Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran Bagian Kedua - Saudara


__ADS_3

Sepasang mata Punyan yang melotot liar menjadi mendadak teduh demi melihat sang istri, Kumang, mengendap-endap di balik bangunan digandeng sang adik lelakinya, Jipen.


Pandangan pasangan suami istri tersebut beradu. Hanya saja Punyan salah menafsirkan tatapan berbinar istrinya sebagai sebuah kelegaan karena dapat bertemu dengan sang suami.


Kumang sendiri telah menggenggam sebatang dohong yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Senyumnya mengembang, sebuah tipuan murahan namun masih selalu tepat guna.


Sayangnya tidak begitu dengan Jipen. Dari awal Punyan selalu paham bahwa ada bara berkobar di dalam dada pemuda itu. Sebagai seorang budak, bahkan telah terpatri di dalam namanya, yaitu Jipen, agaknya pemuda itu tak bisa menyangkal hawa benci, dendam dan membunuh yang selalu menyala di dalam dadanya.


Kobaran rasa itu semakin membayang di kedua matanya, bahkan terlalu terlihat kali ini. Punyan sudah terlanjur menangkapnya.


Ketika Punyan mendekat ke arah mereka, otot-otot tubuhnya meregang awas. Ternyata Punyan tak salah; Jipen menggenggam sebilah parang yang telah ditajamkan dan digunakan menahun olehnya. Genggaman dan bentuk bilah itu telah menyatu sebagai bagian dari pemanjangan tangannya.


Kumang berteriak ketika adik laki-lakinya melepaskan genggaman pada tangannya secara tiba-tiba lalu meloncat begitu tinggi menyerang Punyan. Bukan karena sang suami diserang oleh adik kandungnya sendiri, namun lebih karena takut rencana membunuh Punyan dapat gagal karena Jipen terlalu diburu nafsu.


***


Jayaseta berlari cepat, bahkan menggunakan kemampuan meringankan tubuhnya untuk melewati rintangan di jalan.


Di tengah kampung ia bertemu dengan rombongan prajurit yang berbondong-bondong menuju garis depan. Jayaseta berhenti sejenak. "Kita ditipu, mereka menyerang bagian belakang kampung!" ujar Jayaseta cepat-cepat.


Para prajurit berhenti dan clingak-clinguk. Mereka tahu bahwa sosok dibalik topeng pernah itu adalah Jayaseta, namun tak benar-benar bisa memutuskan mendengarkan atau tidak mengacuhkan ucapan sang pendekar, karena sebelumnya mereka telah ricuh bersengketa untuk memutuskan apa yang harus dilakukan, dan keputusannya adalah memusatkan jumlah pasukan ke garis depan.


Jayaseta tak bisa menahan terlalu lama kebingungan mereka. Ia langsung lanjut berlari meninggalkan para pasukan tersebut.


***


Yulgok melihat sekitar lima orang prajurit berbaju lengkap berlarian ke arahnya.


"Cih ... Hanya segini yang dikirimkan?" ujarnya sembari meludah ke tanah.


"Entah rencana ini terlalu bagus, atau orang-orang ini yang menyepelekan kekuatan kami?" lanjutnya jelas lebih kepada diri sendiri.


Yulgok langsung menghadang jalan mereka. Jingum digenggam di sebelah kanan, dan do pendek Daya di kirinya. Kedua tangannya terentang membuka, menantang.


Kelima prajurit Daya itu tak lagi menunggu berlama-lama. Teriakan perang menggema bersahutan melihat musuh seorang diri menantang maut.


"Kyaaakkkk!!"


***

__ADS_1


Dara Cempaka merasakan kepalanya begitu berat, wajahnya basah oleh cairan kental ... Darah.


Tubuhnya dijatuhkan begitu saja di tanah. Rasa sakit menyebar ke seluruh tulang-belulang serta syaraf-syarafnya.


Ia kemudian diseret lagi dan disenderkan pada sebuah pohon.


Perlahan indra pendengaran dan penglihatannya pulih perlahan. Terdengar olehnya rintihan dan teriakan perempuan dan anak-anak.


Mayat bergelimpangan, api dan asap membakar beberapa bangunan. Kemana para prajurit kampung ini? Pikirnya. Lau, Jayaseta, Punyan, Temenggung Beruang?


Ia tak bisa bergerak, karena ketika sadar ia baru mengerti bahwa tubuhnya terikat pada sebuah batang pohon besar bersama beberapa perempuan lain yang menangis ketakutan.


***


Ketika seorang warga peladang melarikan diri ke atas bukit hampir saja terkena lemparan lembing oleh salah satu dari empat prajurit Daya Biaju yang mengejarnya, ada sosok tak dikenal melompat turun dengan kecepatan yang luar biasa.


Sosok itu berlari menuruni bukit, meloncati pepohonan tumbang, bebatuan dan rerumputan dengan begitu gampangnya.


Keempat prajurit sedang lengah dalam pertahanan, karena mereka berpikir mereka lah yang menjadi pemburu sehingga tak memperhatikan ada sesosok pemburu sejati yang muncul.


Bunyi lonceng-lonceng kuningan kecil berdentingan nyaring. Dua prajurit hanya sempat melihat kalung bermata untaian cakar beruang yang dikenakan sosok yang menggunakan kedua tangan telanjangnya itu menembus dada mereka dan menarik jantung yang masih berdegup lepas dari rongganya.Keduanya tewas dengan darah menyambur dari dada mereka yang berlubang.


Sosok tersebut membuang dua jantung yang masih begitu merah dengan darah itu begitu saja. Ia mendekat ke arah salah satu prajurit yang telah menjadi mayat, mengambil dan menghunus do dari samping tubuh prajurit yang tewas tersebut kemudian melemparkannya dengan cepat ke arah dua prajurit yang memutuskan mundur itu.


Bilah do itu terbang melesat seperti memiliki nyawa dan keinginan sendiri. Satu prajurit tersandung akar pohon dan jatuh bergulingan dari atas bukit, namun itu yang membuatnya selamat. Karena, rekannya harus kehilangan kepalanya disambar do terbang tersebut.


Prajurit Daya yang selamat itu bangun dan melihat dengan jelas bahwa do yang terbang menyerangnya dan rekannya, kini kembali ke tangan berdarah sosok bertubuh kecil dengan gemerincing lonceng di gelang kaki dan pakaiannya.


Temenggung Beruang melompat turun kembali memburu satu sisa korbannya yang masih berusaha menghindari pertarungan langsung dengan sosok tua namun menakutkan tersebut.


***


Jipen menebas udara kosong menggunakan parangnya. Punyan sudah berguling kesamping karena dapat membaca api yang berkobar di mata Jipen.


"Harusnya tak kau simpan dendam kesumat itu, Jipen. Aku sudah berusaha menperlakukan dirimu dengan baik. Aku bahkan telah mencoba menaikkan derajatmu denga cara yang paling terhormat, menikahi Kumang," ujar Punyan.


"Kau dan orang-orang kampung ini membantai keluargaku dan menculik aku. Dengan menikahi kakakku, apa kau pikir bisa menghapuskan seluruh dosamu, heh, Punyan?!" balas Jipen. Tubuhnya yang telanjang, hanya mengenakan selembar cawat, basah oleh keringat. Ia memainkan parangnya seperti memainkan sebuah do. Kedua kakinya berjinjit-jinjit dalam sebuah kuda-kuda perang.


Punyan memperhatikannya dengan baik dan saat itu pula ia sadar bahwa selama ini Jipen mampu berkelahi karena meniru kuda-kuda kinyah yang dilatih setiap hari kepada para prajurit olehnya maupun Temenggung Beruang.

__ADS_1


"Inilah aturan dunia dimana kita tinggal, Jipen. Aku sudah melanggar banyak aturan itu, termasuk membuatmu dapat menjalani hari dengan lebih terhormat dari seorang jipen serta memudahkan pekerjaanmu," ujar Punyan.


Perkataan ini malah membuat Jipen tertawa menghina, "Bede*bah kau Punyan. Kau boleh saja berkilah di balik perilaku sok baik dan dermawan itu. Tetapi kenyataan bahwa kalian merenggut kami dari kampung, masyarakat dan keluarga kami sendiri, sudah menjadi alasan kuat memenggal kepalamu!" dengan kemarahan yang sudah memuncak, Jipen kembali menyerang Punyan.


Dua tebasan menyilang membabat Punyan yang menerapkan langkah-langkah jurus Bangkui Sakti untuk menghindari serangan Jipen.


"Jangan kau paksa aku melukaimu, Jipen. Kakakmu itu adalah istriku, kita adalah saudara!"


Namun kata-kata Punyan sama sekali tak digubris Jipen. Ia malah kembali menderu dan menyasar leher Punyan dengan parangnya.


Punyan kembali mundur dan berguling ke belakang, menjauh dari jarak serang Jipen.


Punyan melihat wajah istrinya yang terlihat terkejut dan bingung. Ia juga melihat kepulan asap di belakang kampung, di bawah bukit sana. Beberapa prajurit musuh masih melawan prajurit kampungnya. Memang jumlah penyerang kali ini masih bisa dihadapi, namun ia yakin bahwa musuh pasti menemukan sebuah rencana mengerikan bagi kampungnya.


Maka ia harus memutuskan segera. Ia tak bisa berlama-lama menghadapi seorang jipen dan memainkan perasaan, sedangkan ia tahu kampungnya sedang terbakar dan diserang.


Ia memandang wajah istrinya kembali. "Maafkan aku, Kumang. Tak ada yang bisa kulakukan," gumamnya pada diri sendiri.


Ketika Jipen kembali menyerang, Punyan sudah terlebih dahulu menghambur maju. Do nya menyabet Jipen tepat di perutnya.


SRETT!


Luka sayat mengalirkan darah dari luka di perut seorang jipen tersebut.


Jipen tersungkur.


"Aku mohon sekali lagi. Berhenti menyerangku dan kita bisa obati lukamu itu," tawar Punyan.


Kumang terkesiap. Rahangnya mengatup keras dan pegangannya pada gagang dohong juga semakin mengerat sampai telapak tangannya terasa sakit.


Jipen berteriak keras dan mengamuk bagai seekor banteng terluka.


Ia menyabet, membabat dan memapras ke arah Punyan sekuat tenaga dan secepat mungkin. Sampai tebasan keenam yang coba dihindari Punyan, akhirnya ia tetap harus melakukan sesuatu agar serangan Jipen yang penuh amarah itu akhirnya tak melukainya.


Punyan menunduk begitu rendah dan bagai seekor katak ia mumbul sembari menebaskan do nya ke atas lurus menyamping.


TRANG!!


Bunyi benturan logam terdengar jelas. Percikan api akibat do dan perang beradu terlihat jelas di mata Kumang, termasuk ujung patahan parang dan kepala adik laki-lakinya yang menggelinding di tanah.

__ADS_1


Kumang berteriak tanpa suara. Telapak tangannya yang menggenggam gagang dohong berdarah karena kuatnya remasan.


__ADS_2