
Gabungan perompak Annam dan Champa sebenarnya memang cukup membingungkan Yu, Pratiwi dan terutama Fong Pak Laoya. Kerajaan Champa yang telah berdiri sejak abad ke-7 Masehi itu berkali-kali berperang dengan negara-negara tetangga, termasuk saat dikalahkan oleh kerajaan Đại Việt pada abad ke-15 Masehi, tepatnya di tahun 1451 Masehi. Setelah itu, banyak orang Champa pergi mengungsi sampai ke Aceh. Bahkan saat ini, hubungan kedua kerajaan semakin memanas. Orang-orang Champa diduga sedang menyusun gerakan pemberontakan dan perlawanan terhadap kerajaan Annam atau Đại Việt.
Lalu mengapa kedua perompak berlawanan kenegaraan ini saling bantu dalam menyerang kapal Lan Xang di depan sana? Apakah hanya karena mereka memiliki kepentingan yang sama, dan yang mereka masih tak tahu apa itu?
Pratiwi bergerak menggunakan jurus-jurusnya yang telah berkembang sedemikian rupa. Kecepatannya tak berkurang sama sekali meski tidak dalam keadaan jasmani dan ragawi yang sempurna. Selain itu, rangkaian jurus-jurus belati kembarnya semakin berkembang menjadi lebih tepat sasaran dan berdaya guna.
Tubuhnya yang sebenarnya mungil, kini jadi terlihat sama saja dengan dua perompak Champa yang memang bertubuh kecil-kecil pula, serupa dengan orang-orang Đại Việt. Namun, bukan berarti pertandingan menjadi seimbang. Pratiwi menekukkan kedua lutut dengan cukup rendah. Kedua tangannya terangkat tetapi tidak terlalu tinggi. Api yang membakar kapal membayang di bilah keris tanpa luk di tangan kanannya dan belati Champa di tangan kirinya. Ia melirik ke arah Fong Pak Laoya yang berhadapan satu lawan satu dengan sang pemimpin perompak serta Yu yang berdiri siap tetapi gelisah. Bisa dipahami, ia pun gelisah karena api sudah semakin membakar lebih banyak wilayah di kapal.
Dua lawannya di depan nampaknya belum mau menyerang dahulu. Keduanya memerhatikan kuda-kuda Pratiwi dan mencari kesempatan untuk menyerang. Pratiwi takhirnya tak bisa menunggu lagi. Mungkin ia tak sebuas dahulu. Mungkin ia tak seganas dan segahar dahulu. Mungkin ia juga tak memiliki nafsu membunuh sehaus dahulu. Namun musuh sendiri yang datang ke hadapannya diantarkan di atas piring dengan sajian lengkap oleh takdir. Akan bodoh bila ia tak melahapnya.
__ADS_1
Dalam satu sentakan, Pratiwi meluncur ke depan. Gerakan ini langsung dijawab dengan gerakan kedua perompak Champa dengan ikut menyambut serangan. Hanya saja, mereka tertipu. Pratiwi menahan laju tubuhnya, memberikan sebuah tipuan, kemudian berbelok arah. Ini mengakibatkan serangan kedua perompak mengenai udara kosong.
Pratiwi melompat bagai seekor bajing, menusuk punggung satu perompak dengan belati dan menancapkan kerisnya ke pinggang perompak satunya. Teriakan rasa sakit dan terkejut dihentikan dengan tusukan bertubi-tubi Pratiwi ke punggung dan belakang kepala musuh. Kematian sudah nyata adanya.
Tubuh kedua perompak jatuh tertelungkup di atas geladak kapal. Kedua wajah mereka terbenam darah mereka sendiri.
“Yu, cepat kau periksa nakhoda. Lihat apa masih ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan kapal ini, atau tanya dia bila memang masih hidup, apa yang harus kita kerjakan. Aku dan Laoya akan menghabisi cecunguk satu itu,” perintahnya kepada sang suami.
Yu berlari cepat menaiki tangga yang masih belum terbakar, menuju ke ruangan nakhoda.
__ADS_1
Beberapa mayat bergelimpangan di atas sana.
“Sialan!” seru Yu. Mayat-mayat itu adalah para prajurit penjaga kapal yang merupakan orang-orang Lan Xang. Ia sudah menduga bahwasanya sang nakhoda pun kemungkinan sudah tewas.
Benar yang ia pikirkan. Setelah sampai di ruangan kemudi, sang nakhoda orang Cina itu telah tewas. Tubuhnya menggantung di atas kemudi kapal dengan sebilah pedang Champa menancap di punggungnya.
“Ah, sialan. Kapal ini terpaksa harus ditinggalkan. Tidak ada gunanya lagi. Tidak ada awak, tidak ada nakhoda. Aku pun tak tahu apa yang terjadi dengan para serangan para prajurit Lan Xang itu,” gumam Yu seorang diri. Ia menatap ke depan, melihat kepulan asap di pandangan dan mendengar teriakan riuh rendah serta pemandangan puluhan perahu yang mengambang di atas sungai tanpa benar-benar paham apa yang sedang terjadi. Otaknya berhenti mencari jawaban untuk masalah tersebut.
Yu memandang ke samping, kiri dan kanan. Asap semakin tebal, dan percikan api juga sudah mulai terlihat menyapa lantai atas. Tangga yang dinaikinya tadi jangan-jangan juga sudah mulai terbakar. Kurang dari setengah masa menyirih, kapal ini bisa habis dilahap api. Tak ada gunanya lagi bertahan. Pratiwi dan Fong Pak Laoya
__ADS_1
harus segera menuntaskan pertarungan mereka, atau meninggalkan kapal ini saja secepatnya.