Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lamina


__ADS_3

Seperti diketahui, baju besi memang tidak terlalu akrab dan awam dikenakan oleh para pasukan dan prajurit nusantara. Ini dikarenakan cuaca panas negeri-negeri nusantara yang membuat si pemakai akan merasa gerah dan juga menyulitkan pergerakan.


Hanya saja ketika melawan bangsa asing seperti pasukan bule misalnya, hal ini menjadi hal yang merugikan pihak pasukan nusantara itu sendiri.


Seratusan tahun yang lalu, tepatnya tahun 1511 Masehi, bangsa Pranggi menyerang tanah Melayu di Malaka.


Kapal-kapal bule Pranggi di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque menyerang pelabuhan Malaka dengan meriam dan tembakan-tembakan bedil dari kapal-kapal mereka selama seminggu. Benteng-benteng Malaka hancur dengan mayat-mayat prajurit Malaka berserakan.


Pasukan Melayu merasa tidak terlalu akrab dengan baju besi yang bagi mereka terasa panas di tubuh dan dapat membuat gerakan mereka lambat. Sialnya, serangan meriam dan bedil menembus tubuh mereka dengan mudah. Padahal bila dilihat kekuatan senjata, bahkan para serdadu dan Perwira Pranggi mengakui bahwa persenjataan Malaka sama baik mutunya dengan senjata api milik negara-negara bule Eropa seperti ratusan meriam dari bahan besi dan kuningan.


Pasukan Melayu Malaka hanya bertahan di balik benteng dengan membalas tembakan. Tentu saja serangan mereka kerap tidak dapat menembus baju besi pasukan Pranggi karena ditembakkan dari jarak jauh.


Memang, ada beberapa prajurit pendekar yang memiliki ilmu kebal, namun tidak semua orang bisa melalui latihan bertahun-tahun dan menggembleng diri menjadi jawara tangguh. Para pendekar ini pun banyak yang akhirnya tewas saking besarnya serangan yang dilakukan.


Ada pula ditemukan mayat-mayat prajurit Malaka yang mengenakan baju besi yang oleh lidah Melayu disebut lamina. Orang Bugis menyebutnya lamena dan orang Toraja menyebutnya Sa 'Dan. Baju zirah tanpa kerah dan lengan ini adalah pelindung tubuh dari serangan senjata tajam atau peluru terbuat dari lempengan logam dan rantai.


Bagian belakang terdiri dari lempeng kuningan persegi panjang kecil sedangkan bagian depan pakaian terdiri dari cincin kuningan. Beberapa lempeng kuningan persegi panjang melekat pada cincin kuningan, yang membentang dari ketinggian tulang selangka ke sekitar tepi bawah lengkungan tulang rusuk dada.



Lempeng kuningan bertujuan untuk memperkuat rantai baju besi di bagian dada dan panggul yang lebih rentan oleh serangan.


Namun, dibandingkan dengan baju besi Pranggi yang merupakan besi utuh, lamina memang lebih lemah.


Baju zirah dan pelindung kepala besi kaum Pranggi yang digunakan menyerang Malaka tetap membutuhkan penyesuaian dengan suhu dan musim di nusantara, apalagi mereka menyerang menggunakan kapal, sehingga tidak seberat dan pasukan darat di Eropah sana.



Pasukan Malaka bisa membunuh prajurit Pranggi dari jarak dekat, misalnya panah, sumpitan beracun, keris, tombak, pedang dan parang yang menyasar leher, ketiak, paha dan bagian-bagian tubuh yang tak terlindungi baju besi. Itupun ketika pasukan Pranggi turun ke tanah setelah seminggu serangan meriam dan bedil dari kapal.


Ketika sampai di pelabuhan dan benteng Malaka, prajurit Pranggi muncul dengan bersenjatakan sebuah tombak panjang yang disebut pique atau pike dalam bahasa bule Britania Raya.


__ADS_1


Tombak ini luar biasa panjang, melebihi panjang tombak blandar. Selain itu, para pasukan pique ini disertai dengan pasukan dengan senapan lantak. Kedua pasukan ini disebut sebagai terço, yang membuat musuh kesulitan masuk menyerang karena keduanya berlapis-lapis, saling dukung.



Seperti diketahui, bahwa pasukan bule tidak banyak yang memiliki ilmu kanuragan atau silat sehingga mereka memanfaatkan ilmu pengetahuan, kecerdasan dan persenjataan yang mumpuni, ringkas dan maju.


Ketika pertempuran yang berlangsung selama hampir sebulan itu berakhir, korban tewas di pihak pasukan Pranggi hanya sekitar 30 orang, meski ada ratusan korban luka karena serangan dari pasukan Malaka yang bisa mendekati mereka dan menyerang bagian tubuh yang tak terlindungi oleh baju besi. Sedangkan, ribuan pasukan Melayu tewas oleh serangan orang-orang Pranggi tersebut.


***


Pratiwi sudah berdiri di hadapan Sasangka yang baru saja membopong Jayaseta yang tak sadarkan diri.


Ia mengenakan pakaian perang serupa kemben rompi lamina, dengan lempengan-lempengan besi buatan Sukadana di negeri Tanjung Pura yang disambung dengan rantai-rantai besi. Dua lempeng besi yang direbut Jayaseta sudah dibetulkan dan dipasang kembali dengan lempengan baru.



Pratiwi juga merancang baju itu dengan memadukan ilmu pengetahuan kaum bule seperti Pranggi dan Walanda sehingga mutu dari lempengan besi itu bagus namun tetap dikenakan sesuai gaya nusantara agar mudah untuk bergerak, berbeda dengan baju zirah Pranggi yang harus dikenakan dalam suasana perang besar dan melindungi oleh pasukan lain.


Sepasang ujung keris tanpa luk nya menghadap ke bawah, meneteskan darah segar.


Sasangka meletakkan tubuh Jayaseta ke tanah dan menghunus kembali wedhungnya.


Bila tak melihat kegilaan dan kekejaman gadis muda ini, Sasangka pasti setuju dengan kebanyakan pria bahwa sosok Pratiwi cantik rupawan adanya.


Tubuh mungilnya padat, termasuk sepasang payudara mungilnya yang tersembunyi di balik kemben rompi lamina. Kulit hitam manisnya mulus basah oleh keringat yang memantulkan cahaya matahari yang merangkak naik ke ubun-ubun.


Sasangka melihat ke belakang Pratiwi namun tak mendapati ketiga rekan-rekannya.


"Jangan repot-repot mencari. Mereka sudah langsung kuantar ke neraka," ujar Pratiwi masih dingin.


Pegangan genggaman dan jemari Sasangka pada gagang wedhung menguat sampai ia sendiri merasakan sakit. Ia tak percaya perempuan kejam ini berhasil membunuh ketiga rekannya dalam beberapa tarikan nafas saja.


Amarahnya memuncak sampai ingin keluar melalui puncak kepalanya.

__ADS_1


Sasangka berteriak keras sembari menghambur ke arah Pratiwi, "*******! Kubunuh kau! Heyaaaa ... !!"


Pratiwi nampaknya tak mau menghabiskan waktu berlama-lama dengan orang yang terlihat jelas bagai banteng terluka karena mendapati teman-temannya telah tewas di tangannya. Pratiwi tak gentar, bahkan banteng pun hanya sekadar binatang.


Pratiwi mundur selangkah, selangkah lagi dan berguling ke samping sampai tiga serangan beruntun Sasangka lolos. Tak perlu lama, salah satu keris Pratiwi dengan gampang masuk ke paha Sasangka. Pratiwi mencabutnya dan memberikan satu tendangan keras ke pinggul musuh.


Sasangka berteriak kesakitan dan jatuh terlempar dua tombak jauhnya, tak sadarkan diri.


Pratiwi mendekati Jayaseta. Terlihat wajah khawatir yang tulus dan tak pura-pura dari wajahnya. Ia melepaskan topeng Hanuman dari wajah Jayaseta. Air muka gadis ini diliputi rasa haru, kagum, rindu dan asmara ketika melihat wajah sang pujaan hati. "Kakang Jayaseta. Maafkan adinda yang tak memahami keadaan kakang selama ini. Adinda tak mengetahui perihal luka dalam kakang," Pratiwi menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh. "Tapi, adinda berjanji akan membawa kakang jauh dari sini dan mencarikan obat yang mujarab sehingga kakang bisa sembuh dan kita dapat bersama untuk selamanya," ujarnya kembali.


Pratiwi berlutut mendekati Jayaseta hendak menyentuhnya ketika ia merasakan ada desiran angin dari arah belakang tubuhnya.


Pratiwi melompat dan berguling ke depan. Tombak trisula Narendra menusuk ruang kosong.


Pratiwi bangkit dengan kesal. Sepasang kerisnya kembali digenggam erat.


Di belakangnya, Katilapan melemparkan sepasang tongkat rotan kali nya. Dengan mudah Pratiwi berkelit pada satu tongkat dan menepis satunya lagi dengan keris nya.


Katilapan meraung maju dan menusukkan ginuntingnya bagai paruh burung elang. Pratiwi kembali mengelak, sekaligus bergulingan ketika Narendra tak tinggal diam menyerang dengan tombak trisulanya.


Pratiwi menggeram tak kalah sengit. Ia harus membawa Jayaseta pergi dari sini. Ia harus menghabisi kedua ******** tengik ini.


Dengan gerakan lincah bagai seekor tupai, Pratiwi memutus jarak antara dirinya dan Narendra dengan tombak panjangnya. Ia bergulingan dan meloncat sehingga sepasang kerisnya mendekati musuh.


Narendra tersentak ketika ujung keris mencium pipinya. Ia mundur ke belakang jauh dan merasakan darah mengalir dari lukanya tersebut.


Pratiwi tak berhenti, ia melontarkan tubuhnya mengejar Narendra. Yang merasa diserang melemparkan tombak trisulanya untuk menghadang laju Pratiwi.


Pratiwi sekadar berputar sehingga lemparan tombak tak mengenainya, namun rupa-rupanya Narendra sempat memungut wedhung milik Sasangka yang terjatuh ke tanah. Ia juga melemparkannya ke arah Pratiwi.


Gadis pendekar itu kaget, namun tetap mampu mengelak. Sayang ia tak sadar bahwa Katilapan sudah ikut menyerangnya.


Dua tebasan ke arah kepala Pratiwi dapat ia hindari, namun satu tusukan dan dua babatan menyilang sekaligus mengenai tubuh Pratiwi.

__ADS_1


Percikan api terlihat sebelum Pratiwi tersentak mundur ke belakang.


Pratiwi bangun. Air wajahnya berubah menjadi mengerikan, "Tidak ada seorangpun boleh menyentuhku selain kakang Jayaseta!" ujarnya.


__ADS_2