Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Fortaleza de Malaca


__ADS_3

Pelabuhan Malaka begitu padat dengan jung raksasa, kapal besar kecil, beragam perahu layar dagang dan nelayan beragam bangsa. Tidak hanya dari nusantara, namun juga mancanegara. Kapal yang dinaiki Sasangka telah melepas sauh di pelabuhan. Perahu-perahu layar penjemput telah berdatangan untuk menjemput para penumpang kapal.


Dari atas kapal, Sasangka melihat daratan kota negeri Malaka dengan perbukitan menjulang sebagai latar belakang pelabuhan, dengan benteng batu untuk pertahanan terlihat di berbagai sudut.


Negeri ini memiliki pelabuhan di muara sungai dengan dinding mengelilingi bukit pertahanan yang merupakan bagian dalam kota, lautan serta sungai yang di dalamnya, tepat di atas kaki bukit pertahanan, berdiri sebuah menara berbentuk persegi yang dinamakan Fortaleza de Malaca. Masing-masing sisi menara itu memiliki lebar 10 depa dan tinggi 40 depa. Tembok kuat dari batu terlihat mengelilingi perbukitan ini untuk dapat melihat pergerakan lawan yang datang dari laut.



Ada sebuah benteng berbentuk segi lima dibangun di titik terjauh dari tanjung di sebelah tenggara muara sungai menuju ke sebelah barat menara Fortaleza. Pada titik ini dibangun dua tembok pertahanan yang membentuk sudut siku-siku dan menyusuri garis pantai. Yang satu dibangun sepanjang 130 depa ke arah utara menuju muara sungai dan, sementara yang lain dibangun sepanjang 75 depa ke arah timur, menyusuri garis pantai, dan berujung di gerbang kota. Panjang keseluruhan tembok pertahanan mencapai 655 depa ditambah sedepa kurang 10 tapak tangan.


Ada 4 gerbang benteng kota Malaka, yaitu Porta de Santiago, Gerbang Pelataran Rumah Cukai, Porta de São Domingos dan Porta de Santo António.


Dari empat gerbang ini hanya dua yang terbuka untuk umum yaitu Gerbang Santo António yang membuka jalan ke kawasan pemukiman Yler atau Hilir, dan gerbang barat di Pelataran Rumah Cukai yang membuka jalan menuju Tengkara beserta pasar yang disebut juga dengan Bazaar.


__ADS_1


Sama seperti banyak kota-kota buatan negeri bule di nusantara, seperti pula Betawi, di luar pusat kota yang dilingkungi tembok benteng, berdiri tiga perkampungan. Yang pertama adalah Upe atau Upih. Kampung ini lazim disebut Tranqueira atau Tengkera dalam lidah Melayu, yang bila diartikan bermakna' dinding pertahanan'. Dua perkampungan lainnya adalah Kampung Hilir yang disebut dalam lidah orang Pranggi sebagai Yler, serta disebut juga sebagai Tanjung Pasir serta satunya adalah Sabba.


Kampung Tengkara adalah pemukiman yang teramai dan terpenting di Malaka karena berada paling dekat dengan kota di dalam tembok benteng. Perkampungan ini berbentuk persegi panjang, dengan tembok pertahanan di batas utaranya, Selat Malaka sebagai batas selatannya, serta Sungai Malaka yang disebut Rio de Malaca dan tembok menara Fortaleza menjadi batas timurnya. Karena keistimewaannya sebagai kawasan pemukiman utama kota Malaka, bilamana perang meletus, warga Tengkara akan diungsikan ke dalam benteng.



Para warga Kampung Tengkara terbagi menjadi dua wilayah sesuai aturan pembagian Nasrani Katolik serta berdasarkan suku bangsa. Pertama di kawasan Nasrani Katolik yang disebut Paroki São Tomé yang dikenal dengan nama Campon Chelim atau Kampung Keling, dimana penghuninya adalah orang-orang Keling warga pendatang dari Kerajaan Kalingga di pesisir Pantai Koromandel negeri Hindustan. Kelak, Jayaseta akan kembali dipertemukan nasib dengan sang guru, Kakek Keling, di tempat ini oleh sebuah keperluan yang Kakek Keling sendiri masih rahasiakan dari muridnya sejak di Giri Kedaton tersebut. Wilayah kedua adalah Paroki São Estêvão juga dinamakan Campon China atau Kampung Cina. Sesuai namanya, warga Cina lah yang tinggal di kampung ini.


Di dalam kawasan Kampung Tengkera ini rumah-rumah terbuat dari kayu dan beratap genting. Ada sebuah jembatan batu dikawal prajurit Pranggi dan orang-orang pribumi atau nusantara melintas di atas sungai Malaka, menjadi jalan masuk ke dalam Benteng melalui Pelataran Rumah Cukai. Pentingnya kawasan ini juga disebabkan karena pusat niaga dan perdagangan Malaka juga bertempat di Tengkera, berdekatan dengan pantai di muara sungai. Pusat niaga ini dijuluki sebagai Bazaar dos Jaos yang dalam bahasa Melayu berarti Pasar Orang Jawa, karena tak sedikit orang-orang Jawa yang cakap dalam berdagang bertemu dan diperbolehkan berdagang si tempat ini dari berbagai penjuru nusantara.


Kelak, ia akan menawarkan kerjasama dengan warga kampung penyulingan arak di Kampung Sabba Sunting, kemudian melalui orang-orang Jawa di Pasar Orang Jawa, ia akan mengatur pengiriman barang untuk dijual di kota Malaka.


Untuk memperlancar segala urusannya, sang mertua, menulis pesan khusus dalam beberapa lembar surat kepada rekan dan kawan lamanya yang tinggal di kawasan Kampung Cina di wilayah Paroki São Estêvão Kampung Tengkera dan di wilayah tengah Malaka, yaitu Yler atau Kampung Hilir, tepatnya di sebuah kawasan yang bernama Bukit Cina. Hanya saja, Sasangka benar-benar diminta hati-hati dan waspada ketika masuk ke kawasan Kampung Hilir ini karena merupakan tempat tinggal orang-orang keturunan bule Pranggi.


Sasangka menghela nafas panjang. Ia harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, sekaligus tetap waspada. Ia memang berada di sebuah titik yang serba salah.

__ADS_1


Perkara perdagangan arak ini luar biasa penting bagi keluarga dan masa depan keluarganya. Meski ia tak terlalu peduli dengan kesejahteraan dan kekayaan serupa orang-orang Cina di Betawi, tapi membawa sifat kependekarannya dalam kehidupan perkawinannya bukanlah sebuah pemikiran yang bijak. Sebagai pendekar, berkelana adalah sebuah kewajaran. Namun, ia sendiri telah memutuskan untuk menikahi Lau Siufan, maka ia harus menjadi seorang suami yang bertanggungjawab menghidupi keluarga serta menghormati mertua pula.


Babah Lau telah memikirkan baik-baik dan berani mengambil kesempatan untuk membuka urusan dagang dengan Malaka yang kini makin panas hubungannya dengan pemerintahan Walanda di Betawi. Menurut perkiraan Babah Lau, dalam jangka waktu yang tak lama, dua atau tiga tahun lagi, Walanda dan sekutu-sekutu pribuminya akan menyerang Pranggi di Malaka dan pasti akan memundukkannya. Bila itu terjadi kelak, Sasangka telah membuka jalan perdagangan yang tertata baik dari Betawi ke Malaka melalui orang-orang Melayu pembuat arak, pedagang Jawa dan rekan-rekan Cina. Harusnya ini adalah sebuah tugas yang menantang namun teratur dan berpola.


Hanya saja, Sasangka dari awal benci orang-orang Walanda. Orang-orang bule itu yang membuat sahabat-sahabatnya terbunuh dengan memedihkan. Mereka menambah kekaucauan di nusantara yang sudah kacau sebelumnya oleh persaingan kekuasaan antar bangsa dan antar kerajaan. Parahnya, mereka memainkan peran dengan mengadu domba dan mengambil keuntungan dari kisruh tersebut.


Saat inipun, memandang dinding benteng terentang sepanjang perbukitan, Sasangka sudah diam-diam memerhatikan beberapa orang dalam kumpulan pedagang pelayar Jawa yang terlihat sibuk menurunkan barang dagangan.


Sekilas, mereka terlihat biasa dan umum saja. Namun, berani sumpah Sasangka pernah melihat mereka di Betawi, tepatnya di kedai arak milik Babah Lau, mertuanya. Mereka adalah jawara-jawara di Betawi yang banyak jumlahnya bertebaran mencari makan dengan mengabdikan kemampuan berkelahi mereka sesuai keperluan para pembayar orang-orang bule Walanda.


Naluri Sasangka memang tak salah. Sekelompok orang yang pernah ia lihat, bahkan beberapa kali datang ke kedai arak Babah Lau di Betawi tersebut memang adalah orang-orang suruhan pemerintah bule Walanda. Bahkan sejatinya mereka adalah anggota kelompok Jarum Bumi Neraka yang masih menyisakan beberapa sumber daya mereka yang masih laku dijual kepada Walanda.


Keberadaan Malaka dan ketegangan antar dua negara bule di nusantara itu sebentar lagi akan meledak. Selain bekerjasama dengan orang-orang Melayu di pulau Samudra, Walanda juga melakukan semua hal yang memungkinkan untuk mengacaukan Malaka dan nantinya akan mengalahkan Pranggi sertai mengusir mereka dari Malaka.


Sasangka berjalan turun dari kapal layar dan terus memerhatikan gerombolan pelaut pedagang Jawa yang ia yakin pernah lihat sebelumnya. Ia mengencangkan ikatan penutup kepalanya, menduk, melingkarkan kain di lehernya dan sedikit menaikkannya agar menutupi bagian dagu dan mulutnya, kemudian membuntuti kelompok orang yang mencurigakan tersebut. Nampaknya ia akan repot lebih dahulu sebelum pergi mengurusi perihal perdagangannya araknya ini.

__ADS_1


__ADS_2