Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pelataran


__ADS_3

Almira mengelus perutnya yang sudah mulai menunjukkan bentuk membulatnya. Pikirannya menerawang jauh, bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan sang suami dan apakah Jaka Pasirluhur telah berhasil menemukan sang tuan serta memberitahukannya berita bahagia ini.


Perempuan rupawan dengan hidung bangir itu sebenarnya tak ingin terlalu banyak berpikir. Ia tak hendak membebani diri dan calon jabang bayinya itu dengan banyak hal yang sebenarnya iapun tak benar tahu apa dan bagaimana.


Angin lembab Semarang berhembus di pekarangan rumahnya. Para prajurit penjaga sedang masanya berganti giliran. Ada empat orang prajurit dengan tombak dan tameng menjaga gerbang dan pekarangan rumah Almira yang luas itu. Sang nyai sendiri sedang duduk di atas sebuah kursi jati memandang ke depan di sore hari dengan cahaya matahari yang lemah tersebut.


Namun Almira hanyalah manusia biasa, seorang perempuan yang tidak luput dari pikiran dan perasaan yang dapat mempengaruhi hatinya. Selain kekalutan hati yang berhubungan dengan keberadaan dan kabar suaminya, ia juga baru saja mendengar kabar tentang serangan kerajaan Mataram ke Kerajaan Blambangan, kampung halamannya.


Kesultanan Mataram menyerang Kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Prabu Tawang Alun Pertama. Itu terjadi pada tahun 1638 Masehi, atau bisa dikatakan belum setahun yang lalu. Saat itu Kesultanan Mataram ahirnya berhasil menundukkan Blambangan, membuat Prabu Tawang Alun Pertama melarikan diri. Namun, disayangkan bahwa sang putra mahkota, Mas Kembar menjadi tawanan.

__ADS_1


Wilayah Blambangan dijadikan tempat pelarian bagi para keturunan raja Majapahit tahun 1527 Masehi setelah diserang oleh Kerajaan Demak. Sebelumnya, menjelang abad ke-15 Masehi, tepatnya tahun 1489 Masehi, Bima Koncar meneguhkan dirinya sebagai penguasa Lumajang dan Semenanjung Blambangan dan memerintah sampai tahun 1500 Masehi. Dulunya Blambangan adalah bagian dari wilayah Majapahit, sebuah kota pelabuhan di Majapahit Timur.


Bisa dimengerti bagaimana keluarga Arab Almira sampai disana di masa lalu. Perdaganganlah yang membawa kakek Almira sampai di tempat tersebut. kini, bagaimana kabar kampung halaman yang sedang bergelora dengan akibat peperangan tersebut.


Kerajaan Blambangan selalu menjadi rebutan beragam kerajaan dan wilayah di pulau Jawa. Kekuasaan terbesar selalu berusaha menundukkan kerajaan ini karena dianggap merupakan lumbung atau pusat sumber daya makanan dan keuangan. Bahkan kerajaan Demak yang telah mampu mengalahkan Majapahit dan menguasai sebagian besar wilayah Jawa Timur, tetapi usaha menaklukkan Blambangan mengalami kendala besar karena kerajaan ini menolak ajaran Islam. Memang Blambangan bisa dikatakan merupakan kerajaan beragama Siwa dan Wisnu terakhir di Jawa.


Bukan saja kesulitan, bahkan Sultan Trenggana sendiri, sang penguasa Demak, terbunuh di dekat Panurukan setelah lebih dari sembilan puluh hari tak mampu menembus kota Panurukan, apalagi untuk menundukkan Blambangan secara keseluruhan.


Sedangkan, selain sebagai kampung halaman dan tempat dimana ia dilahirkan, Blambangan juga salah satu pusat perniagaan dan perdagangan dimana usaha mendiang ayahnya dilaksanakan. Ia sebagai nyai, pelaksana lanjutan usaha niaga sang ayah tentu mau tak mau memikirkan nasibnya.

__ADS_1


Usaha ini bagi Almira bukan sakadar perihal cari untung semata, melainkan menyangkut harkat hidup orang banyak. Para pegawai, pekerja, rekan dan mitra, sampai pembantu dan prajurit penjaga semua memerlukan bantuan pekerjaan yang diberikan olehnya.


Usaha miliknya dan sang paman yang berpusat di Semarang dan Mataram sedikit banyak akan terkena imbasnya. Bagaimana hubungan antar daerah itu setelah serangan Kesultanan Mataram pasti memerlukan peninjauan kembali.


Almira menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Ia meneguk minuman jamu dengan ramuan khusus yang dibuat oleh simbok abdinya. Larutan pekat itu meski tidak terasa enak ternyata memberikan hasil dan pengaruh nyaman yang luar biasa kepada tubuhnya. Syaraf-syarafnya mendadak menjadi tenang. Begitu pula otot perutnya yang semula terasa terik dan tegang. Almira bahkan merasakan ia mulai bisa berpikir lebih jernih.


"Kau tidak bisa masuk! Tuan putri kami sedang tidak bisa ditemui!" terdengar seruan dari salah satu prajurit penjaga di luar gerbang rumah huniannya.


Dua prajurit penjaga di pelataran langsung mendekati Almira. "Mohon maaf, Nyai. Kami khawatir ada pengganggu yang mencoba masuk ke dalam rumah ini," ujar salah satu dari dua prajurit tersebut.

__ADS_1


Tidak sampai disitu, delapan prajurit lain yang semula berjaga-jaga di sekitar tembok dan rumah juga langsung ke depan ketika mendengar ribut-ribut tersebut.


"Ada baiknya Nyai masuk ke dalam rumah. Kami akan menjaga Nyai dari gangguan orang asing yang nampaknya berniat jahat tersebut."


__ADS_2