Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tombak Dapur Brongsong Pengait


__ADS_3

Laut dangkal di kepulauan Riau ini tenang di siang yang menggeser pagi itu. Namun tidak dengan hati Lopes Fransisco de Paula yang berpacu cepat dan meledak-ledak keras mengikuti dahsyatnya dentuman meriam yang menjadi latar belakang pemandangan kapal mereka ini.


"Apa maksud perkataanmu, Jala Jangkung? Ini bukan saatnya untuk bercanda. Kau harus melenyapkan mereka semua, bukannya malah menantang orang itu bertarung satu lawan satu dengan taruhan yang besar," ujar de Paula gusar sekaligus khawatir.


"Aku tak sedang bercanda, tuan de Paula. Bahkan tindakanku ini adalah cara satu-satunya untuk melawan mereka dengan taruhan terkecil," balas sang nakhoda.


"Bagaimana kau dapat mengatakan bahwa ini taruhannya kecil?"


"Lalu, engkau ingin agar semua prajurit kita tewas? Kemudian para awak kapal berontak yang mencincang habis sisa orang yang ada di pihak kita, yang kebetulan juga bisa dikatakan sudah habis? Lalu mereka akan menghabisi tuan dan aku dengan cara yang tak mungkin bisa tuan pikirkan," balas Jala Jangkung sembari menatap mata tuannya itu dalam-dalam.


"Berdoalah kepada Tuhan bulemu, tuan, supaya kita masih bisa memiliki sedikit keberuntungan. Bila aku tak menang, paling tidak tuan tak dibunuh dan mayat tuan tak dibuang ke laut untuk dimakan hiu," lanjutnya.


De Paula making bergetar mendengar ini. Wajahnya pusat pasti dan lidahnya kelu kaku.


Jala Jangkung mengeratkan penutup kepala kainnya. ia berjalan ke ruangan pribadinya, mengambil dengan menyeret sebuah kotak atau peti perkakas kayu yang terlihat cukup berat.


"Ada alasan mengapa orang memanggilku Jala Jangkung, tuan," ujar sang nakhoda pendek. Ia membuka peti kayu yang berisi beragam persenjataan tersebut. Ia mengambil sebuah senjata yang aneh dari kumpulan senjata itu: rangkaian tali temali dari rantai-rantai kecil yang dianyam begitu rupa saling jalin menjalin.


Ketika diangkat, bunyi gemerincing besi terdengar jelas. Secara utuh, sekarang semua orang dapat melihat bahwa benda tersebut merupakan jala. Ya, senjata berupa sebuah jala dari rantai-rantai besi.


Ia kemudian berdiri dan berjalan ke satu sudut geladak. Ada sebuah tombak landean kayu ulin dengan mata atau dapur brongsong pengait. Tombak ini juga terlihat sangat khas dan berbeda, apalagi disandingkan dengan senjata berupa jala di tangan kirinya.



Jelas sekarang terjawab sudah mengapa sang nakhoda ini digelari Jala Jangkung.


***


"Kenakan topengmu, pendekar," ujar Jala Jangkar yang kini berdiri berhadap-hadapan dengan Jayaseta. Tangan kirinya menggengam jala rantai yang masih dalam keadaan kuncup, sedangkan tangan kanannya memegang tombak bermata brongsong pengait yang diberdirikan tegak.


Para awak berdiri di tepi. Jasad pendekar yang tewas telah disingkirkan, sedangkan yang terluka dirawat seadanya. Beberapa bahkan masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


De Paula dengan wajah pucatnya menonton pertandingan dari geladak atas bersama sisa pasukan bedil. Keduanya tangannya masih memegang pistol. Puluhan pasang mata sudah mengawasinya bila ia sampai-sampai mencoba menembak atau melakukan kecurangan lainnya, termasuk para pasukan bersenapan tersebut.


Jayaseta tak heran lagi mengapa sang nakhoda meminta memintanya mengenakan topeng itu kembali. Sederhana. Karena ia tahu pasti bahwa Jayaseta adalah sang Pendekar Topeng Seribu yang termahsyur namanya itu. Mungkin sekali sang nakhoda sudah jauh-jauh hari mendengar desas-desus mengenai dirinya. "Maaf, tuan nakhoda. Aku tak berencana untuk memuaskanmu. Sampai saat ini, anda terpaksa harus berhadapan dengan aku. Terserah aku mau kau anggap sebagai Pendekar Topeng Seribu atau bukan," ujar Jayaseta tanpa basa-basi lagi.


Jala Jangkung terkekeh. "Baik, baiklah bila ini yang memang harus terjadi. Lalu, apakah kau yakin hanya akan menggunakan sepotong rotan itu sebagai senjata?" kata Jala Jangkung.


Jayaseta hampir tersenyum, bukankah Katilapan tadi menghajar pendekarnya dengan sepotong rotan ini? "Tak apa tuan nakhoda, aku berjanji akan menggunakan sepotong rotan ini dengan sebaik-baiknya."


***


Gemerincing cincin logam yang berkaitan bernada diseret di atas papan lantai geladak kapal. Tombak berdaput brongsong pengait digenggam erat.


Jala Jangkung memandang musuhnya dengan awas dan perhatian penuh dan terpusat.


Jayaseta sendiri seperti biasa, berdiri tanpa kuda-kuda khusus, walau sebenarnya bisa dikatakan bahwa kuda-kuda Jayaseta yang seperti tanpa kuda-kuda itu adalah bagian dari Jurus Tanpa Jurus dimana setiap gerakan Jayaseta akan disesuaikan dengan cepat terhadap jurus lawan.


Jala Jangkung sudah mengamati dari awal pertarungan bahwa Jayaseta bergerak dengan cepat. Jurus-jurusnya mematikan dan susah ditebak. Tak heran orang ini yang dijuluki si Pendekar Topeng Seribu. Jala Jangkung bahkan setengah berharap bahwa entah bagaimana, topeng yang pendekar ini kenakan setiap bertarung adalah bagian dari ilmunya. Dan saat ini, sang pendekar menolak menggunakan topeng Mah Meri yang sepertinya ia ambil dari para budak yang bertugas menyerang jung mereka sebelumnya. Semoga ... Ya, semoga, pikir Jala Jangkung, si pendekar tak begitu hebat ketika tak bertopeng.


Jayaseta masih diam tak bergerak.


Jayaseta berkedip.


Tangan kiri Jala Jangkung bergerak. Jayaseta membaca gerakan ini dan hendak berkelit, namun ternyata, itu hanya gerakan tipuan belaka untuk mengecoh lawan. Tombak brongsong pengait meluncur cepat menyasar perut Jayaseta.


Jayaseta mundur. Ujung tombak lolos seruas jari saja.


Jala Jangkung menarik tombaknya cepat, kemudian kembali menyerang maju dengan langkah yang lebih panjang.


Jayaseta bergeser ke samping sehingga tombak itu melewati tubuhnya.


Jala Jangkung tersenyum. Ia menarik kembali tombaknya dengan sama cepatnya seperti ketika ia menyerang dengan tusukan.

__ADS_1


Jayaseta memutarkan tubuhnya. Hampir saja ujung tombak yang berbentuk pengait mengenai tubuhnya. Sebuah runutan jutus serangan yang cerdas, pikir Jayaseta. Itulah penggunaan mata tombak brongsong pengait. Dalam satu jurus, ada sekaligus dua sasaran maju dan mundur.


Jala Jangkung kembali menggerakkan tangan kanannya, membuat Jayaseta menebaskan tongkat rotan untuk menangkis serangan tusukan itu. Ternyata, Jala Jangkung melakukan tipuan lagi.


Tangan kanan hanya digerakkan cepat untuk mengecoh, sedangkan jala di tangan kiri dilemparkan.


Rangkaian tali-temali dari cincin-cincin besi itu membuka lebar dan menutupi kepala serta sebagian besar tubuh Jayaseta.


Jala rantai besi ini bukan sembarang senjata. Ada gantungan pengait bak mata pancing di sela-sela anyaman cincin besinya.


Jala itu mengunci Jayaseta bagai seekor ikan. Pengaitnya menempel di busana dan sabuk. Jayaseta juga merasakan bahwa beberapa penggait bagai mata pancing, menembus kulit lengan dan lehernya.


Jala Jangkung tersenyum lebar. Pandagan mata penonton melebar, semuanya terhenyak dengan apa yang akan terjadi berikutnya.


Jala Jangkung langsung menusukkan tombaknya ke korban yang sudah terjebak di jalanya.


Tusukan pertama, kedua, ketiga dilakukan dengan cepat agar dapat memberikan luka sebanyak mungkin pada musuh.


Sayangnya, walau sang lawan sudah bagai seekor hiu dalam jerat, ujung tombak Jala Jangkung belum berhasil mengenainya. Jayaseta bergerak cepat. Mata tombak hanya bergemerincing terkena sodokan itu.


Jala Jangkung menarik jala, bergeser ke samping untuk mengatur letak musuh sehingga lebih gampang untuk menombaknya.


Darah mengalir dari kaitan kail-kail baja kecil yang menyobek kulit Jayaseta. Ia sendiri ikut tertarik oleh sentakan tangan kiri Jala Jangkung.


Satu tarikan panjang kemudian membuat Jayaseta terjatuh dan bergulingan di geladak kapal. Luka di tubuhnya semakin bertambah. Kail-kail mungil namun tajam dan kuat itu menyobek busana Jayaseta dan menembus masuk ke kulit bahkan dagingnya. Luka-luka kecil sayatan, perlahan menjadi sobek lebih besar dan mengalirkan darah. Percikan merah cairan kehidupan itu kembali menghiasai lantai kayu.


Jala Jangkung tersenyum lebar, sumringah. Begitu juga dengan de Paula di geladak atas. Ternyata sang nakhoda bukan orang biasa yang bisa disepelekan.


Jala Jangkung sangat menikmati adegan ini. Ia menyentak jala, membuat Jayaseta berdiri cepat agar tubuhnya tak makin tercabik-cabik.


Sang nakhoda langsung menggunakan kesempatan ini untuk kembali menarik dengan keras, cepat dan panjang jalanya. Jayaseta tertarik lurus ke arahnya.

__ADS_1


Jala Jangkung menunduk dengan kuda-kuda rendah. Tombaknya lurus kedepan. Ia berseru, "Terimalah jurus Tusukan Kilat Pelebur ku ini, pendekar!"


__ADS_2