Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Rapier & Saber


__ADS_3

Dari mana kehebatan silat pedang bule Walanda itu berasal? Apa dan bagaimana sebenarnya silat pedang gaya mancanegara Eropah tersebut?


***


Bila ditilik kembali sejarah silat kerajaan Walanda dan negeri-negeri orang-orang pucat tersebut, ilmu bertarung dengan pedang atau senjata tajam telah ada sejak masa kekuasaan kemaharajaan Romawi, misalnya masa para petarung yang disebut gladiator yang tercatat dimulai pertama tahun 264 Sebelum Masehi. Para gladiator ini adalah orang-orang yang bertarung di dalam sebuah arena atau kandang dan ditonton oleh banyak orang sebagai hiburan.


Serupa dengan yang ada di Kerajaan Mataram, para gladiator tidak jarang adalah merupakan budak dan para penjahat yang dihukum mati dengan cara bertarung dengan sesama manusia atau binatang. Dalam pertarungan ini mereka dipersenjatai dengan beragam senjata tajam atau berbahaya lainnya. Tidak heran karena kata gladiator berarti 'jago pedang' atau 'pengguna pedang', dari kata gladius sendiri yang berarti pedang.


Kemudian pada ratusan tahun kemudian ketika kemaharajaan Romawi runtuh, negara-negara bawahannya yang lepas atau melepaskan diri mulai merasa memiliki pemerintahan dan harga diri mereka sendiri.


Banyak para petarung yang berasal dari golongan prajurit menguasai olah bela diri gulat dan ilmu pedang. Sebut saja pada tahun 1060-an di Kerajaan Jermania atau Prancis dimana banyak pertarungan satu lawan satu sampai mati terjadi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka.


Khusus ilmu pedang, negeri-negeri semacam Jermania, Italia, Britania Raya dan Pranggi memang memiliki banyak pendekar dan ahli pedang yang mengajarkan ilmu mereka pada para prajurit atau para pangeran, tuan tanah atau bangsawan dengan imbalan bayaran yang tinggi. Ini dikarenakan pada masa itu pertarungan dan peperangan adalah hal yang lumrah terjadi untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh diantara para penguasa tersebut.


Salah satu mahaguru ilmu pedang yang paling terkenal di negeri para bule adalah Johannes Liechtenauer dari Jermania yang merumuskan jurus-jurus pedangnya pada tahun 1300-an Masehi. Perguruannya yang rahasia bertahun-tahun kemudian baru dikenal dengan nama Kunst des Fechtens yang berarti Seni Berpedang.


Jurus-jurus pedangnya kemudian tersebar di seluruh Jermania dan selama ratusan tahun dipelajari dan dikembangkan oleh beragam mahaguru dengan senjata-senjata semacam pedang dan tameng, tombak, tombak bermata kapak, tongkat pendek dan panjang serta belati.


Jurus-jurus pedang Liechtenauer adalah jurus-jurus kuno yang digunakan sewaktu perang di masa lalu dengan menitikberatkan pada gerak kaki. Gerak kaki yang lincah ke depan belakang, samping kiri kanan serta bertumpu pada satu kaki untuk mengitari musuh dilatih dengan keras.


Gerak kaki juga digunakan untuk menghindari sapuan pedang musuh dan mengatur jarak serta menyerang dengan mendekati musuh dengan cepat. Setiap tebasan pedang harus diikuti dengan sebuah langkah.


Rumusan jurus pertarungan pedang yang telah tersebar inilah yang menjadi dasar jurus-jurus pedang di Jermania sampai sekarang, bahkan mempengaruhi semua negara bule seberang.

__ADS_1


Diam-diam Sebastian de Jaager berhasil mempelajari jurus-jurus kuno asli Liechtenauer dari sumber yang dapat dipercaya. Ia telah mempelajari banyak jurus-jurus berpedang di beragam negeri bule. Jurus-jurus pedang saber yang ia pelajari memang merupakan jurus-jurus pedang yang jauh lebih baru dan merupakan perkembangan dari jurus-jurus pedang Liechtenauer, namun ia berhasil menggali sumber rahasia dimana jurus-jurus pedang asli Liechtenauer tersimpan rapat.


Tidak hanya itu, ia juga berhasil mempelajari jurus-jurus rahasia karya mahaguru pedang Hans Talhoffer yang merupakan pengikut atau murid gaya pedang Liechtenauer sendiri yang jurus-jurusnya adalah pada penggunaan pedang panjang yang digenggam dengan dua tangan, jurus-jurus pedang dan perisai, pertarungan dengan belati, jurus merebut senjata dari tangan lawan dan melumpuhkannya, serta beragam jurus gulat dan kuncian.


Kemampuannya dalam olah pedang dan silat rahasia masa lalu ini melengkapi Sebastian de Jaager dalam ilmu pedang sabernya yang ia pelajari dalam pelatihannya di ketentaraan. Sama seperti adik jangkungnya, Devisser de Jaager, ia mempelajari jurus-jurus pedang yang diwariskan dari para mahaguru pedang Jermania, Italia, Prancis dan Britania Raya, terutama kerajaan Prancis yang telah menjadi sekutu negeri Walanda sejak tahun 1560-an Masehi.



Setelah kerajaan Jermania unggul ratusan tahun dalam kehebatan mahaguru-mahaguru pedang mereka, negeri Italia mengembangkan jurus-jurus pedang yang lebih ringkas dan sederhana namun sangat berbahaya dan membunuh. Penggunaan saber dan rapier menjadi pilihan dibanding pedang besar. Yang mengejutkan, jurus-jurus pedang ini diciptakan banyak oleh para ilmuwan, cendikiawan dan ahli hitung.


Mereka benar-benar melakukan penelitian dan perhitungan tertentu untuk mengenal jarak dan perhitungan yang cermat dalam jurus-jurus menyerang dan bertahan seorang jawara pedang. Misalnya saja Lippo di Bartolomeo Dardi yang merupakan mahaguru ilmu pedang sekaligus guru besar ilmu hitung dan ilmu bintang. Selain itu para mahaguru pedang juga berasal dari golongan darah biru, bangsawan dan bangsawan tentara atau pangeran. Sebutlah Pietro Monte, seorang guru pedang yang mengabdi pada Pangeran Urbino yang hidup pada tahun 1472 sampai 1508 Masehi.


Sebastian de Jaager memilih menggunakan saber, sebuah pedang melengkung, hampir serupa dengan pedang simitar dan shamsir namun dengan lengkungan yang lebih serupa dengan katana pedang asal Jepun, hanya saja katana lebih panjang serta bisa dan biasanya digunakan dengan dua tangan. Tebal dan panjang bilah pedang saber juga beragam. Ada yang lebarnya sekitar dua jari, ada pula yang seperti golok dan pedang pasukan Mataram Jawa, sekitar empat jari. Panjang saber dari setengah depa sampai lebih juga disesuaikan dengan sang pengguna.


Jurus-jurus dengan pedang saber lebih kepada kecepatan dan ketepatan menusuk dan membabat. Serangan saber dengan menusuk dianggap lebih cepat dan tepat guna dibanding memapras seperti pada jurus-jurus pedang dari nusantara, Cina dan Jepun misalnya. Oleh sebab itu, olah jurus kaki dan tumpuan kelincahan siku sangat diunggulkan.


Umumnya saber terdiri dari dua bagian utama, yaitu gagang dan bilah pedang. Gagang saber selalu dilengkapi dengan sebuah pelindung kepal dan jari yang berbentuk mangkuk di bawah pangkal pedang terus menyambung sampai ujung bawah hulu pedang. Sedangkan pada bilah pedangnya masih dibagi lagi menjadi tiga bagian.


Yang pertama disebut forte dalam bahasa Italia, yaitu bagian bawah bilah pedang dekat gagang yang ditempa lebih tebal sebagai dasar bilah pedang dan digunakan untuk menepis serangan pedang musuh. Bagian kedua di bagian tengah yang juga digunakan untuk menepis atau menangkis serangan. Yang terakhir disebut foible, yaitu bagian ujung pedang untuk menebas atau menusuk sasaran. Seluruh bagian bilah pada dasarnya tajam di bagian depan dan tebal dan tumpul di bagian belakang, namun ketajaman pedang di foible lah yang digunakan sebagai bagian serang utama.


Kuda-kuda pendekar saber sama sekali berbeda dengan para jawara pribumi di seantero nusantara, bahkan berbeda pula dengan kuda-kuda untuk menggunakan dao dan jian atau katana milik para samurai Jepun. Karena serangan pedang saber menitikberatkan pada keringkasan, kecepatan, kelincahan gerak kaki dan tusukan, maka sang pemain saber akan berdiri menyamping. Kaki kanan di belakang dan kaki kiri di depan secara lurus. Tubuh dan kaki berada dalam satu garis seperti seekor kepiting, bedanya seorang jawara saber berjalan meluncur ke depan dan belakang, bukannya berjalan menyamping atau melipir.


Pedang saber terentang ke depan, sedangkan tangan satunya akan bersembunyi di belakang tubuh. Bisa seperti berkacak pinggang atau dilipat di belakang punggung. Ini dimaksudkan agar menyulitkan tubuh menjadi sasaran serangan. Dengan kuda-kuda segaris semacam ini, penyerang akan kesulitan menyerang bagian-bagian tubuh sang pemegang saber dan sebaliknya si jawara saber akan mudah dengan cepat maju menusuk atau membabat musuh dan mundur menghindari serangan lawan. Sedangkan bagian bilah pedang yang tajam bisa diarahkan menyamping, kebawah bahkan ke atas.

__ADS_1


Sebastian de Jaager telah menguasai dengan baik kemampuan jari-jarinya dalam memainkan saber. Kelincahan kedua kakinya menciptakan jurus-jurus yang luar biasa cepat.


Walaupun sebenarnya jurus-jurus menggunakan rapier juga sedikit serupa dengan saber, Devisser de Jaager lebih memilih rapier. Rapier adalah sebuah pedang panjang, sekitar setengah depa atau lebih yang hanya selebar dua jari, namun sangat tajam di ujungnya serta cukup kuat untuk menepis serangan pedang lawan.



Beberapa jenis rapier lebih mengutamakan ujung yang lancip dibanding sisi bilah yang tajam. Sisi bilah yang tajam ini kerapkali hanya digunakan untuk mencegah lawan untuk merampas rapier dengan menggenggamnya. Serupa dengan saudara tua nya, saber, rapier juga memiliki pelindung jari dan kepalan. Bedanya bila saber memiliki pelindung berbentuk mangkuk, rapier memiliki pelindung berbentuk cincin-cincin yang rumit menutupi jari sampai dasar bilah.


Dasar bilah rapier yang tidak tajam ini digunakan untuk meletakkan jari telunjung atau ibu jari. Gunanya agar pengaturan serangan tusukan dapat dikuasai dengan baik karena jari-jari juga ikut bermain. Ini juga berarti dalam permainan rapier, jari-jari sangat berperan dalam penguasaaan terhadap pedang dan pengaturan jurus-jurus serangan.


Selain itu Devisser juga melengkapi dirinya dengan belati di pinggang kanannya yang digunakan berpasangan dengan rapier. Belati ini berguna layaknya tameng untuk menepis atau menghalau serangan musuh selain juga dapat digunakan untuk menyerang.


Pilihan terhadap rapier disebabkan Devisser lebih mengunggulkan jurus-jurus pedang kilatnya dan bahwasanya rapier memiliki tingkat dan sifat serupa dengan keris dan jian, yaitu senjata para bangsawan. Rapier kerap digunakan sebagai petunjuk bahwa sang empunya adalah seorang bangsawan atau dari tingkat kemasyarakatan yang lebih tinggi.


Rapier digunakan untuk pertarungan satu lawan satu antar dua laki-laki dalam mempertahankan harga diri mereka sampai mati. Itu sebabnya, Devisser lebih mempelajari jurus-jurus pedang dari negeri Italia dan Prancis dibanding sang kakak yang merupakan penggemar rahasia jurus-jurus kuno para mahaguru pedang negeri Jermania.


Namun, kedua saudara de Jaager tersebut akan sangat ampuh bila bersama. Jurus-jurus yang mereka gunakan saling melengkapi dan pertahanan mereka hampir tak dapat tertembus. Tusukan dan serangan cepat yang menjadi andalan mereka sangat diperhitungkan dan bergantung juga pada kepekaan indera mereka.


Hanya saja berbeda dengan para pesilat dari nusantara, tenaga dalam tidak menjadi pusat perhatian mereka. Mereka melatih kepekaan yang luar biasa terhadap serangan atau gerakan musuh, olah tubuh dan kelincahan yang dilatih habis-habisan setiap saat, serta kepercayaan diri yang tinggi, sama seperti yang dijelaskan oleh kakek Keling kepada Jayaseta.


De Jaager bersaudara dalam hal ini adalah sedikit dari perwira atau tentara bule yang masih memperdalam ilmu bertarung menggunakan senjata tajam, padahal kebanyakan prajurit bule sudah lebih banyak mengembangkan kepandaian mereka dalam menggunakan senjata api dan kepiawaian siasat bertempur bersama pasukan.


Pengalaman mereka berdua mengabdi di ketentaraan dan keprajuritan Walanda telah membawa mereka ke pelbagai belahan dunia. Mereka bertemu, berhadapan bahkan bertarung dengan jago-jago senjata, bahkan sampai bertaruh nyawa. Ada penjahat, pemberontak serta musuh kompeni Walanda. Ada pula pendekar biasa yang sengaja mereka tantang hanya untuk menjajal kemampuan silatnya.

__ADS_1


Sampai saat ini keduanya masih unggul. Jurus-jurus ringkas dan tepat mereka ini masih bisa diandalkan dan mendapatkan tempat tertinggi di dalam diri mereka sendiri. Kecepatan, ketepatan dan ilmu pengetahuan yang diterapkan dalam setiap langkah jurus-jurus pedang mereka masih menjadi jurus-jurus terbaik.


Sesampainya di nusantara, terutama Maluku dan pulau Jawa, keduanya mendapatkan tempat yang merupakan surga pendekar dan jurus-jurus hebat dan berciri khas. Namun, alih-alih memuji dan tertarik mempelajari ilmu silat nusantara ini, de Jaager bersaudara malah ingin menguji gaya silat-silat tersebut dan mengalahkannya sebagai bukti bahwa kemampuan mereka masih lebih tinggi. Sampai saat ini, hal yang mereka percayai ini masih terbukti benar adanya.


__ADS_2