
Satu sosok berkelebat di atas kepala para penyerang dengan cepat. Ia menyabetkan sebuah senjata dari tangannya yang berkecamuk bagai seutas petir di angkasa. Tidak hanya sekali, namun sampai tiga serangan dalam sekali jurus dilepaskan. Keadaan ini nyatanya menguntungkan pembokong tersebut, sehingga mungkin sepuluh perompak tersentak mundur, terpelanting atau jatuh di atas geladak. Senjata mereka terlepas dari tangan. Ada yang terlempar jatuh dari kapal ke sungai, bahkan ada yang sekaligus tersentak terbetot keluar bersama sang pemilik.
“Pola pertarungan yang kalian lakukan kurang tambahan satu pendekar. Kita hajar mereka dalam tiga arah mata angin. Tapi aku akan menggunakan senjataku sebagai pemotong jarak karena lebih panjang dari senjata kalian, tetapi sekaligus tetap berada di sisi pertahanan,” seru sang sosok tak tiba-tiba datang dan pada dasarnya menyelematkan mereka dari keroyokan musuh tersebut.
Sasangaka dan Jaka Pasirluhur memandang sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pendekar penolong mereka adalah seorang Cina dengan senjata berbentuk pedang di tangan kanannya, tetapi terlihat sangat berbeda. Pedang itu begitu lentur bagai sebuah cambuk atau cemeti saja.
“Jangan melongo seperti itu. Persiapkan diri kalian. Aku juga bertanya-tanya. Kita akan bahas kelak, itupun kalau kalian ingin,” ujar sosok pendekar Cina yang ternyata adalah Fong Pak Laoya tersebut.
Sejenak tadi, pasukan Lan Xang sudah berhasil mendekat ke arah kapal yang sedang dikerubuti para perompak Annam atau Đại Việtdan Champa. Mereka langsung menyerang perahu-perahu perompak di atas sungai. Banyak pula yang sudah berhasil memanjat kapal di bagian buritan dan membantu para pasukan dan awak Lan Xang di atas sana. Maka dari itu, mudah bagi Yu, Pratiwi dan Laoya juga memanjat buritan kapal dan bertahan di sana, menyerang para perompak yang terus berusaha menaiki kapal.
__ADS_1
Buritan kapal bisa dikatakan sekarang telah dilapisi pertahanan ganda. Para prajurit Lan Xang dari tiga kapal pedagang di belakang mereka, dan para prajurit gabungan yang memenuhi buritan kapal beserta Fong Pak Laoya, Yu dan Pratiwi.
“Kapal ini belum sepenuhnya aman. Haluan kapal diserang habis-habisan oleh para perompak. Kita harus membantu mereka, mungkin bersama para prajurit Lan Xang yang terlalu banyak memenuhi buritan. Kita harus ke haluan sekarang juga bila mau kapal ini tetap utuh dan tidak berakhir seperti kapal kita tadi,” seru Yu.
Ia baru saja hendak melangkah ketika Fong Pak Laoya menahan bahunya. “Kau disini bersama Pratiwi. Bantu para pasukan Lan Xang menahan orang-orang Annam dan Champa itu. Aku akan ke depan sembari mengajak beberapa prajurit dan pengawal Lan Xang yang ada di buritan atau tengah kapal,” ujar sang Laoya.
Fong Pak Laoya langsung menghambur ke depan bersama beberapa pengawal Lan Xang untuk menyelamatkan haluan dari serangan para perompak. Benar saja, ketika mereka sampai di depan, Fong Pak Laoya melihat dua orang pendekar yang sedang dikerubuti para perompak melawan musuh-musuh mereka itu dengan pola dan kemampuan silat yang luar biasa. Hanya saja, mereka kini juga sedang dalam keadaan semakin terdesak. Maka, sang Laoya memutuskan untuk langsung masuk ke dalam pertempuran dan membantu kedua pendekar bertopeng tersebut.
Kini, ketiga pendekar yang bersatu dadakan tersebut membentuk pola tempur yang hampir tak tertembus. Fong Pak Laoya melecutkan pedang lenturnya dengan gaya berputar, Sasangka maju dan mundur dengan langkah-langkah tiga jurusnya yang tegas dan mematikan, dibuat lengkap dengan Jaka Pasirluhur yang terus-terusan mengganggu lawan dengan serangan-serangan tertata tetapi tak tertebak itu. Ketiganya berhasil meruntuhkan serangan lawan. Belum lagi beberapa prajurit Lan Xang yang membantu menyerang para perompak. Bahkan, tak lama, pasukan Lan Xang dari buritan sudah pula menambah jumlah orang ke haluan.
__ADS_1
Tak lama, perahu-perahu peropak Annam dan Champa terpaksa harus benar-benar mundur. Pasukan Lan Xang berhasil membuat perahu yang menempel di kapal yang dinakhodai orang Lan Xang tersebut pergi. Para perompak yang berada di atas kapal mulai terdesak oleh serangan Fong Pak Laoya, Sasangka, Jaka Pasirluhur dan para prajurit Lan Xang sehingga berjatuhan ke sungai. Di bawah sana nasib mereka ditentukan oleh mati tidaknya dihabisi pasukan Lan Xang dari atas perahu, atau berhasil berenang bebas ke tepian, atau menyusul peahu-perahu rekan mereka yang lain.
Di buritan, Pratiwi dan Yu berdiri tegap, tak terlalu banyak melakukan apa-apa karena para perompak telah mundur dengan teratur.
“Mereka masih bisa menang atas kita. Jumlah mereka terlalu banyak untuk benar-benar bisa kita lawan. Tapi, aku rasa mereka memutuskan untuk mundur dan melepaskan pertempuran ini. Korban terlalu banyak dari pihak mereka, sehingga meraka mungkin saja menganggap pertempuran ini merugi, tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan,” ujarnya dingin dan datar kepada Yu. “Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kapal ini?” selidik Pratiwi.
__ADS_1