Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kedai


__ADS_3

Bila mau diakui, kerajaan Sukadana mungkin sudah tak seramai dan sejaya beberapa tahun yang lalu. Ini jelas karena permasalahan ketatanegaraan.


Keberanian sang pemimpin perempuan kerajaan Sukadana, Ratu Mas Jaintan atau dikenal juga sebagai Ratu Bunku menentang Mataram berimbas pada kekalahan telak kerajaan ini pada serangan Mataram pada tahun 1622 Masehi.


Kekalahan ini tidak saja membuat Sukadana menjadi mundur karena berada di bawah kekuasaan dan aturan Mataram, namun berimbas pula pada kehancuran kerajaan lain, yaitu Kerajaan Kapuas yang terletak di daerah yang bernama Sanggau.


Para bala tentara Mataram dari Jawa yang sudah berhasil mengalahkan Sukadana masih menetap di daerah tersebut. Mereka menjadi sangat percaya diri sehingga sekalian menyerang kerajaan Kapuas yang sewaktu berperang dengan Mataram dalam penyerangan itu, menyumbangkan sebagian besar pendekar dan punggawa terbaik mereka.


Maka, hukuman Mataram juga dijatuhkan pada kehancuran kerajaan Kapuas yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sukadana.


Selain itu, Putra sang Ratu Jaintan, yaitu Pangeran Giri Mustika yang kemudian ditunjuk oleh Mataram menjadi pengganti ibundanya memerintah Sukadana, ternyata lebih senang pergi ke pedalaman di Mulia yang terletak di tepian sungai bukannya pesisir seperti di Sukadana. Mulia juga dikenal dengan nama Meliau oleh pelafalan orang bule Walanda dan tercatat dalam laporan-laporan pejabat-pejabat mereka.


Bisa dikatakan pula bahwa ibukota kerajaan sekarang sudah berpindah ke Meliau.


Saat ini tahun 1639 Masehi, usia Jayaseta sudah 19 tahun, kurang lebih setahun sudah ia lewati sejak menikah dengan Almira dan sudah tiga tahun sejak ia meninggalkan Giri Kedaton, kampung halamannya.


Raja Nio sebenarnya masih bernafsu bercerita kepada Jayaseta mengenai apa-apa saja yang ada di pulau Tanjung Pura ini. Bila tak dihentikan, ia pasti berceloteh terus entah sampai kapan.


Jayaseta tersenyum kepada sang nakhoda, "Simpan ceritamu, tuan nakhoda. Kau tahu aku harus menjalani ini semua sendirian bukan? Kau dan semua awak kapal sudah mengenal siapa aku. Tentu aku ke Bumi Sukadana ini bukan bertujuan untuk berdagang apalagi plesiran," ujar Jayaseta dengan pandangan tajam ke arah Raja Nio.


Meski keduanya paham bahwasanya Jayasera sekadar bercanda, Raja Nio mengatupkan mulutnya dan membuat gerakan tangan seperti sedang mengikat mulutnya.


"Baiklah, tuan pendekar. Silahkan pergi membantu yang susah dan menderita serta melawan kebathilan," ujar nakhoda dari Larantuka tersebut.


Keduanya tertawa, kemudian saling berjabat tangan. Mereka berjanji akan saling tolong bila memang takdir membelitkan jalan mereka kembali.


***


Meski hampir semua bangunan terbuat dari kayu, ada pula sedikit yang dibangun dengan campuran batu alam dan bata merah. Biasanya bangunan-bangunan tersebut adalah bangunan pemerintahan dan kerajaan, seperti keraton, pesanggrahan atau sedikit tembok atau benteng pertahanan.

__ADS_1


Jayaseta heran, ternyata ia dapat menemui orang Jawa dengan mudah di kota pesisir ini.


Ia memang mengerti bahwa Islam disebarkan di pulau Tanjung Pura ini sekitar abad ke-15 sampai 16 Masehi. Kerajaan Sukadana yan terletak di bagian Barat Daya pulau Tanjung Pura ini mengenal Islam dari ulama-ulama dari kerajaan Demak. Selain dari Jawa, penyebaran agama Islam di kerajaan ini juga dilakukan oleh pedagang-pedagang Melayu Islam dari Malaka.


Namun bukan itu alasannya Sukadana penuh dengan orang-orang dari Jawa. Pertama, jelas bahwasanya orang-orang Jawa ini merupakan pendatang akibat dari serangan Mataram ke Sukadana tahun 1622 Masehi, 17 tahun yang lalu.  Mereka berbondong-bondong datang ke daerah taklukkan dengan harapan memiliki masa depan yang lebih baik.


Namun alasan yang paling jelas adalah karena sejak dua tahun yang lalu, yaitu tahun 1637 Masehi, orang-orang Jawa dari berbagai kerajaan dan daerah, berhijrah secara besar-besaran ke pulau Tanjung Pura, termasuk Sukadana dan daerah sekitarnya sebagai akibat penaklukkan kerajaan-kerajaan Jawa oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Negeri, kerajaan dan daerah mereka luluh lantak oleh perang sehingga pergi adalah keniscayaan.


Sebuah kerajaan lain yang cukup besar dan kuat di pulau ini, yaitu Kesultanan Banjar, menguasai perdagangan lada sehingga bagian Barat Daya, Tenggara dan Timur pulau Tanjung Pura sehingga tentu saja kerajaan-kerajaan di daerah tersebut harus membayar upeti para Kesultanan Banjar atau disebut juga dengan nama Kerajaan Banjarmasin. Tentu saja, ini termasuk Sukadana yang terletak di Barat Daya pulau.


Kerajaan Banjarmasin berhenti mengirim upeti ke Kesultanan Demak karena merasa sudah cukup kuat sebagai sebuah kerajaan terlepas dari kekuatan dan kekuasaan kerajaan lain, terutama Demak di Jawa. Lagipula Kesultanan Demak saat itu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran.


Namun bagaimanapun, tidak sedikit kerajaan di pulau Jawa yang masih ingin menguasai Kesultanan Banjar sejak melepaskan diri dari Demak. Salah satunya adalah Tuban pada tahun 1615 Masehi yang menyerang Kerajaan Banjarmasin dengan bantuan Madura dan Surabaya, namun gagal karena mendapat perlawanan yang sengit dari prajurit-prajurit sakti Banjar.


Sultan Agung Hanyakrakusuma tentu juga sangat bergairah untuk menguasai kerajaan ini, apalagi karena telah merasa kuat, Kesultanan Banjar menyatakan Sambas, Lawai, Sukadana, Kotawaringin, Pembuang, Sampit, Mendawai, Kahayan Hilir dan Kahayan Hulu, Kutai, Pasir, Pulau Laut, Satui, Asam Asam, Kintap dan Swarangan sebagai negara-negara bawahan dari kerajaan Banjarmasin. Pengakuan ini terjadi pada tahun 1636 Masehi.


Maka dari itu, karena Sultan Agung menyerang, menghancurkan beragam negara dan kerajaan di Jawa, perpindahan masyarakat Jawa ke pulau Tanjung Pura tak bisa dihindari lagi.


Orang-orang Jawa mungkin merasa aman ketika berada di pulau Tanjung Pura yang tak terimbas serangan pasukan Mataram. Ada Kerajaan Banjarmasin yang kokoh dan kuat serta berani melawan kekuatan kerajaan terbesar di nusantara itu.


Lagipula, pada tahun 1637 Masehi itu pula, diadakan perjanjian perdamaian antara kedua kerajaan karena mereka sama-sama menghadapi ancaman Walanda yang berpusat di Betawi.


Hubungan tegang Mataram dan Banjarmasin yang terjadi bertahun-tahun itu akhirnya hilang, karena walau bernafsu menguasai Banjarmasin, Sultan Agung masih lebih membenci Walanda.


***


Jayaseta berjalan menyisiri perumahan di tepi pantai. Setiap rumah dan bangunan dari kayu tersebut pasti memiliki semacam ruang dan pekarangan untuk beragam tanaman. Salah satunya lada. Pohon kelapa rimbun mengitari daerah pemukiman tersebut.


Orang-orang Melayu mengenakan busana dengan warna-warna terang. Sarung melingkari pinggang mereka. Keris terselip di balik sabuk dengan beragam bentuk. Orang-orang terhormat dan kaya memakai keris dengan hiasan batu permata mutu manikam di hulunya, sedangkan orang biasa juga kadang membawa golok atau keris dengan bentuk dan hiasan yang lebih sederhana.

__ADS_1


Ikat kepala tinggi mereka mengingatkan Jayaseta akan mendiang Karsan. Hatinya pedih mengingat kematiannya dan rekan-rekannya pula.


Tak lama, sayup-sayup Jayaseta mendengar orang-orang berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa. Tentu Jayaseta tertarik untuk mendekat ke sebuah bangunan kayu yang nampaknya adalah sebuah kedai makan.


Sekitar sepuluh orang sedang menikmati makanan dan berbicara mengenai kampung halaman mereka di Giri. Ya... Giri.


Hati Jayaseta melonjak mendengar orang-orang berasal dari Giri Kedaton itu sedang saling bertukar cerita.


Namun, ia sekarang adalah seorang pendekar pengelana yang memiliki tujuan hidup sendiri. Giri merupakan masa lalunya yang menyimpan banyak kenangan baik dan buruk sebagai bagian dari kehidupannya. Namun jelas, ia bukan lagi orang Giri Kedaton.


"Nah, kisanak. Aku lihat dari busanamu, kau sepertinya orang dari Jawa juga. Darimanakah asalmu?" seorang laki-laki paruh baya menyapanya dalam bahasa Jawa. Teman-temannya yang lain juga memandang Jayaseta seakan menunggu jawabannya.


"Aku datang dari Semarang, bapak-bapak sekalian," ujarnya. Ia memang merasa sudah menjadi orang Semarang selama beberapa minggu tinggal disana setelah menikah.


Walau Almira adalah orang Blambangan yang kemudian menjadi orang Mataram, Jayaseta belum bisa dikatakan sebagai warga Mataram. Entahlah nanti. Toh, akan sangat memancing permasalahan bila ia mengaku sebagai orang Mataram. Ia juga enggan membahas sesuatu apapun yang berhubungan dengan kampung halamannya, Giri Kedaton.


"Wah, wah ... Aku pernah ke Semarang bertahun-tahun yang lalu. Bila umurku panjang, aku ingin sekali untuk mampir ke Semarang lagi suatu saat. Nah, selamat datang di bumi Sukadana, kisanak. Mari duduk bersama kami. Bila boleh kami tahu, ada keperluan apa dari Semarang kemari?" Ujar satu orang lagi yang terlihat sedikit lebih muda dari orang yang pertama bertanya kepada Jayaseta.


Jayaseta merasa tak mungkin untuk tak bertanya. Ia sedang di sebuah negeri baru yang ia tak kenal dengan baik selain dari cerita dan niat. "Begini, bapak. Aku kemari karena ingin bertemu dengan seseorang yang penting. Kakekku berpesan sesuatu yang harus aku sampaikan kepada beliau. Namun aku tak begitu paham, seberapa besar negeri ini dan apakah mudah untuk menemukan orang tersebut."


"Kau cukup katakan saja, nakmas. Siapa tahu kami bisa membantumu," seorang yang jauh lebih tua dari semua orang ini yang berkata kali ini.


"Beliau bernama Datuk Mas Kuning, bapak. Apakah mungkin namanya cukup tersohor di negeri ini sehingga mungkin sekali aku bisa menemuinya?"


Semua orang tersenyum di kedai makan itu dan saling berpandangan. "Makanlah dahulu, nakmas. Orang yang kau cari benar memang orang tersohor. Hampir tidak ada yang tak mengenalnya di negeri Sukadana ini. Namun marilah minum dan makan dahulu. Mereka nanti bisa memberitahukan atau bahkan mengantarkan nakmas ke tempat tinggal beliau," ujar orang tertua tersebut.


Jayaseta tersenyum lebar, tak menyangka perjalanan jauhnya dapat terbayar dengan mudahnya.


Ia duduk bersila di kedai tersebut bersama para lelaki asal Jawa tersebut, minum, makan sembari mengistirahatkan tubuh serta jiwa yanh terombang-ambing di tengah lautan selama berhari-hari lamanya.

__ADS_1


__ADS_2