Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Silat Gayong


__ADS_3

Seni beladiri dan ilmu tempur silat yang berkembang di kepulauan Melayu sudah tercatat bentuknya dalam gambaran dan tanggalan di candi Barabudhur atau juga dikenal dengan candi Bore-Budur serta candi Siwagrha yang terletak di desa Prambanan pada abad ke-8 Masehi.


Ilmu silat Melayu dengan bentuknya yang dikenal memiliki beragam gaya dan jurus tersebut dikatakan bermula dari kepulaun Riau, merebak ke Minangkabau.


Di kepulauan Melayu ini pula, terbukti silat digunakan oleh Kedatuan Sriwijaya yang berkuasa pada anak ke-7 sampai abad ke-14 ketika meluaskan kekuasaannya. Sedangkan pada jaman Majapahit, yaitu dari abad ke-13 sampai 16 Masehi, ilmu-ilmu silat mencapai kesempurnaannya dengan penggunaan senjata pula.


Dari Minangkabau, silat diperkenalkan ke Semenanjung Tanah Melayu melalui Malaka. Dalam jaman Kesultanan Melayu Malaka, silat dengan bentuk yang sempurna dalam pertempuran dan peperangan ini hanya diajarkan pada orang-orang dari golongan istana atau kerajaan saja, agar hanya kerajaan yang mampu menguasai kehebatan ilmu silat ini sehingga mampu mengatur masyarakat dan bawahan.


Namun di Malaka, seni silat ini akhirnya tak pelak bocor serta sampai juga dipelajari oleh rakyat jelata. Orang-orang biasa pun mulai mempelajari seni silat ini.


Contoh jelas adalah Laksamana Hang Tuah yang berasal dari masyarakat biasa cenderung rendah, bahkan ia di dikatakan dilahirkan di sebuah gubug reyot. Ia dikenal sebagai seorang laksamana kerajaan Malaka yang sakti bahkan sampai saat ini menjadi kisah yang turun-temurun diceritakan kepada masyarakat Melayu karena ia diangkat sebagai pemula silat gaya Melayu.


Ia sendiri dikatakan berguru silat dengan Sang Adi Putera di Gunung Ledang serta Sang Persanta Nala dari Majapahit di pulau Jawa.


Mulai dari masa Hang Tuah inilah sebuah gaya silat bernama silat gayong atau silat gayung bermula.


Pada saat pemerintahan Sultan Mansyur Syah yang berkuasa dari tahun 1459 sampai 1477 Masehi di Kerajaan Malaka inilah, silat gayong digunakan untuk menaklukkan Pahang dan Kedah yang sebelumnya dikuasai Kerajaan Siam.


Kemudian setelah Malaka jatuh ke tangan bule Pranggi 30 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1511 Masehi, hulubalang Malaka yang dipimpin putera Hang Tuah sendiri, yaitu Tun Biajid, terpaksa bersembunyi ke dalam hutan.


Dari sana ia memimpin serangan-serangan mendadak dan sembunyi-sembunyi melawan pasukan dan angkatan perang Pranggi.


Walau dalam persembunyian, mereka masih mampu menggempur para pasukan Pranggi dengan menggunakan ilmu kanuragan dan silat mereka yang disebut sebagai silat gayong tersebut.


Ciri dari silat ini adalah serangan yang menyerang dengan cepat, kemudian bertahan atau mengelak juga dengan cepat, serta menggunakan segala macam senjata dan cara untuk mengalahkan lawan.


Kata gayong atau gayung dalam bahasa Melayu kurang lebih berarti gerakan menyerang dengan tombak, parang, pedang dan sebagainya. Namun kadang kata gayong sendiri sudah berarti silat, sehingga seni gayong sudah sekaligus berarti seni bermain silat.


Sang dara berwajah manis dan berkulit putih ini juga menyerang Jayaseta dengan menggunakan jurus-jurus silat gayong gaya Malaka asli yang dipelajari dari sang datuk, kakek kandungnya, yang memang berasal dari Malaka.


"Maafkan kelancanganku, nimas, aku sama sekali tak bermaksud jahat. Aku mengaku bersalah karena datang dengan mengendap-endap, tapi aku mohon kita tidak lanjutkan lagi perselisihan ini," Jayaseta memutuskan untuk berbicara perlahan, setengah berbisik untuk menghindari pertarungan lebih jauh.


"Wah, sang penyusup bisa berbicara juga rupanya. Kau orang yang kurang ajar dan tak tahu diri berlindung di balik sebuah topeng datang mencari masalah. Tiba-tiba kau berlagak menjadi seorang pengecut seperti ini?"


Jayaseta memandang sang datuk yang berdiri tak bergerak namun tersungging senyum kecil di bibirnya.


Ia kembali memandang sang dara, "Tapi aku tak ingin melukai nimas. Anggap saja permasalahan kita telah selesai sehingga aku bisa menjelaskan duduk perkara sebenarnya mengapa aku terpaksa datang dengan mengendap-endap."


"Kata-kata macam apa itu?!" sang dara terlihat kesal berlapis-lapis.

__ADS_1


"Kisanak, seperti kataku. Kalau kau bisa mengalahkan cucuku yang sudah penasaran dengan ilmu silatmu, baru kita berbicara," kali ini sang datuk yang berkata.


"Nah, Dara. Datukmu sudah mencoba untuk menyambut tamu kita dengan baik, namun engkau yang sepertinya hendak menyambut dengan cara lain. Maka selesaikanlah, datuk hendak tahu keinginannya," ujar sang datuk kepada Dara.


"Jangan khawatir, datuk. Aku akan benar-benar beri pelajaran kepada penyusup ini!"


Jayaseta menggigit bibirnya di balik topeng kayu berhias bulu burung yang ia kenakan.


Tak ada cara lain. Ia akan selesaikan acara penyambutan ini sesegera mungkin.


"Sekali lagi mohon maaf, datuk, nimas, ...," jayaseta menghambur dengan kedua tangannya ke arah Dara, bertujuan untuk menggenggam kedua lengan gadis itu dan melepaskan cindai nya.


Dara dapat melihat kedua tangan Jayaseta tiba-tiba meluncur ke arahnya.


Ia dengan sigap mundur selangkah, sesuai dengan jurus silat gayong yang memang sifatnya memang menyerang dan mundur dengan cepat dan gesit.


Dara berpikir bahwa ia dapat membaca serangan Jayaseta ini, padahal sebenarnya Jayaseta sengaja menyerahkan kedua lengannya.


Dan memang ini yang terjadi.


Dara membelit kedua lengan Jayaseta dalam satu gerakan, kemudian dengan kelenturan tubuhnya yang mengejutkan, Dara bergeser ke samping lalu kembali mengunci kedua tangan Jayaseta mendekat ke bagian leher Jayaseta.


Kali ini kedua tangan Jayaseta dibelit dan dimaanfaatkan untuk sekaligus mencekik dan mengunci lehernya.


BRET!!


Selembar cindai itu sobek menjadi dua. Dara terdorong mundur dan hampir jatuh terlentang.


Jayaseya memutarkan tubuhnya dan mencoba menolong Dara dengan bergegas menggenggam tangannya.


Dara melihat ini sebagai sebuah serangan tambahan. Maka ia menepis tangan Jayaseta dan menendang Jayaseta tepat di dada sembari mencelat ke belakang.


Jayaseta tersentak selangkah ke belakang sedangkan Dara sudah siap dengan kuda-kudanya kembali.


Wajah manisnya memerah bagai udang rebus, berkelap-kelip bagai lahar dalam keremangan malam. Luar biasa rasa kesalnya. Tidak hanya ia harus menahan segala suara, entah gerakan maupun teriakan, namun juga kekalahan harus ia tahan.


Sebalnya lagi, sang penyusup bertopeng itu juga mampu memainkan permainan tanding tanpa suara ini. Ini merasa dilecehkan habis-habisan.


Sebaliknya sang datuk malah terkekeh pelan. "Datuk tak mau melarangmu, Dara. Kau pasti saat ini akan semakin marah," ujarnya.

__ADS_1


Sang datuk kemudian melemparkan sesuatu ke arah Dara setelah melihat dara membuang potongan cindai nya ke lantai. "Silahkan kau lanjutkan, Dara," katanya sembari masih tersenyum.


Dara menangkap benda berwarna gelap yang panjangnya sekitar sehasta itu. Dengan benda yang dijadikan senjata itu pula Dara langsung menyerang Jayaseta kembali.


Dua sabetan menyilang dapat Jayaseta hindari dengan tanpa kesukaran. Namun pada serangan ketiga yang merupakan sebuah tusukan ke arah wajah bertopengnya ...


SRET!


Jayaseta terkesima! Serangan ketiga itu tak benar-benar mengenainya, namun cukup membuat perhatiannya terpecah sehingga Dara berhasil memukul dadanya.


Dua serangan Dara yang berhasil mengenai dadanya, baik tendangan maupun pukulan, bukan serangan tak berbobot walau tak benar-benar melukainya. Ditambah lagi dengan kemunculan sebuah senjata yang baru ia lihat dan hadapi langsung.


Sebuah kipas!


Kejutan apa lagi ini?


Kipas kain hitam dengan kerangka lempeng besi berujung lancip nan tajam itu menusuk ke arah wajah, namun dapat dihindari dengan sedikit saja berpaling, tapi kemudian berhasil menggores topeng kayu Jayaseta ketika dibuka lebar.



Layaknya sebuah senjata dalam ilmu silat, kipas juga memiliki beragam bentuk dan ukuran. Ada yang lebar dan panjang, digunakan dengan satu tangan, atau lebih kecil dan digunakan dengan kedua tangan.


Permainan kipas dengan melebarkan dan menguncupkannya dapat mengganggu perhatian lawan. Lawan akan terkejut ketika kipas dilebarkan, apalagi dengan bunyinya yang mendesir cepat.


Dara ternyata bukan seorang pendekar perempuan biasa. Ia dapat meredam dengan baik bunyi kipas dengan secepat itu pula menguncupkannya.


Bagai seekor ular yang mematuk korban dan kembali ke keadaan semula, serangan kipas Dara dapat memanjang ketika dilebarkan. Inilah yang membuat goresan pada topeng Jayaseta.


Sang datuk masih tersenyum.


Jayaseta menarik nafas dan kembali tak dapat menahan senyumnya sendiri.


Ia tak bisa berbohong pada diri sendiri. Melawan gadis pendekar bernama Dara ini merupakan sebuah pendidikan dan pelajaran baik dalam hidup kependekarannya.


Bertambahlah pengetahuan dan tingkat keilmuwan dan kanuragannya. Ia tak bisa dan tak boleh meremehkan siapapun, apalagi bila itu memang lawan yang bermaksud menundukkan, mengalahkan, melumpuhkan atau membekuknya.


Tanpa Jayaseta sadari, silat gayong yang dikuasai Dara ini memiliki sifat yang dapat menyesuaikan dengan beragam keadaan, mirip dengan Jurus Tanpa Jurus yang ia kembangkan. Begitu pula dengan penggunaan senjatanya yang kaya.


Entah mengapa Jayaseta berpikir bahwa sang datuk memberikan pelajaran ini dengan sengaja. Ia tak mau terlalu percaya diri sebenarnya, namun ia ingat benar bagaimana kakek Salman Si Pisau Terbang Penari memberikannya pelajaran bersilat dalam sebuah keadaan yang tak wajar. Apa mungkin sang datuk berjodoh sebagai gurunya yang lain dengan memberikannya ilmu silat melalui sang cucu?

__ADS_1


"Kau masih mau bermain-main dan meremehkanku, wahai penyusup? Sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk terakhir kali, karena kali ini mungkin lehermu yang bakal putus, bukannya topeng kayumu yang tergores kipasku ini!" suara Dara yang tertahan setengah berbisik menjadi kegeraman dan kemarahan yang mengganda.


Sial! Jayaseta jadi teringat Pratiwi yang sakti. Ia berdoa agar sang dara bukanlah gadis muda dengan jiwa iblis tersebut.


__ADS_2