
Tidak selalu sebuah jenis beladiri menghancurkan atau membunuh musuh dengan penggunaan tenaga dalam. Banyak sekali jurus-jurus silat yang dilatih sedemikian rupa agar dapat melumpuhkan musuh, baik karena serangannya ditujukan pada daerah di tubuh lawan yang lemah atau latihan pengerasan otot tulang sang pesilat.
Namun, ada pula jenis beladiri yang jurus-jurusnya melalui ilmu pengetahuan, sebut saja ilmu pedang dan beladiri orang-orang bule yang menggunakan pemikiran ilmu hitung atau ilmu jasmaniah.
Dim Mak, adalah salah satu jenis beladiri yang dikenal menggunakan pemikiran ilmu pengetahuan badaniah serta pengobatan selain juga menggunakan tenaga dalam yang disebut qi serta kekuatan yang disebut jin.
Gaya bertarung semacam ini tidak banyak dikuasai para pesilat, terutama dari asalnya, yaitu negeri Cina. Ini dikarenakan, penguasaan ilmu kanuragan ini harus disertai dengan pengetahuan tentang ilmu pengobatan termasuk tusuk jarum, serta penguasaan qi yang mumpuni.
Qi dilancarkan dengan jin sehingga membuat semacam getaran tenaga melalui pukulan, yang ditujukan harus tepat pada satu titik tekan atau kelemahan di tubuh manusia sehingga membuat musuh terkapar hanya dalam sekali pukulan.
Oleh sebab itu Dim Mak sendiri berarti 'menekan nadi' juga dikenal sebagai 'sentuhan kematian.' Sebuah pukulan yang cepat dan tepat pada titik aliran detak jantung di saat tertentu, akan segera memberhentikan detak tersebut. Sudah dipastikan siapapun akan tewas dengan sentuhan tersebut.
Ketika Lau Siufan hendak membantu Pratiwi yang terlihat sekali sedang kesusahan dan terdesak, tanpa diduga, Yu yang kini merenggut lengan sepupunya tersebut dengan erat dan menariknya mundur.
Lau Siufan mengerti bahwa sang sepupu tua nya ini cukup memiliki keadaan jasmani yang baik. Selain karena Yu adalah seorang tabib yang paham pengobatan dan bahan-bahan makanan yang menyehatkan, ia juga kerap melakukan olah tubuh. Tapi, Yu jelas tak terlihat belajar ilmu kanuragan, bagaimana kekuatan menarik lengannya dengan keras dan cepat itu didapatkannya?
Yu melompat ke dalam medan pertempuran dan memberikan dua pukulan beruntun ke bagian lambung dua orang penyerang, yang merupakan jawara Jawa. Keduanya melepaskan senjata mereka dan jatuh berlutut sembari memegangi lambung mereka.
Yu memukul titik tertentu di bagian hati mereka sehingga kedua kesulitan bernafas dan akibatnya sekarang mereka menggelepar di tanah melawan nafas yang tiba-tiba tercekat.
Satu prajurit Melayu terlalu terkejut sehingga ketika pukulan Yu mengenai titik penting di bawah jantungnya, ia tak sempat mengelak. Prajurit Melayu itu langsung tewas seketika dengan wajah membiru, jantungnya dipaksa berhenti berdetak.
Sang perwira bule Walanda yang memegangi lengannya yang kehilangan jari itu terdiam. Ia tak menyangka kejadian berbalik secepat ini. Ia juga masih melihat dua orang anak buahnya menggelepar berguling-guling di tanah karena kesulitan bernafas.
Pratiwi bangun dan tertawa menggila. Luka-luka di tubuhnya sebenarnya perlahan mengalirkan darah, tapi perempuan pendekar ini sama sekali tak merasakannya.
"Kau penuh kejutan, Yu. Kau luar biasa! Jurus sekali pukul sentuhan kematian ternyata benar adanya. Aku tak menyangka, laki-laki lugu sepertimu menyimpan harta sebegini kaya," ujar Pratiwi.
__ADS_1
Yu sendiri jatuh mendeprok sembari melihat kedua telapak tangannya. Pratiwi menghampirinya, "Itu biasa bila kau pertama kali membunuh. Lama-lama kau akan terbiasa."
Pratiwi maju mendekati dua jawara Jawa yang berguling-guling kesakitan. Pratiwi membabat dan menusukkan goloknya ke dua tubuh malang itu. Darah menciprat ke wajah dan tubuh Pratiwi. Ia tersenyum setelah yakin kedua pendekar bawahan Walanda itu tewas.
Pratiwi kemudian memandang ke arah sang perwira bule yang wajahnya memucat.
Lau Siufan memandang sang sepupu dengan keterkejutan yang luar biasa. Ia sendiri juga tak bisa berbicara sama sekali.
Ia tak menyangka sang saudara mempelajari dan menguasai ilmu membunuh yang luar biasa mengerikan itu.
Kemampuan Yu sebenarnya cukup wajar dan bisa dipahami karena laki-laki itu menguasai ilmu pengobatan tusuk jarum. Ia tahu titik mana di tubuh manusia yang bisa membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan kekuatan badan. Ia tahu titik mana yang dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Maka jelas, Yu harusnya juga memahami titik-titik bahaya manusia yang dapat digunakan untuk melemahkan bahkan membunuh mereka sendiri.
Masalahnya, memahami saja tidak cukup, harus ada cara dan latihan khusus yang membuat Yu mampu menekan titik saraf atau darah manusia sehingga pukulan atau serangan tersebut benar-benar tepat dan berakibat nyata.
Kebengisan wajah Pratiwi yang dihiasi darah itu membuat sang bule ketar-ketir.
Lau Siufan mendekat ke arah Yu, memberdirikannya karena begitu lemahnya jiwa sang sepupu setelah membunuh satu orang secara langsung, serta sedikit banyak membiarkan serta menyebabkan dua lainnya tewas secara mengenaskan pula.
Tubuh Pratiwi berjalan pelan, menikmati rasa takut sang lawan yang ia ciptakan. Goloknya yang berselimutkan darah teracung siap menebas.
"Kau perempuan laknat. Jangan kira kompeni akan berdiam diri saja atas perbuatan lancangmu ini!"
Sang perwira ternyata sudah memindahkan pistolnya yang sudah sempat terisi ke tangan satunya yang jari-jemarinya masih utuh.
Pistol itu diacungkan dan diarahkan tepat ke kepada Pratiwi yang sudah mendekat.
DAR!
__ADS_1
SLEP!
Pelu*ru kembali menyerempet kulit Pratiwi, bedanya kali ini pelipisnya yang terkoyak tipis, sedangkan bilah golok menancap tepat di kening sang Walanda, melesak masuk sampai sebilah-bilahnya.
***
Pratiwi mengenakan pakaian laki-laki. Tak seorangpun mencurigai penampilannya ini. Ia tak banyak bicara, ada Yu yang menanggapi hampir semua pembicaraan.
Yu berperan sebagai seorang pelayan majikannya, Pratiwi, yang menyamar sebagai saudagar emas.
Hari ini adalah hari kelima keduanya terapung-apung di lautan. Mereka berlayar dengan sebuah jung yang dinakhodai seorang Bugis, dari Betawi menuju ke Tanjung Pura.
Setelah kejadian tempo hari di Betawi, Pratiwi memutuskan untuk pergi mencari Jayaseta ke Tanjung Pura. Yu ada bersamanya, sebagai tabib pribadi dan pesuruh. Yu tak mungkin lagi sempat memikirkan untuk menolaknya mengingat ia sudah ikutan membunuh orang-orang suruhan Walanda.
Ia dan Pratiwi sudah barang tentu menjadi buronan hukuman mati kompeni.
Maka, Yu meminta Lau Siufan untuk segera pergi dari tempat kejadian. Ia bahkan tak sempat berpamitan kepada Meester Equa dan Ngalimin. Ia memohon kepada Lau Siufan untuk tak menyebut-nyebut namanya lagi, apalagi menceritakan semuanya kepada Meester Isaac Equa dan Ngalimin. Pokoknya, sepupunya itu harus menjauhi semua urusan yang berhubungan dengannya.
Lau Siufan adalah gadis yang baik. Ia tak menyangka kejadiannya akan menjadi serumit ini sehingga melibatkan gadis itu. Yu merasa sangat bersalah, namun tak memiliki pilihan berarti.
Rasa asmaranya terhadap Pratiwi tak berkurang, namun bukan itu yang menjadi alasan mengapa ia masih mau ikut perempuan itu menjadi jongos serta budaknya.
Pratiwi masih belum pulih benar. Perjalanan di laut akan membuatnya menghirup udara air laut yang menurut pertimbangan pengobatan Yu, sangat baik buat kesehatannya. Selain itu, ada perubahan luar biasa pada Pratiwi, "Aku harus menemui kakang Jayaseta dimanapun dia berada. Aku harus mengetahui bagaimana sebenarnya nasib kedua kakekku. Aku yang menyebabkan mereka mengejar Jayaseta. Akulah alasan mereka celaka. Kau jangan khawatir, Yu. Perkara bunuh-membunuh sementara bukan pilihanku. Aku hanya merasa perlu mencari pendekar itu," ujar Pratiwi masih dengan gayanya yang dingin.
Yu melihat ini sebgai sebuah langkah yang aneh namun ada semacam keyakinan janggal bahwa perempuan muda ini sedang dalam masa terluka dan hendak berubah. Ia memerlukan sebuah perjalanan badanian dan rohaniah untuk mencapai perubahan apapun yang nanti bakal terjadi.
Yu siap untuk itu, berada di sampingnya. Toh, hidupnya juga sudah benar-benar hancur. Dengan berlayar ke negeri seberang, mana tahu jalan kehidupan dan arahnya akan terbuka lebar.
__ADS_1
Jung yang dinaiki Pratiwi dan Yu ini sampai di pelabuhan Sukadana, duapuluh enam hari setelah jung yang dinaiki Katilapan dan Narendra sampai di pelabuhan Sukadana dari Semarang terlebih dahulu.