
Kegesitan Pratiwi masih belum bisa ditandingi. Keris tanpa luk di tangan kanan dan belati Annam hasil rampasan dimainkan dengan begitu baik. Keadaan tubuhnya yang sebenarnya masih terhitung sakit itu tidak benar-benar mempengaruhi jurus-jurus yang dijalankannya. Setelah seorang perompak mati, Pratiwi langsung mengatur jarak sedekat mungkin dengan musuh dengan cara melancarkan serangan secepat mungkin. Ia tidak mau serangannya segera ditanggulangi musuh, apalagi bila sampai mereka menyerang Yu yang jelas memiliki ilmu silat yang berada di bawahnya.
Namun, Yu sudah dari awal tidak mau lagi melulu berada di belakang istrinya yang memang jagoan itu. Bukankah ia sudah menyelamatkan sang pendekar perempuan beberapa kali? Itu sudah menunjukkan bagaimanapun ia memiliki peran yang penting di dalam perjalanan berbahaya ini.
Yu kembali melemparkan satu dua jarum yang menyasar ke titik-titik mematikan di tubuh lawan. Seorang perompak Đại Việtmasih dapat menepis tiga jarum yang sekaligus terlempar ke arahnya. Hanya ini lemparan senjata rahasia Yu mengakibatkan sang perompak hilang titik pusat perhatian sehingga sekali lagi Pratiwi meluncur lembut tetapi gesit membelah tenggorokannya dengan belati di tangan kiri serta menanamkan keris di kepalanya. Sang perompak langsung tewas.
Pratiwi dan Yu bertukar senyum samar.
Dua perompak Đại Việtkali ini benar-benar murka melihat kedua rekan mereka tewas. Apalagi menyaksikan seorang pria Cina dan pembantunya yang melakukannya.
Ini bisa dimaklumi karena sudah sepuluh abad lamanya kerajaan Đại Việt ditaklukkan dan dikuasai oleh kemaharajaan Cina, terutama wangsa Han, wangsa Dong Wu, wangsa Jin, wangsa Selatan, wangsa Sui dan wangsa Tang. Barulah pada tahun 939 Masehi, orang-orang Đại Việt berhasil mengalahkan tentara Cina di Sungai Bach Dang. Ini juga mengakhiri penaklukan Cina atas tanah Đại Việt.
__ADS_1
Tidak hanya itu, bahkan ketika Cina dikuasai oleh orang-orang Mongol di bawah wangsa Yuan seabad kemudian, pada masa pemerintahan wangsa Tran, orang-orang Đại Việt mengalahkan tiga kali serangan pasukan Mongol itu, dimana secara mengejutkan panglima Đại Việtbernama Tran Hung Dao juga mengalahkan para pasukan Mongol tersebut di sungai Bach Dan seperti nenek moyangnya terdahulu.
Para perompak tersebut meski berasal dari kelompok Dunia Baru yang hendak menciptakan tatanan semesta anyar yang sama sekali berbeda dengan ketatanegaraan bangsa-bangsa di belahan dunia ini, bagaimanapun tetap memiliki rasa kebangsaan. Dua ratus tahun yang lalu, kerajaan Đại Việtdibawah kekuasaan Le Thanh Tong, telah pula berhasil memperluas kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan Champa dan Khmer.
Maka tidak heran, rasa bangsa mereka ditambah kebencian dengan orang-orang Cina tersebut membuat kedua perompak ini semakin berang. “Bunuh orang Cina dan budaknya itu,” teriak salah seorang perompak dari dua yang tersisa itu kepada rekannya.
Sadar dengan keadaan mereka, satu perompak sengaja membabibuta menyerang Pratiwi dengan kedua senjata di tangannya. Pedang bergaya Cina Han yang lurus dan tipis itu membabat dengan luwes tetapi tegas. Bunyi angin yang dihasilkan dari setiap besetannya terdengar begitu tajam.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Pada sabetan kelima, Pratiwi menepis serangan dengan menyongsong musuh, membabat putus jari-jari perompak yang menggenggam pedang bergaya Han tersebut sembari memberikan tendangan keras ke arah musuh yang berusaha menusuk Yu, tepat di ulu hatinya.
__ADS_1
Dua teriakan bersahutan. Pratiwi tak menyia-nyiakan. Ia melangkah panjang, membabat habis leher dan menusuk dada perompak yang hendak menyerang Yu tadi. Sebaliknya, melihat musuh satunya kehilangan pegangan atas pedangnya, Yu mendapatkan sasaran dengan baik. Ia melemparkan satu saja jarumnya yang melesat cepat ke titik mematikan di dekat telinga.
Sang perompak jatuh berdebum mati dengan wajah berwarna biru.
Yu menghela nafas, bangga dengan hasil serangannya. Ia memandang ke arah Pratiwi yang berbalik menatapnya dengan wajah dingin. Yu tersenyum karena tahu di dalam hati istrinya itu, ia juga sedang tersenyum.
“Jangan terlalu bangga dengan seranganmu, Yu. Jangan lupa, kau kurang bisa menjaga diri dari serangan lawan. Untuk nanti, jaga saja jarakmu. Kita harus segera ke haluan sebelum meriam direbut dan nakhoda kita dibunuh,” ujar Pratiwi.
Tepat ketika keduanya baru saja meninggalkan geladak tengah ke arah haluan, tujuh orang perompak lagi sudah merambat naik ke atas kapal. Ketujuh perompak kali ini adalah orang-orang Champa. Salah satu anggotanya, yang bertampang paling beringas, mungkin juga pemimpin rombongan perompak ini memandang geram dan murka pada keempat perompak Đại Việtyang telah terkapar tewas bersimbah darah.
“Bakar kapal ini. Tetapi temukan dulu siapa yang membunuhi anggota-anggota kelompok kita. Aku tak tak melihat ada prajurit Lan Xang di atas geladak. Jadi, pastilah ada orang-orang dengan ilmu kanuragan tertentu di atas kapal,” ujar sang pemimpin dingin sekaligus menahan amarah.
__ADS_1