Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Hulubalang


__ADS_3

Datuk Mas Kuning duduk di sebuah kursi  Cina berbentuk persegi, sedangkan Dara Cempaka duduk bersimpuh di lantai.


Di hadapan keduanya, Jayaseta duduk bersila. Ia melepaskan keris panjang dari balik pakaiannya dan meletakkan keris itu di lantai.


Samar-samar terlihat kening sang datuk berkerut memandang keris tersebut. Dara sendiri kembali dibuat terkejut. Selama ini Jayaseta ternyata memiliki senjata yang tak dikeluarkannya sama sekali ketika berhadapan dengannya.


Namun hal yang lebih parah dan membuat Dara Cempaka tercekat tak dapat bernafas adalah ketika Jayaseta meloloskan pakaian bagian atasnya.


Tubuh laki-laki itu liat oleh otot dan mengkilat oleh keringat. Setiap sudut lekukan dada bidang dan perut Jayaseta yang terbentuk baik oleh latihan dan pertempuran membuat Dara Cempaka terpesona. Bahkan bekas luka yang membilur di sana-sini, bahkan ada yang terlihat masih baru, malah menyempurnakan pesona itu bagi Dara Cempaka.


Mengetahui perasaan ini serta jantungnya yang berdetak kencang tak bisa diatur, Dara Cempaka langsung menunduk malu. Wajahnya yang memerah serasa ingin meledak. Perlahan ia memegang kedua pipinya yang terasa panas.


"Datuk, hamba kemari menemui datuk karena perkara yang datuk lihat sendiri," Jayaseta mengarahkan tangannya ke luka memanjang di bawah jantungnya.


Ia kemudian menutup mata, memusatkan pikiran dan mengerahkan tenaga dalam ke arah lambung dan dadanya.


Bagi mata batin seorang pendekar yang sudah mumpuni, pasti tidak sulit melihat gelombang tenaga yang bersinar bila di bekas luka tusuk memanjang tepat si bawah jantung Jayaseta.


"Menarik ... Menarik ..., Rajah Nagataksaka dan Garuda Sentanu menjaga  sebuah kekuatan kutukan. Oleh apa kau terluka, anakku?"


"Tombak Kyai Ageng Plered, datuk."


"Ah ... Mataram, rupanya."


"Lalu, darimana kau mengenal Salman, Bharata dan sang kembar Karsa dan Mandura; sepasang pendekar yang dijuluki Sang Penyair Baka?"


Jayaseta melotot. Ia kaget setengah mati. Bagaimana sebenarnya cara kerja dunia? Semua hal dalam hidupnya sepertinya berkaitan erat dengan cara yang aneh nan gaib.


"Datuk .. Datuk kenal Kakek Keling, maksud hamba, Kakek Bharata? Dan bagaimana dengan Sang Penyair Baka? Mereka kembar?" Tentu Jayaseta tak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya yang tumpah ruah.


Datuk Mas Kuning menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Di masa muda, kami banyak melakukan hal yang tidak kami banggakan. Entahlah, mungkin hanya Salman dan si kembar yang masih terlibat dalam urusan ketatanegaraan," ujar sang datuk.


"Aku bisa berceloteh perpanjang lebar dan tak akan habis semalaman suntuk. Tapi intinya awalnya kami bersahabat erat, namun kembar Karsa dan Mandura membutuhkan pengakuan yang lebih sebagai tujuan utama kehidupan mereka. Keduanya menuntut ilmu kanuragan sampai kepada ilmu gaib dan gelap. Keduanya pemilik ilmi rawarontek sehingga sukar untuk dibunuh."

__ADS_1


"Tunggu, datuk. Hamba melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Sang Penyair Baka yang bernama Karsa telah tewas di.atas geladak kapal. Nakhoda yang memenggal kepalanya sampai putus. Ia menggunakan keris ini dan menantang hamba untuk bertarung setelah hamba melawan para bajak laut pimpinan Si Gelembung Lotong yang kebetulan berhasil hamba kalahkan pula," ujar Jayaseta.


"Yang membuat hamba terperanjat adalah bahwa ternyata keris ini rupa-rupanya milik dirinya. Padahal sebelumnya hamba memilikinya dengan diberikan oleh sang cucu, yang ternyata juga merupakan musuh hamba."


Datuk Mas Kuning dan Dara Cempaka saling berpandangan. Betapa rumit cerita dan pengalaman pendekar muda ini.


"Cucu Karsa itulah yang membunuh kakek Salman," lanjut Jayaseta.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap sang datuk.


"Salman telah wafat?!" ujarnya kembali tak percaya.


"Benar, datuk. Dari beliau lah hamba mendapatkan tugas untuk menemui datuk. Sebelum beliau wafat, beliau berpesan untuk berlayar ke Sukadana, bertemu datuk dan meminta pertolongan untuk menghilangkan racun kutukan ini, dikarenakan rajah Garuda Sentanu belum selesai ditatahkan."


Sang datuk terlihat cukup terpukul dengan berita ini. Jayaseta sontak merasa menyesal telah mengebut bercerita secepat dan sepadat mungkin agar sang datuk bisa segera paham akan tujuannya.


Sekarang ia sadar, ia terlalu memikirkan diri sendiri.


Sang datuk memandang Jayaseta lekat-lekat. "Keris Kyai Pulau Bertuah itu adalah milikku, anakku."


***


Sudah kurang lebih 43 tahun sejak ia pertama melepaskan diri dari hukuman pasukan Pranggi yang telah menjajah dan menguasai Malaka sejak tahun 1511 Masehi. Sekarang sang datuk sudah berumur 67 tahun.


Sedari kecil, Datuk Mas Kuning telah secara diam-diam mempelajari ilmu silat Gayong peninggalan Tun Biajid, putera Hang Tuah yang terpaksa melarikan diri ke Pahang untuk mencari perlindungan.


Kehebatan silat Gayong ini sebenarnya telah meresahkan pemerintah Pranggi selama puluhan tahun, sehingga suatu masa sekitar tahun 1590-an Masehi, pemerintah Pranggi memutuskan untuk mengadakan semacam sayembara dan hiburan dalam keramaian.


Acara yang sejatinya ini adalah sebuah jebakan tersebut diadakan dan dihadiri oleh segenap lapisan masyarakat.


Pranggi mengadakan beragam lomba kesenian, sehingga pemenangnya kelak akan diganjar dengan hadiah yang besar.


Ini juga berlaku pada para pesilat. Para pendekar Malaka ini sebenarnya sudah menyembunyikan kemampuan jurus-jurus silat mereka dalam sebuah bentuk seni selayaknya tarian yang disebut silat pulut, lengkap dengan iringan bunyi-bunyian seperti gendang dan tetabuhan.


Namun, Pranggi masih dapat melihat para pesilat yang mereka anggap berbahaya karena memiliki ilmu silat yang hebay tersebut. Akibatnya bukannya diganjar dengan hadiah, para pesilat Gayong yang menyembunyikannya dalam silat pulut ini ditangkapi.

__ADS_1


Mereka dianggap mengancam dan merongrong kekuasaan Pranggi di bumi Malaka.


Mereka diikat dengan tali dan rantai besi serta dibawa pergi dengan kapal menyebrangi lautan, menjauh dari Malaka untuk diasingkan atau mungkin dihukum mati.


Ternyata benar adanya, berkat kemampuan ilmu solat Gayong yang mereka kuasai, para hulubalang Malaka itu berhasil lepas, mengalahkan bahkan menumpas pasukan Pranggi yang menangkap mereka.


Para hulubalang beragam umur ini kemudian memutuskan untuk berlayar ke gugusan kepulauan Melayu. Beberapa mendarat di Mangkasara dan menetap di sana. Ada pula yang sampai ke pulau Tanjung Pura.


Datuk Mas Kuning yang berumur 24 tahun adalah salah satu rombongan hulubalang yang bersauh dan menetap di pulau Tanjung Pura, tepatnya Sukadana.


***


Pulau Karimata di dekat pulau Tanjung Pura berada di bawah kekuasaan Sukadana. Pada tahun 1600 Masehi, tempat itu menjadi sumber perdagangan besi yang penting bagi Sukadana.


Pulau Tanjung Pura memang sudah lama menjadi penghasil besi yang terkenal, tidak hanya bagi negeri-negeri Melayu, namun juga Jawa bahkan mancanegara.


Sejak abad ke-10 sampai 14, pusat kerajinan besi berada bagian barat daya pulau Tanjung Pura tepatnya di muara sungai Serawak sebelum kemudian pindah ke pulau Karimata.


Keris-keris yang digunakan orang Melayu Malaka dibuat menggunakan baja dari Karimata. Banten sendiri membeli sejumlah besar besi dari pulau tersebut sejak tahun 1598 Masehi, yang membuat Walanda juga akhirnya membeli kapak dan parang yang bermutu baik buatan Karimata untuk para pekerja mereka pada tahun 1609 Masehi.


Bahkan seperti diketahui, salah satu alasan Mataram menyerang Sukadana pada tahun 1622 Masehi adalah untuk mengamankan kekayaan besi untuk senjata ini bagi mereka sekaligus merebut perdagangan dari Walanda dan negeri-negeri lain, meski kemudian Mataram melemah dan Sukadana mulai bisa menjual besi untuk keperluan pembuatan senjata ini ke kerajaan atau daerah-daerah lain.


Tak heran, Walanda tercatat membeli sepuluh ribu kampak dan parang Karimata tahun 1631 serta membelinya lagi sejumlah delapan ribu enam tahun kemudian, yaitu tahun 1637 Masehi.


Datuk Mas Kuning telah mengenal Sukadana sejak lama terutama karena memang senjata-senjata para pesilat dan hulubalang Malaka ini dibuat dari dan menggunakan baja dari Karimata.


Sesampainya di Sukadana, sang datuk bekerja di Karimata dan setahun kemudian ikut berdagang besi ke Banten. Dari sanalah ia mempelajari ilmu pandai besi selama beberapa tahun serta mengembangkan ilmu silatnya.


Beragam permasalahan di dunia baru ini menempa sang datuk, bahkan ia memutuskan untuk membuat beberapa senjata pusaka dengan besi dan baja dari Karimata dengan mutu terbaik yang bisa ia kerjakan.


"Aku bahkan mempelajari ilmu kanuragan dalam pembuatan senjata ini dari orang-orang pedalaman. Aku bertemu sang bijak seorang Iban bergelar Temenggung Beruang yang mengajariku memasukkan tenaga dalam bahkan sedikit bersifat gaib ke dalam sebatang senjata," sepasang mata sang datuk menerawang jauh.


"Kekuatan gaib ini bukan sekadar untuk memberikan kekuatan dalam senjata, namun juga untuk mengenal baik segala jenis tenaga-tenaga itu untuk dapat mengatur dan membudidayakan atau memanfaatkanya dengan baik.


"Aku kemudian melanjutkan pengembaraanku ke pulau Jawa. Di sana aku bertempur, menjajal kanuragan, sampai berkawan baik dengan Bharata, Salman dan si kembar Karsa dan Mandura. Bharata mempelajari ilmu kanuragan tenaga dalam untuk pengobatan bersama dengan Salman. Aku masih cukup bangga dengan ilmu tenaga dalam senjata, sedangkan, yah ... Kau tahu sendiri dengan si kembar yang cinta diri itu. Mereka haus akan kekuasaan serta pencapaian diri, maka kekebalan adalah tujuan mereka.

__ADS_1


"Masa muda yang penuh dengan gejolak. Aku tidak malu dengan masa lalu, namun aku sadar pula atas segala kesalahan yang kulakukan di masa lalu," ujar Datuk Mas Kuning. Sekarang menatap Jayaseta


"Sudah pasti Salman memintamu datang kemari dengan alasan bahwa aku mengkhususkan diri dalam bidang kanuragan persenjataan," tambah sang datuk.


__ADS_2