
Jaka Pasirluhur berdiri di tengah geladak buritan. Ia baru saja meminta prajurit Lan Xang untuk berhenti menembakkan meriam, tentu saja ini dilakukannya dengan bahasa isyarat karena kedua pihak sama-sama tak mengetahui bahasa masing-masing. Tidak hanya itu, dengan cepat ia menjelaskan sebisanya bahwa mereka lebih baik bersiap di atas geladak, memutuskan tali-tali yang digunakan penyerang untuk merambat naik ke kapal mereka.
Untungnya, para prajurit Lan Xang mengerti dan mau mendengarnya. Ini bukan tanpa alasan, beberapa waktu yang lalu, sosok bertopeng dengan raut wajah lucu selucu bentuk senjatanya itu, dalam setiap gebrak berhasil membunuh dan mendorong jatuh empat penyerang kembali ke laut.
Kini, sosok Jaka Pasirluhur, berdiri dengan kuda-kuda jurus yang baru ditemukannya sendiri itu di tengah-tengah. Tangannya yang puntung siap di sisi tubuhnya, serupa dengan tangan satunya yang menggenggam kudhi. Rencananya adalah membantai siapapun yang berhasil menembus pertahanan prajurit Lan Xang yang menyerang mereka di sisi buritan.
Tak lama sebatang tombak dilemparkan ke arah Jaka Pasirluhur yang dapat mengelak dengan tidak banyak usaha.
"Mereka senang sekali melemparkan lembing," batin sang pendekar bertopeng Penthul Tembem itu.
Pertahanan diterobos. Meski hanya satu tombak yang dilemparkan, tetapi tiga orang yang sudah menghambur ke arah Jaka Pasirluhur. Ketiganya menggenggam satu pedang di tangan kanan dan satu belati di tangan kiri. Tombak tidak lagi ada di tangan mereka. Ketiga penyerang ini nampaknya berasal dari Champa, bukan orang-orang Đại Việt. Bisa jadi para perompak Đại Việt mendapatkan tugas menyerang bagian haluan.
Jaka Pasirluhur paham itu.
"Peduli setan. Maju kalian semua!" seru Jaka Pasirluhur.
Ketiga orang yang menyerang dengan dua senjata masing-masing di saat yang sama, jelas bukan perkara mudah. Apalagi perompak-perompak ini bukan orang biasa. Mereka bagaimanapun, sejelek apapun kemampuan silat dan beladiri mereka, tetaplah orang-orang yang terlatih, terutama oleh pengalaman.
__ADS_1
Jaka Pasirluhur memutar badan setengah lingkaran. Gerakannya seperti orang mabuk yang hilang keseimbangan. Anehnya, jurus ini malah cocok ditetapkan di atas geladak kapal yang bergoyang-goyang seperti ini.
Jaka Pasirluhur tersenyum lebar di balik topengnya.
Gaya bagai orang mabuk nya membuat tubuhnya bergoyang-goyang aneh, seperti tak seimbang antara bagian tubuh kiri dan kanannya. Sebagai akibatnya, setiap tusukan dan sabetan belati dan pedang musuh berhasil dihindari. Jaka Pasirluhur menghindar dengan menyelip di ruang sempit diantar para penyerang.
Kudhi nya bergerak liar, memapras menyilang ke udara, sekali saja.
BRET!!
Lambung satu penyerang sobek. Darah tumpah bagai dituang dari ember kayu. Tubuh sang perompak Champa itu ambruk bagai sebatang kayu kering. Bedanya, ia berdarah-darah dengan parah.
Teriakan keras memilukan menggema. Jaka Pasirluhur menarik kudhi nya yang ujung melengkungnya masih menancap di pinggul musuh, sekaligus menarik tubuh sang lawan. Tubuh perompak yang dilempar Jala Pasirluhur itu menubruk tubuh rekannya.
Kemarahan terlihat jelas di wajah perompak Champa itu. Ia bangun setelah memindahkan tubuh rekannya yang ternyata tewas itu setelah menimpa badannya.
Suasana kapal masih riuh. Teman-temannya masih berusaha naik ke kapal. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama bagi mereka untuk menyusul naik. Namun, sang perompak ingin menyelesaikan pertarungan ini. Ia mau ialah yang membunuh sosok bertopeng di depannya tersebut. Perintah dari kelompok Dunia Baru jelas. Bunuh dua orang Jawa bertopeng di kapal ini.
__ADS_1
Belati di tangan kiri sanh perompak bersinar diterpa cahaya matahari. Jaka Pasirluhur berani bertaruh, belati Champa bergagang perak itu pastilah hasil rampasan dari orang sebangsa. Sedangkan tangan kanannya menggenggam pedang panjang melengkung bergaya wangsa Mamluk, orang-orang Hindustan. Terutama dari hulu perang yang cocok dipakai dengan satu tangan.
Sang perompak memutar-mutar pedang panjangnya kemudian mengaum, menyerang dengan cepat membacok ke arah kepala Jaka Pasirluhur. Sang pendekar bertopeng itu mengelak ke samping, lagi-lagi dengan gaya semacam orang mabuknya itu.
Pedang Mamluk itu melesat lolos dari sasaran. Sang perompak menusukkan belatinya dua kali dengan gaya pendek-pendek. Masih gagal! Jaka Pasirluhur mundur cepat.
Gusar, perompak Champa itu mengejar Jaka Pasirluhur dengan sekali lagi mencoba membelah kepala musuh dengan satu bacokan panjang.
Dia salah besar. Jaka Pasirluhur telah berhasil menjebak dan menguncinya. Jurus-jurus langkah mabuk itu membuat musuh bernafsu terus mengejar, padahal Jaka Pasirluhur jelas mengurungnya. Mungkin gerakannya bagai orang mabuk, tetapi sang pendekar benar-benar waras dan terukur.
Jaka Pasirluhur menahan gerak mundurnya mendadak, bergerak menyamping sangat rendah hingga seakan ia hendak terjatuh. Namun, dalam satu hentak, di saat yang sama dengan hindaran, Jaka Pasirluhur menebas putus kepala sang perompak dari arah samping. Potongan di leher musuh itu tidak rapi, cenderung kasar dan kotor karena dilakukan dari sudut yang begitu rendah. Namun, itulah salah satu ciri jurus-jurus kudhi Jaka Pasirluhur kini: tegas dan lugas.
Kepala sang perompak Champa berguling di geladak kapal, disusul tubuh tak bernyawanya.
__ADS_1
Akan tetapi, Jaka Pasirluhur tak bisa istirahat. Sudah ada rombongan perompak lagi yang sudah berhasil naik ke geladak.