudah kembali terpegang. Beberapa pengawal malah sekaligus meloloskan golok yang menggantung di pinggang mereka.


"Mari, mari, mari semuanya. Silahkan jajal kembali jurus-jurus silatku. Namun, aku tak berjanji memberikan kalian kesempatan untuk menyentuh badanku," jawab sang pendekar tua itu santai.


Para pengawal serasa terhina. Mereka dipermainkan oleh seorang pendekar tua yang sakti. Luka-luka di tubuh mereka adalah bentuk penghinaan itu, belum lagi sang kakek berseloroh bahwasanya walau ia jelas kebal, ia akan masih bermain-main jurus agar tak sampai terkena serangan senjata tajam mereka.


Satu pengawal menyerang dahulu dengan melemparkan tombangnya sebagai sebuah lembing.


Tombak itu ditangkis dengan kujang, namun ternyata ada satu tombak lagi yang melesat ke arah sang kakek, sehingga ia memapras kembali serangan tombak itu.


Dua pengawal yang sudah melepaskan tombak mereka maju menyerang dengan golok terhunus.


Jaka Pasirluhur sendiri ikut menyusul di belakang kedua penyerang.


Kakek pendekar mundur kemudian berputar berkelit dari satu bacokan, kemudian berniat menusuk penyerang lainnya yang belum sempat mengayunkan goloknya.


Jaka Pasirluhur melihat gerakan ini sehingga ia maju dengan cepat, mengaitkan ujung caluk nya yang melengkung ke lengan Sang Penyair Baka yang menggenggam kujang.


Melihat tangan musuh terkunci, dua penyerang langsung membabatkan goloknya tubuh sang kakek.


Pendekar tua itu terpaksa melepaskan pegangannya pada kujang dan menggunakan kedua tangannya menahan bacokan golok.


PRAK!


PRAK!


Seperti sudah diduga, dua bilah golok serasa membentur batu karang. Jaka Pasirluhur juga menjadi saksi tadi bahwa caluk nya tak meninggalkan jejak luka apapun pada pergelangan tangan sang kakek walau kujangnya terlepas.

__ADS_1


Sisa para pengawal Almira yang berjumlah empat maju menyerang berdua-dua. Tombak panjang mereka menyodok-nyodok sang kakek yang menangkisi dengan kedua tangannya.



Padahal sedikit banyak pasti ada satu dua tusukan tombak yang menggores kulit sang musuh. Namun dengan kelincahan yang luar biasa untuk umurnya, Sang Penyair Baka masih berkelit bermain-main dengan para penyerangnya.


Tak puas dengan tusukan tombak yang tak benar-benar mengena sasaran, satu penyerang melemparkan tombaknya yang dapat ditepis dengan tidak begitu sulit.


Ia kemudian mencabut sebuah pedang sabet bergaya Mataram. Pedang yang sedikit lebih panjang dari sebuah golok itu bergagang pendek dengan pelindung jemari yang bersambung dengan rantai sampai ke pangkal gagang bagian bawah.



Ia menyerang dengan ganas walau paha dan bahunya tadi sempat dilukai sang lawan.


Walau sedikit sempoyongan, serangannya tak bisa diremehkan sama sekali. Dua sabetan lolos, namun dengan sedikit memutarkan lengannya, ia berhasil memapras pinggang sasaran.


Sang kakek tersentak. Tak menunggu waktu lama, Jaka Pasirluhur melihat kesempatan ini dan membacok kepala sang kakek. Sisa pengawal lainnya juga berhasil menusuk dada dan perut sang kakek yang sudah terlanjur terkena serangan.


Sang Penyair Baka terdorong ke belakang dan hilang keseimbangan. Ketujuh pengawal Almira memburu sang kakek bagai binatang. Mereka menusuk, membacok, menyabet tubuhnya dari segala sisi. Entah sudah berapa serangan masuk. Dalam keadaan biasa, harusnya siapapun yang diperlakukan seperti ini sudah pasti akan hancur lebur tak bersisa.


"Cukup!" teriak sang kakek.


Ia menahan pedang sabet yang menyasar batok kepalanya dengan menjepit di kedua telapak tangannya, memuntirnya cepat sehingga terlepas dari tangan penyerang. Dalam satu gerakan kilat, ia langsung mengunci tangan si penyerang dan 'PRAK!', mematahkannya.


Sisanya mundur dengan segera karena sang kakek menyerang bagai angin lesus. Sialnya, nasib mereka juga tak cukup baik. Kesemuanya merasakan gebukan keras di dada, wajah dan tengkuk sehingga ambruk tak bisa di tahan.


Tidak sedikit yang meludahkan darah atau sama sekali tak bisa bangun karena rasa sakit yang dikirim ke otak.


Sang Penyair Baka berdiri sedikit bungkuk karena usia, namun tak terlihat luka jenis apapun tergores di tubuhnya sedangkan baju lengan panjangnya sudah terkoyak-koyak tak tertolong lagi.


Ia berjalan pelan memungut kujang nya yang terlempar di suatu tempat.


"Sudah cukup bermain-mainnya. Kalian sudah beruntung benar berhasil mendaratkan senjata kalian si tubuhku bahkan sudah terlalu berlebihan mendapatkan keuntungan itu. Sekarang kalian bisa mati dengan tenang karena sudah mencicipi jurus-jurus Sang Penyair Baka."


Sekejap saja setelah ia berucap, sang kakek melesat bagai seekor ular yang memagut. Bilah tajam kujang melesak masuk menembus bagian bawah dagu sampai mencuat keluar melalui bola mata seorang pengawal yang tadi menyerangnya dengan pedang sabet Mataram.


Sang kakek mencabut kujang itu, menyemburkan darah dari dagu pengawal yang sudah menjadi mayat tersebut. Satu orang lagi meregang nyawa ketika kujang berlapis emas sang kakek merobek lambungnya dan memapras lehernya. Ia masih sempat memegang perut dan lehernya seakan dapat menghentikan darah yang muncrat keluar, sebelum ia jatuh tewas.


Jaka Pasirluhur merasakan sakit yang menyengat menyerang seluruh tubuhnya. Ia melihat potongan tangan kirinya, dengan kelima jarinya yang utuh, jatuh ke tanah berumput. Darah menyembur dari bagian lengannya yang terpotong.


Sang kakek menyerang dengan kecepatan yang sulit dinalar. Tahu-tahu ia sudah berada di depan Jaka Pasirluhur dan hendak membacok kepalanya. Tanpa pikir panjang, sesuai dengan kepekaannya sebagai seorang pendekar, Jaka Pairluhur menahan serangan itu dengan tangan kirinya. Maka putuslah tangannya sebatas pergelangan.

__ADS_1


Jaka Pasiluhur pening luar biasa. Ia jatuh berlutut memegangi tangannya yang sudah buntung. Sang kakek berdiri di depannya, "Masih ngeyel rupanya bocah ini. Mengorbankan tangan tak akan menyelamatkan nyawamu!" ujar sang kakek.


Ia mengangkat kujang nya dan siap melesakkan ujungnya ke batok kepala Jaka Pasirluhur.


BUG!


Jaka Pasirlihur masih sempat melihat dua sosok bayangan melesat menyerang sang kakek yang tak awas.


Tubuh renta itu terdorong keras sejauh tiga tombak menuburuk sebatang pohon.


BRAK!


Bahkan dari suaranya terasa sekali keretakan terjadi pada batang pohon diakibatkan kerasnya dorongan itu.


Kujang sang kakek kembali terlepas, namun seperti biasa, sang kakek tak terluka barang sedikitpun.


"Bang*sat! Siapa orang yang berani membokong Sang Penyair Baka. Mau cari mati kalian, hah? Akan aku buat kalian ...."


Suara sang kakek berubah menjadi suara cekikan ketika sebuah tombak bermata trisula menancap di lehernya. Ya, senjata tajam itu berhasil melukainya. Darah kental mengalir dari luka menganga di lehernya tersebut.


Yang lebih aneh, tiba-tiba sepasang mata sang kakek sakti itu melebar ketika melihat satu orang lagi yang menyerangnya datang perlahan mendekat. Badannya penuh dengan rajah dan ia menggenggam sebuah pedang yang aneh. Bilahnya melengkung ke arah depan bagai paruh seekor burung.


BRET! SLEP!


Sosok itu menebas kepala si kakek sampai benar-benar putus dengan pedang anehnya, dan sang kakek benar-benar mati.


***


Jaka Pasirluhur merasakan pandangannya berkunang-kunang. Beberapa rekan pengawalnya menyobek baju dan mengikatkannya di lengan terpotongnya untuk memberhentikan aliran darah. Namun ia masih bisa melihat kedua sosok itu berdiri di depan mereka.


"Nama kakek itu adalah Mandura. Ia adalah salah satu dari kembar pendekar  berilmu kebal yang dikenal dengan julukan Sang Penyair Baka. Keduanya menguasai ilmu Rawarontek tingkatan menengah. Meski mereka kebal, kepala mereka bisa dipenggal. Di situlah letak kelemahan mereka," ujar sang sosok laki-laki yang menggenggam tombak panjang bermata trisula.


Sosok lainnya, sang laki-laki dengan rajah menghiasi seluruh tubuhnya melanjutkan penjelasan rekannya. Dan ini membuat semua terkejut, "Kembaran lainnya sedang berada di atas geladak kapal bersama suami tuan Nyai kalian, Jayaseta, untuk membunuhnya."


Para pengawal tak dapat berkata apa-apa.


"Kedua pendekar tua ini memang bertugas melenyapkan Jayaseta dan istrinya, Nyai kalian, Almira. Namun kami sudah berhasil membunuh salah satu pendekar kembar itu tepat waktu, sebelum ia berhasil mengalahkan kalian dan melanjutkan untuk membunuh Nyai kalian," lanjut sang laki-laki penuh rajah.


"Kami akan melanjutkan menyelesaikan pekerjaan. Kami akan mengejar sisa anggota kelompok Jarum Bumi Neraka dan membunuh mereka. Segera lah pulang, kebumikan yang tewas dan obati rekan kalian. Kami yakin Jayaseta bisa mengatasi kembaran sang kakek di tengah laut sana. Kami pernah bersamanya di samudra, jadi kami tak akan terlalu khawatir," kali ini si pendekar bertombak trisula yang berbicara.


Mereka berbalik dan siap berlari ketika salah seorang pengawal bertanya, "Siapa nama kalian?"

__ADS_1


"Kalau kau memang ingin tahu, aku Katilapan dan dia Narendra," ujar sang laki-laki berajah tanpa memalingkan mukanya.


__ADS_2