Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Muun Met Mat


__ADS_3

Sebelum Arthit berhadapan dengan pendekar petarung dari Pattani ini, sebenarnya ia telah lebih dahulu mengalahkan tiga orang petarung Muay Boran sekaligus.


"Arthit, setiap kau datang, kami kesulitan menentukan pertaruhan. Kau sudah hampir pasti menang dalam setiap pertarungan. Berjudi dengan menebak musuh kalah dengan pukulan atau tendangan pun sudah tak seru lagi. Para penonton sudah mampu menebak dengan benar. Maka, kami mengajukan tantangan dan peraturan baru," ujar seorang laki-laki yang didampingi dua orang bersamanya. Ketiganya adalah bandar judi sekaligus wasit dan pejabat kampung ini.


"Kau harus menghadapi tiga orang sekaligus. Kalau kau dapat bertahan sampai pelita minyak ini habis, kau jadi pemenangnya. Jangan khawatir, minyak kelapa yang digunakan untuk pelita ini juga sudah dikurangi jumlahnya sampai taraf masuk akal," ujar orang yang sama.


Arthit bukan lelaki yang terlalu tampan sejatinya. Hidungnya bengkok di bagian pangkal, pun di salah satu sudut matanya ada bekas luka membekas yang cukup besar. Keduanya hasil dari kegemarannya beradu kanuragan. Tapi, bentuk tubuh, perawakan dan caranya berbicara memiliki pesona tersendiri yang menarik di mata lawan jenis.


Ia terkekeh. "Tak masalah, Praew," ujarnya kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Tapi kali ini aku mau Karawek selama tujuh hari penuh sebagai hadiah kemenangan. Apa kampung ini sanggup memberikan gadis itu padaku?" lanjutnya.


Praew terhenyak dan melihat ke arah kedua rekannya. "Tapi, Karawek kan bukan seorang perempuan yang cantik, Arthit," ujar Praew terlihat kebingungan.


Arthit kembali terkekeh. "Mana ada gadis cantik di kampung ini, Praew. Dulu aku ingat kau menawarkan Hom dan Phueng. Setelah kulihat, keduanya seperti bibiku yang berumur tiga puluhan, padahal genap empatbelas saja belum mereka."


Ketiga orang di depan Arthit itu tertawa terbahak-bahak. "Ah, tapi kau pakai juga 'kan, Arthit?" sindir Praew.


"Itu karena memang tak ada lagi pilihan," balas Arthit.


"Baik, baik. Kami setuju. Lagipula, kami tak ada ruginya. Karawek tanpa melakukan pertaruhan ini pun sebenarnya mau saja kalau kau minta dia langsung secara baik-baik. Setahuku sudah lama ia memang suka denganmu. Jangankan tujuh hari, kau jadikan simpanan selamanya pun, aku rasa ia tak akan menolak," balas Praew.


"Ini bukan masalah mau tidak maunya Karawek. Ia adalah lambang pencapaianku. Aku tidak mau mendapatkan Karawek dengan cuma-cuma," pungkas Arthit.


Maka, tiga pemuda mengelilingi Arthit. Kulit mereka yang gelap terpoles cahaya mentari. Ketiganya memandang ganas serta penuh semangat ke arah Arthit. Kesempatan ini tak akan mereka sia-siakan. Mereka tahu kehebatan si Muay Paak Klang. Namun syarat mengalahkannya kali ini hanyalah harus bisa bertahan sampai pelita minyak kelapa yang sudah dinyalakan itu mati. Paling tidak salah satu diantara mereka bertiga harus bisa bertahan. Kemenangan berupa harta, baik dari taruhan maupun dari Arthit sendiri bukanlah yang utama. Namun, nama dan citra.


Dengan mengalahkan Arthit dalam taruhan perjudian ini, nama mereka bertiga akan melambung. Orang kampung dan wilayah-wilayah tetangga akan menghormat kepada mereka. Hom, Phueng dan belasan perempuan lain yang pernah tidur dengan Arthit pasti akan berhasil mereka miliki pula.

__ADS_1


Begitu mimpi mereka melambung tinggi menembus awang-awang.


Ketiganya memutar-mutarkan lengan terkepal mereka dan menaikturunkan tungkai kaki sebagai kuda-kuda khas silat Muay Boran.


Tidak begitu dengan Arthit. Ia sangat santai, cenderung cuek bebek. Ia tak memerhatikan pelita minyak kelapa sama sekali, malah sibuk melirik ke arah Karawek.


Benar, gadis tiga belas tahun itu tidak cantik. Ada tanda lahir hitam sebesar tiga jari di bagian kiri kepalanya yang dicukur cepak itu. Tapi demi dewa, *berahi Arthit meledak-ledak menilik bentuk badan Karawek, dari kaki telanjangnya, pinggul, perut terbuka dan dada mungilnya yang dibelit selembar kain abu-abu lusuh itu.


Arthit menggelengkan kepala tak sabar. "Harus aku selesaikan segera pertarungan ini," gumamnya.


Sangat berbeda dengan awamnya kuda-kuda silat Muay Boran, silat Siam bagian tengahnya ini cenderung tenang dan kaku. Ia mengepalkan kedua tangan yang punggung tangannya menghadap ke bawah. Kaki yang diletakkan di depan hanya berjinjit, bukannya diangkat-angkat seperti ketiga lawannya.


Arthit membelit kepalannya dengan temali dari kapas, sedangkan ketiga lawannya membelit kepalan sampai hampir ke siku dengan tali jerami. Tujuannya untuk meredam pukulan agar tak mencederai diri sendiri dan membuat hantaman semakin nyaman.


Saat itulah sekaligus dua lawan maju menyerang. Satu pemuda melompat jauh ke depan dan menusukkan lututnya, sedangkan satunya siap menghujamkan sikunya ke kepala Arthit.


Dengan sigap, dalam sekali gerak, Arthit menyelip menghindar dari kedua serang sekaligus menusukkan tinjunya ke jakun musuh yang tadi melompat hendak menyikut kepalanya.


"Itu satu tinju dari Muun Met Mat, jurus Sepuluh Ribu Tinju Tepat Sasaran," Seru Arthit.


Musuh tergeletak di tanah kejang, kemudian tak sadarkan diri.


Gemuruh sorak-sorai penonton membahana.


Yang tadi menyerang Arthit dengan lututnya kini melongo. Belum sempat ia sadar dengan apa yang barusan terjadi, Arthit melesat maju secepat kilat ke arahnya memberikan sebuah tendangan lurus ke depan, menjejak dadanya.

__ADS_1


Sang lawan menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


BRUG!


Ia tersentak mundur setengah langkah.


Arthit menyambut lagi dengan tendangan ke paha luar, membuat musuh oleng. Pamungkasannya adalah sebuah tendangan berputar ke leher musuh.


BUG!


Musuh jatuh dengan kasar di tanah liat dengan kepala membentur dahulu. Ia pun tak sadarkan diri.


Lawan terakhir, meras memiliki kesempatan, menyerang dari samping. Ia menedang pinggang Arthit, kemudian menyahut lehernya, mengunci dengan kedua tangannya, kemudian menghujamkan serangan lutut dari jarak yang sangat rapat itu ke perut Arthit.


Satu, dua, tiga, empat, lima, enam kali. Melepas kunciannya dan menghantam pipi Arthit dengan melayangkan serangan siku menyampingnya.


Arthit menahan dengan lengannya, namun tubuhnya doyong seperti hendak jatuh.


Kini suara teriakan tertahan terdengar seragam.


Sang pemuda yang menyerang Arthit tadi, yang merupakan petarung terakhir dari tiga orang yang masih berdiri, memandang tubuh Arthit tak percaya. Ia bisa mendaratkan berkali-kali serangan ke arah seorang Muay Paak Klang?


"Sudah puas?" mendadak terdengar suara Arthit.


Tentu sang pemuda tak sadar apalagi membalas pertanyaan yang memang diajukan Arthit kepada dirinya itu, karena sebuah tinju keras menghantam keningnya. Ia tersentak ke belakang dan menggelepar semaput di tanah.

__ADS_1


__ADS_2