
Berbeda dengan Ng Ying Gung Fu atau dikenal juga dengan nama Wǔ Xíng - lima unsur-, silat Cina yang meniru gerakan lima binatang yaitu harimau, burung jenjang atau bangau, macan loreng, ular dan naga, silat di nusantara cenderung tidak benar-benar meniru gerakan-gerakan binatang secara lahiriah. Silat nusantara seperti Melayu, Jawa, Bugis atau bahkan suku-suku Daya di pulau Tanjung Pura cenderung mengambil falsafah, saripati dan inti atau lambang dari gerakan binatang tersebut. Meski memang beberapa gaya silat benar-benar mencontoh gerakan binatang, misalnya penggunaan jari-jari sebagai cakar macan, atau buku-buku jari sebagai ganti tanduk banteng.
Silat Gayong Pattani ini, misalnya. Ia mengambil semangat kelincahan seekor kera dalam gerakan silatnya, bukannya melakukan perilaku bagai kera yang berjongkok, melompat-lompat, bahkan menggaruk-garuk kepala seperti pada banyak jurus-jurus silat Cina. Pada silat Cina, terutama yang dipelajari para pendeta Buddha di Shaolin, mereka menggunakan tiga jari sebagai tiruan cakar naga, sedangkan Yunus dalam jurus-jurus silat Gayong Pattani nya mengambil unsur liat dan kuat dari seekor naga, sehingga gerakan jurusnya cenderung memainkan seluruh bagian dari tubuhnya yang bergerak luwes menghindari serangan lawan dan membalas dengan sama gesitnya.
Maka, jurus terakhir yang belum digunakan adalah penggunaan unsur harimau. Jayaseta sudah meraba penuh setiap jurus dan gerakan Yunus. Ia bahkan sudah mampu merumuskan silat Gayong atau silat Harimau Pattani ini sehingga ia tidak hanya mampu meniru, namun juga menebak bentuk jurus dan gerakan yang mungkin dilakukan.
Maka keadaan menjadi menegangkan bagi Yunus. Ia terkesima dengan apa yang baru saja diucapkan Jayaseta. Para penonton, para murid masih menyorakinya, memberikan semangat karena melihat bahwa ia mungkin berada di atas angin dan memiliki kesempatan memenangkan adu tanding ini. Padahal ia sudah merasa terancam karena musuh yang ia hadapi ini bukan berada tingkatannya melainkan jauh di atasnya.
Di satu sisi ia yakin sekali bahwa ia akan dikalahkan, namun di sisi yang lain, darah kependekarannya begitu menggelegak. Ia ingin benar tahu langkah apa yang akan diambil Jayaseta ketika mengetahui bahwa jurus terakhir yang belum ia gunakan adalah jurus harimau.
Datuk Mas Kuning melirik ke arah Dara Cempaka yang sedang memerhatikan suaminya dengan khidmat. "Engkau tak khawatir, bukan, cucuku?" katanya perlahan.
Dara Cempaka tersentak sedikit. Ia balik menatap sang Datuk kemudian tersenyum. "Tentu tidak, Datuk. Aku sedang mempelajari bagaimana abang Jayaseta mampu memahami jurus-jurus lawan dengan baik dan meleburkannya dalam jurusnya sendiri," ucap sang gadis bangga.
***
Yunus benar-benar tak menyangka bahwa serangannya telah didahuli oleh Jayaseta dengan sama persis. Jayaseta melompat ke depan, kemudian berputar penuh dengan cepat agar kedua tinjunya dapat dipukulkan sekuat dan secepat mungkin dengan memanfaatkan perputaran tubuhnya. Inilah jurus yang meniru keganasan seekor harimau dalam jurus-jurus Gayong Pattani.
Yunus sendiri baru melakukan separuh putarannya ketika pinggang dan dadanya terkena pukulan ganda beruntun Jayaseta dengan gaya jurus harimau yang ia kuasai.
Tubuh Yunus tersentak ke belakang dan jatuh bergulingan.
Ketika Yunus sadar, ia sudah dikelilingi murid-murid perguruan, beberapa tamu termasuk Jayaseta, ketiga Harimau Gayong Melayu lain dan tentu saja sang guru Baharuddin Labbiri.
__ADS_1
Yunus langsung bangun berdiri. Tak ia hiraukan rasa pening di kepalanya dan nyeri di tubuhnya. "Berapa lama aku tak sadarkan diri?" ujar Yunus khawatir.
"Ah, sayang sekali kau sudah bangun, Yunus. Hanya paling tidak selama tiga kunyahan sirih," ujar Mansur meledek.
Semua tertawa, lebih ke perasaan lega karena Yunus sudah kembali pulih karena tadi ia tak sadarkan diri setelah diserang Jayaseta.
"Aku jelas kalah, Jayaseta," ujar Yunus tak perlu malu lagi. Ia toh sudah benar-benar kalah sama sekali. Untuk apa merasa malu? Lagipula ia sudah melakukan yang terbaik. Jayaseta berada jauh di atasnya.
Jayaseta memeluk Yunus sejenak dengan hangat. "Engkau memberikan pelajaran berharga buatku, Yunus, saudaraku. Dan perlawananmu juga luar biasa," ujar Jayaseta.
Yunus tersenyum malu-malu. Namun kemudian ia menatap sang guru, "Tun Datuk Guru, sudah saatnya engkau yang melawan Jayaseta, sang pendekar ini. Kami ingin melihat pula engkau dikalahkan olehnya. Pasti memuaskan dapat melihat guru kita melawan seorang pendekar yang adiguna ini," ujarnya. Terdengar lancang. Namun, rupa-rupanya sifat Baharuddin Labbiri sebagai guru yang hangat, ramah dan tidak kaku itu menciptakan sebuah budaya hormat-menghormati meski tidak melulu pada kekakuan aturan hubungan guru dan murid.
Baharuddin Labbiri melihat ke arah para muridnya yang semuanya seakan setuju dengan apa yang diungkapkan Yunus. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian mengangguk mantap. "Baik, baik. Dasar murid-murid kurang ajar kalian semua. Lihat baik-baik bagaimana seorang Baharuddin Labbiri bersilat. Dan engkau pun dapat menyaksikan kemampuan muridmu ini, Datuk," ujar Baharuddin Labbiri kali ini kepada Datuk Mas Kuning yang membalasnya dengan tatapan dan senyuman tipis penuh kebanggaan.
Keempat muridnya tersenyum kecut. Kata-kata Yunus yang bernada tantangan tadi jelas merupakan candaan belaka karena bahkan keempatnya paham seberapa sakti sang guru. Kemampuan silat masing-masing dari keempat Harimau Gayong Melayu itu didapat semua dari guru mereka. Berarti bisa dikatakan, sang guru menguasai semua jurus-jurus silat yang mereka kuasai, bahkan jauh di atas mereka pula, karena mereka sendiri masih dalam tahap menyempurnakan ilmu silat mereka juga.
Itulah sebabnya siapapun pasti ingin sekali melihat sepak terjang Baharuddin Labbiri dalam melawan orang asing yang ketahuan memiliki ilmu kanuragan yang tidak bisa dianggap enteng dan dilihat sebelah mata.
Maka, paripurnalah hari ini bila mereka diberikan kesempatan
***
Baharuddin Labbiri mengikatkan sarung di pingangnya membentuk semacam cawat. Di baliknya, celana kain panjang ikut terangkat setinggi betis. Ia juga kemudian menggulung kain di bagian kedua lengannya sampai di atas siku.
__ADS_1
"Sebentar, beri aku waktu sejenak, Jayaseta," ujarnya kepada Jayaseta yang menatapnya dengan penuh minat.
Baharuddin Labbiri mengambil dua utas tali jerami dari sebuah ruangan, kemudian datang kembali serta membelit kedua lengannya dengan tali itu sehingga membentuk semacam sarung tangan yang terbuka hanya di jemari dan siku. Setelah selesai, ia saling memukulkan kedua tinjunya untuk merasakan ikatannya.
"Nah, aku telah siap. Mari, kita mulai saja, Jayaseta," ujar Baharuddin Labbiri santai, namun pandangannya terlihat nakal dan bengal.
Jayaseta masih mencoba menerka apa yang sedang terjadi. Silat macam apa yang akan digunakan sang laki-laki Bugis ini untuk melawannya? Pakaian, alat dan persiapan sang guru ini tak dikenal Jayaseta sama sekali, siang bagi Jayaseta.
Datuk Mas Kuning terkekeh. Sebaliknya, ia paham sekali dengan apa yang hendak dilakukan sang mantan muridnya tersebut. Dara Cempaka bahkan harus memandang ke arah kakeknya itu dan bertanya-tanya. "Kali ini, suamimu itu akan mendapatkan pelajaran yang sangat diperlukan dalam perjalanan kita nanti, Dara. Percayalah," ujar sang Datuk mantap.
Dara Cempaka memincingkan sepasang mata indahnya. "Datuk sungguh tak hendak memberikan aku penjelasan apa-apa? Barang sedikitpun? Nampaknya setelah aku dinikahkan dengan abang Jayaseta, Datuk sudah benar-benar melupakan bahwa aku adalah murid Datuk pula. Dari sekian gaya bertarung silat Melayu, Datuk tak mengenalkan jenis yang ini. Bukan begitu, Datuk?" ujar Dara Cempaka kepada sang Datuk.
"Ah, Dara. Bukan begitu," ujar Datuk Mas Kuning. Ia menghela nafas. "Baik, baiklah. Datuk akan jelaskan sedikit saja kepadamu. Tapi tidak lebih. Datuk tak ingin merusak kejutan."
Dara Cempaka mengangguk bersemangat.
"Gaya bertarung yang akan digunakan Labbiri itu dikenal di dunia Melayu sebagai Silat Tomoi."
"Silat Tomoi?" Dara Cempaka menirukan.
"Benar, Dara. Silat Tomoi lebih dikenal di negeri-negeri Melayu pesisir di bagian Utara yang berbatasan dengan negeri orang-orang Siam seperti Kelancaran dan Terengganu. Silat ini juga disebut dengan Muay Yawi."
Dara Cempaka memperhatikan dengan seksama ucapan sang Datuk sembari memperhatikan Baharuddin Labbiri yang berjalan ke tengah lapangan.
__ADS_1
"Silat Tomoi sebenarnya bisa dikatakan merupakan silat orang-orang Siam, Burma dan Khmer yang digunakan oleh orang-orang Melayu. Bila di dunia Melayu kita menyebut beladiri bangsa kita sebagai silat, orang-orang Siam memiliki beladiri mereka sendiri yang walau berbeda aliran, tetap memiliki gaya yang serupa dan secara umum diberi nama Muay Boran," tutup sang Datuk.