
Nyata-nyata Panglima Asuam bukan seseorang yang dengan gampangnya menerima malu. Kelemahan ilmu kebalnya sudah terbuka sama sekali. Paha bagian dalamnya sobek oleh do sang Temenggung sehingga semua prajuritnya mengetahui bahwa sosok sakti pemimpin perang mereka ini pada akhirnya dapat terluka.
Panglima Asuam mencoba berdiri. Mempersiapkan dirinya kembali dengan parang pandatnya. Ia meludahkan beragam jenis dedaunan yang ia kunyah sedari tadi. Mulutnya tak lama kembali mengunyah bahan-bahan tak dikenal dari tanaman yang baru saja ia ambil dari kantong yang sama sembari merapal mantra.
Darah di pahanya seketika berhenti mengalir keluar.
"Kyaaak.... Kyaaakk... Aaauuu.. Aauuu.... Auuuu ....," teriakan semangat dan perang menggema dari para prajurit yang menyaksikan sang pemimpin kembali pulih seperti sediakala. Rasa bangga membuncah di hati mereka untuk melihat kembali kekuatan dan kesaktian Panglim Asuam. Mereka mengacung-acungkan senjata dan perisai mereka ke udara.
Perang selalu mahal.
Pertempuran dan peperangan di pulau Jawa, misalnya, menghabiskan dana yang tidak sedikit.
Harga logam seperti besi dan baja lumayan tinggi, sehingga para prajurit biasanya lebih banyak dibekali dengan tombak dan tameng. Untuk perwira yang lebih tinggi, keris dan pedang suduk digunakan sebagai tambahan atau cadangan senjata, sedangkan para panglima perang lah yang memiliki pedang dengan mutu baik.
Namun, melihat pemandangan di tempat ini dimana para prajurit Daya yang mengacung-acungkan senjata mereka ini menjadi cukup berbeda. Setiap prajurit Biaju memiliki semua kelengkapan dari baju tempur, tombak dan tameng serta pedang bermutu tinggi seperti do, parang pandat atau naibor. Bilah-bilah logam itu berkilauan diterpa cahaya matahari terik yang menyelip diantara pepohonan dan batang-batang kayu ulin yang berdiri membentengi kampung.
Dengan semangat yang diberikan oleh para prajuritnya, Panglima Asuam kembali melompat maju menyerang lawan.
Kembali, pertempuran kedua pemimpin yang sama-sama sakti ini pecah. Setiap babatan parang pandat dan do menyentuh sedikit saja bagian tubuh, maka percikan api terlihat jelas. Padahal yang dibenturkan adalah bilah besi dan kulit. Jelas tubuh kedua pendekar ini sekeras besi itu sendiri.
Tapi memang tak bisa dipungkiri bahwa Temenggung Beruang berada setingkat di atas Panglima Asuam. Gerakan dan jurus-jurusnya begitu cepat dan mematikan. Kini, dalam enam jurus, Panglima Asuam kembali keteteran.
Tak lama do sang Temenggung kembali berhasil memapras paha bagian dalam Panglima Asuam kembali. Darah kembali mengucur deras. Tidak sampai disitu, sang Temenggung masih sempat memberikannya sebuah sepakan telak dan keras ke paha yang sama sehingga ia dapat mendengar bunyi retakan tulang pahanya sendiri.
Panglima Asuam berguling jatuh dan tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Ia sama sekali ambruk.
Seperti diketahui, dalam sebuah pertempuran, tidak benar-benar ada yang dimaksud dengan aturan. Orang-orang boleh berseloroh mengatakan bahwa tindakan ksatria akan tetap diagung-agungkan dalam sebuah peperangan, menjadi sejarah dan pelajaran pekerti. Misalnya saja tak membunuh lawan yang sudah menyerah, tak membunuh masyarakat atau rakyat jelata yang tak ambil andil dalam peperangan, atau tanding satu lawan satu para pemimpin pasukan.
Pada kenyataannya, kelak hanya pemenang yang berhak menceritakan mengenai dongeng kepahlawanan ini. Sedangkan pihak yang kalah akan jatuh dalam kenistaan pecundang.
Jadi, ketika Temenggung Beruang hendak menyelesaikan pertarungan ini dengan sekalian menghabisi Panglima Asuam, para prajurit langsung menahan serangan sang Temenggung. Mereka melemparkan lembing ke arah musuh.
__ADS_1
Tiga tombak melayang cepat siap menusuk tubuh Temenggung Beruang yang dengan gesit dan cekatan menepis kesemuanya dengan do dan tangannya. Tiga tombak itu tak melukai tubuhnya sama sekali, namun cukup untuk menyelamatkan sang pemimpin prajurit Biaju dari kematian oleh Temenggung Beruang yang ganas itu.
Panglima Asuam memaki-maki dengan kata-kata kasar dan kotor, menyumpahi kekalahannya. Ia bahkan terpaksa dipapah oleh dua orang prajurit agar dapat mundur menjauh.
"Bang*sat! Anj*ing! Kemana orang-orang itu, mengapa belum terlihat wajah sialan mereka itu? Aku ingin Beruang mampus di hadapanku. Biarkan aku yang akan memotong kepalanya dengan tanganku sendiri!" ujar Panglima Beruang penuh kemarahan. Mungkin kata-katanya membingungkan, entah merujuk pada perihal apa. Namun semua menjadi jelas ketika rombongan orang-orang Jawa, tambahan pasukan serta para pembawa be*dil sudah terlihat berbondong-bondong masuk ke dalam benteng.
Tujuh orang pembawa bedil langsung berbaris sisi demi sisi di depan Panglima Asuam dan mengarahkan moncong be*dil mereka ke arah sang Temenggung.
Sisanya, orang-orang Jawa yang datang turun dari jukung, setelah membunuhi saudara-saudara mereka sendiri sesama orang Jawa, juga bersiap dengan tombak dan keris.
Mereka adalah orang-orang Jawa yang bersekongkol dengan para Biaju, menetapkan jalan mereka membantu memenangkan pertempuran melawan suku Daya di kampung di balik benteng kayu ulin itu. Ketika mengetahui dari Datuk Mas Kuning bahwa Jayaseta berada di benteng itu dalam rangka memulihkan diri, mereka memutuskan untuk segera ikut menyerang mengikuti arahan Panglima Asuam yang bekerjasama dengan mereka. Mereka khawatir Jayaseta menjadi semacam tambahan kekuatan bagi benteng itu. Orang-orang Jawa ini juga berharap Jayaseta masih dalam masa penyembuhan bila mereka berhasil ikut menyerang tepat waktu.
Masalahnya, tidak semua orang Jawa rombongan mereka yang ada di Sukadana saat itu setuju untuk ambil bagian dalam perihal ini. Banyak dari mereka hanya ingin memusatkan perhatian pada kehidupan sehari-hari dengan berdagang, bertani atau beternak. Apalagi, tiba-tiba mereka kedatangan dua orang dari Semarang yang mengaku sebagai orang dekat Jayaseta, yaitu Narendra dan Katilapan.
Maka, ketika mereka berhasil membawa jukung beserta beragam peralatan tempur, para Jawa ini membunuh orang seperahu mereka yang tidak mengetahui tujuan mereka, yaitu membantu Biaju menaklukkan suku Daya berbenteng kayu ulin yang dikepalai oleh Temenggung Beruang, ketika dijemput oleh pasukan Biaju tambahan yang bersenjatakan sumpit dan panah.
Ketujuh pembedil yang telah siap menembakkan pe*luru mereka itu kini tinggal menunggu perintah saja.
SYUUTTT.. SYUUUTTT ...!!!
Tidak seperti yang diduga, anak panah terlepas dari busur beberapa orang Daya, bukannya pe*luru dari tujuh pucuk be*dil.
Temenggung Beruang hanya memapras dengan mudah serangan-serangan itu sehingga menggugurkan batang-batang anak panah.
Namun, saat itulah ...
DAR ... DAR ... DAR ... DAR ...!!!
Kepulan asap mengangkasa. Tujuh pel*or lepas dari be*dilnya. Tujuh pe*lor yang dibuat dari besi yang diambil dari bagian bawah belanga besi dan dicairkan menjadi biji-biji bulat itu menembusi kaki, bahu, lengan bahkan perut Temenggung Beruang.
Sepasang bola mata putih sang kepala suku menghilang, menjadi berwarna hitam kembali seperti sediakala.
__ADS_1
Darah membanjiri tubuh kepala suku bertubuh kecil itu. Ia ambruk ke tanah disertai gemuruh sorakan kemenangan para prajurit Biaju dan sekutunya.
Seorang pendekar utama kampung itu yang mereka takuti, sehingga bahkan pemimpin pasukan mereka pun tak bisa mengalahkannya, kini berhasil dilukai, mungkin sedang menunggu ajalnya.
Terimakasih kepada sang menantu, Kumang, yang membeberkan kelemahan ajian kebal mertuanya sendiri, sang Temenggung, yaitu tujuh orang penembak dengan tujuh p*eluru dari bahan besi yang diambil dari bagian bawah kuali, dipastikan dapat menyobek kulit kebal sang pendekar.
Kemenangan sudah ada di depan mata, para prajurit Daya siap mencincang tubuh Temenggung Beruang.
"Sisakan kepalanya buatku!!" seru Panglima Asuam.
Ia sudah tak mampu mencegah para prajuritnya menghambur ke arah Temenggung Beruang yang telah terluka itu. Jelas ia sendiri yang bermimpi mengalahkan sang kepala suku itu, tapi ia sudah kalah telak sedari tadi, sedangkan sekarangpun ia terpaksa mengunyahkan kembali dedaunan dan merapala mantra sehingga luka di pahanya kembali hilang dan tulang pahanya kembali utuh, sedangkan sementara itu yang bisa ia lakukan paling tidak meminta para prajuritnya untuk tidak memenggal kepala lawannya tersebut.
Namun tanpa diduga, gelombang prajurit tiba-tiba buyar bagai ilalang yang ditebas.
Tiga orang terlempar, dua orang terdorong dan menggelinding ke belakang, sisanya menghentikan gerakan laju mereka.
Di depan mereka kini berdiri Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu yang barusan menerjang para penyerang dengan tendangan dan tubrukannya yang bagai seekor banteng atau badak tersebut.
Jayaseta memandang tajam kumpulan musuhnya dari balik topeng. Mandaunya ia mainkan, diputar-putar dan diarahkan ke lawan sebagai semacam gerakan ancaman.
Jayaseta menurunkan tubuhnya, membentuk sebuah kuda-kuda rendah. Ia resapkan semua jurus dalam Jurus Tanpa Jurus. Prajurit bertombak dan do Biaju, pemanah Biaju, pasukan tombak dan keris serta penembak be*dil Jawa, beberapa sisa pasukan dan pembantu Daya Kudangan bawahan Pendekar Harimau Muda Kudangan yang masih dapat bertarung, dibantu para jipen yang memilih berperang dibanding pergi bebas, kini semakin mempererat pegangan mereka pada senjatanya.
Jayaseta mundur perlahan, mendekati sang Temenggung yang bermandi darah. Tak butuh waktu lama bagi Jayaseta untuk mengetahui bahwa sang tetua akan segera meninggalkan dunia.
"Inilah kekuatan yang didapatkan secara gaib, pendekar. Ia sangat kuat dan mengerikan, namun bahkan arwah dan roh leluhur serta para dewa akan meninggalkanmu ketika kau tak lagi dapat mengandalkan dirimu sendiri," ujar Temenggung Beruang.
"Tetaplah hidup, Temenggung. Tunggu putramu, Punyan. Aku rasa ia akan segera kemari bersama para prajurit. Jangan tewas dahulu sebelum mereka datang," ujar Jayaseta jujur.
Temenggung Beruang terbatuk kemudian tertawa. "Aku berjanji tak akan mati dulu. Aku masih ingin melihat sepak terjangmu menghadapi mereka."
Jayaseta memandang kelompok orang di depannya yang terlihat sekali kikuk. Pemanah segera memasang anak panah pada busur mereka. Para penembak kembali mengisi be*dil mereka dengan biji besi dan bubuk api. Sisanya bergerak-gerak mencari tempat dan waktu yang tepat dan pas untuk bertindak. Ia juga akhirnya sempat melihat tubuh lemah Dara Cempaka yang terikat di sebuah batang pohon bersama para warga perempuan dan anak-anak kampung lainnya yang juga terikat di beberapa pohon.
__ADS_1
Darah Jayaseta menggelegak. Ia mengangguk kepada sang Temenggung lalu memutarkan kembali mandaunya kemudian menerjang para prajurit yang bertebaran di depannya seorang diri tanpa menunggu mereka menyerangnya terlebih dahulu.