Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pedang Pekir


__ADS_3

Peperangan semata-mata hanyalah perkara kekuasaan dan penaklukkan. Orang-orang bisa berkilah di balik pertentangan suku, agama atau negara, namun nafsu mengatur kelompok yang kalah adalah tujuan sejatinya. Para raja dan pemimpin boleh berlindung di balik alasan bela dan cinta negeri, namun hasrat menundukkan lawan adalah keutamaannya.


Punyan sadar ini. Tapi ia memiliki alasan sendiri. Hidup dalam dunia penuh kekerasan dan perebutan kekuasaan ini harus mampu ia menangkan. Bukan untuk menguasai, tapi sebaliknya, menolak untuk dikuasai.


Dan ... Laki-laki yang berdiri di seberang sana, melalui para prajurit yang saling menubrukkan perisai, menusukkan tombak dan menyabetkan do nya, Panglima Asuam, adalah orang yang akan dan harus ia habisi.


Punyan berlari maju, melewati prajurit yang berperang, tak mengacuhkan mereka, langsung menuju sang lawan.


Bagai seekor kera, Punyan bahkan melompat, meloncat, mumbul dan melanting ke udara dengan begitu lincahnya.


Sabetan cepat mengarah ke leher Panglima Asuam yang menggeser kakinya mundur selangkah.


Punyan enggan mundur. Ia melompat tinggi dan menyasar kepala musuh.


PRAK!!


Serangan itu mengena ke sasaran. Kepala sang Panglima tertebas dan menghancurkan ikat kepala dengan bulu burung. Namun seperti yang diduga, tak ada luka apapun yang melukis sasaran.


Panglima Asuam tertunduk akibat kuatnya tebasan do musuh, namun kemudian ia dapat menghindar lagi ketika Punyan berteriak keras dan kembali menyerang.


Hanya saja, bukannya berkelit, kali ini Panglima Asuam menghindar sekaligus menahan serangan Punyan dengan sisi parang pandat nya. Percikan api menghiasi benturan kedua senjata itu.


Panglima Asuam kini yang bertekad membalas serangan Punyan. Maka, ia langsung menarik parang pandatnya, berputar dan membabat bahu lawannya.


Punyan terdorong ke depan akibat serangan tersebut. Panglima Asuam mengambil kesempatan ini menyasar bagian belakang leher Punyan,  namun Punyan sudah awas dengan keadaan ini hingga ia juga berbalik dan membalas dengan membabat balik.


TAK!!


Baik Panglima Asuam maupun Punyan terdorong ke belakang. Kedua serangan sama-sama mengena sasaran.


Tak ada luka berarti. Keduanya sama-sama kebal.


Panglima Asuam berdiri, menarik nafas dan menghembuskannya keras. Punyan juga ikut berdiri, memandang tajam ke arah musuh bebuyutan sukunya. Keduanya kembali ke kuda-kuda dan keadaan semula, siap menyerang.


***


"Pratiwi!" ujar Jayaseta.


Yang disebut tersenyum kecut, "Kau masih ingat aku, Kakang Jayaseta? Tak kuduga kau masih bisa mengenaliku meski dengan busana semacam ini. Apa aku terlalu berkesan bagimu?" balas Pratiwi. Namun ucapannya kali ini lebih berupa ungkapan sindiran, tidak seperti dahulu dimana ia selalu menggoda Jayaseta.

__ADS_1


Jayaseta sudah paham bahwa Pratiwi dan Karsa adalah dua orang dengan hubungan kakek cucu. Namun, mengapa dan bagaimana Pratiwi bisa sampai di tempat ini adalah masih merupakan sebuah teka-teki dan tanda tanya.


Karsa maju dan berdiri di samping cucu perempuannya tersebut. Ia terkekeh, "Kalau bukan cucuku, siapa yang bisa melakukan hal semengejutkan ini?" pujinya.


"Sudah, diam, kek! Masih banyak yang akan kita bahas setelah ini. Bantu aku mengalahkan orang itu. Tenaga dalamku belum pulih seutuhnya," bisik Pratiwi.


Ia kemudian berpaling ke arah Jayaseta. "Sudah kukatakan bahwa kita adalah jodoh, Kakang Jayaseta. Kau menolak menerimaku sebagai pasanganmu, namun aku baru sadar bahwa selama ini aku harusnya menetapkan diri sebagai pasangan lawan, bukan kekasih. Aku adalah orang yang akan melengkapi hidupmu. Akan kumusnahkan siapapun yang membuat hidupmu berharga, kakang!"


Pratiwi mengangkat kedua bilah kerisnya dan menundukkan tubuh siap melemparkan tubuhnya menyerang.


Namun Jayaseta sudah lebih dahulu berkelit. Tapi hal ini bukan karena bentuk serangan Pratiwi, tetapi karena tembakan senapan para penembak Jawa.


DAR!!


DAR!!


DAR!!


Tiga rentetan tembakan mengoyak celana pangsinya meski tak mengena telak tubuhnya. Serangan mereka rupa-rupanya sudah mulai semakin membahayakan.


Jayaseta melihat keadaan tersebut dengan cepat, kemudian memutuskan menghindari pertarungan ini sementara, dan bila mungkin membawa ke arah yang lain.


Ia berguling dan melompat pergi.


Ia sesungguhnya lebih kesal karena Jayaseta malah pergi, entah melarikan diri atau memiliki sebuah rencana tertentu. Tapi jelas, Jayaseta tak menganggapnya dan cenderung tak mengacuhkannya.


Sebaliknya, bagi pasukan Jawa penembak, Jayaseta seperti melarikan diri dari serangan mereka dan menunjukkan kelemahanannya. Maka, mereka memburu sang pendekar.


***


Jayaseta memutuskan tali yang mengikat tubuh Dara Cempaka di sebuah pohon bersama beberapa orang lain dengan sekali sabet.


Sepasang mata indah Dara Cempaka berbinar-binar bahagia. Ia sama sekali tak menutupi rasa itu kali ini di depan Jayaseta, bahkan dengan segera Dara Cempaka berdiri menubruk memeluk kekasih hatinya itu. "Abang akhirnya datang juga," ujarnya.


Jayaseta membalas memeluk gadis itu, kemudian memehartikan bahwa ada darah di belakang kepalanya, "Kau tak apa, Dara?" ujarnya khawatir.


"Adik tak apa, abang," jawab Dara Cempaka singkat.


Jayaseta memang lebih memilih menyelamatkan Dara Cempaka dahulu. Ini dikarenakan perang semakin menjadi. Desingan p*luru menyadarkannya bahwa bisa saja Dara Cempaka menjadi korban tembakan menyasar atau ketika orang-orang semakin menjadi-jadi saling menyerang, maka Dara Cempaka yang tidak bisa melakukan apa-apa dapat menjadi korbannya.

__ADS_1


"Jadi, dia perempuan itu?" ujar Pratiwi yang tiba-tiba juga sudah muncul dan berada di tempat itu. Karsa, kakeknya berdiri di belakangnya.


Jayaseta melepas pelukannya pada Dara Cempaka perlahan, namun ia masih merangkulnya, seakan memberikan perlindungan dan kenyamanan. "Ya, dia istriku. Lalu, apa pedulimu?" tegas Jayaseta.


Dara Cempaka yang semula bertanya-tanya dengan kemunculan dua sosok itu kini tak terlalu memerhatikan lagi. Pastilah keduanya musuh Jayaseta, berhubung pria itu adalah seorang pendekar pilih tanding yang membuat geram banyak orang jahat. Yang ia perhatikan dan rasakan sekarang adalah bahwa jantungnya berdetak cepat oleh rasa bangga. Jayaseta menyebutnya sebagai seorang istri.


Pratiwi tertawa. Tawa yang dibuat-buat. Ada rasa getir, pedih, perih sekaligus benci di baliknya.


"Sudah kukatakan, Kakang. Kita berjodoh. Lebih baik kau yakinkan dirimu untuk tetap tak melepaskan pandangan pada gadis itu, atau aku yang akan melepaskannya dari hidupmu. Tugasku sekarang adalah untuk mengimbangi kebahagianmu dengan penderitaanmu, kakang!"


Pratiwi siap menyerang kembali. Namun, lagi-lagi niatnya diganggu dan digagalkan rombongan penembak Jawa yang kini berada di samping mereka. Nampak-nampaknya para penembak ini diburu nafsu ingin menghabisi Jayaseta, sang pendekar bertopeng yang mahsyur namanya di pulau Jawa tersebut.


Jayaseta sontak melindungi Dara Cempaka dengan menutupinya menggunakan tubuhnya sendiri.


SLEP!!


SLEP!!


Dua benda tajam menembus tubuh dua penembak Jawa dari belakang. Satu adalah bilah tajam yang melengkung ke bawah seperti paruh burung, satunya lagi berupa tiga mata tombak yang dikenal dengan sebutan trisula.


Para penembak lain begitu terkejut dengan serangan pembokongan ini sehingga mereka juga tak sempat melakukan apa-apa. Maksud hati ingin mendapatkan kejayaan dengan membunuh Jayaseta, mereka malah mati dibantai habis dua sosok tak dikenal yang menusuk dengan tombak trisula dan menebas dengan pedang melengkung kedepan yang bernama ginunting itu.


Dalam satu tarikan nafas saja, para penembak asal Jawa tersebut meregang nyawa. Serangan kilat membuat mereka tak bisa merasakan hangatnya matahari lagi.


Jayaseta berseru girang melihat siapa yang hadir secara tiba-tiba tersebut, "Kakang Narendra! Kakang Katilapan!"


***


Kedua pendekar itu masih mencari kelemahan lawan. Kekebalan mereka membuat senjata tajam yang mereka genggam mulai cacat dan rompal di beberapa bagian.


Keduanya masih terus membacok. Tangan, bahu, dada, kepala bahkan kaki sudah saling terkena tebasan kedua pedang, namun Punyan dan Panglima Asuam main terlihat bugar, kecuali hati mereka yang sama-sama terbakar amarah.


Melihat jalannya pertarungannya dengan putra Temenggung Beruang itu, Panglima Asuam kemudian mengerahkan sebuah ajian kuno yang sengaja ia tahan untuk tidak digunakan kecuali terpaksa.


Bahkan sewaktu melawan Temenggung Beruang, ia rela terluka beberapa kali karena sudah terpaku pada rencana yang ia buat dengan sekutu-sekutunya. Maka, nyata adanya kini sang Temenggung sedang sekarat sebagai akibat rencana hebatnya. Namun sekarang, tinggal satu penghalang utamanya, sang putra.


Mengeluarkan ajian Pedang Pekir memerlukan pemusatan kekuatan dan perhatian yang tinggi. Tidak itu saja, kebalikan dengan Temenggung Beruang yang menggunakan ilmu do terbang dengan dibantu roh dan arwah leluhur serta para dewa, Panglima Asuam melibatkan setan, jin dan siluman dalam menuntaskan ilmu ini.


Panglima Asuam mundur tiga langkah, kemudian menurunkan kuda-kudanya sangat rendah. Ia meletakkan parang pandat nya di depan wajah, kemudian menggigitnya sembari merapal mantra di dalam hati.

__ADS_1


Tak lama parang pandat yang ia gigit menghilang!


Punyan terpelanting dan bergulingan mundur ke belakang. Ia bahkan terlempar dan punggungnya menubruk pohon. Darah segar muncrat dari mulutnya.


__ADS_2