
Almira baru saja berdiri hendak masuk ke dalam rumah ketika sosok laki-laki menerobos masuk ke dalam pelataran. “Aku harus bertemu Nyai Almira. Jangan coba-coba halangi aku, cecunguk-cecunguk bajingan!” seru sosok tersebut.
Dua orang penjaga yang tadinya hanya menyilangkan kedua tombak mereka di depan tidak menyangka bahwa orang itu nekat menerobos palang tombak dan langsung melompat masuk ke dalam pelataran.
Sang sosok tak dikenal tersebut bertubuh sedikit gempal, lumayan mirip dengan Jaka Pasirluhur, tetapi raut wajahnya lebih kasar begitu juga kulitnya yang lebih gelap. Kepalanya dililit kain berwarna nila. Ia menyampirkan selembar kain menutupi dadanya, sedangkan bagian bawah tubuhnya ditutupi celana panjang semata kaki merah terang. Dengan jelas terlihat bilah senjata tajam tergantung di pinggang kirinya.
“Kurang ajar! Penyusup! Bersiap! Hadang dia, jangan sampai masuk!” seru para penjaga sahut-menyahut.
Tak pelak para prajurit penjaga pelataran langsung berbondong datang berlari menyerang orang asing tersebut dengan menusukkan tombak mereka tanpa perlu aba-aba atau peringatan lagi, berhubung orang tersebut menunjukkan gelagat tidak bersahabat bahkan cenderung mengancam dan membahayakan.
“Mau cari mati kalian semua, heh? Tak perlu aku mencabut pedang luwuk Blambanganku ini. Hanya dengan tamparan saja kalian semua akan modar!” seru sang sosok.
Kata-kata sombongnya itu ternyata bukan dusta belaka. Tubuhnya yang gempal tetapi ulet itu juga begitu luwes serta gesit. Tusukan prajurit yang ditujukan khusus untuk membunuhnya dapat dielakkan dengan gerakan panjang-panjang. Dua tusukan melewati dada dan pinggangnya. Ia memutarkan tubuhnya dan mendekat ke arah para penyerang. Dengan tidak bermulut besar, sosok itu menggunakan telapak tangannya untuk menampar penyerang. Tangan kanannya melayang tepat di muka satu prajurit, sedangkan tangan kirinya menampar dada lawan.
__ADS_1
Dua prajurit tersentak dan ambruk ke tanah. Keduanya jelas merasakan puyeng dan pedas serta panas di bagian tubuh yang ditampar.
Beberapa lainnya juga langsung maju mengeroyok sang tamu tak diundang. “Masih nekat kalian semua, heh? Sini aku berikan lagi pelajaran yang berharga bagi kalian semua supaya bisa kalian ingat selama hidup,” seru sang sosok tak dikenal itu lagi.
Sudah bisa dipastikan bahwa orang itu adalah seorang pendekar. Bukan pendekar atau jawara pasar, melainkan pendekar yang mungkin sekali memiliki julukan saking hebat dan saktinya. Gerakan tubuhnya begitu cepat dan panjang-panjang, bertolak belakang dengan tubuhnya yang gempal dan sepertinya berat untuk bergerak biasa saja.
Ia maju dan mundur menjauh menghindar dari serangan mata tombak yang berkilau tajam. Kedua tangannya pun menampar-nampar udara sebagai bentuk kembang-kembang jurus mengecoh musuh serta digunakan untuk menepis serangan musuh pula.
Prajurit lainnya memang sekarang langsung dapat belajar dari dua kawan mereka yang terkapar terkena tamparan sang lawan. Maka mereka mengangkat tinggi-tinggi tameng sampai ke atas dada. Benar saja, sang sosok menepis tombak yang tertuju ke arahnya dengan telapak tangan atau punggung lengan kemudian menghambur maju dengan, lagi-lagi, menyerang para prajurit dengan telapak tangannya.
Satu prajurit menjauh dari ladang pertempuran. Ia sadar bahwa sekadar mengeroyok musuh tidak akan membuahkan hasil. Orang ini paling tidak memiliki ilmu kanuragan setingkat atau bahkan sedikit di atas pimpinan mereka, yaitu Jaka Pasirluhur. Masalahnya, sang pemimpin sedang tidak ada di tempat, tidak ada kesempatan untuk memikirkan bantuan segala. Lagipula, sekarang pasukan kecil ini diberikan kepadanya. Tugas dan tanggung jawab memimpin pasukan dan menjaga sang Nyai sudah ditimpakan kepadanya.
Sang prajurit pemimpin menimang-nimang tombak dan menimbang-nimbang rencananya. Ia memerintahkan beberapa orang prajurit di belakangnya yang hendak ikut andil dalam pertempuran untuk mundur. “Kalian harus menjaga Nyai. Pertebal pertahanan. Bila terpaksa, segera bawa Nyai pergi dari sini!” perintahnya.
__ADS_1
Tentu, perintah prajurit utama ini langsung diikuti dan dilaksanakan oleh yang lain.
Ketika keadaan telah tepat, sang pemimpin kelompok prajurit penjaga tersebut maju selangkah dengan cepat kemudian meluncurkan batang tombaknya ke arah orang asing tersebut.
Saat itu, kawan-kawannya sudah berjatuhan bergulingan dan bergelindingan di tanah. Melemparkan tombak adalah waktu yang sesuai.
Batang tombak panjang itu berdesing membelah udara siap menghujam ke arah lawan.
PRAK!
Suara berderak patah keras terdengar.
Pedang luwuk telah tercabut dari warangkanya. Sang sosok tak dikenal memapras tombak kayu dengan kecepatan dan kekuatan seorang pendekar. Tombak itu tak putus jadi dua, tetapi telah retak parah dan terlempar ke tanah.
__ADS_1
“Bajingan! Kau benar-benar mau membunuhku! Aku terpaksa meloloskan luwuk ini. Sekarang, darah sudah harus tertumpah!” serunya keras penuh amarah.