Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Ruang Sempit


__ADS_3

Jayaseta melontarkan tubuhnya tinggi sembari menepis tusukan tombak dan sabetan daab. Ujung ngao musuh pun lolos dari sasarannya karena Jayaseta sudah melenting tinggi.


Kesempatan ini ia gunakan untuk menjejak perampok yang mencoba menusuknya tersebut.


DAG!


Dada sang musuh terkena tendangan dengan telak. Musuh terjungkal mundur ke belakang. Ngao nya terlepas dari tangan.


Jayaseta melemparkan daab di tangannya ke arah beberapa perampok yang berusaha memburunya dari atas pelana kuda.


Bilah daab meluncur berputar membuyarkan serangan. Kuda meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas ketika daab yang dilemparkan melukai para penunggangnya.


Keputusan dan gerakan pendekar bertutup mulut itu sama sekali tak terduga. Dalam sebuah pertarungan, senjata amatlah penting dan mutlak adanya. Melepaskan senjata yang ada di tangan bukanlah sebuah pilihan bijak, kecuali memang terpaksa karena terlepas dari tangan atau rusak, patah dan tak bisa digunakan lagi. Itupun, senjata cadangan pasti siap untuk digunakan seperti pisau atau belati.


Namun, sosok pengacau tak dikenal yang gesit ini benar-benar cekatan dan sepertinya berani atau ceroboh. Bagimana mungkin ia berani melepaskan senjatanya. Bagaimana caranya mempertahankan diri?


Debu masih berputar-putar dengan sosok Jayaseta di baliknya.


Ia adalah seorang pendekar dengan Jurus tanpa Jurus. Ini berarti ia tak memiliki keterikatan dengan apapun. Senjata apapun bisa ia gunakan. Bahkan bila tak bersenjata pun, segala bagian tubuhnya adalah mematikan. Ia berani menggunakan senjata dengan cara yang sama sekali berbeda dan tak awam selama tujuan utamanya tercapai. Mengorbankan senjata yang ada di tangannya demi tujuan yang lebih besar adalah hal yang biasa.

__ADS_1


Benar saja, daab yang dilempar memang bertujuan merusak pola serangan musuh dan membuyarkan perhatian.


Jayaseta kini sudah memegang ngao dengan pengait di pangkal bilahnya.


Bila ngao biasanya digunakan dari atas pelana kuda untuk menusuk, menyodok dan mencabik tubuh musuh yang ada di bawah, Jayaseta menggunakannya dengan cara yang berkebalikan.


Ia menimbang sejenak berat dan rasa tombak itu di tangannya. Ia mendadak teringat pada mendiang ayahnya yang sewaktu ia kecil pernah diajarkan bagaimana menggunakan guandao, sebuah tombak dengan mata seperti pedang atau dao. Baik ngao dan guandao memang memiliki bentuk yang serupa. Bedanya, guandao cenderung digunakan untuk mematahkan serangan lawan sebagai bentuk pertahanan dibanding serangan.



Pedang atau tombak lawan bisa ditepis dengan menggunakan sisi gundao dan bilah tajamnya digunakan untuk membelah dan menusuk, membuat musuh terpaksa harus mundur atau senjatanya sendiri terlepas.


Tapi itu tak lama. Dengan meleburkan jurus silat gungfu Cina dan rasa ngao di tangannya, Jayaseta menepis dua tusukan tombak, baik tombak lancip biasa dan ngao juga, yang diarahkan kepadanya dengan sisi bilah ngao. Kemudian ia membelah serangan lawan.


Dua penyerang mendadak keteteran dan jatuh dari kuda.


Jayaseta berbalik, menepis satu sabetan daab dari atas kuda, kemudian menggunakan pengait di pangkal bilah untuk menarik kaki musuh di bagian pahanya.


Teriakan keras kesakitan menyusul ketika ujung lancing pengait melengkung yang melesak masuk ke kulit dan daging sang penyerang. Jayaseta langsung menyentak jatuh perampok tersebut.

__ADS_1


Keadaan benar-benar kacau. Sudah belasan perampok terjungkal jatuh dari kuda ke tanah, meninggalkan luka yang tak kecil. Mereka berhasil dilumpuhkan dan dibuat tak berkutik setelah jatuh ke tanah. Kuda-kuda yang ditinggal jatuh pengendaranya meringkik keras dan berlari menjauh kebingungan.


Perampok-perampok berkuda lain kini harusnya sadar bahwa mereka terlihat konyol karena harus berderetan mengantre untuk dijatuhkan dari atas kuda oleh pendekar tak dikenal tersebut.


Ruang sempit diantara kuda hanya akan membuat setiap penyerang bertubrukan dan kesulitan mendekati musuh. Banyaknya jumlah perampok berkuda sama sekali tak berpengaruh. Bila begini terus, mereka tinggal menunggu giliran dipecundangi. Puluhan perampok berkuda akan menjadi belasan dan bisa saja kurang dari itu.


Dua perampok yang semula memperhatikan sepak terjang sosok pendekar yang berseru mengaku sebagai Pendekar Topeng Seribu itu saling tatap. Mereka sudah sedari tadi undur diri dan mempersilahkan rekan-rekan perampok berkuda mereka yang mengambil alih penyerangan.


Awalnya, puluhan perampok berkuda jelas unggul telak, pikir mereka. Kedua perampok yang merupakan bagian dari sebelas penyerang awal itu memang sudah merasa bahwa sosok Pendekar Topeng Seribu tersebut adalah lawan yang pilih tanding. Itu sebabnya mereka sengaja memanggil langsung puluhan rekan perampok mereka yang bersembunyi di balik pepohonan di belakang perbukitan.


Harusnya, dengan jumlah pasukan sebanyak itu, tidak hanya mengalahkan sang pendekar yang seorang diri itu, tapi bisa membunuhnya dengan mudah. Paling tidak, harusnya kedatangan puluhan perampok berkuda dan bersenjata itu bisa membuat nyali si pendekar pengganggu itu menciut.


Nyatanya, itu semua tidak terjadi. Si Pendekar Topeng Seribu begitu pandai dalam menggunakan keadaan dan memanfaatkannya untuk keunggulannya. Awalnya kedua perampok Siam itu menduga seperti yang telah menjadi desas-desus bahwa memang tokoh mahsyur yang mengganggu kegiatan perampokan mereka tersebut benar memang berada di pihak Melayu Kedah. Tetapi menilik dari gaya bertarungnya, mereka sama sekali tak mampu menerka jenis silat apa yang digunakan.


Cara si pendekar memainkan daab seperti silat Siam, meski dengan tambahan unsur yang tak dikenal. Ada pula semacam serangan bergaya silat Melayu dan Jawa, bahkan tendangan-tendangan yang dilontarkan seperti berasal dari negeri Selatan jauh.


Intinya, semua ini harus segera dihentikan bila tidak mau semua perampok berkuda dipermainkan: dijatuhkan dari kuda, dilumpuhkan dan begitu terus sampai habis penunggangnya sama sekali.


Kedua perampok meloloskan daab kembar mereka dari sarungnya kembali. Secara bersamaan keduanya mengangkat daab mereka tinggi kemudian berseru berteriak lantang dalam bahasa Siam, "Berhenti semua! Berhenti! Mundur ... Munduurrr!"

__ADS_1


__ADS_2